aku menempelkan ujung kepala penisku yang baru membesar 60% sehingga tidak terlalu besar dengan kondisi ereksi 50%. Mungkin karena tidak terlalu besar, aku dapat mendorong kepala tersebut masuk sebatas leher penisku dan terganjal oleh kelembekan penisku dan kesempitan lubang vaginanya. Aku terdiam dan menahan nafas, tiba-tiba aku merasa denyutan di ujung kepala penisku yang terbenam dalam daging kenikmatan tersebut.
Perlahan penisku agak mengeras dan agak membesar, aku mencoba menekan dan menemukan sedikit celah untuk masuk tapi lagi-lagi terhenti. Perlahan tapi pasti, dalam waktu 5 menit ereksiku dapat mencapai 80% dan adalah suatu pengalaman yang luar biasa merasakan penisku mengembang perlahan di dalam vagina yang sempit dan menjepit keras, nikmat berdenyut membesar dan mengisi rongga itu dengan perlahan.
Setiap dorongan menimbulkan suatu rasa nikmat di kulit penisku dan itulah yang memacu penisku dapat mengeras. Akhirnya aku menahan nafas dan mencoba mendorong sedalam-dalamnya dan penisku bergerak perlahan sekali tetapi semakin maju sedikit semakin mengeras dan membesar. Ia merintih dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya mencoba berontak, tapi dengan posisi ini seluruh berat tubuhku ditumpukan di kedua belah pahanya agar tetap mengangkang lebar dan tidak bisa bergerak.
Setelah masuk kira-kira 3/4 bagian, aku berdiam dulu merasakan hangatnya penisku dijepit oleh daging hangat yang berdenyut lembut, dan ia pun agak tenang walaupun tangannya masih mencoba menolak perutku. Tanpa membuang waktu, aku menggeram mendorong amblas seluruh batang penisku sambil kuberatkan bobot tubuhku seluruhnya sehingga amblas sedalam-dalamnya dan tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali. Woww.., kenikmatan yang amat sangat menyergap penisku pada saat aku mencapai dasar dan menggesek benjolan daging di dalam vaginanya.
Denyutan vaginanya amat berbeda pada saat batangku belum amblas seluruhnya, begitu ketat dan hangat tidak terlukiskan dengan kata-kata. Aku merasa penisku akan membesar melebihi ukuran normal kalau saja aku tidak menggunakan obat (sampai terasa agak pegal karena ototku penisku membengkak). Aku menahan nafas dan membatin bahwa tanpa digerakkan pun aku sudah merasakan nikmat melebihi senggama normal.
Kemudian aku mencoba menarik perlahan sebatas kepala penis dan amat dashyat terasa gesekan dua kulit lain jenis bila beradu. Aku mendorong sebanyak 5-6 kali secara perlahan dan melihat kepala penis di bawahku terasa seperti diombang-ambing ombak badai luar biasa, hingga pada hitungan ke-7 aku menekan sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya serta menggerakkan ujung penisku hingga berhasil menemukan daging kecil dalam lubang tersebut. Ia berteriak dan mendongakkan kepalanya hingga terlihat hanya putih bola matanya serta bibir indahnya yang digigit keras sekali.
Aku membungkuk untuk mencium bibirnya dan membuka paksa mulutnya agar merekah menyambut lidahku. Tak disangka, dengan ganas ia menyambut lidahku dan mengulumnya serta menyedotnya. Goyangan itu aku ulangi terus sampai dia menggigit bibirku keras sekali dan akhirnya aku tahu bahwa dia telah mencapai orgasme yang pertama. Seluruh tangannya meraba dan mencakar punggungku kuat sekali. Aku tidak peduli dan aku terus menggenjot tubuh indah dan nikmat ini perlahan tapi dalam dan disertai putaran seperti gerakan membor lubang kenikmatan tersebut. Kini dengan dipenuhi cairan kenikmatan tersebut, gerakan memborku semakin ganas hingga biji matanya tidak pernah pudar, selalu memutih setiap kali aku membuat gerakan sedalam-dalamnya dengan gerakan membor.
Tiba-tiba aku melepaskan penisku dan dia berteriak, “Aahh!”. Dengan agak kasar dan bernafsu aku membawa dia ke tepi ranjang dan membalikkan tubuhnya menjadi berposisi doggy style. Dengan cepat penisku amblas kembali dengan suatu sentakan cepat hingga sesaat kepalanya terdongak kaget akan tetapi langsung terkulai kembali ke kasur.
Aku menggenjot dengan mantap tetapi lembut dan dalam posisi ini aku dapat menemukan daging tersebut dan menguleknya menggunakan ujung kepala penisku dengan pelan tapi bertenaga dan lama. Hanya ada rintihan dan cakaran tangannya ke sprei di depannya dan sentakan pinggulku menerobos lubang itu berulang-ulang selama lebih kurang 15 menit dalam kamar itu. Cairan kenikmatannya kembali keluar dan keluar kira-kira 3 kali dan akhirnya menetes deras ke kasur di bawahnya.
Aku merasa ingin orgasme tapi belum juga sampai hingga beberapa lama kemudian aku membalikkan tubuhnya lagi dan aku menariknya ke tengah ranjang. Aku mengganjal pantatnya dan mencari tissue untuk mengeringkan lubang vaginanya. Aku membisikkan ke telinganya bahwa kalau basah aku tidak bisa keluar dan bisa-bisa sampai siang pun aku tidak akan melepas dirinya. Dan dengan gerakan yang sudah tidak bertenaga sama sekali ia mencoba mengeringkan vaginanya sebisanya dan lalu tubuhnya kembali rubuh tidak bertenaga ke belakang. Setelah siap, aku mengangkat kedua kakinya ke pundakku dan bersiap untuk melancarkan gerakan paling mantap yang akan pernah ia rasakan.
Aku mengambil nafas dan meletakkan kepala penisku yang sudah agak lebih besar daripada biasanya di gerbang vaginanya. Agak seret dan sulit karena kini penisku sudah mengeras sepenuhnya dan bibir vaginanya dalam keadaan kering. Aku mengambil keputusan memaksanya dengan sekali sentakan mendorong penisku masuk dan penisku memasuki gerbang tersebut dengan lambat sekali dan begitu nikmat setelah agak kering.
Sebatas kepala penisku gerakannya tertahan oleh otot vaginanya. Aku mencoba mengambil ancang-ancang dengan gerakan keluar masuk pendek kira-kira 3 kali sesudah itu aku mendorongnya dan aku merambat pelan menggesek membelah dan menghunjam ke dalam vaginanya dengan mantap dan dibantu dengan berat badanku, aku mencapai dasar vaginanya dan menggeseknya kasar tapi perlahan dan erangannya membahana di dalam kamar..
“Oohh god.., godd.. Godd.”
Aku menarik penisku seperti irama biasa 6 pendek dan 1 panjang tapi kini dengan posisi sedalam-dalamnya hingga aku bisa mengulek bagian dalam vaginanya dengan leluasa tanpa hambatan. Kini aku melaksanakannya bertambah cepat dari waktu ke waktu seakan aku hampir mencapai garis finish. Kombinasi inex ditambah vagina yang rapat dan nikmat dari gadis ini dan wajah yang begitu sensual di bawahku menciptakan suatu ilusi birahi serasa di langit ketujuh.
Aku memejamkan mataku, dentuman house music mengangkat sisa on tadi dikombinasi gesekan nikmat vagina di bawahku. Hanya ada satu yang aku kejar sekarang, aku ingin menumpahkan semua cairan birahiku di dalam vagina nikmat ini sedalam-dalamnya. Semakin cepat aku bergerak semakin keras rintihannya hingga tiba-tiba aku merasa denyutan yang luar biasa meremas-remas batangku dan semburan hangat dalam vaginanya membungkus seluruh batangku dan kepala penisku. Dan aku tidak bisa mencegah suatu denyutan nikmat dalam batangku merambat cepat tidak tertahankan ke kepala penisku dan berakhir dengan semburan nikmat berulang-ulang tanpa bisa aku cegah dan setiap semburannya selalu meningkat rasa nikmatnya hingga semburan terakhir.
Aku memeluk kedua belah pahanya erat-erat dan setelah gelombang kenikmatan tersebut mereda, baru aku bisa membuka mata dan melihat tubuh di bawahku yang tergolek tersengal-sengal dan melihat lagi di antara jepitan pahanya dan pahaku, menetes tanpa henti cairan kental keputihan seakan vaginanya sama sekali tidak dapat menampung cairan kami berdua. Kemudian aku mencabut batang penisku yang masih setengah mengeras dan merebahkan diri di samping tubuhnya.
Tanpa sadar aku tertidur dan hingga kira-kira pukul 11 siang aku terbangun dan mendapati tubuh molek ini masih tertidur lalu tiba-tiba nafsuku naik lagi membayangkan pertempuran subuh tadi dan aku mengulanginya lagi sementara ia hanya bisa mengikutinya sambil berbisik..
“Kamu gila, kamu bukan orang, kalau pacarku hanya mampu sekali dan itupun hanya 5 menit”. Aku hanya tersenyum serta memperkeras dorongan pinggulku sampai aku mencapai ledakan kedua sekitar jam 12 siang.
Setelah kami tidur sampai jam 3 dia bangun mandi dan berpakaian demikian juga aku dan kami berdua merokok tanpa bicara dan akhirnya dia bicara..
Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Desember 2008
Minggu, 14 Desember 2008
membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku
Rumah mewah itu memang terlihat sepi, gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh. Berlantai tiga dengan gaya arsitektur spanyol yang unik. Bergegas aku segera turun dan kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang di tikungan jalan. Kembali aku perhatikan alamat rumah yang kutuju itu. Aku segera menyelinap masuk ke dalam halamannya setelah membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi dicat hitam. Hujan mendadak turun dengan rintik-rintik. Berburu aku lari kecil menuju teras yang tinggi, karena aku mesti menaiki anak tangganya.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan ‘ngiler’ berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
“Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!” ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
“Ng.., maaf, belum kenalan..,” gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
“Oh ya, aku Tami..,” sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
“Ayo pada kenalan..!” sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
“Lina..,” ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
“Dimana mau foto-foto bersamanya..?” tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
“Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?” sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
“Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..,” sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
“Bagaimana..?” tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
“Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?” kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
“Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!” sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
“Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?” tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
“Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!” sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
“Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!” ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
“Ahkk..!”
“Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!” bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
“Kamu memang seksi dan kekar..,” ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
“Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!” sahut Dian mengelus-elus pantatku.
“Sama dong. Tapi siapa duluan..?” sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
“Diam dan diam, oke..?” kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
“Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
“Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!” sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
“Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!” ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
“Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!” teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
“Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!” ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
“Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!” ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
“Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!” menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
“Hmm.. nikmat sekali. Enak..!” ucap Diam senang.
“Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!” sahut Lina.
“Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!” perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
“Siapa kalian ini sebenarnya..?” tanyaku memberanikan diri.
“Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!” bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
“Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!” perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
“Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!” teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
“Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!” ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
“Ouh.. aduh.., aahhk..,” teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
“Diminum. Minum pipisku.. cepat..!” perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
“Gantian..!”ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
“Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!” teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
“Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!” menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan ‘ngiler’ berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
“Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!” ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
“Ng.., maaf, belum kenalan..,” gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
“Oh ya, aku Tami..,” sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
“Ayo pada kenalan..!” sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
“Lina..,” ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
“Dimana mau foto-foto bersamanya..?” tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
“Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?” sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
“Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..,” sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
“Bagaimana..?” tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
“Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?” kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
“Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!” sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
“Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?” tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
“Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!” sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
“Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!” ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
“Ahkk..!”
“Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!” bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
“Kamu memang seksi dan kekar..,” ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
“Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!” sahut Dian mengelus-elus pantatku.
“Sama dong. Tapi siapa duluan..?” sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
“Diam dan diam, oke..?” kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
“Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
“Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!” sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
“Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!” ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
“Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!” teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
“Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!” ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
“Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!” ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
“Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!” menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
“Hmm.. nikmat sekali. Enak..!” ucap Diam senang.
“Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!” sahut Lina.
“Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!” perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
“Siapa kalian ini sebenarnya..?” tanyaku memberanikan diri.
“Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!” bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
“Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!” perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
“Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!” teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
“Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!” ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
“Ouh.. aduh.., aahhk..,” teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
“Diminum. Minum pipisku.. cepat..!” perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
“Gantian..!”ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
“Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!” teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
“Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!” menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Jumat, 12 Desember 2008
pijatan-pijatan yang kuat dari dinding vaginanya terhadap penis gue
Sewaktu gue sedang asik-asiknya ngelamunin tentang tugas gue yang pertama ini
setelah gue dapat promosi sebagai Direktur Niaga disebuah perusahaan yang
bergerak dibidang kepelabuhanan untuk bernegosiasi dengan PSA soal pengaturan
jalur container Singapore-Jakarta, tiba- tiba ada tangan nyolek punggung gue dan
suara yang mengagetkan gue....., tapi setelah gue berpikir sebentar koq rasa-
rasanya gue kenal suara itu......, pas gue lihat siapa si pemilik tangan dan
suara itu......, gue kaget setengah mati....., mungkin hampir mati.., soalnya
gue langsung ngebayangin kejadian sekitar 2 1/2 tahun yang lalu, waktu kantor
gue masih di Wisma Nusantara di lantai sembilan, gue pernah naksir berat bahkan
mungkin lebih dari naksir berat sama cewek item manis, agak kurus, punya bibir
dan senyum yang sensual banget serta punya nama mirip dengan bini gue (sekarang
udah ex).....Renata..............!!!!!!!!!
Gilee......, terakhir gue ketemu sama dia waktu dia pulang di bulan Desember
karena kakaknya kawin, dan itupun hanya satu kali aja. Soalnya sejak dia balik
lagi ke Amrik sono, gue udah jarang banget kontak dia, sampai dengan my divorce
and up til now..she showed up in front of me wearing a white tight t-shirt and a
tight faded- blue jeans pants (I always think that this kind of outfit is her
favourite one...)"Hey, Agus...apa khabar....??"tanya dia sambil memamerkan
giginya yang berjajar rapi."Eh,...uh....baik..."jawaba gue datar meskipun sambil
tersenyum, soalnya gue kaget bercampur excited ketemu dia sekarang ini."Lagi
ngapain di sini...?" lanjut gue sambil berusaha untuk menenangkan hati gue yang
nggak karuan ini ketemu my dream girl (maklum udah lama jadi "duren" alias duda
keren, he...he..!) "Gue lagi liburan aja sendirian, soalnya abis lulus waktu itu
gue belum sempat liburan dan abis dari sini gue musti balik ke Jakarta untuk
kerja, jadinya....ya gue pake kesempatan ini utk jalan-jalan sendiri....., kan
elu tau gue, Gus...." Rena nyerocos kaya senapan M 16 ngejawab pertanyaan
gue."Elu sendiri ngapain kesini....?" tanyanya yang terus gue jawab apa adanya.
Setelah saling cerita tujuan masing- masing ke Singapore ini dan sekaligus
membawa tas masing-masing dari bagage claim Changi Airport itu, terus pas sampai
di depan airport sambil ngantri nunggu taxi gue iseng nanya "Ren, nginep dimana
lu...?" Terus dia cuma senyum sambil jawab "Kenapa emangnya....?"."Nggak, kalau
elu nggak ada tempat nginep, elu ke kamar gue aja, kebetulan kantor udah
ngebokingin kamar Suite Room di Marriot Hotel..."gue berusaha untuk menawarkan
sambil basa- basi sedikit. Terus dia cuma ketawa lepas dan renyah seolah-olah
tanpa beban menjawab "Yang pastinya sih gue udah boking kamar juga....,
cuma......" kalimatnya berhenti sambil matanya berusaha membuat gue yang nerusin
kalimatnya. Melihat gelagat seperti ini gue langsung tanggap "Udah deh sama gue
aja, lagi pula elu belum bayar apa-apa kan dengan hotel pesanan elu itu.....,
lagi pula,....eh.....kita dulu pernah ingin buka kamar di Jakarta cuma belum
pernah kesampaian,...jadinya ya sekarang aja..., ya....."ajak gue dengan penuh
antusias. Body language gue dengan jelas nunjukin banget bahwa gue ingin banget
bareng ama dia. Langsung dia jawab "OK...."
Setelah dapat taxi, selama dalam perjalanan menuju hotel, gue sama Rena banyak
tukar cerita sampai nggak terasa kalau sudah sampai di Marriot Hotel di
persimpangan Orchard Road dengan Scotts Road itu. Setelah gue chek in bareng
sama Rena dan sampai di kamar 503 gue lihat jam gue nunjukin waktu hampir jam 6
sore waktu Singapore, gue langsung bilang sama dia "Ren, gue mandi dulu, ya....
abis gue, ..elu mandi terus kita jalan- jalan sekalian
diner...OK...?"."Siiipp...lah...!"jawabny a sambil mengambil posisi tengkurap di
tempat tidur sambil menonton tivi.
Waktu di Singapore sudah hampir jam 9 malam pada saat gue berdua Rena sepakat
untuk balik ke hotel karena sama-sama capek setelah makan malam dan jalan-jalan
disepanjang Orchard Road sambil ngobrolin segala macam topik, mulai dari yang
serius sampai dengan hal-hal yang "garing" (istilahnya dia untuk bilang sesuatu
yang aneh tapi lumayan lucu) dan memutuskan untuk nongkrong di cafe atau disco
besok malam setelah gue selesai meeting hari pertama besok.
Begitu sampai di kamar gue udah terlalu capek untuk ganti baju dikamar mandi,
akhirnya gue bilang "Ren, sorry gue males ke kamar mandi untuk ganti baju,
jadinya gue ganti baju disini aja ya...." dan tanpa gue tunggu jawabannya gue
langsung buka kaos dan celana jeans gue untuk ganti dengan kaos khusus untuk
tidur dan celana pendek (cuma berhubung ada Rena di situ gue nggak buka CD alias
celana dalam.....). Sementara itu, begitu dia tau gue ganti baju di depan mata
dia, dia cuma tersenyum sambil bilang "Siapa takut...." tapi sambil berusaha
untuk tidak melihat secara langsung kearah tonjolan di daerah selangkangan gue.
Gue cuma berpikir satu hal, yaitu kayaknya dia kagum ama junior gue itu cuma
masih malu untuk bilangnya ke gue. Untuk hal yang satu ini gue emang nggak perlu
GR karena sudah terbukti, lho..... bahwa cewek yang udah pernah tidur sama gue
pasti kagum dan puas dengan servis gue meskipun punya gue ini bisa dikategorikan
rata-rata cowok Indonesia tapi yang penting adalah bagaimana cara
menggunakannya, if you know what I mean....!!!!
Setelah gue ganti kaos dan celana pendek, gue langsung rebahan di tempat tidur
berukuran King size itu sambil nonton tivi yang kemudian disusul oleh Rena
sambil bilang "Elu nggak akan jahat kan sama gue....??"."Jahat maksud elu yang
kayak apa...?" gue mencoba untuk mancing pembicaraan dia tapi kayaknya dia ini
cukup misterius juga untuk masalah perasaan dia thd gue. Karena terus terang gue
sampai saat ini selalu ragu-ragu untuk menebak perasaan dia terhadap gue, dalam
artian dia itu suka juga ama gue atau hanya sekedar berteman........
Akhirnya setelah agak bosan dengan acara tivi, tiba-tiba dia bilang "gue boleh
ganti baju didepan elu nggak.....?" tanyanya dengan suara setengah berbisik. Gue
agak kaget dengar dia tanya seperti itu, meskipun berusaha gue untuk cuek dan
seolah terbiasa dengan one-night stand affair, gue menjawab "Siapa takut...."
sebagaimana komentar dia waktu gue ganti baju tadi..dan Rena langsung berdiri
dipinggir tempat tidur sambil buka baju membelakangi gue, terus dia sambil
ketawa tersipu bilang "eh,...baju tidur gue belum diambil dari koper..." sambil
berlari kecil menuju kopernya untuk mengambil baju tidurnya itu. Nah,... sewaktu
dia lari itu gue sempat lihat bodynya yang kurus (dan rasanya lebih kurus dari
waktu dia masih di Jakarta dulu) tapi tonjolan dibalik BHnya itu yang bikin mata
gue kagak bisa berkedip....!!! Her breast ini bisa dibilang cukup average untuk
ukuran cewek Indonesia, tapi dari getarannya waktu dia lari itu bisa dibilang
nyaris tak bergetar. Gue langsung ngebayangin that those breasts are quite firm
dan gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya tangan gue yang meremas dua bukit
yang kencang itu sambil gue mainin putingnya......wow....that should feels
wonderful....!
