aku menempelkan ujung kepala penisku yang baru membesar 60% sehingga tidak terlalu besar dengan kondisi ereksi 50%. Mungkin karena tidak terlalu besar, aku dapat mendorong kepala tersebut masuk sebatas leher penisku dan terganjal oleh kelembekan penisku dan kesempitan lubang vaginanya. Aku terdiam dan menahan nafas, tiba-tiba aku merasa denyutan di ujung kepala penisku yang terbenam dalam daging kenikmatan tersebut.
Perlahan penisku agak mengeras dan agak membesar, aku mencoba menekan dan menemukan sedikit celah untuk masuk tapi lagi-lagi terhenti. Perlahan tapi pasti, dalam waktu 5 menit ereksiku dapat mencapai 80% dan adalah suatu pengalaman yang luar biasa merasakan penisku mengembang perlahan di dalam vagina yang sempit dan menjepit keras, nikmat berdenyut membesar dan mengisi rongga itu dengan perlahan.
Setiap dorongan menimbulkan suatu rasa nikmat di kulit penisku dan itulah yang memacu penisku dapat mengeras. Akhirnya aku menahan nafas dan mencoba mendorong sedalam-dalamnya dan penisku bergerak perlahan sekali tetapi semakin maju sedikit semakin mengeras dan membesar. Ia merintih dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya mencoba berontak, tapi dengan posisi ini seluruh berat tubuhku ditumpukan di kedua belah pahanya agar tetap mengangkang lebar dan tidak bisa bergerak.
Setelah masuk kira-kira 3/4 bagian, aku berdiam dulu merasakan hangatnya penisku dijepit oleh daging hangat yang berdenyut lembut, dan ia pun agak tenang walaupun tangannya masih mencoba menolak perutku. Tanpa membuang waktu, aku menggeram mendorong amblas seluruh batang penisku sambil kuberatkan bobot tubuhku seluruhnya sehingga amblas sedalam-dalamnya dan tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali. Woww.., kenikmatan yang amat sangat menyergap penisku pada saat aku mencapai dasar dan menggesek benjolan daging di dalam vaginanya.
Denyutan vaginanya amat berbeda pada saat batangku belum amblas seluruhnya, begitu ketat dan hangat tidak terlukiskan dengan kata-kata. Aku merasa penisku akan membesar melebihi ukuran normal kalau saja aku tidak menggunakan obat (sampai terasa agak pegal karena ototku penisku membengkak). Aku menahan nafas dan membatin bahwa tanpa digerakkan pun aku sudah merasakan nikmat melebihi senggama normal.
Kemudian aku mencoba menarik perlahan sebatas kepala penis dan amat dashyat terasa gesekan dua kulit lain jenis bila beradu. Aku mendorong sebanyak 5-6 kali secara perlahan dan melihat kepala penis di bawahku terasa seperti diombang-ambing ombak badai luar biasa, hingga pada hitungan ke-7 aku menekan sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya serta menggerakkan ujung penisku hingga berhasil menemukan daging kecil dalam lubang tersebut. Ia berteriak dan mendongakkan kepalanya hingga terlihat hanya putih bola matanya serta bibir indahnya yang digigit keras sekali.
Aku membungkuk untuk mencium bibirnya dan membuka paksa mulutnya agar merekah menyambut lidahku. Tak disangka, dengan ganas ia menyambut lidahku dan mengulumnya serta menyedotnya. Goyangan itu aku ulangi terus sampai dia menggigit bibirku keras sekali dan akhirnya aku tahu bahwa dia telah mencapai orgasme yang pertama. Seluruh tangannya meraba dan mencakar punggungku kuat sekali. Aku tidak peduli dan aku terus menggenjot tubuh indah dan nikmat ini perlahan tapi dalam dan disertai putaran seperti gerakan membor lubang kenikmatan tersebut. Kini dengan dipenuhi cairan kenikmatan tersebut, gerakan memborku semakin ganas hingga biji matanya tidak pernah pudar, selalu memutih setiap kali aku membuat gerakan sedalam-dalamnya dengan gerakan membor.
Tiba-tiba aku melepaskan penisku dan dia berteriak, “Aahh!”. Dengan agak kasar dan bernafsu aku membawa dia ke tepi ranjang dan membalikkan tubuhnya menjadi berposisi doggy style. Dengan cepat penisku amblas kembali dengan suatu sentakan cepat hingga sesaat kepalanya terdongak kaget akan tetapi langsung terkulai kembali ke kasur.