"Agus..., koq punya elu itu jendolannya jadi gede banget....?" tanyanya sambil
bola matanya menunjuk kearah penis gue sekaligus membuyarkan lamunan gue tentang
gunung nona Rena itu. Gue malu buuaaangeeettt waktu dia tunjukin bahwa penis gue
udah membengkak dan keras dan itu terlihat meskipun gue pake CD dan celana
pendek......semua itu gara-gara lamunan gue tadi nih.....sampai-sampai gue nggak
sadar kalau dia udah selesai gnati baju dengan big t-shirt sampai dengan pahanya
dan tidak memakai celana pendek atau celana panjang lagi, tapi dalam keadaan
seperti itu, gue masih sempat ngeles "iya nih, gue nggak kuat ngeliat a sensual
and sexy girl liwat didepan mata gue half naked......" gue berusaha untuk jujur.
Kemudian Rena bergeser mendekati tempat gue rebah sambil bilang "gue suka gaya
elu yang hampir selalu straight to the point..., makanya gue juga mau straight
to the point sama elu....". Lalu dia mendekatkan mukanya ke muka gue dengan
maksud untuk mencium gue dan tanpa pikir panjang lagi langsung gue sambut ciuman
dari bibir yang sensual itu dengan kecupan demi kecupan dan langsung menjadi
french kissing seolah-olah melampiaskan rindu kita berdua yang selama ini
tertahan. Yang jelas selama ini gue selalu mengharapkan kejadian seperti malam
ini bisa berlangsung tanpa harus punya perasaan segan karena status gue yang
berbeda dengan statusnya dia dan gue rasa dia juga punya perasaan yang sama.
Sambil menciumi hampir seluruh mukanya, tangan gue mulai bergerak menuju
ketempat-tempat sensitifnya, seperti payudaranya yang sungguh diluar dugaan gue
bahwa itu merupakan daerah yang paling sensitif buat dia. "Oooohhh....." erangan
halus yang terdengar dari mulutnya menandakan dia menikmati remasan tangan gue
di payudara kanannya. Sementara itu, tangan kirinya berusaha untuk membuka
kancing dan resleting celana pendek gue dan pada saat yang bersamaan, tangan
kiri gue menyelusup masuk ke dalam kaos tidurnya Rena untuk mencari puting
payudara kirinya. "Aaaaaahhhhh......Agus nakal banget sih....."katanya sambil
matanya hanya terlihat putihnya saja begitu tangan kiri gue berhasil memainkan
puting susu kirinya. "Oohhh...Ren...gue suka banget....sshhhh....aaahhh..."
begitu tanganya berhasil juga menyusup ke dalam CD gue dan langsung memegang
batang penis gue sambil diusap-usap secara perlahan.
Sambil mengusap-usap penis gue, dengan setengah berbisik "Gue isep ya,...boleh
nggak....?" sambil melirik ke arah penis gue. Tentunya dengan senagn hati gue
terima tawarannya itu yang terus terang bikin darah diseluruh badan gue mengalir
dengan cepat sekali. Gue bantu dia untuk melepas CD gue dan setelah itu, gantian
gue yang bantu dia untuk buka kaosnya... dan......, wooops......langsung gue
melotot melihat payudaranya yang kencang dan menantang itu. Merasa cara gue
melihat badannya dengan cara seperti itu, dia langsung berusaha menutup dadanya
sambil berkata tersipu "..Eh...,..apaan sih elu ngeliatnya kayak gitu..."."
Sorry, I just love the view..." jawab gue sambil mencium bibirnya dan tangan gue
juga langsung meraba payudaranya dan disambut dengan desahan nikmat yang keluar
dari mulutnya...
Tiba-tiba dia melepas ciuman gue dan mengarahkan mukanya langsung ke penis gue
sambil dipegang batangnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya
mencoba untuk menjangkau bola-bola gue dan sekaligus meremasnya dengan lembut.
Seeerrrrrrr..., perasaan gue mendadak terbang begitu kepala penis gue
bersentuhan dengan bibir sensual itu dan masuk kedalam
mulutnya."Ooohhhhh....."hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue sambil gue
merebahkan diri gue dan membiarkan kaki kanannya melewati diatas kepala gue,
sehingga dihadapan gue terpampang spot basah di CD mini hitamnya yang gue yakin
itu berasal dari vaginanya. Tanpa ragu gue singkap CDnya sehingga gue bisa
melihat dengan jelas bibir dan lubang vaginanya yang berwarna merah kecoklatan
dan terlihat sudah basah itu. Setelah itu gue buka kedua bibir vaginanya dengan
kedua jempol gue sehingga dengan jelas clitorisnya (meskipun sudah disunat) dan
langsung gue jilat mulai dari clitorisnya sampai lobang vaginanya seperti gue
menyapu daerah itu dengan lidah gue, sementara penis gue udah berdiri tegak
dikuasai sepenuhnya oleh Rena. Yang jelas gue cuma ngerasa bibirnya naik turun
menjelajahi batang penis gue, sementara lidahnya menjilati lubang penis gue
sewaktu bibirnya menjempit kepala penis gue.
Pikiran gue saat itu adalah kalau dia bisa servis gue dengan hebatnya, gue nggak
boleh kalah ngasih servis yang sama hebatnya. Gue jilatin vagina Rena sambil gue
isep clitorisnya dan setiap gue isep gue bisa ngerasain seluruh badannya
bergetar seperti orang kesetrum. Kurang lebih lima menit kita dalam posisi 69
gue ngerasa badan dia bergetar lebih keras dan dia mengehentikan gerakan
bibirnya yang naik turun di penis gue pertanda dia akan mencapai klimaks.
Langsung gue jilatin clitorisnya dengan lebih cepat sambil sesekali gue isap.
"Mmmmmmmmbbbbbhhhhh......." suaranya seperti itu karena dia nggak mau lepas
penis gue dari mulutnya berbarengan dengan getaran seluruh badannya dengan lebih
keras. Gue ambil inisiatif dengan langsung mengisap clitorisnya kuat-kuat sampai
pipi gue kempot. Mulut gue yang dari sejak mulai menjilati vaginanya itu sudah
basah oleh cairan dari kemaluannya bertambah basah dengan klimaksnya Rena. Gue
bisa ngerasain cairannya yang manis asin itu dilidah gue dan terus terang gue
suka banget dengan rasanya itu...
Untuk beberapa detik, badannya masih bergetar hebat namun mulai melemah sewaktu
dia melanjutkan menaik-turunkan bibirnya di batang penis gue, sementara gue
menjilati seluruh cairan vaginanya sampai bersih. Tiba-tiba dia mengangkat
pantat dan memutar seluruh badannya kearah diantara kaki gue, sehingga dengan
jelas gue bisa melihat kepalanya naik turun diatas penis gue sambil sesekali gue
lihat dia menjilati kepala penis gue sambil melihat ke muka gue seolah ingin
tahu ekspresi muka gue sewaktu dia jilati kepala penis gue itu. Tangannyapun
ikut mengocok batang penis gue sehingga hal ini mempercepat gue mencapai
klimaks. Satu menit berlalu dan gue udah nggak kuat untuk membendung cairan yang
akan segera muntah dari lubang penis gue."Aaaahhhhhhhh......Rena..sebentar lagi
gue mau keluar...ssshhhhhh". Mendengar itu dia langsung mempercepat gerakan
mulut dan tangannya sambil tangan yang satunya tetap meremas lembut bola- bola
gue."Ooohh...Rena..gue mau keluar sekarang......aaaaaaahhhhhhhhhhh....!!!!! "
teriak gue dan ccrrrooooottt....ccrrrooottttt, air mani gue menyemprot keluar
dengan deras didalam mulutnya Rena yang tanpa rasa jijik ditelan semuanya. Badan
gue bergetar hebat berbarengan dengan Rena yang masih terus menyedot-nyedot
penis gue seolah ingin menghabiskan seluruh air mani gue dan tidak rela ada yang
menetes keluar dari mulutnya.
Gue liat gerakan kecil di lehernya pertanda dia betul-betul menelan seluruh air
mani gue tanpa menyisakan sedikitpun di penis gue. Setelah itu dia jilatin
kepala penis gue sepertinya masih ada air mani yang tersisa untuk dia.
Wooowww.....gile bener ni cewek, baru kali ini gue ketemu cewek Indonesia yang
suka air mani, karena selama ini gue pikir cewek Indonesia paling jijik dengan
hal-hal seperti itu. Setelah dia yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa maka
dia baru menjauhkan mukanya dari penis gue yang mulai melemah. Langsung gue
tarik kedua tangannya ke arah gue dengan tujuan biar bisa gue peluk.
Sekarang badan dia seluruhnya menindih badan gue sambil gue ciumin bibirnya
sebagai tanda rasa terima kasih gue sama dia. Setelah itu, dia menggulirkan
badannya ke sebelah kiri gue sambil bilang "Suka nggak....?"."Gue nggak tau
musti bilang apa, Ren..... yang jelas gue nggak pernah ngerasain klimaks seperti
barusan..."jawab gue sambil masih terengah-engah."Elu sendiri suka nggak,
tadi....?" tanya gue ingin tau perasaan dia, sambil tersenyum (gue juga suka
banget sama senyumnya itu) dia jawab "Sama, Gus... gue juga belum pernah
ngerasain klimaks seperti tadi......"
Setelah posisi 69 itu, gue sama dia sama- sama rebahan di balik selimut sambil
nonton tivi. Rena hanya masih pake CDnya dan gue cuma pake t-shirt doang karena
udah males utk ngambil pakaian kita yang berserakan di samping tempat tidur itu.
Komunikasi diantara kita secara verbal memang nggak ada, tapi yang jelas sejak
kita selesai ber69 itu, gue langsung pegang tangannya seolah-olah gue nggak mau
jauh dari dia. Shit...what the hell am I thinking of ? pikir gue, belum apa- apa
gue udah kayak orang lagi kasmaran. Kenapa gue jadi kayak begini, masa selama
ini gue bisa bertahan untuk jaga betul hubungan dan perasaan gue dengan cewek-
cewek yang pernah gue ajak kencan, kenapa dengan yang satu ini koq jadinya kayak
gini.....??? Ah, mungkin ini karena dari dulu setiap gue jalan sama dia ke kafe-
kafe (terutama Hard Rock) gue lebih banyak pasif dan menunggu, sehingga
keinginan gue ini kayak terpendam begitu aja dan baru terlampiaskan malam ini.
Well..., we'll see....!!!
"Rena,....can I ask you a question..?" tanya gue dengan agak berhati-hati, terus
dia hanya melirik ke gue sambil tersenyum dan dengan tangannya dia membelai muka
dan rambut gue dengan halus dan kasih sayang "Elu mau nanya apa..,Gus..?". "Gue
mau ceritain perasaan gue selama ini terhadap elu tapi nggak tau gue harus mulai
dari mana....., dan gue paling nggak bisa bilang basa-basi ama elu,
jadi............eh...........would you like to make love with me.....?" ups...
akhirnya keluar juga omongan gue itu...., padahal dari dulu gue udah berusaha
untuk nggak ngomongin hal itu ke dia, tapi sekarang ini kayaknya udah terlambat
untuk disesali jadi, ya what the heck lah......!! Gue lihat ekspresi muka dia
sempat berubah tapi terus kembali biasa lagi "Gue mau aja make love sama elu,
tapi sebelum itu gue pengen nanya apa elu udah tau gue dalam artian tau gue
bener- bener...??". Gile, what a tough question, gue berpikir sebentar, lalu
"Emmm..... mungkin tau yang sebenar-benarnya enggak.., tapi sekarang ini
kesempatan gue untuk tau lebih banyak tentang elu kayaknya lebih besar
deh...dibandingin dulu..". Fiuuhhh...kayaknya jawaban gue cukup logis dan
mudah-mudahan bisa diterima. "Sama satu hal yang dari dulu sebenarnya ingin
banget gue tanya ke elu,...eh...gimana sih sebenarnya perasaan elu sama gue,
maksud gue elu itu sebenarnya suka juga nggak sama gue dalam artian ingin yang
lebih serius atau hanya sekedar teman jalan aja sih.....?" tanya gue mumpung
momentnya tepat. "Gue nggak tau elu perlu jawaban gue apa enggak......" katanya
berhenti sampai disitu karena dia udah langsung narik leher belakang gue ke
arahnya untuk mencium gue. Gile ini cewek bener-bener nggak bisa ketebak jalan
pikirannya, tapi gue udah nggak bisa mikir lebih jauh lagi soalnya konsentrasi
gue langsung buyar begitu ngerasain lidah gue disedot kencang banget sama Rena.
Pikir gue dalam hati "She's really a good french kisser..". Sementara itu
sekarang ini separo dari badan gue menindih badan dia sambil tangan gue
meremas-remas payudaranya yang imut-imut itu. Setelah puas gue cium bibirnya,
pelan-pelan gue mulai menciumi pipinya, kemudian lehernya, bahunya dan sampai di
payudaranya kanannya, gue ciumin mulai dari atas bergeser pelan-pelan sambil gue
julur lidah gue sehingga ujung lidah gue bersentuhan dengan kulitnya sementara
tangan gue menyempatkan untuk membuka CD mini hitamnya dan menariknya sampai ke
lutut Rena.
Begitu ujung lidah gue bersentuhan dengan puting mungil dan menonjol itu
terdengar suara desahan dari si pemilik puting itu "Heeehhhhhhh......Agus....gue
suka banget......." katanya sambil berusaha meremas rambut gue tapi nggak bisa
soalnya rambut gue cepak gaya ABRI. Akhirnya dia cuma bisa membantu membenamkan
kepala gue ke payudaranya itu, sementara tangan kanan gue sedang asik bermain
dengan puting susu kirinya yang juga mungil dan sudah menonjol itu. Posisi kaki
kanan gue sekarang sudah berada diatas paha dan perut bagian bawahnya. Terasa
oleh gue bulu-bulu halus dan rapih serta tidak terlalu lebat di bagian bawah
perutnya. Gue isep putingnya sambil sesekali gue jilatin. Lalu tangan kanan gue
yang semula bermain dengan puting kirinya sekarang berpindah mengusap perutnya
perlahan dan turun ke rambut-rambut halus diatas vaginanya itu gue mainin
sedikit dengan mengusapnya. Terus perlahan jari gue gue turunin ke arah
vaginanya dan berusaha menemukan clitorisnya. Begitu gue menemukan apa yang gue
cari, maka jari-jari gue mulai main dengan clitoris dan lubang vagina yang
memang sudah mulai basah. Semua yang gue kerjain ini berdampak bagi Rena
mengalami kenikmatan yang tinggi. Hal ini terbukti dari goyangan maupun gerakan
serta getaran yang yang ditunjukkan oleh badan Rena yang tight and firm itu
mulai meningkat.
Gue betul-betul kagum sama bodynya dia, meskipun jarang berolahraga (menurut
pengakuannya) badan dia mulai dari tangan, punggung, perut, dada, paha dan betis
kelihatan kencang dan tanpa lipatan-lipatan lemak. Padahal yang gue tau makannya
sih normal-normal aja tuh, tapi emang itu namanya body memang oke punya....
Sementara gue sibuk dengan aktifitas diseputar payudara dan vaginanya, tangan
dia mulai meraih penis gue yang memang masih dalam kondisi lemas. "Agus, buka
kaos elu, ya......." katanya sekaligus membantu gue untuk buka kaos gue. Setelah
kaos gue lempar entah kemana, gue lanjutin dengan menciumi perutnya yang rata
itu. Rena menyambutnya dengan mengusap-ngusap kepala gue tanda benar- benar
menikmati apa yang gue kerjain ke dia sementara tangan satunya tetap pegang
penis gue dan pelan-pelan mengocoknya. Perjalanan gue terusin dengan pelan-pelan
gue geser muka gue ke arah persis didepan mulut vaginanya dan badan gue pun gue
geser kearah diantara kedua kaki Rena, hal ini mau enggak mau dia harus melepas
penis gue. Kepalanya diangkat sedikit agar bisa melihat muka gue yang sedang
sibuk mengagumi vaginanya itu. Gue angkat sedikit pantatnya biar vaginannya
lebih gampang terjangkau oleh lidah gue yang sekarang ini sedang menjilati
clitoris Rena. Setiap ujung lidah gue menyentuh clitorisnya itu, setiap saat itu
pula gue ngeliat kepalanya digoyang kekiri dan kekanan sementara kedua tangannya
berusaha untuk menjangkau dan memegang tangan gue seolah dia butuh sesuatu untuk
dia remas. Begitu tangannya berhasil memegang tangan gue, langsung dia pegang
tangan gue begitu erat. Pegangannya bertambah erat kalau pas lidah gue sedang
"menampar" clitorisnya itu berulang-ulang dengan ujung lidah gue.
"Ooohhhhh...ssshhhhhhttsss.....oh..yaaa.. ..teruuusssss....!!!" hanya
suara-suara kenikmatan itu aja yang gue denger dari mulutnya. Gue masih terus
menjilati clitorisnya dan kadang-kadang lidah gue menjelajah turun sampai ke
lubang vaginanya yang kadang-kadang gue coba penetrasi ke dalam lubang itu
dengan lidah gue. Gue nggak tau apakah memang vaginanya itu tidak memiliki aroma
khasnya atau memang gue udah terlalu nafsu, sehingga indra penciuman gue agak
rusak, soalnya sewaktu idung gue persis didepan lubang kewanitaannya itu, gue
sama sekali enggak mencium apa-apa.
"Aaahhhhh.....Aguusssss.......gue ssukkaaa bangeeett....!!"desahannya buat gue
semakin bertambah nafsu untuk lebih memfokuskan lidah gue ke clitorisnya,
sementara itu kepalanya masih tetap digoyang kekanan dan kekiri, meskipun
kadang-kadang dia mengangkat kepalanya untuk melihat "keadaan" gue. Selagi
asiknya menyapu daerah kewanitaannya itu, tiba-tiba gue ingin bikin dia terkejut
dengan menarik mulut gue menjauhi vaginanya dan sekaligus berhenti menjilati
clitorisnya. "Eh.....??" begitu katanya sambil mengangkat kepalanya dan melihat
ekspresi muka gue seolah ingin tahu alasan gue untuk memberhentikan kegiatan gue
yang betul-betul dia nikmati. Gue bisa melihat itu dari eskpresi mukannya yang
sedang keheranan. Tapi keheranannya itu tidak berlangsung lama karena gue
langsung tarik kedua tangannya untuk mengajak dia bangun dan turun dari tempat
tidur dan sambil gue pegang tangannya gue tuntun dia menuju sofa (two-seater)
yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan jendela. Gue tuntun dia untuk duduk
dengan posisi pantatnya berada dipinggir sofa. "Elu merasa comfortable,
nggak...." tanya gue memastikan bahwa posisinya itu enak buat dia. Jawaban yang
gue dapat hanya anggukan kecil kepalanya dan senyum yang nggak pernah bosen gue
lihat. Terus gue angkat kedua pahanya tinggi supaya posisi vaginanya pas di
depan gue. Gue mengambil posisi duduk dibawah dengan kedua kaki gue berada
dibawah pantat gue, langsung gue garap kembali proyek yang tadi sempat gue
hentikan.
"Elu pengen sambil gue isep nggak, Gus...??" tanyanya diantara desahan nafasnya
yang seolah-olah habis lari marathon Bogor-Jakarta. Gue nggak perlu menjawab
pertanyaan itu karena gue cukup mengelengkan kepala gue sementara lidah gue
menyentuh clitorisnya seiring dengan gelengan kepala gue itu tadi, sehingga gue
bisa lihat kepalanya kembali dia sandarkan kembali ke sandaran sofa empuk itu.
"Aaaahhhhh....gile..lu...., ooohhh..yaaa.....hhhssssttssss.." kembali hanya
desah kenikmatannya itu aja yang gue dengar kurang lebih selama lima menit
sampai dia bilang lagi "Oooohhhhh....Agguusss....aaooooouuuuwww.
..iya..iya...iya..." sambil ikut menggoyangkan pinggul dan pantatnya yang
semakin cepat dan semakin cepat sampai tiba-tiba tangan gue di remas kuat sekali
dibarengi dengan getaran tubuhnya yang menggila
"...Aaaahhhhhh....yes...yesss...sssssshhh hhh" teriaknya pertanda dia sedang
mencapai puncak kenikmatannya. Setelah seluruh badannya melemah kembali, dia
langsung bangun dari posisi setengah tidur itu dan langsung berusaha untuk
berdiri (meskipun dengan agak sedikit terhuyung-huyung...). "Haahh...gile lu,
gue malam ini sampai dua kali orgasme, ....sampai-sampai rasanya peredaran darah
gue terlalu cepet beredarnya...ha..ha...!!!!" katanya diiringi dengan tertawa
renyah sambil tetap berpegangan dengan tangan gue.
Lalu dia menuntun gue untuk duduk di sofa itu dengan dia berada diantara kedua
kaki gue dengan posisi duduk. Sewaktu tangannya memegang penis gue yang masih
tegak (apalagi sekarang tegak keatas...) dia agak heran dan bertanya "Lho koq
masih keras aja sih, padahal kan belum diapa-apain...??" sambil melirik dan
tersenyum menggoda. Lalu pelan-pelan dia kocok batang penis gue sambil dilihat-
lihat seperti anak kecil yang sedang mengagumi mainan barunya. "Koq ngeliatnya
kayak begitu amat sih....?" tanya gue penasaran. "Enggak cuma suka aja ngeliat
punya elu...., gemes gue ngeliatnya....." katanya sambil membuka mulutnya dan
langsung melahap penis gue yang memang udah keras sejak tadi. "Oooohhhh......"
gile bener rasanya waktu penis gue masuk kedalam mulutnya sambil tangan gue
memegangi rambutnya supaya tidak menghalangi pemandangan gue sewaktu dia ngisep
penis gue. Kayaknya dia tau persis bahwa my favorite sex activity adalah a girl
giving me a blow job....!!!!!! Buktinya setiap kali bibirnya bergerak naik gue
bisa lihat pipinya sampai kempot dan sedotannya betul-betul bisa mempercepat air
mani gue untuk keluar. Padahal biasanya untuk setiap ronde kedua gue lebih kuat
dan lama dibandingkan ronde pertamanya. Akhirnya daripada gue kebobolan duluan
lebih baik gue langsung bilang ke dia "Ren,...gue udah nggak tahan nih...eh,
boleh gue masukin nggak....???". Lalu dia menarik mulutnya dari penis gue dan
bilang "Iya, nih....gue juga udah nggak tahan,...I want something hard inside
me......". Begitu mendengar dia bilang seperti itu, langsung penis gue
berdenyut-denyut seiring dengan detak jantung gue yang sekarang ini hitungannya
sudah seperti habis lari marathon 10 km.
Gue langsung bimbing dia untuk kembali ke tempat tidur, dimana dia langsung
mengambil posisi terlentang dan dengan demikian gue bisa langsung menindih dia
sambil gue cium bibirnya yang betul-betul menggoda iman......!! Sementara itu,
tangan gue sedang memegang penis gue untuk mengarahkannya ke lubang kenikmatan
milik Rena itu. Untuk mempermudah penetrasi penis gue itu, gue buka kedua paha
Rena dengan kedua paha gue sehingga posisi gue ini sekarang udah kayak gaya
kodok mau loncat. Untuk mempertemukan kepala penis gue dengan lubang vagina Rena
yang sudah basah sekali itu, gue nggak perlu ngeliat lagi kebawah, tapi cukup
dengan "petunjuk" dari kepala penis gue yang memiliki "jam terbang" yang tinggi
sehingga dengan mudah namun tetap perlahan-lahan masuk sambil melihat eskpresi
muka Rena yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. "Rena,
are you still a....?" gue nggak terusin pertanyaan gue karena sudah keburu
mendapat anggukan dari dia sambil tetap merem dan gigit bibir. Shit.....langsung
otak gue berpikir keras, karena harus menentukan gue terusin atau enggak
penetrasi gue ini. Kalau gue ikuti akal sehat gue, maka gue nggak boleh lanjutin
sebab gue harus menghargai virginity-nya karena harusnya dia berikan di malam
pertama dengan suami pilihannya tentunya..., tapi kalau gue ikuti nafsu gue,
maka gue harus betul- betul menghormati dia karena dengan gue dia mau ngasih
virginity-nya itu sekarang ini, padahal gue dengan dia rasanya belum bikin
komitmen apa-apa tentang hubungan kita berdua. What the fuck am I doing
now...why does she want to do it with me now...?? Is it because she likes me
alot and knows that I am a widower now.....??
"Ayo, Agus masukin aja sekarang....." katanya dengan nada setengah memohon
membuyarkan pikiran gue dan gue pikir "emangnya gue pikirin, fuck my
conciuousness...!!", dan langsung gue dorong lagi penis gue ke dalam vaginanya,
sehingga terdengar erangan setengah sakit dan setengah nikmat..
"Aouuuwww....sssssshhhhhhhhhhsssttttssss. ...." desisnya bikin gue bukannya jadi
kasihan, tapi malah tambah dalam gue dorong penis gue sampai seluruhnya masuk
kedalam vaginanya. Sesaat gue lihat ekspresi mukanya menegang, meskipun dalam
keadaan merem dan tetap menggigit bibirnya. Lalu gue stop total semua gerakan
yang barusan gue kerjain supaya dinding-dinding vaginanya dapat menyesuaikan
diri dengan penis gue sambil gue bisikin "Sakit.., ya..., gue diemin dulu ya
sekarang sambil elunya rileks dulu...". Dia setuju dengan ide gue itu dan
mengangguk. Untuk beberapa detik posisi gue berada diatas badannya Rena dengan
tidak melakukan suatu gerak apapun (kecuali bernapas..., itu pun terengah-
engah...!!!), sampai akhirnya dia menarik kepala gue dan didekatkan kemukanya
untuk mencium gue dan tentunya gue sambut pula ciumannya itu sekaligus dengan
mulai menggerak-gerakkan penis gue keluar masuk vaginannya secara perlahan-lahan
namun dalam. "Oooohhhh...iyaaa......ooohhhh...Reeennna aa......" desahan gue
menikmati betul setiap milimeter dari dinding-dinding vaginanya yang sekarang
ini sedang memijat-mijat batang penis gue setiap penis gue masuk jauh kedalam
vaginanya. Gue nggak tau apakah karena ini terjadi karena ketegangannya (maklum
baru pertama kali..) atau karena memang dia udah menjadi ahli dalam hal
menggerakkan otot perutnya sehingga dapat mengatur "jalannya permainan".... Tapi
yang jelas adalah bahwa gue betul betul menikmati vaginanya itu, apalagi setelah
mukanya mulai mengendur (tidak tegang seperti baru gue masukin tadi...) dia
mulai menikmati sodokan yang gue berikan pada vaginanya terbukti dengan
tangannya yang tadi hanya meremas-remas seprei, sekarang mulai berani memegang
pantat gue sambil membantu mendorongnya supaya penis gue betul-betul masuk semua
kedalam vaginanya itu. "Aaaahhhhh.....Agus......enak,...uuhhhhhh " katanya
memberi tanda bahwa dia sekarang sudah bisa menikmati gerakan- gerakan penis gue
didalam vaginanya, sehingga gue mempercepat tempo sodokan gue kedalam vaginanya
sehingga terdengar suara "plok...plok...plok...plok..." yang berasal dari
beradunya pangkal paha kita berdua seiring dengan gerakan gue memompa vagina
Rena yang terus bertambah basah karena gesekan tersebut.
Sekarang gue mengangkat kedua pahanya kedepan sehingga kedua lututnya mendekati
dadanya yang ikut bergetar kecil seiring dengan sodokan nikmat dari penis gue.
Hal ini gue lakukan untuk mempermudah penetrasi gue karena gerakan gue udah
mulai nggak beraturan, soalnya pinggang gue udah mulai pegel (hampir lima menit
gue mompa Rena...). "Ooohh...cepetin Gus.....gue udah mau klimaks nih...!!"
katanya meminta dan tentunya segera gue penuhi permintaannya itu dengan
mempercepat kembali tempo sodokan gue. "Ooohhh....iyaaa....yaaa.....c'monnn....f
uck me harder Agus....yesss...yesss" katanya sambil terus membantu pantat gue
bergerak lebih cepat, sementara gue lihat dia mendongakkan kepalanya ke arah
kepala tempat tidur "Arrhhhhhh....oohhh....ssshhhhhhh....yees ssss....I'm
coming.....aaauuwwww...!" teriaknya berbarengan dengan getaran hebat dari
seluruh tubuhnya itu sambil kedua tangannya mencengkram sekaligus mencakar
pantat gue, sementara gue manfaatkan kesempatan ini dengan gue pompa Rena
secepat mungkin tanpa menghiraukan pinggang gue yang kembali terasa pegel. Untuk
beberapa detik badannya masih bergetar hebat sewaktu tangannya pindah dari
pantat gue ke punggung gue dan langsung menarik gue untuk dia peluk erat-erat
"Oooooohhhhh.......ssshhhhhssssssss...... yyeeeeaaaaasss...uuhhhhh"
lengkingannya mengagetkan gue meskipun tidak sampai membangunkan seluruh
penghuni hotel sambil gue terus pompa vagina gadis yang bernama Renata
itu.....!!!! "Suka nggak barusan....??" tanya gue sambil tanpa hentinya
mengeluar-masukkan penis gue ke dalam vaginanya itu. Terus dia bilang sambil
tetap memeluk gue erat "Uuuhhhhh....gue suka banget, sayang.....". What......,
she called me "sayang", and if I'm not mistaken, this is really her first time
calling me with that name.........perasaan gue langsung berbunga-bunga
(mudah-mudahan gue nggak kegeeran...!!!). Mendengar dia memanggil gue dengan
kata-kata itu, langsung gue tersenyum dan langsung mengulum bibirnya yang
sensual itu (gue nggak inget udah berapa kali gue bilang itu...) sambil terus
memberikan dia kenikmatan dalam setiap gesekan penis gue dengan dinding
vaginanya yang terus berdenyut memijat penis gue. Sementara keringat gue dan dia
udah mulai bercampur khususnya di bagian-bagian yang menempel dengan ketat.
Tiba-tiba gue punya akal untuk mengistirahatkan pinggang gue karena sampai
sekarang gue masih jauh dari ngerasa mau klimaks. Gue cabut penis gue dari
vaginanya dan gue langsung ajak dia untuk bangun dari tempat tidur dan mengajak
dia ke sofa tadi. Gue bimbing posisi dia di sofa itu seperti doggy style
sehingga kedua lututnya berada dipinggir sofa dan kedua sikutnya bersandar pada
sandara kepala/punggung sofa tersebut sehingga dengan posisi seperti ini dia
dapat melihat pemandangan sebagian kota Singapore diwaktu malam (waktu itu
hampir jam 11 malam waktu lokal). Lalu dia kaget waktu gue buka horden tebal dan
tipis yang membatasi pemandangan diluar dilihat dari dalam kamar. "Heh,.....mau
ngapain elu Gus....eh gila elu...elu mau kita dilihat orang....?" tanyanya
setengah nggak percaya dengan kelakuan gue yang aneh itu. Namun Rena sama sekali
tidak bergeser dari tempatnya sewaktu gue berjalan kebelakangnya, malahan dia
menertawakan penis gue yang masih tegak dan kelihatan mengkilat karena cairan
vaginanya bergoyang-goyang sewaktu gue berjalan menghampirinya. Lalu gue tempel
lutut gue ke pinggir sofa dengan mengarahkan penis gue sedikit ke vaginanya gue
lihat pantatnya yang bulat- bulat dan kencang ini benar-benar bikin darah gue
mengalir dengan cepat sekali, sehingga dengan tanpa terkontrol dan cepat sekali
gue masukin penis gue sekaligus sampai seluruh batangnya terbenam didalam
vaginanya. "Aaauuuwwwww.....nafsu bener lu....!!" katanya sambil meringis
menahan sakit yang kemudian hilang sama sekali dan berganti dengan rasa nikmat
yang tiada tara pada setiap pergesekan antara penis gue dan vaginanya.
Sebetulnya hal inipun gue rasakan juga betapa nikmatnya lubang senggamanya Rena
sehingga gue benar-benar lupa kalau pinggang gue tadi sempat pegel, namun
sekarang kembali dalam keadaan fit, sehingga dengan leluasa gue menyodok-nyodok
vaginanya dari belakang. Kayaknya dorongan gue dalam posisi seperti ini jauh
lebih keras dari dorongan gue waktu gue diatas dia tadi dan yang jelas sampai
sekarang gue belum merasa ada tanda-tanda mau klimaks. Tangan gue sesekali
berusaha menggapai payudaranya yang menggantung sambil meremas-remas serta
memainkan putingnya. "Ohhh.....Aguuussss.....gue suka..........." lirihnya
sambil menikmati gerakan tangan dan jari gue bertualang di payudaranya.
Sementara itu gue ngerasa ada sesuatu yang mengenai bola-bola gue yang ternyata
hal itu adalah tangannya yang secara perlahan meremas-remas bola-bola gue.
"Aaaahhhh...Rena.....tangan elu nakal....." kata gue meskipun sebetulnya
menikmati betul remasan-remasan tangannya.
"Ooohhh...sengaja....biar..cepet..keluaaa rr...elunya..." katanya terputus-putus
karena sedang di sodok dengan cepat dan keras oleh gue. Sementara tangan gue
kembali ke posisi awal, yaitu di dipingganngnya sambil membantu menggerak-
gerakkan pinggangnya sesuai dengan gerakan penis gue keluar masuk vaginanya.
Sementara gue juga nggak mau kalah dengan Rena, langsung tangan kanan gue
menjangkau clitorisnya melalui sebelah kanan pinggangnya. Begitu ujung jari
tengah kanan gue menyentuh clitorisnya itu, langsung gue gosok-gosok dan gue
ucek-ucek sambil penis gue tetap melakukan penetrasi terhadap vaginanya.
Ternyata usaha gue itu tidak sia-sia, karena sekarang ini dia kembali mendesah
dan desahannya itu makin lama makin keras. "Ooooohhhh.....elu pinter banget
sssiiiihhhhhh......." katanya pertanda dia menyukai aktifitas jari dan penis gue
secara berbarengan ngerjain vaginanya yang basah banget. Kedua tangannya
sekarang sudah ditempelkan ke kaca jendela, begitu juga dengan kepalanya yang
sejak mulai dengan posisi doggy style ini udah geleng-geleng kekiri- kekanan
seperti orang lagi tripping dan gue sempat perhatiin butir-butir keringatnya
mulai kelihatan di beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar pantatnya yang
terus bergetar seiring dengan sodokan gue....plok...plok...plok...bunyi pangkal
paha gue beradu dengan pantatnya yang sexy itu. Mendengar bunyi itu gue semakin
lama semakin bertambah nafsu sehingga berusaha mempercepat gerakan gue namun
terhambat karena tangan gue masih mengucek-ngucek clitorisnya dengan maksud
supaya dia bisa orgasme lagi sebelum gue. Akhirnya gue putusin untuk meneruskan
permainan jari gue sehingga dia betul- betul puas make love dengan gue, dan itu
bikin kepuasan tersendiri buat gue.
Setelah kurang lebih lima menit berlalu "Ooohhhh.....Aguusss.....gue.... bentar
lagggiiiii......aaahhhhhh......oouuuww... ..oouuuww....." rintihannya membuat
gue mempercepat gosokan gue terhadap clitorisnya sambil juga mempercepat gerakan
penis gue memompa vaginanya. Hal ini biki dia tambah mendekati titik puncak
kenikmatannya "Aaaaaaahhhhhhh.....I'm coming.....I'm
coming....yeeesssssss....aaaaaaahhhhhhhhh ......!!!!!" teriaknya disusul dengan
getaran hebat dari seluruh badannya berbarengan dengan pijatan-pijatan yang kuat
dari dinding vaginanya terhadap penis gue. Gileee, guepun udah nggak kuat nahan
sperma gue untuk tidak keluar sampai Rena mencapai klimaks berikutnya. Sekarang
ini gue hanya bisa bertahan karena gue masih berusaha mengkoordinasikan gerakan
tangan dan dorongan penis gue karena sekarang ini jadi kacau karena getaran
hebat dari badannya Rena. Kembali untuk beberapa detik gue ngerasain badannya
melemah setelah Rena mengalami orgasme yang ke tiga untuk malam ini dan pasrah
dengan hantaman dan sodokan penis gue di dalam vaginanya.
"Aaaahhhh...gila lu...., ayo...sekarang gue mau....giliran elu.....!!" katanya
terputus-putus karena hentakan dari badan gue yang semakin lama semakin cepat
dan keras karena tangan kanan gue udah kembali memegang pingangnya sambil gue
mengembalikan konsentrasi gue ke penis gue yang terus menerus merasakan pijatan-
pijatan dari dinding vaginanya. "Ooooohhhhhh....Reeennnaaaaaa.......gue mau
keluaaarrrrr......aaahhhhhhhh.....!!" gue kasih tau dia kalau gue sekarang ini
udah mulai merasakan sesuatu yang menggelitik lubang penis gue untuk
dimuntahkan. "Iiiiyyyaaaaaa.....keluarin di mulut....gue ajaaaaa.....!!" katanya
sambil berusaha untuk membalikkan badannya. Gue langsung cabut penis gue dari
vaginanya sementara dengan gerakan cepat Rena berbalik badan sehingga sekarang
ini dia dalam posisi duduk di sofa dengan mukanya persis dihadapan penis gue
yang sebentar lagi siap memuntahkan air maninya. "Aaaaaaahhhhhhh.........!!!!"
teriak gue berbarengan dengan Rena yang telah membuka mulutnya lebar-lebar
sambil mejulurkan lidahnya guna menampung semprotan air mani gue yang menyemprot
deras kedalam mulutnya sementara kedua tangannya mengocok-ngocok penis gue yang
mengkilat dan licin oleh cairan vaginanya sehingga kocokan tangannya terasa
lebih nikmat buat gue karena telah diberi "pelumas". Crooooottt.......
crrroooottttt.......cccrrrooooooooootttt. ...., banyak sekali cairan kental
berwarna putih susu itu yang masuk kedalam mulutnya, sementara beberapa cairan
itu yang menetes dari lubang penis gue tidak sempat jatuh ke lantai karena telah
tertampung oleh lidahnya yang menjulur itu. Gue sempat lihat ekspresinya sewaktu
menelan air mani gue yang sebagian besar berada di ujung lidah sebelah dalamnya
sehingga otomatis lebih mudah tertelan begitu dia menelan air liurnya sendiri.
Terus terang gue terangsang banget dengan ekspresinya itu, karena kayaknya gue
cuma ngeliat ekspresi muka seperti itu cuma dalam BF.
Setelah itu dengan lahapnya dia menjilati penis gue membersihkan sisa-sisa air
mani yang mungkin belum keluar sambil batang penis gue dikocok-kocok terus.