Aku menggenjot dengan mantap tetapi lembut dan dalam posisi ini aku dapat menemukan daging tersebut dan menguleknya menggunakan ujung kepala penisku dengan pelan tapi bertenaga dan lama. Hanya ada rintihan dan cakaran tangannya ke sprei di depannya dan sentakan pinggulku menerobos lubang itu berulang-ulang selama lebih kurang 15 menit dalam kamar itu. Cairan kenikmatannya kembali keluar dan keluar kira-kira 3 kali dan akhirnya menetes deras ke kasur di bawahnya.
Aku merasa ingin orgasme tapi belum juga sampai hingga beberapa lama kemudian aku membalikkan tubuhnya lagi dan aku menariknya ke tengah ranjang. Aku mengganjal pantatnya dan mencari tissue untuk mengeringkan lubang vaginanya. Aku membisikkan ke telinganya bahwa kalau basah aku tidak bisa keluar dan bisa-bisa sampai siang pun aku tidak akan melepas dirinya. Dan dengan gerakan yang sudah tidak bertenaga sama sekali ia mencoba mengeringkan vaginanya sebisanya dan lalu tubuhnya kembali rubuh tidak bertenaga ke belakang. Setelah siap, aku mengangkat kedua kakinya ke pundakku dan bersiap untuk melancarkan gerakan paling mantap yang akan pernah ia rasakan.
Aku mengambil nafas dan meletakkan kepala penisku yang sudah agak lebih besar daripada biasanya di gerbang vaginanya. Agak seret dan sulit karena kini penisku sudah mengeras sepenuhnya dan bibir vaginanya dalam keadaan kering. Aku mengambil keputusan memaksanya dengan sekali sentakan mendorong penisku masuk dan penisku memasuki gerbang tersebut dengan lambat sekali dan begitu nikmat setelah agak kering.
Sebatas kepala penisku gerakannya tertahan oleh otot vaginanya. Aku mencoba mengambil ancang-ancang dengan gerakan keluar masuk pendek kira-kira 3 kali sesudah itu aku mendorongnya dan aku merambat pelan menggesek membelah dan menghunjam ke dalam vaginanya dengan mantap dan dibantu dengan berat badanku, aku mencapai dasar vaginanya dan menggeseknya kasar tapi perlahan dan erangannya membahana di dalam kamar..
“Oohh god.., godd.. Godd.”
Aku menarik penisku seperti irama biasa 6 pendek dan 1 panjang tapi kini dengan posisi sedalam-dalamnya hingga aku bisa mengulek bagian dalam vaginanya dengan leluasa tanpa hambatan. Kini aku melaksanakannya bertambah cepat dari waktu ke waktu seakan aku hampir mencapai garis finish. Kombinasi inex ditambah vagina yang rapat dan nikmat dari gadis ini dan wajah yang begitu sensual di bawahku menciptakan suatu ilusi birahi serasa di langit ketujuh.
Aku memejamkan mataku, dentuman house music mengangkat sisa on tadi dikombinasi gesekan nikmat vagina di bawahku. Hanya ada satu yang aku kejar sekarang, aku ingin menumpahkan semua cairan birahiku di dalam vagina nikmat ini sedalam-dalamnya. Semakin cepat aku bergerak semakin keras rintihannya hingga tiba-tiba aku merasa denyutan yang luar biasa meremas-remas batangku dan semburan hangat dalam vaginanya membungkus seluruh batangku dan kepala penisku. Dan aku tidak bisa mencegah suatu denyutan nikmat dalam batangku merambat cepat tidak tertahankan ke kepala penisku dan berakhir dengan semburan nikmat berulang-ulang tanpa bisa aku cegah dan setiap semburannya selalu meningkat rasa nikmatnya hingga semburan terakhir.
Aku memeluk kedua belah pahanya erat-erat dan setelah gelombang kenikmatan tersebut mereda, baru aku bisa membuka mata dan melihat tubuh di bawahku yang tergolek tersengal-sengal dan melihat lagi di antara jepitan pahanya dan pahaku, menetes tanpa henti cairan kental keputihan seakan vaginanya sama sekali tidak dapat menampung cairan kami berdua. Kemudian aku mencabut batang penisku yang masih setengah mengeras dan merebahkan diri di samping tubuhnya.
Tanpa sadar aku tertidur dan hingga kira-kira pukul 11 siang aku terbangun dan mendapati tubuh molek ini masih tertidur lalu tiba-tiba nafsuku naik lagi membayangkan pertempuran subuh tadi dan aku mengulanginya lagi sementara ia hanya bisa mengikutinya sambil berbisik..