Untuk beberapa detik jantung gue berdetak 1000 kali permenit melihat dan
merasakan dia melakukan pembersihan itu....
setelah gue dapat promosi sebagai Direktur Niaga disebuah perusahaan yang
bergerak dibidang kepelabuhanan untuk bernegosiasi dengan PSA soal pengaturan
jalur container Singapore-Jakarta, tiba- tiba ada tangan nyolek punggung gue dan
suara yang mengagetkan gue....., tapi setelah gue berpikir sebentar koq rasa-
rasanya gue kenal suara itu......, pas gue lihat siapa si pemilik tangan dan
suara itu......, gue kaget setengah mati....., mungkin hampir mati.., soalnya
gue langsung ngebayangin kejadian sekitar 2 1/2 tahun yang lalu, waktu kantor
gue masih di Wisma Nusantara di lantai sembilan, gue pernah naksir berat bahkan
mungkin lebih dari naksir berat sama cewek item manis, agak kurus, punya bibir
dan senyum yang sensual banget serta punya nama mirip dengan bini gue (sekarang
udah ex).....Renata..............!!!!!!!!!
Gilee......, terakhir gue ketemu sama dia waktu dia pulang di bulan Desember
karena kakaknya kawin, dan itupun hanya satu kali aja. Soalnya sejak dia balik
lagi ke Amrik sono, gue udah jarang banget kontak dia, sampai dengan my divorce
and up til now..she showed up in front of me wearing a white tight t-shirt and a
tight faded- blue jeans pants (I always think that this kind of outfit is her
favourite one...)"Hey, Agus...apa khabar....??"tanya dia sambil memamerkan
giginya yang berjajar rapi."Eh,...uh....baik..."jawaba gue datar meskipun sambil
tersenyum, soalnya gue kaget bercampur excited ketemu dia sekarang ini."Lagi
ngapain di sini...?" lanjut gue sambil berusaha untuk menenangkan hati gue yang
nggak karuan ini ketemu my dream girl (maklum udah lama jadi "duren" alias duda
keren, he...he..!) "Gue lagi liburan aja sendirian, soalnya abis lulus waktu itu
gue belum sempat liburan dan abis dari sini gue musti balik ke Jakarta untuk
kerja, jadinya....ya gue pake kesempatan ini utk jalan-jalan sendiri....., kan
elu tau gue, Gus...." Rena nyerocos kaya senapan M 16 ngejawab pertanyaan
gue."Elu sendiri ngapain kesini....?" tanyanya yang terus gue jawab apa adanya.
Setelah saling cerita tujuan masing- masing ke Singapore ini dan sekaligus
membawa tas masing-masing dari bagage claim Changi Airport itu, terus pas sampai
di depan airport sambil ngantri nunggu taxi gue iseng nanya "Ren, nginep dimana
lu...?" Terus dia cuma senyum sambil jawab "Kenapa emangnya....?"."Nggak, kalau
elu nggak ada tempat nginep, elu ke kamar gue aja, kebetulan kantor udah
ngebokingin kamar Suite Room di Marriot Hotel..."gue berusaha untuk menawarkan
sambil basa- basi sedikit. Terus dia cuma ketawa lepas dan renyah seolah-olah
tanpa beban menjawab "Yang pastinya sih gue udah boking kamar juga....,
cuma......" kalimatnya berhenti sambil matanya berusaha membuat gue yang nerusin
kalimatnya. Melihat gelagat seperti ini gue langsung tanggap "Udah deh sama gue
aja, lagi pula elu belum bayar apa-apa kan dengan hotel pesanan elu itu.....,
lagi pula,....eh.....kita dulu pernah ingin buka kamar di Jakarta cuma belum
pernah kesampaian,...jadinya ya sekarang aja..., ya....."ajak gue dengan penuh
antusias. Body language gue dengan jelas nunjukin banget bahwa gue ingin banget
bareng ama dia. Langsung dia jawab "OK...."
Setelah dapat taxi, selama dalam perjalanan menuju hotel, gue sama Rena banyak
tukar cerita sampai nggak terasa kalau sudah sampai di Marriot Hotel di
persimpangan Orchard Road dengan Scotts Road itu. Setelah gue chek in bareng
sama Rena dan sampai di kamar 503 gue lihat jam gue nunjukin waktu hampir jam 6
sore waktu Singapore, gue langsung bilang sama dia "Ren, gue mandi dulu, ya....
abis gue, ..elu mandi terus kita jalan- jalan sekalian
diner...OK...?"."Siiipp...lah...!"jawabny a sambil mengambil posisi tengkurap di
tempat tidur sambil menonton tivi.
Waktu di Singapore sudah hampir jam 9 malam pada saat gue berdua Rena sepakat
untuk balik ke hotel karena sama-sama capek setelah makan malam dan jalan-jalan
disepanjang Orchard Road sambil ngobrolin segala macam topik, mulai dari yang
serius sampai dengan hal-hal yang "garing" (istilahnya dia untuk bilang sesuatu
yang aneh tapi lumayan lucu) dan memutuskan untuk nongkrong di cafe atau disco
besok malam setelah gue selesai meeting hari pertama besok.
Begitu sampai di kamar gue udah terlalu capek untuk ganti baju dikamar mandi,
akhirnya gue bilang "Ren, sorry gue males ke kamar mandi untuk ganti baju,
jadinya gue ganti baju disini aja ya...." dan tanpa gue tunggu jawabannya gue
langsung buka kaos dan celana jeans gue untuk ganti dengan kaos khusus untuk
tidur dan celana pendek (cuma berhubung ada Rena di situ gue nggak buka CD alias
celana dalam.....). Sementara itu, begitu dia tau gue ganti baju di depan mata
dia, dia cuma tersenyum sambil bilang "Siapa takut...." tapi sambil berusaha
untuk tidak melihat secara langsung kearah tonjolan di daerah selangkangan gue.
Gue cuma berpikir satu hal, yaitu kayaknya dia kagum ama junior gue itu cuma
masih malu untuk bilangnya ke gue. Untuk hal yang satu ini gue emang nggak perlu
GR karena sudah terbukti, lho..... bahwa cewek yang udah pernah tidur sama gue
pasti kagum dan puas dengan servis gue meskipun punya gue ini bisa dikategorikan
rata-rata cowok Indonesia tapi yang penting adalah bagaimana cara
menggunakannya, if you know what I mean....!!!!
Setelah gue ganti kaos dan celana pendek, gue langsung rebahan di tempat tidur
berukuran King size itu sambil nonton tivi yang kemudian disusul oleh Rena
sambil bilang "Elu nggak akan jahat kan sama gue....??"."Jahat maksud elu yang
kayak apa...?" gue mencoba untuk mancing pembicaraan dia tapi kayaknya dia ini
cukup misterius juga untuk masalah perasaan dia thd gue. Karena terus terang gue
sampai saat ini selalu ragu-ragu untuk menebak perasaan dia terhadap gue, dalam
artian dia itu suka juga ama gue atau hanya sekedar berteman........
Akhirnya setelah agak bosan dengan acara tivi, tiba-tiba dia bilang "gue boleh
ganti baju didepan elu nggak.....?" tanyanya dengan suara setengah berbisik. Gue
agak kaget dengar dia tanya seperti itu, meskipun berusaha gue untuk cuek dan
seolah terbiasa dengan one-night stand affair, gue menjawab "Siapa takut...."
sebagaimana komentar dia waktu gue ganti baju tadi..dan Rena langsung berdiri
dipinggir tempat tidur sambil buka baju membelakangi gue, terus dia sambil
ketawa tersipu bilang "eh,...baju tidur gue belum diambil dari koper..." sambil
berlari kecil menuju kopernya untuk mengambil baju tidurnya itu. Nah,... sewaktu
dia lari itu gue sempat lihat bodynya yang kurus (dan rasanya lebih kurus dari
waktu dia masih di Jakarta dulu) tapi tonjolan dibalik BHnya itu yang bikin mata
gue kagak bisa berkedip....!!! Her breast ini bisa dibilang cukup average untuk
ukuran cewek Indonesia, tapi dari getarannya waktu dia lari itu bisa dibilang
nyaris tak bergetar. Gue langsung ngebayangin that those breasts are quite firm
dan gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya tangan gue yang meremas dua bukit
yang kencang itu sambil gue mainin putingnya......wow....that should feels
wonderful....!
"Agus..., koq punya elu itu jendolannya jadi gede banget....?" tanyanya sambil
bola matanya menunjuk kearah penis gue sekaligus membuyarkan lamunan gue tentang
gunung nona Rena itu. Gue malu buuaaangeeettt waktu dia tunjukin bahwa penis gue
udah membengkak dan keras dan itu terlihat meskipun gue pake CD dan celana
pendek......semua itu gara-gara lamunan gue tadi nih.....sampai-sampai gue nggak
sadar kalau dia udah selesai gnati baju dengan big t-shirt sampai dengan pahanya
dan tidak memakai celana pendek atau celana panjang lagi, tapi dalam keadaan
seperti itu, gue masih sempat ngeles "iya nih, gue nggak kuat ngeliat a sensual
and sexy girl liwat didepan mata gue half naked......" gue berusaha untuk jujur.
Kemudian Rena bergeser mendekati tempat gue rebah sambil bilang "gue suka gaya
elu yang hampir selalu straight to the point..., makanya gue juga mau straight
to the point sama elu....". Lalu dia mendekatkan mukanya ke muka gue dengan
maksud untuk mencium gue dan tanpa pikir panjang lagi langsung gue sambut ciuman
dari bibir yang sensual itu dengan kecupan demi kecupan dan langsung menjadi
french kissing seolah-olah melampiaskan rindu kita berdua yang selama ini
tertahan. Yang jelas selama ini gue selalu mengharapkan kejadian seperti malam
ini bisa berlangsung tanpa harus punya perasaan segan karena status gue yang
berbeda dengan statusnya dia dan gue rasa dia juga punya perasaan yang sama.
Sambil menciumi hampir seluruh mukanya, tangan gue mulai bergerak menuju
ketempat-tempat sensitifnya, seperti payudaranya yang sungguh diluar dugaan gue
bahwa itu merupakan daerah yang paling sensitif buat dia. "Oooohhh....." erangan
halus yang terdengar dari mulutnya menandakan dia menikmati remasan tangan gue
di payudara kanannya. Sementara itu, tangan kirinya berusaha untuk membuka
kancing dan resleting celana pendek gue dan pada saat yang bersamaan, tangan
kiri gue menyelusup masuk ke dalam kaos tidurnya Rena untuk mencari puting
payudara kirinya. "Aaaaaahhhhh......Agus nakal banget sih....."katanya sambil
matanya hanya terlihat putihnya saja begitu tangan kiri gue berhasil memainkan
puting susu kirinya. "Oohhh...Ren...gue suka banget....sshhhh....aaahhh..."
begitu tanganya berhasil juga menyusup ke dalam CD gue dan langsung memegang
batang penis gue sambil diusap-usap secara perlahan.
Sambil mengusap-usap penis gue, dengan setengah berbisik "Gue isep ya,...boleh
nggak....?" sambil melirik ke arah penis gue. Tentunya dengan senagn hati gue
terima tawarannya itu yang terus terang bikin darah diseluruh badan gue mengalir
dengan cepat sekali. Gue bantu dia untuk melepas CD gue dan setelah itu, gantian
gue yang bantu dia untuk buka kaosnya... dan......, wooops......langsung gue
melotot melihat payudaranya yang kencang dan menantang itu. Merasa cara gue
melihat badannya dengan cara seperti itu, dia langsung berusaha menutup dadanya
sambil berkata tersipu "..Eh...,..apaan sih elu ngeliatnya kayak gitu..."."
Sorry, I just love the view..." jawab gue sambil mencium bibirnya dan tangan gue
juga langsung meraba payudaranya dan disambut dengan desahan nikmat yang keluar
dari mulutnya...
Tiba-tiba dia melepas ciuman gue dan mengarahkan mukanya langsung ke penis gue
sambil dipegang batangnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya
mencoba untuk menjangkau bola-bola gue dan sekaligus meremasnya dengan lembut.
Seeerrrrrrr..., perasaan gue mendadak terbang begitu kepala penis gue
bersentuhan dengan bibir sensual itu dan masuk kedalam
mulutnya."Ooohhhhh....."hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue sambil gue
merebahkan diri gue dan membiarkan kaki kanannya melewati diatas kepala gue,
sehingga dihadapan gue terpampang spot basah di CD mini hitamnya yang gue yakin
itu berasal dari vaginanya. Tanpa ragu gue singkap CDnya sehingga gue bisa
melihat dengan jelas bibir dan lubang vaginanya yang berwarna merah kecoklatan
dan terlihat sudah basah itu. Setelah itu gue buka kedua bibir vaginanya dengan
kedua jempol gue sehingga dengan jelas clitorisnya (meskipun sudah disunat) dan
langsung gue jilat mulai dari clitorisnya sampai lobang vaginanya seperti gue
menyapu daerah itu dengan lidah gue, sementara penis gue udah berdiri tegak
dikuasai sepenuhnya oleh Rena. Yang jelas gue cuma ngerasa bibirnya naik turun
menjelajahi batang penis gue, sementara lidahnya menjilati lubang penis gue
sewaktu bibirnya menjempit kepala penis gue.
Pikiran gue saat itu adalah kalau dia bisa servis gue dengan hebatnya, gue nggak
boleh kalah ngasih servis yang sama hebatnya. Gue jilatin vagina Rena sambil gue
isep clitorisnya dan setiap gue isep gue bisa ngerasain seluruh badannya
bergetar seperti orang kesetrum. Kurang lebih lima menit kita dalam posisi 69
gue ngerasa badan dia bergetar lebih keras dan dia mengehentikan gerakan
bibirnya yang naik turun di penis gue pertanda dia akan mencapai klimaks.
Langsung gue jilatin clitorisnya dengan lebih cepat sambil sesekali gue isap.
"Mmmmmmmmbbbbbhhhhh......." suaranya seperti itu karena dia nggak mau lepas
penis gue dari mulutnya berbarengan dengan getaran seluruh badannya dengan lebih
keras. Gue ambil inisiatif dengan langsung mengisap clitorisnya kuat-kuat sampai
pipi gue kempot. Mulut gue yang dari sejak mulai menjilati vaginanya itu sudah
basah oleh cairan dari kemaluannya bertambah basah dengan klimaksnya Rena. Gue
bisa ngerasain cairannya yang manis asin itu dilidah gue dan terus terang gue
suka banget dengan rasanya itu...
Untuk beberapa detik, badannya masih bergetar hebat namun mulai melemah sewaktu
dia melanjutkan menaik-turunkan bibirnya di batang penis gue, sementara gue
menjilati seluruh cairan vaginanya sampai bersih. Tiba-tiba dia mengangkat
pantat dan memutar seluruh badannya kearah diantara kaki gue, sehingga dengan
jelas gue bisa melihat kepalanya naik turun diatas penis gue sambil sesekali gue
lihat dia menjilati kepala penis gue sambil melihat ke muka gue seolah ingin
tahu ekspresi muka gue sewaktu dia jilati kepala penis gue itu. Tangannyapun
ikut mengocok batang penis gue sehingga hal ini mempercepat gue mencapai
klimaks. Satu menit berlalu dan gue udah nggak kuat untuk membendung cairan yang
akan segera muntah dari lubang penis gue."Aaaahhhhhhhh......Rena..sebentar lagi
gue mau keluar...ssshhhhhh". Mendengar itu dia langsung mempercepat gerakan
mulut dan tangannya sambil tangan yang satunya tetap meremas lembut bola- bola
gue."Ooohh...Rena..gue mau keluar sekarang......aaaaaaahhhhhhhhhhh....!!!!! "
teriak gue dan ccrrrooooottt....ccrrrooottttt, air mani gue menyemprot keluar
dengan deras didalam mulutnya Rena yang tanpa rasa jijik ditelan semuanya. Badan
gue bergetar hebat berbarengan dengan Rena yang masih terus menyedot-nyedot
penis gue seolah ingin menghabiskan seluruh air mani gue dan tidak rela ada yang
menetes keluar dari mulutnya.
Gue liat gerakan kecil di lehernya pertanda dia betul-betul menelan seluruh air
mani gue tanpa menyisakan sedikitpun di penis gue. Setelah itu dia jilatin
kepala penis gue sepertinya masih ada air mani yang tersisa untuk dia.
Wooowww.....gile bener ni cewek, baru kali ini gue ketemu cewek Indonesia yang
suka air mani, karena selama ini gue pikir cewek Indonesia paling jijik dengan
hal-hal seperti itu. Setelah dia yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa maka
dia baru menjauhkan mukanya dari penis gue yang mulai melemah. Langsung gue
tarik kedua tangannya ke arah gue dengan tujuan biar bisa gue peluk.
Sekarang badan dia seluruhnya menindih badan gue sambil gue ciumin bibirnya
sebagai tanda rasa terima kasih gue sama dia. Setelah itu, dia menggulirkan
badannya ke sebelah kiri gue sambil bilang "Suka nggak....?"."Gue nggak tau
musti bilang apa, Ren..... yang jelas gue nggak pernah ngerasain klimaks seperti
barusan..."jawab gue sambil masih terengah-engah."Elu sendiri suka nggak,
tadi....?" tanya gue ingin tau perasaan dia, sambil tersenyum (gue juga suka
banget sama senyumnya itu) dia jawab "Sama, Gus... gue juga belum pernah
ngerasain klimaks seperti tadi......"
Setelah posisi 69 itu, gue sama dia sama- sama rebahan di balik selimut sambil
nonton tivi. Rena hanya masih pake CDnya dan gue cuma pake t-shirt doang karena
udah males utk ngambil pakaian kita yang berserakan di samping tempat tidur itu.
Komunikasi diantara kita secara verbal memang nggak ada, tapi yang jelas sejak
kita selesai ber69 itu, gue langsung pegang tangannya seolah-olah gue nggak mau
jauh dari dia. Shit...what the hell am I thinking of ? pikir gue, belum apa- apa
gue udah kayak orang lagi kasmaran. Kenapa gue jadi kayak begini, masa selama
ini gue bisa bertahan untuk jaga betul hubungan dan perasaan gue dengan cewek-
cewek yang pernah gue ajak kencan, kenapa dengan yang satu ini koq jadinya kayak
gini.....??? Ah, mungkin ini karena dari dulu setiap gue jalan sama dia ke kafe-
kafe (terutama Hard Rock) gue lebih banyak pasif dan menunggu, sehingga
keinginan gue ini kayak terpendam begitu aja dan baru terlampiaskan malam ini.
Well..., we'll see....!!!
"Rena,....can I ask you a question..?" tanya gue dengan agak berhati-hati, terus
dia hanya melirik ke gue sambil tersenyum dan dengan tangannya dia membelai muka
dan rambut gue dengan halus dan kasih sayang "Elu mau nanya apa..,Gus..?". "Gue
mau ceritain perasaan gue selama ini terhadap elu tapi nggak tau gue harus mulai
dari mana....., dan gue paling nggak bisa bilang basa-basi ama elu,
jadi............eh...........would you like to make love with me.....?" ups...
akhirnya keluar juga omongan gue itu...., padahal dari dulu gue udah berusaha
untuk nggak ngomongin hal itu ke dia, tapi sekarang ini kayaknya udah terlambat
untuk disesali jadi, ya what the heck lah......!! Gue lihat ekspresi muka dia
sempat berubah tapi terus kembali biasa lagi "Gue mau aja make love sama elu,
tapi sebelum itu gue pengen nanya apa elu udah tau gue dalam artian tau gue
bener- bener...??". Gile, what a tough question, gue berpikir sebentar, lalu
"Emmm..... mungkin tau yang sebenar-benarnya enggak.., tapi sekarang ini
kesempatan gue untuk tau lebih banyak tentang elu kayaknya lebih besar
deh...dibandingin dulu..". Fiuuhhh...kayaknya jawaban gue cukup logis dan
mudah-mudahan bisa diterima. "Sama satu hal yang dari dulu sebenarnya ingin
banget gue tanya ke elu,...eh...gimana sih sebenarnya perasaan elu sama gue,
maksud gue elu itu sebenarnya suka juga nggak sama gue dalam artian ingin yang
lebih serius atau hanya sekedar teman jalan aja sih.....?" tanya gue mumpung
momentnya tepat. "Gue nggak tau elu perlu jawaban gue apa enggak......" katanya
berhenti sampai disitu karena dia udah langsung narik leher belakang gue ke
arahnya untuk mencium gue. Gile ini cewek bener-bener nggak bisa ketebak jalan
pikirannya, tapi gue udah nggak bisa mikir lebih jauh lagi soalnya konsentrasi
gue langsung buyar begitu ngerasain lidah gue disedot kencang banget sama Rena.
Pikir gue dalam hati "She's really a good french kisser..". Sementara itu
sekarang ini separo dari badan gue menindih badan dia sambil tangan gue
meremas-remas payudaranya yang imut-imut itu. Setelah puas gue cium bibirnya,
pelan-pelan gue mulai menciumi pipinya, kemudian lehernya, bahunya dan sampai di
payudaranya kanannya, gue ciumin mulai dari atas bergeser pelan-pelan sambil gue
julur lidah gue sehingga ujung lidah gue bersentuhan dengan kulitnya sementara
tangan gue menyempatkan untuk membuka CD mini hitamnya dan menariknya sampai ke
lutut Rena.
Begitu ujung lidah gue bersentuhan dengan puting mungil dan menonjol itu
terdengar suara desahan dari si pemilik puting itu "Heeehhhhhhh......Agus....gue
suka banget......." katanya sambil berusaha meremas rambut gue tapi nggak bisa
soalnya rambut gue cepak gaya ABRI. Akhirnya dia cuma bisa membantu membenamkan
kepala gue ke payudaranya itu, sementara tangan kanan gue sedang asik bermain
dengan puting susu kirinya yang juga mungil dan sudah menonjol itu. Posisi kaki
kanan gue sekarang sudah berada diatas paha dan perut bagian bawahnya. Terasa
oleh gue bulu-bulu halus dan rapih serta tidak terlalu lebat di bagian bawah
perutnya. Gue isep putingnya sambil sesekali gue jilatin. Lalu tangan kanan gue
yang semula bermain dengan puting kirinya sekarang berpindah mengusap perutnya
perlahan dan turun ke rambut-rambut halus diatas vaginanya itu gue mainin
sedikit dengan mengusapnya. Terus perlahan jari gue gue turunin ke arah
vaginanya dan berusaha menemukan clitorisnya. Begitu gue menemukan apa yang gue
cari, maka jari-jari gue mulai main dengan clitoris dan lubang vagina yang
memang sudah mulai basah. Semua yang gue kerjain ini berdampak bagi Rena
mengalami kenikmatan yang tinggi. Hal ini terbukti dari goyangan maupun gerakan
serta getaran yang yang ditunjukkan oleh badan Rena yang tight and firm itu
mulai meningkat.
Gue betul-betul kagum sama bodynya dia, meskipun jarang berolahraga (menurut
pengakuannya) badan dia mulai dari tangan, punggung, perut, dada, paha dan betis
kelihatan kencang dan tanpa lipatan-lipatan lemak. Padahal yang gue tau makannya
sih normal-normal aja tuh, tapi emang itu namanya body memang oke punya....
Sementara gue sibuk dengan aktifitas diseputar payudara dan vaginanya, tangan
dia mulai meraih penis gue yang memang masih dalam kondisi lemas. "Agus, buka
kaos elu, ya......." katanya sekaligus membantu gue untuk buka kaos gue. Setelah
kaos gue lempar entah kemana, gue lanjutin dengan menciumi perutnya yang rata
itu. Rena menyambutnya dengan mengusap-ngusap kepala gue tanda benar- benar
menikmati apa yang gue kerjain ke dia sementara tangan satunya tetap pegang
penis gue dan pelan-pelan mengocoknya. Perjalanan gue terusin dengan pelan-pelan
gue geser muka gue ke arah persis didepan mulut vaginanya dan badan gue pun gue
geser kearah diantara kedua kaki Rena, hal ini mau enggak mau dia harus melepas
penis gue. Kepalanya diangkat sedikit agar bisa melihat muka gue yang sedang
sibuk mengagumi vaginanya itu. Gue angkat sedikit pantatnya biar vaginannya
lebih gampang terjangkau oleh lidah gue yang sekarang ini sedang menjilati
clitoris Rena. Setiap ujung lidah gue menyentuh clitorisnya itu, setiap saat itu
pula gue ngeliat kepalanya digoyang kekiri dan kekanan sementara kedua tangannya
berusaha untuk menjangkau dan memegang tangan gue seolah dia butuh sesuatu untuk
dia remas. Begitu tangannya berhasil memegang tangan gue, langsung dia pegang
tangan gue begitu erat. Pegangannya bertambah erat kalau pas lidah gue sedang
"menampar" clitorisnya itu berulang-ulang dengan ujung lidah gue.
"Ooohhhhh...ssshhhhhhttsss.....oh..yaaa.. ..teruuusssss....!!!" hanya
suara-suara kenikmatan itu aja yang gue denger dari mulutnya. Gue masih terus
menjilati clitorisnya dan kadang-kadang lidah gue menjelajah turun sampai ke
lubang vaginanya yang kadang-kadang gue coba penetrasi ke dalam lubang itu
dengan lidah gue. Gue nggak tau apakah memang vaginanya itu tidak memiliki aroma
khasnya atau memang gue udah terlalu nafsu, sehingga indra penciuman gue agak
rusak, soalnya sewaktu idung gue persis didepan lubang kewanitaannya itu, gue
sama sekali enggak mencium apa-apa.
"Aaahhhhh.....Aguusssss.......gue ssukkaaa bangeeett....!!"desahannya buat gue
semakin bertambah nafsu untuk lebih memfokuskan lidah gue ke clitorisnya,
sementara itu kepalanya masih tetap digoyang kekanan dan kekiri, meskipun
kadang-kadang dia mengangkat kepalanya untuk melihat "keadaan" gue. Selagi
asiknya menyapu daerah kewanitaannya itu, tiba-tiba gue ingin bikin dia terkejut
dengan menarik mulut gue menjauhi vaginanya dan sekaligus berhenti menjilati
clitorisnya. "Eh.....??" begitu katanya sambil mengangkat kepalanya dan melihat
ekspresi muka gue seolah ingin tahu alasan gue untuk memberhentikan kegiatan gue
yang betul-betul dia nikmati. Gue bisa melihat itu dari eskpresi mukannya yang
sedang keheranan. Tapi keheranannya itu tidak berlangsung lama karena gue
langsung tarik kedua tangannya untuk mengajak dia bangun dan turun dari tempat
tidur dan sambil gue pegang tangannya gue tuntun dia menuju sofa (two-seater)
yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan jendela. Gue tuntun dia untuk duduk
dengan posisi pantatnya berada dipinggir sofa. "Elu merasa comfortable,
nggak...." tanya gue memastikan bahwa posisinya itu enak buat dia. Jawaban yang
gue dapat hanya anggukan kecil kepalanya dan senyum yang nggak pernah bosen gue
lihat. Terus gue angkat kedua pahanya tinggi supaya posisi vaginanya pas di
depan gue. Gue mengambil posisi duduk dibawah dengan kedua kaki gue berada
dibawah pantat gue, langsung gue garap kembali proyek yang tadi sempat gue
hentikan.
"Elu pengen sambil gue isep nggak, Gus...??" tanyanya diantara desahan nafasnya
yang seolah-olah habis lari marathon Bogor-Jakarta. Gue nggak perlu menjawab
pertanyaan itu karena gue cukup mengelengkan kepala gue sementara lidah gue
menyentuh clitorisnya seiring dengan gelengan kepala gue itu tadi, sehingga gue
bisa lihat kepalanya kembali dia sandarkan kembali ke sandaran sofa empuk itu.
"Aaaahhhhh....gile..lu...., ooohhh..yaaa.....hhhssssttssss.." kembali hanya
desah kenikmatannya itu aja yang gue dengar kurang lebih selama lima menit
sampai dia bilang lagi "Oooohhhhh....Agguusss....aaooooouuuuwww.
..iya..iya...iya..." sambil ikut menggoyangkan pinggul dan pantatnya yang
semakin cepat dan semakin cepat sampai tiba-tiba tangan gue di remas kuat sekali
dibarengi dengan getaran tubuhnya yang menggila
"...Aaaahhhhhh....yes...yesss...sssssshhh hhh" teriaknya pertanda dia sedang
mencapai puncak kenikmatannya. Setelah seluruh badannya melemah kembali, dia
langsung bangun dari posisi setengah tidur itu dan langsung berusaha untuk
berdiri (meskipun dengan agak sedikit terhuyung-huyung...). "Haahh...gile lu,
gue malam ini sampai dua kali orgasme, ....sampai-sampai rasanya peredaran darah
gue terlalu cepet beredarnya...ha..ha...!!!!" katanya diiringi dengan tertawa
renyah sambil tetap berpegangan dengan tangan gue.
Lalu dia menuntun gue untuk duduk di sofa itu dengan dia berada diantara kedua
kaki gue dengan posisi duduk. Sewaktu tangannya memegang penis gue yang masih
tegak (apalagi sekarang tegak keatas...) dia agak heran dan bertanya "Lho koq
masih keras aja sih, padahal kan belum diapa-apain...??" sambil melirik dan
tersenyum menggoda. Lalu pelan-pelan dia kocok batang penis gue sambil dilihat-
lihat seperti anak kecil yang sedang mengagumi mainan barunya. "Koq ngeliatnya
kayak begitu amat sih....?" tanya gue penasaran. "Enggak cuma suka aja ngeliat
punya elu...., gemes gue ngeliatnya....." katanya sambil membuka mulutnya dan
langsung melahap penis gue yang memang udah keras sejak tadi. "Oooohhhh......"
gile bener rasanya waktu penis gue masuk kedalam mulutnya sambil tangan gue
memegangi rambutnya supaya tidak menghalangi pemandangan gue sewaktu dia ngisep
penis gue. Kayaknya dia tau persis bahwa my favorite sex activity adalah a girl
giving me a blow job....!!!!!! Buktinya setiap kali bibirnya bergerak naik gue
bisa lihat pipinya sampai kempot dan sedotannya betul-betul bisa mempercepat air
mani gue untuk keluar. Padahal biasanya untuk setiap ronde kedua gue lebih kuat
dan lama dibandingkan ronde pertamanya. Akhirnya daripada gue kebobolan duluan
lebih baik gue langsung bilang ke dia "Ren,...gue udah nggak tahan nih...eh,
boleh gue masukin nggak....???". Lalu dia menarik mulutnya dari penis gue dan
bilang "Iya, nih....gue juga udah nggak tahan,...I want something hard inside
me......". Begitu mendengar dia bilang seperti itu, langsung penis gue
berdenyut-denyut seiring dengan detak jantung gue yang sekarang ini hitungannya
sudah seperti habis lari marathon 10 km.
Gue langsung bimbing dia untuk kembali ke tempat tidur, dimana dia langsung
mengambil posisi terlentang dan dengan demikian gue bisa langsung menindih dia
sambil gue cium bibirnya yang betul-betul menggoda iman......!! Sementara itu,
tangan gue sedang memegang penis gue untuk mengarahkannya ke lubang kenikmatan
milik Rena itu. Untuk mempermudah penetrasi penis gue itu, gue buka kedua paha
Rena dengan kedua paha gue sehingga posisi gue ini sekarang udah kayak gaya
kodok mau loncat. Untuk mempertemukan kepala penis gue dengan lubang vagina Rena
yang sudah basah sekali itu, gue nggak perlu ngeliat lagi kebawah, tapi cukup
dengan "petunjuk" dari kepala penis gue yang memiliki "jam terbang" yang tinggi
sehingga dengan mudah namun tetap perlahan-lahan masuk sambil melihat eskpresi
muka Rena yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. "Rena,
are you still a....?" gue nggak terusin pertanyaan gue karena sudah keburu
mendapat anggukan dari dia sambil tetap merem dan gigit bibir. Shit.....langsung
otak gue berpikir keras, karena harus menentukan gue terusin atau enggak
penetrasi gue ini. Kalau gue ikuti akal sehat gue, maka gue nggak boleh lanjutin
sebab gue harus menghargai virginity-nya karena harusnya dia berikan di malam
pertama dengan suami pilihannya tentunya..., tapi kalau gue ikuti nafsu gue,
maka gue harus betul- betul menghormati dia karena dengan gue dia mau ngasih
virginity-nya itu sekarang ini, padahal gue dengan dia rasanya belum bikin
komitmen apa-apa tentang hubungan kita berdua. What the fuck am I doing
now...why does she want to do it with me now...?? Is it because she likes me
alot and knows that I am a widower now.....??
"Ayo, Agus masukin aja sekarang....." katanya dengan nada setengah memohon
membuyarkan pikiran gue dan gue pikir "emangnya gue pikirin, fuck my
conciuousness...!!", dan langsung gue dorong lagi penis gue ke dalam vaginanya,
sehingga terdengar erangan setengah sakit dan setengah nikmat..
"Aouuuwww....sssssshhhhhhhhhhsssttttssss. ...." desisnya bikin gue bukannya jadi
kasihan, tapi malah tambah dalam gue dorong penis gue sampai seluruhnya masuk
kedalam vaginanya. Sesaat gue lihat ekspresi mukanya menegang, meskipun dalam
keadaan merem dan tetap menggigit bibirnya. Lalu gue stop total semua gerakan
yang barusan gue kerjain supaya dinding-dinding vaginanya dapat menyesuaikan
diri dengan penis gue sambil gue bisikin "Sakit.., ya..., gue diemin dulu ya
sekarang sambil elunya rileks dulu...". Dia setuju dengan ide gue itu dan
mengangguk. Untuk beberapa detik posisi gue berada diatas badannya Rena dengan
tidak melakukan suatu gerak apapun (kecuali bernapas..., itu pun terengah-
engah...!!!), sampai akhirnya dia menarik kepala gue dan didekatkan kemukanya
untuk mencium gue dan tentunya gue sambut pula ciumannya itu sekaligus dengan
mulai menggerak-gerakkan penis gue keluar masuk vaginannya secara perlahan-lahan
namun dalam. "Oooohhhh...iyaaa......ooohhhh...Reeennna aa......" desahan gue
menikmati betul setiap milimeter dari dinding-dinding vaginanya yang sekarang
ini sedang memijat-mijat batang penis gue setiap penis gue masuk jauh kedalam
vaginanya. Gue nggak tau apakah karena ini terjadi karena ketegangannya (maklum
baru pertama kali..) atau karena memang dia udah menjadi ahli dalam hal
menggerakkan otot perutnya sehingga dapat mengatur "jalannya permainan".... Tapi
yang jelas adalah bahwa gue betul betul menikmati vaginanya itu, apalagi setelah
mukanya mulai mengendur (tidak tegang seperti baru gue masukin tadi...) dia
mulai menikmati sodokan yang gue berikan pada vaginanya terbukti dengan
tangannya yang tadi hanya meremas-remas seprei, sekarang mulai berani memegang
pantat gue sambil membantu mendorongnya supaya penis gue betul-betul masuk semua
kedalam vaginanya itu. "Aaaahhhhh.....Agus......enak,...uuhhhhhh " katanya
memberi tanda bahwa dia sekarang sudah bisa menikmati gerakan- gerakan penis gue
didalam vaginanya, sehingga gue mempercepat tempo sodokan gue kedalam vaginanya
sehingga terdengar suara "plok...plok...plok...plok..." yang berasal dari
beradunya pangkal paha kita berdua seiring dengan gerakan gue memompa vagina
Rena yang terus bertambah basah karena gesekan tersebut.
Sekarang gue mengangkat kedua pahanya kedepan sehingga kedua lututnya mendekati
dadanya yang ikut bergetar kecil seiring dengan sodokan nikmat dari penis gue.
Hal ini gue lakukan untuk mempermudah penetrasi gue karena gerakan gue udah
mulai nggak beraturan, soalnya pinggang gue udah mulai pegel (hampir lima menit
gue mompa Rena...). "Ooohh...cepetin Gus.....gue udah mau klimaks nih...!!"
katanya meminta dan tentunya segera gue penuhi permintaannya itu dengan
mempercepat kembali tempo sodokan gue. "Ooohhh....iyaaa....yaaa.....c'monnn....f
uck me harder Agus....yesss...yesss" katanya sambil terus membantu pantat gue
bergerak lebih cepat, sementara gue lihat dia mendongakkan kepalanya ke arah
kepala tempat tidur "Arrhhhhhh....oohhh....ssshhhhhhh....yees ssss....I'm
coming.....aaauuwwww...!" teriaknya berbarengan dengan getaran hebat dari
seluruh tubuhnya itu sambil kedua tangannya mencengkram sekaligus mencakar
pantat gue, sementara gue manfaatkan kesempatan ini dengan gue pompa Rena
secepat mungkin tanpa menghiraukan pinggang gue yang kembali terasa pegel. Untuk
beberapa detik badannya masih bergetar hebat sewaktu tangannya pindah dari
pantat gue ke punggung gue dan langsung menarik gue untuk dia peluk erat-erat
"Oooooohhhhh.......ssshhhhhssssssss...... yyeeeeaaaaasss...uuhhhhh"
lengkingannya mengagetkan gue meskipun tidak sampai membangunkan seluruh
penghuni hotel sambil gue terus pompa vagina gadis yang bernama Renata
itu.....!!!! "Suka nggak barusan....??" tanya gue sambil tanpa hentinya
mengeluar-masukkan penis gue ke dalam vaginanya itu. Terus dia bilang sambil
tetap memeluk gue erat "Uuuhhhhh....gue suka banget, sayang.....". What......,
she called me "sayang", and if I'm not mistaken, this is really her first time
calling me with that name.........perasaan gue langsung berbunga-bunga
(mudah-mudahan gue nggak kegeeran...!!!). Mendengar dia memanggil gue dengan
kata-kata itu, langsung gue tersenyum dan langsung mengulum bibirnya yang
sensual itu (gue nggak inget udah berapa kali gue bilang itu...) sambil terus
memberikan dia kenikmatan dalam setiap gesekan penis gue dengan dinding
vaginanya yang terus berdenyut memijat penis gue. Sementara keringat gue dan dia
udah mulai bercampur khususnya di bagian-bagian yang menempel dengan ketat.
Tiba-tiba gue punya akal untuk mengistirahatkan pinggang gue karena sampai
sekarang gue masih jauh dari ngerasa mau klimaks. Gue cabut penis gue dari
vaginanya dan gue langsung ajak dia untuk bangun dari tempat tidur dan mengajak
dia ke sofa tadi. Gue bimbing posisi dia di sofa itu seperti doggy style
sehingga kedua lututnya berada dipinggir sofa dan kedua sikutnya bersandar pada
sandara kepala/punggung sofa tersebut sehingga dengan posisi seperti ini dia
dapat melihat pemandangan sebagian kota Singapore diwaktu malam (waktu itu
hampir jam 11 malam waktu lokal). Lalu dia kaget waktu gue buka horden tebal dan
tipis yang membatasi pemandangan diluar dilihat dari dalam kamar. "Heh,.....mau
ngapain elu Gus....eh gila elu...elu mau kita dilihat orang....?" tanyanya
setengah nggak percaya dengan kelakuan gue yang aneh itu. Namun Rena sama sekali
tidak bergeser dari tempatnya sewaktu gue berjalan kebelakangnya, malahan dia
menertawakan penis gue yang masih tegak dan kelihatan mengkilat karena cairan
vaginanya bergoyang-goyang sewaktu gue berjalan menghampirinya. Lalu gue tempel
lutut gue ke pinggir sofa dengan mengarahkan penis gue sedikit ke vaginanya gue
lihat pantatnya yang bulat- bulat dan kencang ini benar-benar bikin darah gue
mengalir dengan cepat sekali, sehingga dengan tanpa terkontrol dan cepat sekali
gue masukin penis gue sekaligus sampai seluruh batangnya terbenam didalam
vaginanya. "Aaauuuwwwww.....nafsu bener lu....!!" katanya sambil meringis
menahan sakit yang kemudian hilang sama sekali dan berganti dengan rasa nikmat
yang tiada tara pada setiap pergesekan antara penis gue dan vaginanya.
Sebetulnya hal inipun gue rasakan juga betapa nikmatnya lubang senggamanya Rena
sehingga gue benar-benar lupa kalau pinggang gue tadi sempat pegel, namun
sekarang kembali dalam keadaan fit, sehingga dengan leluasa gue menyodok-nyodok
vaginanya dari belakang. Kayaknya dorongan gue dalam posisi seperti ini jauh
lebih keras dari dorongan gue waktu gue diatas dia tadi dan yang jelas sampai
sekarang gue belum merasa ada tanda-tanda mau klimaks. Tangan gue sesekali
berusaha menggapai payudaranya yang menggantung sambil meremas-remas serta
memainkan putingnya. "Ohhh.....Aguuussss.....gue suka..........." lirihnya
sambil menikmati gerakan tangan dan jari gue bertualang di payudaranya.
Sementara itu gue ngerasa ada sesuatu yang mengenai bola-bola gue yang ternyata
hal itu adalah tangannya yang secara perlahan meremas-remas bola-bola gue.
"Aaaahhhh...Rena.....tangan elu nakal....." kata gue meskipun sebetulnya
menikmati betul remasan-remasan tangannya.
"Ooohhh...sengaja....biar..cepet..keluaaa rr...elunya..." katanya terputus-putus
karena sedang di sodok dengan cepat dan keras oleh gue. Sementara tangan gue
kembali ke posisi awal, yaitu di dipingganngnya sambil membantu menggerak-
gerakkan pinggangnya sesuai dengan gerakan penis gue keluar masuk vaginanya.
Sementara gue juga nggak mau kalah dengan Rena, langsung tangan kanan gue
menjangkau clitorisnya melalui sebelah kanan pinggangnya. Begitu ujung jari
tengah kanan gue menyentuh clitorisnya itu, langsung gue gosok-gosok dan gue
ucek-ucek sambil penis gue tetap melakukan penetrasi terhadap vaginanya.
Ternyata usaha gue itu tidak sia-sia, karena sekarang ini dia kembali mendesah
dan desahannya itu makin lama makin keras. "Ooooohhhh.....elu pinter banget
sssiiiihhhhhh......." katanya pertanda dia menyukai aktifitas jari dan penis gue
secara berbarengan ngerjain vaginanya yang basah banget. Kedua tangannya
sekarang sudah ditempelkan ke kaca jendela, begitu juga dengan kepalanya yang
sejak mulai dengan posisi doggy style ini udah geleng-geleng kekiri- kekanan
seperti orang lagi tripping dan gue sempat perhatiin butir-butir keringatnya
mulai kelihatan di beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar pantatnya yang
terus bergetar seiring dengan sodokan gue....plok...plok...plok...bunyi pangkal
paha gue beradu dengan pantatnya yang sexy itu. Mendengar bunyi itu gue semakin
lama semakin bertambah nafsu sehingga berusaha mempercepat gerakan gue namun
terhambat karena tangan gue masih mengucek-ngucek clitorisnya dengan maksud
supaya dia bisa orgasme lagi sebelum gue. Akhirnya gue putusin untuk meneruskan
permainan jari gue sehingga dia betul- betul puas make love dengan gue, dan itu
bikin kepuasan tersendiri buat gue.
Setelah kurang lebih lima menit berlalu "Ooohhhh.....Aguusss.....gue.... bentar
lagggiiiii......aaahhhhhh......oouuuww... ..oouuuww....." rintihannya membuat
gue mempercepat gosokan gue terhadap clitorisnya sambil juga mempercepat gerakan
penis gue memompa vaginanya. Hal ini biki dia tambah mendekati titik puncak
kenikmatannya "Aaaaaaahhhhhhh.....I'm coming.....I'm
coming....yeeesssssss....aaaaaaahhhhhhhhh ......!!!!!" teriaknya disusul dengan
getaran hebat dari seluruh badannya berbarengan dengan pijatan-pijatan yang kuat
dari dinding vaginanya terhadap penis gue. Gileee, guepun udah nggak kuat nahan
sperma gue untuk tidak keluar sampai Rena mencapai klimaks berikutnya. Sekarang
ini gue hanya bisa bertahan karena gue masih berusaha mengkoordinasikan gerakan
tangan dan dorongan penis gue karena sekarang ini jadi kacau karena getaran
hebat dari badannya Rena. Kembali untuk beberapa detik gue ngerasain badannya
melemah setelah Rena mengalami orgasme yang ke tiga untuk malam ini dan pasrah
dengan hantaman dan sodokan penis gue di dalam vaginanya.
"Aaaahhhh...gila lu...., ayo...sekarang gue mau....giliran elu.....!!" katanya
terputus-putus karena hentakan dari badan gue yang semakin lama semakin cepat
dan keras karena tangan kanan gue udah kembali memegang pingangnya sambil gue
mengembalikan konsentrasi gue ke penis gue yang terus menerus merasakan pijatan-
pijatan dari dinding vaginanya. "Ooooohhhhhh....Reeennnaaaaaa.......gue mau
keluaaarrrrr......aaahhhhhhhh.....!!" gue kasih tau dia kalau gue sekarang ini
udah mulai merasakan sesuatu yang menggelitik lubang penis gue untuk
dimuntahkan. "Iiiiyyyaaaaaa.....keluarin di mulut....gue ajaaaaa.....!!" katanya
sambil berusaha untuk membalikkan badannya. Gue langsung cabut penis gue dari
vaginanya sementara dengan gerakan cepat Rena berbalik badan sehingga sekarang
ini dia dalam posisi duduk di sofa dengan mukanya persis dihadapan penis gue
yang sebentar lagi siap memuntahkan air maninya. "Aaaaaaahhhhhhh.........!!!!"
teriak gue berbarengan dengan Rena yang telah membuka mulutnya lebar-lebar
sambil mejulurkan lidahnya guna menampung semprotan air mani gue yang menyemprot
deras kedalam mulutnya sementara kedua tangannya mengocok-ngocok penis gue yang
mengkilat dan licin oleh cairan vaginanya sehingga kocokan tangannya terasa
lebih nikmat buat gue karena telah diberi "pelumas". Crooooottt.......
crrroooottttt.......cccrrrooooooooootttt. ...., banyak sekali cairan kental
berwarna putih susu itu yang masuk kedalam mulutnya, sementara beberapa cairan
itu yang menetes dari lubang penis gue tidak sempat jatuh ke lantai karena telah
tertampung oleh lidahnya yang menjulur itu. Gue sempat lihat ekspresinya sewaktu
menelan air mani gue yang sebagian besar berada di ujung lidah sebelah dalamnya
sehingga otomatis lebih mudah tertelan begitu dia menelan air liurnya sendiri.
Terus terang gue terangsang banget dengan ekspresinya itu, karena kayaknya gue
cuma ngeliat ekspresi muka seperti itu cuma dalam BF.
Setelah itu dengan lahapnya dia menjilati penis gue membersihkan sisa-sisa air
mani yang mungkin belum keluar sambil batang penis gue dikocok-kocok terus.
Untuk beberapa detik jantung gue berdetak 1000 kali permenit melihat dan
merasakan dia melakukan pembersihan itu....
Jumat, 14 November 2008
tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya
Sampai akhirnya Tante Melly merasakan kemaluan Ivan berkedut-kedut. Ivan mengangkat-angkat pantatnya, menyambut kuluman dan kocokkan Tante Melly, tangan-tangannya dengan kuat menekan kepala Tante Melly dan membenamkan keselangkangannya saat dirasakannya orgasmenya hampir sampai. Kemudian Bonsa bergerak ke Mirna yang sedang berciuman dengan Marni temannya. Kaki Mirna sudah terbuka lebar dan terlihat lubang kemaluannya yang merah menyala, memperlihatkan banjir oleh cairan kental. Tangan Mirna terus meremas-remas payudara Marni dan demikian sebaliknya. Karena sudah terbuka kaki Mirna, maka Bonsa berlutut dan langsung menancapkan lidahnya ke liang milik Mirna. Tanpa terasa bis sudah memasuki terminal Blok M, berarti kantorku sudah terlewatkan. Kami turun. Aku bawakan tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan obrolan yang terputus. Kami memesan teh botol dan nasi goreng. Kebetulan aku belum sarapan dan lapar. Sambil menikmati nasi goreng hangat dan telor matasapi, akhirnya kami sepakat mencari hotel. Setelah menelepon kantor untuk minta cuti sehari, kami berangkat. Gua bertindak gentle dong, jangan buat dia kecewa, secara berlutut gue pegang batang kontol gue yang masih basah karena “Eee.. Kamar penyimpanan VCD BF Tante.. takut kalau ada penggeledahan..” kata saya. Selang beberapa saat kemudian Jay menghentikan kegiatannya dan memintaku mundur, kemudian memasukkan batang kemaluannya yang berukuran panjang 17 cm tetapi diameternya mungkin 3 cm dan kelihatan begitu panjang dari punyaku hanya punyaku lebih besar dan keras dibanding kemaluan Jay yang terus menuju ke lubang kemaluan milik istriku. Kulihat istriku cukup kaget tetapi hanya pasrah dan terus menikmati kemaluan milik Jay yang mulai mengocok lubang miliknya tersebut. Aku pun mulai juga mengarahkan kemaluanku ke lubang kemaluan milik Sari, perlahan kurasakan lubang kemaluan Sari masih cukup sempit serta menjepit batang kemaluanku yang kutekan perlahan.
“Ko Indra.. Jangan di sini nanti ada yang melihat..” Bisiknya. Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih). Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar. “Eh.., mmh.., boleh.., kamu sama kakakmu ya?” tanya saya gugup. September 29, 2006 “Ohh.. Sshh.. Oh, Roy.. Mmhh…” desah mertuku ketika aku memompa kontolku agak cepat. September 22, 2006 “Uahh..” begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.
Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berusia 32 tahun dan telah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak. Selama pembicaraan itu sulit mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini. Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “Hiperseks” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida. Hanna juga naik ke atas spring bed lalu duduk di belakang Dian dengan kedua kaki dikangkangkan juga. Dari belakang dia menggesekkan kedua payudaranya. Asti bangkit dari tidurnya. Dari samping kiri dia menjilati wajah Hanna. Kedua bibir mereka berdua akhirnya bertemu dan terjadilah perang lidah. “Aahh.. sakit.. apa yang kamu lakukan Ani?” Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata “Ah…, tante kok tega main sama adikku…, kok tidak bilang-bilang kepadaku”, sambil tersenyum kecil. “Ayo Mass, kita main lagi, aku ingin dientot sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya aku lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya. Aku tahu tanteku pasti juga sudah mulai terangsang dilihat dari bahasa tubuhnya.. Aku tidak lagi memijat tapi kuelus terus pahanya.. Dan pelan-pelan kunaikkan tanganku dan kuselipkan ke celana tanteku.. Tidak ada reaksi sama sekali dari tanteku. “Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.
“Aalahh.. loe nggak usah belagak bego deh.. Emangnya gue nggak tau? Gue baru pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue.. gue intip dari pintu, loe lagi make nyokap gue!!” Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras. Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya supaya aku memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Nuke. Aku tidak mampu menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya. “Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Betty merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Randy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi. Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya. Candra makin asyik aja nyepong gue, badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita, gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra, entar gue timpa juga deh boolnya Candra, gue berandai andai. “Aku hanya mau minta parfummu. Punyaku habis.” Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
Mama saya, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman rumah kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang, terbungkuk - bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan begini, biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama. Terus terang, saya senang sekali mencuri - curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali-sekali tersingkap jika Mama menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok. Dan akhirnya, Seerr.. cairan kewanitaan Mama membasahi jemariku. Kucopot jemariku dari liang kewanitaan Mama, kuturunkan wajahku dan kujilat habis air itu sampai tak tersisa. Revi saya suruh menyingkir. Setelah itu, saya membalik tubuh Imel, sekarang dia yang dibawah. Saya lebarkan kakinya dan saya tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Imel bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan saya. Akhirnya Imel tidak tahan juga, begitu juga saya. Dia orgasme, berbarengan dengan saya yang kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kemaluannya. Setelah melepas si ‘vladimir’, Revi saya suruh menjilatinya. Kak Linda ngomel,”Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?”dia bercanda. “Tunggu sayang, ki.. kita barengan.. aku juga sedikit lagi..” desahku.
SERU BANGET..
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI
Aku dan Teman Adikku Sementara itu, saya melihat Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saya memperhatikannya meskipun saya sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya. Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini. Kugesek-gesekkan dengan perlahan, dan kupuntir ke kiri dan ke kanan. “Ouhh, enak John, teruskan..” desah tanteku.. Tak lama kemudian taksi datang. Dan aku pun meningkalkan rumah kenikmatan itu setelah mengecup bibir Tante Rissa sekali lagi. Hhh.. akhirnya aku pun tertidur di taksi. “Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara, “Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.
“Ada apa tante?” “Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku. “Sebenernya sih Anton udah capek banget sih, Ma. Tapi kalo Mama mau maen, ayo!” kataku dengan semangat. “Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya. Doi ngangguk, terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi. “Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. Aku mematikan rokok di asbak dan kembali bersandar sambil mengangkat kedua tanganku dan menekuk meraih sandaran sofa.
Sekitar satu setengah jam perjalanan, Ivan sampai ditempat kost Poppy. Didapatinya rumah kost sangat sepi. Mungkin penghuninya lagi kerja atau sekolah, pikir Ivan dalam hati. Dengan berjalan santai Ivan menuju kamar Poppy. Ivan mengetok pintu tiga kali. Tok!Tok!Tok! Tak ada jawaban. Iseng-iseng Ivan membuka pintu kamar, tidak terkunci. “Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka. “Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina. Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore - Mama berdiri di pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol raksasaku, dan jembutku yang lebat, kemudian menatap wajahku dan badanku yang kekar. Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan kocokan ku. Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante. Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun lalu ketika saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th bernama bernama Jeany, dia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th. Mulanya saya hanya tertarik karena orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup bisa mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam dia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon. Mendengar itu ia semakin cepat mengulum penisku
Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya kontolku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula. “Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya. Akhirnya dia mau. Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Angel sudah mengocok penisku. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang cewek, aku mulai menjilati vaginanya, harum sekali dan bau cairan vagina, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat limabelas menit ketika mereka selesai berpakaian dan berdandan ala kadarnya. Mereka berdua sama-sama menunggu bus kota yang akan mengantar mereka ke sekolah. Mereka berdua terdiam. Hanya sesekali saling pandang dan tersenyum. Padahal biasanya mereka berdua saling mengobrol tentang berbagai hal. “Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
“Dik enak.. Uh.. oh..teruss!”, desahnya. Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Sofi yang ternyata sudah ada di sampingku. Kubaringkan tubuhku lagi, dengan posisi terlentang penisku terlihat jelas di mata Bik Suti. Dengan malu-malu mata Bik Suti melirik kemaluanku. “Baik Bu cantik”, sahutku bergurau. Akhirnya mereka bertiga selesai makan dan beruntung masih ada bus kota yang masih jalan. Rencananya mereka bertiga akan berjalan saja menunu rumah Asti sambil menikmati suasana malam di kawasan UGM. Mereka bertiga sampai di rumah Asti ketika jarum jam tangan Winny menunjukkan pukul setengah sembilan lebih lima menit. Kiky segera mengambil kunci pintu masuk yang disembunyikan Asti di bawah kaki kursi bambu. Mereka bertiga masuk rumah setelah Kiky membuka pintu rumah Asti. Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutakah lagi. Kutahan kepalanya agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku tetes demi tetes. Setelah selesai aku duduk di sofa menunggu kedatangan Didit sambil nonton TV dan menghisap rokok marlboro hijau. Dan tidak lama kemudian aku mendengar ketukan dipintu.
“Ko Indra.. Jangan di sini nanti ada yang melihat..” Bisiknya. Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih). Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar. “Eh.., mmh.., boleh.., kamu sama kakakmu ya?” tanya saya gugup. September 29, 2006 “Ohh.. Sshh.. Oh, Roy.. Mmhh…” desah mertuku ketika aku memompa kontolku agak cepat. September 22, 2006 “Uahh..” begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.
Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berusia 32 tahun dan telah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak. Selama pembicaraan itu sulit mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini. Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “Hiperseks” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida. Hanna juga naik ke atas spring bed lalu duduk di belakang Dian dengan kedua kaki dikangkangkan juga. Dari belakang dia menggesekkan kedua payudaranya. Asti bangkit dari tidurnya. Dari samping kiri dia menjilati wajah Hanna. Kedua bibir mereka berdua akhirnya bertemu dan terjadilah perang lidah. “Aahh.. sakit.. apa yang kamu lakukan Ani?” Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata “Ah…, tante kok tega main sama adikku…, kok tidak bilang-bilang kepadaku”, sambil tersenyum kecil. “Ayo Mass, kita main lagi, aku ingin dientot sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya aku lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya. Aku tahu tanteku pasti juga sudah mulai terangsang dilihat dari bahasa tubuhnya.. Aku tidak lagi memijat tapi kuelus terus pahanya.. Dan pelan-pelan kunaikkan tanganku dan kuselipkan ke celana tanteku.. Tidak ada reaksi sama sekali dari tanteku. “Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.
“Aalahh.. loe nggak usah belagak bego deh.. Emangnya gue nggak tau? Gue baru pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue.. gue intip dari pintu, loe lagi make nyokap gue!!” Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras. Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya supaya aku memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Nuke. Aku tidak mampu menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya. “Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Betty merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Randy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi. Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya. Candra makin asyik aja nyepong gue, badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita, gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra, entar gue timpa juga deh boolnya Candra, gue berandai andai. “Aku hanya mau minta parfummu. Punyaku habis.” Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
Mama saya, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman rumah kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang, terbungkuk - bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan begini, biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama. Terus terang, saya senang sekali mencuri - curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali-sekali tersingkap jika Mama menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok. Dan akhirnya, Seerr.. cairan kewanitaan Mama membasahi jemariku. Kucopot jemariku dari liang kewanitaan Mama, kuturunkan wajahku dan kujilat habis air itu sampai tak tersisa. Revi saya suruh menyingkir. Setelah itu, saya membalik tubuh Imel, sekarang dia yang dibawah. Saya lebarkan kakinya dan saya tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Imel bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan saya. Akhirnya Imel tidak tahan juga, begitu juga saya. Dia orgasme, berbarengan dengan saya yang kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kemaluannya. Setelah melepas si ‘vladimir’, Revi saya suruh menjilatinya. Kak Linda ngomel,”Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?”dia bercanda. “Tunggu sayang, ki.. kita barengan.. aku juga sedikit lagi..” desahku.
SERU BANGET..
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI
Aku dan Teman Adikku Sementara itu, saya melihat Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saya memperhatikannya meskipun saya sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya. Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini. Kugesek-gesekkan dengan perlahan, dan kupuntir ke kiri dan ke kanan. “Ouhh, enak John, teruskan..” desah tanteku.. Tak lama kemudian taksi datang. Dan aku pun meningkalkan rumah kenikmatan itu setelah mengecup bibir Tante Rissa sekali lagi. Hhh.. akhirnya aku pun tertidur di taksi. “Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara, “Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.
“Ada apa tante?” “Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku. “Sebenernya sih Anton udah capek banget sih, Ma. Tapi kalo Mama mau maen, ayo!” kataku dengan semangat. “Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya. Doi ngangguk, terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi. “Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. Aku mematikan rokok di asbak dan kembali bersandar sambil mengangkat kedua tanganku dan menekuk meraih sandaran sofa.
Sekitar satu setengah jam perjalanan, Ivan sampai ditempat kost Poppy. Didapatinya rumah kost sangat sepi. Mungkin penghuninya lagi kerja atau sekolah, pikir Ivan dalam hati. Dengan berjalan santai Ivan menuju kamar Poppy. Ivan mengetok pintu tiga kali. Tok!Tok!Tok! Tak ada jawaban. Iseng-iseng Ivan membuka pintu kamar, tidak terkunci. “Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka. “Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina. Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore - Mama berdiri di pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol raksasaku, dan jembutku yang lebat, kemudian menatap wajahku dan badanku yang kekar. Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan kocokan ku. Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante. Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun lalu ketika saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th bernama bernama Jeany, dia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th. Mulanya saya hanya tertarik karena orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup bisa mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam dia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon. Mendengar itu ia semakin cepat mengulum penisku
Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya kontolku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula. “Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya. Akhirnya dia mau. Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Angel sudah mengocok penisku. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang cewek, aku mulai menjilati vaginanya, harum sekali dan bau cairan vagina, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat limabelas menit ketika mereka selesai berpakaian dan berdandan ala kadarnya. Mereka berdua sama-sama menunggu bus kota yang akan mengantar mereka ke sekolah. Mereka berdua terdiam. Hanya sesekali saling pandang dan tersenyum. Padahal biasanya mereka berdua saling mengobrol tentang berbagai hal. “Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
“Dik enak.. Uh.. oh..teruss!”, desahnya. Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Sofi yang ternyata sudah ada di sampingku. Kubaringkan tubuhku lagi, dengan posisi terlentang penisku terlihat jelas di mata Bik Suti. Dengan malu-malu mata Bik Suti melirik kemaluanku. “Baik Bu cantik”, sahutku bergurau. Akhirnya mereka bertiga selesai makan dan beruntung masih ada bus kota yang masih jalan. Rencananya mereka bertiga akan berjalan saja menunu rumah Asti sambil menikmati suasana malam di kawasan UGM. Mereka bertiga sampai di rumah Asti ketika jarum jam tangan Winny menunjukkan pukul setengah sembilan lebih lima menit. Kiky segera mengambil kunci pintu masuk yang disembunyikan Asti di bawah kaki kursi bambu. Mereka bertiga masuk rumah setelah Kiky membuka pintu rumah Asti. Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutakah lagi. Kutahan kepalanya agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku tetes demi tetes. Setelah selesai aku duduk di sofa menunggu kedatangan Didit sambil nonton TV dan menghisap rokok marlboro hijau. Dan tidak lama kemudian aku mendengar ketukan dipintu.
Minggu, 12 Oktober 2008
akhirnya ia orgasme Aku menelan semua spermanya
Tak lama saya mendengar si Antonio melenguh dengan keras, kontolnya ditarik keluar dari vagina Vita dan diarahkan ke mulut Vita. Vita menjilat dan menelan peju Antonio. Setelah bersih, kembali Antonio memasukkan kontolnya ke vagina Vita dalam posisi doggy style. Keringat disekujur tubuh Vita dan Antonio mengalir dengan deras. Saya sendiri terus menggenjot Priscilla, sekitar 2 atau 3 kali Priscilla memekik dengan keras dan tubuhnya sedikit mengejang tapi ia terus menggoyangkan pantatnya, rupanya ia sedang mengalami multiple orgasm. Saya menjadi kagum melihat stamina Priscilla yang kuat, tapi saya tidak ingin kalah kuat dengannya. “Kalau ketiga-tiganya dipakai?” Tanya Sari dengan nada netral. (Sebenarnya pas lagi kejadiannya, Tira gak sadar loh kalau Tira mengeluarkan suara-suara yang demikian. Mas yang kasih tahu, hehehe.) Mas berbisik di telinga Tira. Sampai sekarang kami masih berhubungan baik, bersilaturrahmi dan saling memberi spirit di saat kami merasa jatuh. Saya sangat menghormati hubungan ini, karena pada dasarnya saya sangat menghargai Tante N sebagai istri dan ibu yang baik. bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya, yaitu berhubungan *********
“UUUHH….!!” boy sedikit terpekik saat merasakn penisnya akan meledak Ar, I will spend the new year’s with you. Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu, “Suck it like a lollipop.” She did so and found it was fun. She could feel his cook increasing in size in her mouth. But then she pulled back. ditangannya dan tanpa dikomando segera melepas sepatu dan naik keatas
“Thanks.” “Selamat siang Pak,” Tegur Arie kepada salah satu satpam yang ada dua orang. “Ohh.. Ris enak.. Sekali.. Oh” Rico meracau. Shin Chan yang ketakutan hanya menuruti perintah mamanya. Dengan telanjang bulat ia masuk kedalam kamar mandi dan berdiri tepat didepan mamanya. “Hehehe, ketangkap kamu”, ujar mamanya Shin Chan dengan suara monster. merahasiakan urusanku dengan Felix. “Ok deh tapi nanti siang yah And makes everything all right Aku mengenakan gaun dari bahan satin yang agak tipis yang agak ketat melekat di tubuhku. Aku mengenakan gaun ini adalah juga atas anjuran suamiku. Suamiku berkata bahwa aku sangat menarik apabila mengenakan pakaian yang agak ketat dan terbuka. Aku kira pendapat suamiku benar, karena dengan memakai gaun ini aku lihat bentuk tubuhku jadi semakin nyata lekak-lekuknya. Apalagi dengan model potongan dada yang agak rendah membuat pangkal buah dadaku yang putih bersih kelihatan agak tersembul keluar membentuk dua buah bukit lembut yang indah.
“Belum begitu lapar.” Rangsangannya di diskotik tadi menghilangkan nafsu makanku. “Trus setelah itu…” “Kalo yang punya cowok disebutnya kont*l Non hehehe” “Yeee…si Non, mentang-mentang saya ga bisa Inggris, omong apa sih tuh ?” tanya Imron menasaran sambil mencubit puting gadis bule itu. “Rani..!!” kuangkat tubuhku, dan kulihat mukanya yang memerah. Buliran air mata tampak jatuh dari ujung matanya, Rani menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam dan alisnya berkerut, hidungnya kembang-kempis. Shit.. kulirik ke bawah dan alangkah terkejutnya aku melihat setitik gumpalan darah kehitaman menodai ujung penisku yang mulai mengecil.
aku ‘memompa’ tubuhnya yang sintal itu. Rima merintih begitu hebat “Malam ini…” Pria itu berkata lagi sambil membelakangi keempat penyembahnya, “Aku harus memanggil temanku, si pencabut nyawa, untuk memilih salah satu di antara kalian! Yang paling tak pantas menjadi anakku, agar menjadi peringatan bagi yang lain.” “Apaan sih?” katanya masih tidak mengerti. “Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
Tiba-tiba dia menarikku ke atas dan langsung dia menidurkanku kembali, kakiku kembali dibuka lebar-lebar dan dia mempermaikan klitku dengan penisnya yang membuatku semakin tak karuan sehingga tak berapa lama aku kembali mencapai puncak kenikmatan dan cairan kewanitaanku membasahi penisnya. Lalu tiba-tiba dengan satu gerakan cepat dia memasukkan penisnya ke dalam vaginaku, aku langsung menjerit karena vaginaku masih sempit dan aku masih perawan, sehingga kurasakan agak sedikit perih. Namun rupanya beliau telah tahu keadaanku sehingga dia diam sebentar agar aku dapat menguasai diri. “Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya. Yaa.. kata-kata yang hanya bisaku sesali saat ini. Terlintas dalam benakku saat itu bayangan keluarga dan orang tuaku, sungguh aku panik, fikiranku buntu, aku hanya bisa menangis dalam pelukan kekasih yang amat aku cintai. Mail (will not be published) Website “Itu bukan untung tapi cilaka.., cilaka duabelas namanya!” Posted in Umum | Michael cukup lama mengoralku saat itu. Nampak keheran-heranan dari Maria dan juga cewe-cewe lainnya. Mungkin karena penasaran, Maria memenuhi permintaanku. Diambilkannya body lotion dari kamarnya. yag sudah cukup sepi…… jadi karena kondisi maka Daku pun kerap bercinta dengan isteri pada tengah malam.
Parni pun terus berteriak mengeluarkan kata-kata kotor dan mendesah ketika dia merasa sudah mau keluar. terang aja. Yang penting sekarang gue udah punya pengalaman lah main jilat-jilatan mem*k ame nyokap. Enak juga lho. Malam itu, sepulang dari rumah seorang teman aku mengendarai sepeda motor bebekku dengan kepala sedikit berat akibat pengaruh obat yang belum terlalu turun, tapi kupaksakan juga karena besok pagi-pagi sekali aku ada janji dengan seorang dosen untuk membantunya mengumpulkan data-data yang berhasil kami kumpulkan (yang tentunya dia yang membuat pertanyaan, aku hanya membagikan kuisioner pada obyek penelitian). “Terus Na.. Give me more!” kataku sambil menekan kepalanya karena tidak puas hanya dengan dijilati saja. Lalu wanita itu menamparku, “I’m here for giving you a new job” Kemudian aku membuka rok itu ke kanan dan ke kiri sehingga terpampanglah paha mulus dengan pinggul yang montok dengan CD warna hitam berenda sutra halus. Kemudian entah dia merasa agak lega atau bagaimana, kakinya agak bergeser dan membuka sehingga semakin jelaslah pemandangan yang membuat kepalaku berdenyut keras. Tanganku meraba kejantananku di balik celana dan menggosoknya pelan dan tiba-tiba ada sedikit denyutan yang kukenal adalah tanda apabila aku akan ereksi. “Nah, sekarang Aku siap mendengar,” kataku setelah kami membersihkan diri masing-masing dan berdua tidur-tiduran di salah satu single bed, masih sama-sama telanjang, seperti bulan lalu sehabis Aku dimasturbasi olehnya, Aku terlentang dan kepala Jeanny di dadaku. “Cantiknya..”
“Oh..” jawabku agak lega. “Tante sudah menunggu dari tadi Arie,” bisiknya sambil menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat datang. “Sudah.. sudahlah”, akhirnya aku berkata. Priyono tetap meneruskan melahap liang senggamaku. Sementara itu aku terus-menerus mengalami orgasme bertubi-tubi namun pada akhirnya dia berhenti juga. Dan pada saat dia mengambil posisi untuk menyetubuhi diriku, aku segera bangkit dan kini tanpa merasa risih lagi aku segera meraih alat kejantanannya yang hangat berwarna kemerah-merahan lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan mulai bekerja dengan lidahku di sepanjang alat kejantanannya yang begitu terasa keras dan tegang. Aku merasakan suatu kenikmatan yang lain yang belum pernah aku rasakan. Aku merasakan alat kejantanan Priyono mempunyai aroma yang berlainan dengan alat kejantanan suamiku. Ekspresi Rini kali ini membuat gw sungguh tergila gila akan perlakuan yang ia perbuat atas kont*l gw ini. Terasa sekali kont*l gw mengaduk seluruh isi liang kewanitaannya. Terkadang maju mundur, terkadang berputar putar seperti goyangan salah satu artis Inul daratista yang sedang goyang ngebor. “Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Sherin mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Megan memejamkan mata menghayati orgasmenya hingga gelombang itu berangsur-angsur reda. Ia lalu membuka matanya dan melihat wajah Imron diatasnya. Pria itu tersenyum dan membelai rambut pirangnya lalu menciumnya lembut sekali.
“Ah, sayang, kamu nampak begitu indah, sayangg.. Indah sekali, sayang.. Sangat indah, sayang.. Indah banget sayang..”, Ronad meracau tidak menyembunyikan kenikmatan libido erotisnya saat melihati aku mengulum dan menjilati kont*lnya. “Lho, udah pada cabut semua nih, bidadari-bidadarinya?” Tanya Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk, segumpal pakaian kotor, dan cangkir plastik kecil berisi sikat gigi. Meski sudah mandi bersih, jalannya tetap saja gontai karena pengaruh alkohol dan obat-obatan yang dipakainya tiap hari. Hmmm…buat Dian1977 toni tak tahu harus bicara apa, sebenarnya rumah itu bagus dan harganya pun cocok , awalnya istrinya pun senang dengan rumah itu, namun kenapa , setiap ke lantai atas , seolah ada ledakan birahi, yg ternyata tidak hanya di rasakan olehnya tapi juga istrinya , dan mia tentu saja. Kedua sahabatku tidak mampir, mereka langsung pergi meninggalkanku dan berjanji akan menjemputku sore nanti. Seperti sudah lama nggak bertemu, kamipun saling melepas rindu, bermanja-manja aku dipangkuannya, tangannya tak henti-hentinya membelai-belai rambutku yang panjang, sesekali didekapnya aku erat-erat, saling bersuapan saat makan siang, benar-benar saat yang sangat indah, penuh canda & rasa cinta kasih. sheer sensuality of the room would have been arousing by Cerita ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu, tapi merupakan awal yang mempengaruhi perilaku seks yang kujalani sampai saat ini. Waktu itu aku seorang mahasiswa semester 3 di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Sebenarnya aku termasuk mahasiswa yang cukup berprestasi di kampus, terbukti dengan seringnya aku diikutsertakan oleh dosen/pengajar apabila mereka akan mengadakan penelitian ilmiah. Tapi sayangnya akibat pergaulan yang kurang baik, ditambah dengan problema yang kuhadapi (saat itu kurasakan cukup berat), aku terjebak kecanduan narkotika, walaupun sebenarnya baru pada tahap kecanduan awal. Kisah ini adalah berdasarkan kisah yang pernah berlaku dalam hidupku. Iza dan Amal adalah merupakan dua adik beradik, sebagai jiran aku dan mereka berdua merupakan berkawan baik dengan aku. Ditambah lagi aku sering dihantar kerumah mereka untuk dijaga oleh mereka apabila kedua ibubapaku pergi kerja.
“Hei Reni. Apa khabar, sayangku”, sapa ayah kemudian ketika selesai berpelukan dengan suamiku. Tanggal : Fri Aug 31, 2001 1:55 pm (dimuat di CeritaSeru tgl 11 Feb 2002) Penisnya cukup besar hingga aku agak takut dan terus melumatnya. Semakin lama aku semakin menikmatinya. Rasanya seru. Aku terus menjilat dan berusaha memasukkan penisnya dalam mulutku. Aku menggigit-gigitnya dan sesekali memainkan zakarnya. Ia mengerang keenakan sampai akhirnya ia orgasme. Aku menelan semua spermanya. Aku tertawa senang. Lalu ia balik menerkamku. Vaginaku habis dijilat dan digigitinya. Ia bagaikan singa gila. Dan dia adalah pria paling hebat dalam melakukan oral sex yang kutahu selama ini. Aku orgasme sampai empat kali! “Ah Bapak, masa suster takut sih sama mayat” jawabnya tersenyum, “lagian saya kan udah disana juga” Waktu itu aku telah duduk di bangku SMP kelas dua dan berusia 14 tahun lebih. Aku memang telah menjadi seorang anak lelaki yang sangat tergila-gila dengan segala bentuk kegiatan yang ada hubungannya dengan sex bahkan aku bisa membuat sesuatu mengarah ke sekitar masalah sex.
Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku
Setelah rasa nyeri pada penisku berkurang, aku mulai meluruskan badan secara perlahan sambil dirasa-rasa, takut-takut ada rasa sakit susulan. Setelah dirasa nyaman, aku mulai membuka resleting celana sekolahku, dan mulai ku raih penis panjangku dari balik celana dalamku yang berwarna putih. Aku tidak memperhatikan wajah Leni. Aku masih mengamat-amati penisku yang lemas. Aduh warnanya jadi merah di antara putih warna kulit penisku. Aku pencet-pencet sambil merasa-rasa kalau ada rasa sakit atau keseleo. Setelah dirasa aman, aku mulai mengalihkan pandangan ku pada Leni. Wajahnya seperti orang bego yang cantik, terpaku pandangannya pada penisku. Sedangkan saya menghisap cicap si JJS tu, KT pula tiba-tiba membuka seluar saya dan meraba-raba batang saya. Dia kemudiannya mengelam batang saya sampai saya boleh merasa bulu saya menyentuh mulutnya tu. Selepas saya sudah puas, KT suruh saya bangun dan dia menghisap batang saya tu dengan mesra. Saya pula meraba-raba payudara si JJS sambil mencium-ciumnya. Faiza woke up late next morning. Lazily she pulled the curtains, letting in soft light of March sun into her bedroom. It was spring which is the best month in Lahore (Pakistan). She walked out of her room and went straight to the lounge. It was empty except the maidservant. She remembered that her parents had to go to a wedding in their native village. The maidservant told her that only she and Amir were left behind. Hearing Amir name she blushed and remembered the events of last night. Not wanting the servant to see her blushing she went back to her room. She went to the bathroom to do the morning necessities. The door to Amir’s room was unlocked. She went to look it but after a mischievous grin let it remain open. Slowly she removed all her clothes and looked at herself in the mirror. She knew that she was beautiful and the mirror replied in affirmative. After doing the necessary rituals she took a bath and wiped herself dry. The wearing a beautiful lacy bra and panties she went to Amir’s room. He was sleeping soundly. She slowly removed the light blanket over him. To her surprise she found that he was sleeping naked. His flaccid cook was visible. She drew closure and started inspecting it. It was a mere two inches in length, not long as she had seen it the previous night. She lightly touched it. It was soft. She then ran a finger on his balls. They were bigger than she thought and oval in shape. Amir had a thick bush of pubs and she made a mental note that she will ask him to remove them. Amir stirred in his sleep and she tiptoed back to her room. Penisnya cukup besar hingga aku agak takut dan terus melumatnya. Semakin lama aku semakin menikmatinya. Rasanya seru. Aku terus menjilat dan berusaha memasukkan penisnya dalam mulutku. Aku menggigit-gigitnya dan sesekali memainkan zakarnya. Ia mengerang keenakan sampai akhirnya ia orgasme. Aku menelan semua spermanya. Aku tertawa senang. Lalu ia balik menerkamku. Vaginaku habis dijilat dan digigitinya. Ia bagaikan singa gila. Dan dia adalah pria paling hebat dalam melakukan oral sex yang kutahu selama ini. Aku orgasme sampai empat kali! Satpam muda itu nampak malu-malu. Tadi dia pesan, Aku langsung saja naik ke lantai 6, ke kamar yang dulu. Ternyata dia sebagai Manager memang “menguasai” kamar itu sebagai kamar pribadinya. Hanya dia harus siap memberesi barang-barangnya kalau suatu ketika hotelnya mengalami full book. Website mother said softly.
Johan tersentak sedikit, ia melepaskan ciumannya dan mulai mendesah, “Aduh, Mas! Ahh.. uuhh..!” Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu. Apabila ada Sumur di Ladang … Mari .. Lain Kali Kita bertemu lagi Dalam Lubang … yang sama “Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi. “Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya. Suatu saat perempuan itu menangkap basah si pengintip. Bukannya dia marah tapi malah menyuruh anak itu masuk ke kamarnya disuruh duduk. Mulailah perempuan itu mencopot bra-nya dan memamerkan buah dadanya. Hari berikutnya tak hanya bra yang dilepas, tapi celana dalamnya juga. Lalu kesempatan berikutnya dia jadi ‘guru’ yang mengajarkan anak polos itu bagaimana caranya berhubungan seks, lengkap dengan “praktikum”.
bebrapa hari boy dirawat di rumah sakit, dia diberitahu jika ada yg menmukan dia terbaring pingsan di samping mobilnya, mungkin sedikit serangan jantung membuat dia pingsan. Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes. Donny quit talking and concentrated on fu*king his mother in “N.. Bler ke kote kau masuk ke lubang akak?” tanya sakinah dalam sesdap ada cuaknya.. September 26th, 2007 by indocerita Keluarga dan cintaku Rio mengantar kepindahanku ke Semarang. Karena disana aku tidak punya sanak saudara sama sekali, kedua orang tuaku terlihat sangat berat untuk melepaskanku, tapi aku dapat meyakini mereka. Aku mengontrak sebuah rumah yang sangat kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi dan ruang tamu didaerah simpang lima. 3 hari aku bersama orang tuaku dan kekasih yang amat aku cintai Rio-ku. Minggu pagi dengan berat mereka meninggalkanku, orang-orang yang amat berarti dalam hiduku harus kembali ke Jakarta. Kutahan air mataku agar tidak menetes keluas, kuyakini kepada mereka kalau aku mampu dan bisa mandiri. Dengan wajah bersemu merah Tante Cesty seperti menemukan jawaban yang dicarinya. Di lain sisi Anku masih terlihat sibuk dengan barang dan debu, keadaan dibawahnya di luar kesadarannya. 2 jam waktu yang cukup mengerjakan perintah Tante Cesty, dengan tubuh berselimut debu Anku menyusuri lorong samping kediamaan Tante Cesty, menuju kolam ikan belakang ‘tuk sejenak beristirahat ditemani segelas juice yang telah diisi ketigakalinya.
Besoknya, secepat suamiku pergi ke penataran aku sudah tak sabar menunggu pintu. Aku ingin ada perkosaan kembali. Ah, aku benar-benar khianat sekarang. Aku benar-benar kehilangan harkatku. Aku benar-benar bukan lagi diriku sebagaimana yang orang kenal selama ini. Aku adalah istri yang selingkuh, adalah perempuan penyeleweng. tetapi juga ingin di…. raba-raba… di gesek-gesek…. hari berjalan dengan seperti biasa bagi dendy, seorang eksekutif muda yang sukses. Jangan lihat ke sini, Thomas. Dari kurangnya kasih sayang itulah, Michael lantas mencoba mencari kasih sayang di luar dengan caranya sendiri dengan memanfaat fasilitas materi yang diberikan oleh orang tuanya. Ia memang termasuk kaya untuk ukuran anak seusianya, meski semua yang ia miliki adalah kepunyaan bapaknya. Dengan mudahnya jenderal orc itu menangkap kedua pergelangan kaki Sharon lalu dibentangkannya lebar-lebar. “Iya apa?” “Arghh.. Enak Nov..” erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
“Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya.” Setelah selesai makan, akupun mulai kembali ereksi melihat sembulan buah dada dari balik T-shirt merah muda yang dikenakannya. Sandra tampak mengetahui nafsuku mulai bangkit dan dia seolah tak sengaja lebih membusungkan dadanya. “Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku. Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum. mem*knya!. “lho katanya udahan” kata-kataku membuat cici-ku tidak cowoknya. Aku hanya mengangguk-angguk sambil terus memegang tangannya yang Saya sudah tebak, kalo Donna ketemu Vivi udah nggak ada matinya deh. Maklum dulu temen jalan waktu masih pada ABG. Kebayang suatu hari di akhir tahun 1990 di Kute, uh I cannot believe my experiences with them there, pokoknya heboh banget.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
“jangan takut pengantinku….ini hanya sakit sedikit….”kata mahluk yg membawa vina, sambil tangannya menjelajahi seluruh lekuk tubuh vina yg polos. “Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya. Cambuk kembali melecuti dadaku. Pokoknya tidak ada yang diam nganggur. Saat Tami menggagahiku, Lina mencambuk. Dian menetesi puting susuku dengan cairan lilin merah besar. Atau menyirami lilin panas itu ke anusku. Saking tidak kuatnya aku, kini aku jatuh pingsan lagi. Website Surabaya, awal 2001 perasaan nikmat mengiringi ejakulasi itu. Bahkan aku menyadari kalau “Wih, keras banget Joe!” katanya takjub. “Minum, ini sundal, minum kencingku. Ayoo.. Minum.. Air segar inii.. minum perempuan sial.. Minum kencingku sundalku..”
“Jangan galak-galak dong, takut nih Vita” kata Vera sambil tertawa. Saya ikut tertawa. “Apaan sih?” katanya masih tidak mengerti. Leave a Comment Ternyata berhubungan seks dengan Om Ronald sama sekali tidak memberikan kepuasan, rasanya lebih nikmat ketika bersama Maria sehingga aku ini menjadi cewek yang haus seks dan bisexual. Pada saat aku selesai sekolah (lulus), aku dibelikan mobil oleh orang tuaku, jadi aku setiap hari bisa pergi jalan-jalan bersama Maria dan kemudian melakukan hubungan seks di dalam mobil. Tapi lama-kelamaan aku bosan, sebelum aku pindah untuk kuliah di Bandung, suatu malam dengan perasaan nekad aku mencoba pergi ke TL (Taman Lawang). Waktu itu pukul 8 malam, aku sendirian dalam mobil. Ketika melewati jalan itu terlihat seorang ‘cewek‘ dengan pakaian yang minim. Ia mengenakan rok pendek ketat warna putih dan kaos putih ketat tanpa Bra, terlihat jelas buah dadanya yang besar menonjol. Aku pun mendekatkan mobilku ke dekatnya dan membuka jendela lalu berkata, “Mbak.. mau nemenin saya nggak?” ia pun menoleh dan dengan agak heran dia mengangguk. “Tolong. Jangan lakukan ini.”
Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun dan aku makin suka meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit dan suatu saat aku berangan-angan dapat bermain seks seperti itu dengan lebih dari 1 orang saja. Kalau dari pembaca ada yang tertarik saya akan melanjutkan cerita saya. Silakan kalau ada yang ingin memberi komentar. “Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arie.” Tangan Thalib menyusuri pelosok tubuh Fanny dengan liar sebelum berbaring di sofa dan memintanya naik ke tubuhnya dengan posisi 69. Begitu gadis itu naik ke wajahnya, dia langsung menjilati bibir kemaluannya, dengan jarinya dia buka daerah itu sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Tanpa diminta Fanny juga mulai melakukan tugasnya. Penis Thalib yang hitam dengan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara itu digenggam dan dikocok perlahan. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar. “Udah deh. Mas santai aja. Ini surprise Tira yang kedua buat Mas,” jawab Tira. Tira ambil tangan Mas, terus Tira gandeng sambil Tira jalan ke sofa. Duduk deh kita berdua di sofa. Sambil duduk bedua, Tira gak ngomong apa-apa, cuman megangin tangan Mas sambil memberikan tatapan “rahasia” ke wajah Mas, hehehe. Mas langsung ngerti, bahwa itu berarti Tira lagi pengen mesraan sama Mas. Aku merasakan akan mencapai orgasme, maka gesekan jari tanganku di ujung-ujung klitorisku pun semakin kupercepat. Demikian pula kocokan jari tangan kananku yang sejak tadi berada dalam liang vaginaku, kugesek-gesekkan ke dinding vagina bagian dalam, sesekali jari tengah dan telunjukku menggosok benjolan yang tumbuh di dalamnya. Aku merasa geli bercampur nikmat hingga rasanya seperti ingin kencing saja.
“Hahahaha… dalam keadaan terdesak anda juga masih saja sok hebat. Saya beritahu yah. Disini tak akan ada satu sinyal apapun yang dapat menembus wilayah ini. Telphone seluler sekali pun.” Bentak Irwan menjelaskan kebodohan mereka yang mengertaknya. dan memang telah hampir sebulan berlalu , semua terlihat aman aman saja bahkan kini sebagian siswa berkesimpulan jika mitos atau kutukan bangku kosong itu sudah berakhir….. Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment. Riri memejamkan matanya dan tersenyum. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. waktu persekolahan tapi sekarang entah kemana dia pergi pun aku tak Tak berapa lama kemudian, kurasakan nafasnya mulai tenang, dan kubelai rambutnya saat kusadari bahwa ia sudah tertidur.
“Kenapa? Ada panggilan dari bini yah?” Tanya seorang pria yang lainnya. Malam itu mrk tidur ber 4 telanjang bulat. Semua memeluk tubuh anggi yang putih mengkilat. Kamar anggi dipenuhi bau keringat, nafsu dan sperma. Dan malam itu siapapun yang terbangun, secara bergantian akan kembali melampiaskan nafsu bejat mereka pada kemaluan anggi yang terus mengeluarkan darah. Sprei putih itu jadi acak2an dan dipenuhi bercak2 darah dan sperma di sana-sininya. Leave a Comment “Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?” up against his hand, matching each of the inward strokes of Sedang asyiknya aku menjilati batang kemaluan Leo dan bergerak ke atas ke arah pusarnya, tiba-tiba Rio bangkit dan meremas pinggulku. Kedua tangannya membuka belahan pantatku dan berlutut di belakangku, tepat di antara kedua pahaku dan mulai menjilati vaginaku ramai sekali hingga berbunyi kecipak-kecipuk. Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku, dan aku semakin bersemangat menjilati seluruh badan Leo yang terbaring kelelahan. “Augghhh..” desah Marni tidak kuat. “Aah”, puas wajah Pak Jenderal ketika kelelakiannya berhasil menerobos sampai setengahnya. Tarik lagi, dorong lagi, baru akhirnya masuk semua. Segera ditindihnya badan mungil di bawahnya itu. Kedua tangannya menyingkap kain rok tersebut sampai ke atas dada, kemudian direnggutnya bra penutup kedua belah dada yang padat dan ranum itu. akan menurunkan volume produksi hingga 75 persen supaya tingkat
Johan tersentak sedikit, ia melepaskan ciumannya dan mulai mendesah, “Aduh, Mas! Ahh.. uuhh..!” Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu. Apabila ada Sumur di Ladang … Mari .. Lain Kali Kita bertemu lagi Dalam Lubang … yang sama “Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi. “Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya. Suatu saat perempuan itu menangkap basah si pengintip. Bukannya dia marah tapi malah menyuruh anak itu masuk ke kamarnya disuruh duduk. Mulailah perempuan itu mencopot bra-nya dan memamerkan buah dadanya. Hari berikutnya tak hanya bra yang dilepas, tapi celana dalamnya juga. Lalu kesempatan berikutnya dia jadi ‘guru’ yang mengajarkan anak polos itu bagaimana caranya berhubungan seks, lengkap dengan “praktikum”.
bebrapa hari boy dirawat di rumah sakit, dia diberitahu jika ada yg menmukan dia terbaring pingsan di samping mobilnya, mungkin sedikit serangan jantung membuat dia pingsan. Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes. Donny quit talking and concentrated on fu*king his mother in “N.. Bler ke kote kau masuk ke lubang akak?” tanya sakinah dalam sesdap ada cuaknya.. September 26th, 2007 by indocerita Keluarga dan cintaku Rio mengantar kepindahanku ke Semarang. Karena disana aku tidak punya sanak saudara sama sekali, kedua orang tuaku terlihat sangat berat untuk melepaskanku, tapi aku dapat meyakini mereka. Aku mengontrak sebuah rumah yang sangat kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi dan ruang tamu didaerah simpang lima. 3 hari aku bersama orang tuaku dan kekasih yang amat aku cintai Rio-ku. Minggu pagi dengan berat mereka meninggalkanku, orang-orang yang amat berarti dalam hiduku harus kembali ke Jakarta. Kutahan air mataku agar tidak menetes keluas, kuyakini kepada mereka kalau aku mampu dan bisa mandiri. Dengan wajah bersemu merah Tante Cesty seperti menemukan jawaban yang dicarinya. Di lain sisi Anku masih terlihat sibuk dengan barang dan debu, keadaan dibawahnya di luar kesadarannya. 2 jam waktu yang cukup mengerjakan perintah Tante Cesty, dengan tubuh berselimut debu Anku menyusuri lorong samping kediamaan Tante Cesty, menuju kolam ikan belakang ‘tuk sejenak beristirahat ditemani segelas juice yang telah diisi ketigakalinya.
Besoknya, secepat suamiku pergi ke penataran aku sudah tak sabar menunggu pintu. Aku ingin ada perkosaan kembali. Ah, aku benar-benar khianat sekarang. Aku benar-benar kehilangan harkatku. Aku benar-benar bukan lagi diriku sebagaimana yang orang kenal selama ini. Aku adalah istri yang selingkuh, adalah perempuan penyeleweng. tetapi juga ingin di…. raba-raba… di gesek-gesek…. hari berjalan dengan seperti biasa bagi dendy, seorang eksekutif muda yang sukses. Jangan lihat ke sini, Thomas. Dari kurangnya kasih sayang itulah, Michael lantas mencoba mencari kasih sayang di luar dengan caranya sendiri dengan memanfaat fasilitas materi yang diberikan oleh orang tuanya. Ia memang termasuk kaya untuk ukuran anak seusianya, meski semua yang ia miliki adalah kepunyaan bapaknya. Dengan mudahnya jenderal orc itu menangkap kedua pergelangan kaki Sharon lalu dibentangkannya lebar-lebar. “Iya apa?” “Arghh.. Enak Nov..” erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
“Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya.” Setelah selesai makan, akupun mulai kembali ereksi melihat sembulan buah dada dari balik T-shirt merah muda yang dikenakannya. Sandra tampak mengetahui nafsuku mulai bangkit dan dia seolah tak sengaja lebih membusungkan dadanya. “Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku. Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum. mem*knya!. “lho katanya udahan” kata-kataku membuat cici-ku tidak cowoknya. Aku hanya mengangguk-angguk sambil terus memegang tangannya yang Saya sudah tebak, kalo Donna ketemu Vivi udah nggak ada matinya deh. Maklum dulu temen jalan waktu masih pada ABG. Kebayang suatu hari di akhir tahun 1990 di Kute, uh I cannot believe my experiences with them there, pokoknya heboh banget.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
“jangan takut pengantinku….ini hanya sakit sedikit….”kata mahluk yg membawa vina, sambil tangannya menjelajahi seluruh lekuk tubuh vina yg polos. “Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya. Cambuk kembali melecuti dadaku. Pokoknya tidak ada yang diam nganggur. Saat Tami menggagahiku, Lina mencambuk. Dian menetesi puting susuku dengan cairan lilin merah besar. Atau menyirami lilin panas itu ke anusku. Saking tidak kuatnya aku, kini aku jatuh pingsan lagi. Website Surabaya, awal 2001 perasaan nikmat mengiringi ejakulasi itu. Bahkan aku menyadari kalau “Wih, keras banget Joe!” katanya takjub. “Minum, ini sundal, minum kencingku. Ayoo.. Minum.. Air segar inii.. minum perempuan sial.. Minum kencingku sundalku..”
“Jangan galak-galak dong, takut nih Vita” kata Vera sambil tertawa. Saya ikut tertawa. “Apaan sih?” katanya masih tidak mengerti. Leave a Comment Ternyata berhubungan seks dengan Om Ronald sama sekali tidak memberikan kepuasan, rasanya lebih nikmat ketika bersama Maria sehingga aku ini menjadi cewek yang haus seks dan bisexual. Pada saat aku selesai sekolah (lulus), aku dibelikan mobil oleh orang tuaku, jadi aku setiap hari bisa pergi jalan-jalan bersama Maria dan kemudian melakukan hubungan seks di dalam mobil. Tapi lama-kelamaan aku bosan, sebelum aku pindah untuk kuliah di Bandung, suatu malam dengan perasaan nekad aku mencoba pergi ke TL (Taman Lawang). Waktu itu pukul 8 malam, aku sendirian dalam mobil. Ketika melewati jalan itu terlihat seorang ‘cewek‘ dengan pakaian yang minim. Ia mengenakan rok pendek ketat warna putih dan kaos putih ketat tanpa Bra, terlihat jelas buah dadanya yang besar menonjol. Aku pun mendekatkan mobilku ke dekatnya dan membuka jendela lalu berkata, “Mbak.. mau nemenin saya nggak?” ia pun menoleh dan dengan agak heran dia mengangguk. “Tolong. Jangan lakukan ini.”
Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun dan aku makin suka meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit dan suatu saat aku berangan-angan dapat bermain seks seperti itu dengan lebih dari 1 orang saja. Kalau dari pembaca ada yang tertarik saya akan melanjutkan cerita saya. Silakan kalau ada yang ingin memberi komentar. “Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arie.” Tangan Thalib menyusuri pelosok tubuh Fanny dengan liar sebelum berbaring di sofa dan memintanya naik ke tubuhnya dengan posisi 69. Begitu gadis itu naik ke wajahnya, dia langsung menjilati bibir kemaluannya, dengan jarinya dia buka daerah itu sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Tanpa diminta Fanny juga mulai melakukan tugasnya. Penis Thalib yang hitam dengan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara itu digenggam dan dikocok perlahan. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar. “Udah deh. Mas santai aja. Ini surprise Tira yang kedua buat Mas,” jawab Tira. Tira ambil tangan Mas, terus Tira gandeng sambil Tira jalan ke sofa. Duduk deh kita berdua di sofa. Sambil duduk bedua, Tira gak ngomong apa-apa, cuman megangin tangan Mas sambil memberikan tatapan “rahasia” ke wajah Mas, hehehe. Mas langsung ngerti, bahwa itu berarti Tira lagi pengen mesraan sama Mas. Aku merasakan akan mencapai orgasme, maka gesekan jari tanganku di ujung-ujung klitorisku pun semakin kupercepat. Demikian pula kocokan jari tangan kananku yang sejak tadi berada dalam liang vaginaku, kugesek-gesekkan ke dinding vagina bagian dalam, sesekali jari tengah dan telunjukku menggosok benjolan yang tumbuh di dalamnya. Aku merasa geli bercampur nikmat hingga rasanya seperti ingin kencing saja.
“Hahahaha… dalam keadaan terdesak anda juga masih saja sok hebat. Saya beritahu yah. Disini tak akan ada satu sinyal apapun yang dapat menembus wilayah ini. Telphone seluler sekali pun.” Bentak Irwan menjelaskan kebodohan mereka yang mengertaknya. dan memang telah hampir sebulan berlalu , semua terlihat aman aman saja bahkan kini sebagian siswa berkesimpulan jika mitos atau kutukan bangku kosong itu sudah berakhir….. Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment. Riri memejamkan matanya dan tersenyum. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. waktu persekolahan tapi sekarang entah kemana dia pergi pun aku tak Tak berapa lama kemudian, kurasakan nafasnya mulai tenang, dan kubelai rambutnya saat kusadari bahwa ia sudah tertidur.
“Kenapa? Ada panggilan dari bini yah?” Tanya seorang pria yang lainnya. Malam itu mrk tidur ber 4 telanjang bulat. Semua memeluk tubuh anggi yang putih mengkilat. Kamar anggi dipenuhi bau keringat, nafsu dan sperma. Dan malam itu siapapun yang terbangun, secara bergantian akan kembali melampiaskan nafsu bejat mereka pada kemaluan anggi yang terus mengeluarkan darah. Sprei putih itu jadi acak2an dan dipenuhi bercak2 darah dan sperma di sana-sininya. Leave a Comment “Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?” up against his hand, matching each of the inward strokes of Sedang asyiknya aku menjilati batang kemaluan Leo dan bergerak ke atas ke arah pusarnya, tiba-tiba Rio bangkit dan meremas pinggulku. Kedua tangannya membuka belahan pantatku dan berlutut di belakangku, tepat di antara kedua pahaku dan mulai menjilati vaginaku ramai sekali hingga berbunyi kecipak-kecipuk. Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku, dan aku semakin bersemangat menjilati seluruh badan Leo yang terbaring kelelahan. “Augghhh..” desah Marni tidak kuat. “Aah”, puas wajah Pak Jenderal ketika kelelakiannya berhasil menerobos sampai setengahnya. Tarik lagi, dorong lagi, baru akhirnya masuk semua. Segera ditindihnya badan mungil di bawahnya itu. Kedua tangannya menyingkap kain rok tersebut sampai ke atas dada, kemudian direnggutnya bra penutup kedua belah dada yang padat dan ranum itu. akan menurunkan volume produksi hingga 75 persen supaya tingkat
Langganan:
Komentar (Atom)