“Kamu gila, kamu bukan orang, kalau pacarku hanya mampu sekali dan itupun hanya 5 menit”. Aku hanya tersenyum serta memperkeras dorongan pinggulku sampai aku mencapai ledakan kedua sekitar jam 12 siang.
Setelah kami tidur sampai jam 3 dia bangun mandi dan berpakaian demikian juga aku dan kami berdua merokok tanpa bicara dan akhirnya dia bicara..
Tampilkan postingan dengan label setubuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setubuh. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Desember 2008
Minggu, 14 Desember 2008
membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku
Rumah mewah itu memang terlihat sepi, gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh. Berlantai tiga dengan gaya arsitektur spanyol yang unik. Bergegas aku segera turun dan kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang di tikungan jalan. Kembali aku perhatikan alamat rumah yang kutuju itu. Aku segera menyelinap masuk ke dalam halamannya setelah membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi dicat hitam. Hujan mendadak turun dengan rintik-rintik. Berburu aku lari kecil menuju teras yang tinggi, karena aku mesti menaiki anak tangganya.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan ‘ngiler’ berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
“Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!” ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
“Ng.., maaf, belum kenalan..,” gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
“Oh ya, aku Tami..,” sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
“Ayo pada kenalan..!” sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
“Lina..,” ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
“Dimana mau foto-foto bersamanya..?” tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
“Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?” sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
“Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..,” sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
“Bagaimana..?” tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
“Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?” kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
“Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!” sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
“Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?” tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
“Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!” sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
“Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!” ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
“Ahkk..!”
“Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!” bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
“Kamu memang seksi dan kekar..,” ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
“Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!” sahut Dian mengelus-elus pantatku.
“Sama dong. Tapi siapa duluan..?” sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
“Diam dan diam, oke..?” kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
“Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
“Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!” sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
“Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!” ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
“Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!” teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
“Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!” ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
“Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!” ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
“Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!” menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
“Hmm.. nikmat sekali. Enak..!” ucap Diam senang.
“Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!” sahut Lina.
“Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!” perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
“Siapa kalian ini sebenarnya..?” tanyaku memberanikan diri.
“Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!” bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
“Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!” perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
“Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!” teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
“Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!” ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
“Ouh.. aduh.., aahhk..,” teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
“Diminum. Minum pipisku.. cepat..!” perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
“Gantian..!”ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
“Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!” teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
“Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!” menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan ‘ngiler’ berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
“Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!” ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
“Ng.., maaf, belum kenalan..,” gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
“Oh ya, aku Tami..,” sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
“Ayo pada kenalan..!” sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
“Lina..,” ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
“Dimana mau foto-foto bersamanya..?” tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
“Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?” sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
“Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..,” sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
“Bagaimana..?” tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
“Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?” kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
“Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!” sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
“Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?” tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
“Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!” sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
“Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!” ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
“Ahkk..!”
“Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!” bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
“Kamu memang seksi dan kekar..,” ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
“Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!” sahut Dian mengelus-elus pantatku.
“Sama dong. Tapi siapa duluan..?” sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
“Diam dan diam, oke..?” kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
“Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
“Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!” sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
“Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!” ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
“Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!” teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
“Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!” ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
“Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!” ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
“Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!” menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
“Hmm.. nikmat sekali. Enak..!” ucap Diam senang.
“Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!” sahut Lina.
“Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!” perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
“Siapa kalian ini sebenarnya..?” tanyaku memberanikan diri.
“Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!” bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
“Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!” perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
“Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!” teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
“Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!” ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
“Ouh.. aduh.., aahhk..,” teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
“Diminum. Minum pipisku.. cepat..!” perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
“Gantian..!”ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
“Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!” teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
“Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!” menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Rabu, 10 Desember 2008
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya
Pagi menjelang. Sinar mentari pagi menerangi kamar gue yang berantakan karena
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di ranjang gua.
Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Adik gua langsung tegak lagi. Kaga
mau bangunin mereka, gua bangun dan terus ke dapur untuk membuat makan pagi.
Baru masuk dapur dan lagi nyari mie instant, gua ngerasa ada tangan yang maenin
adik gue dan meluk gue dari belakang.
Gua langsung noleh. Ternyata si Julia. Gua cium dia di bibir dan kasih tahu dia
gua mau masak.
"Eh, gua udah laper nih." Katanya dengan senyumnya yang nakal.
Dia mulai ngisep adik gua yang dari tadi tegak. Gua langsung mundur beberapa
langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan adikku ini. "Ohhh.."
itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya yang imut terus naik turun dan
dari pipinya bisa keliatan kalo dia lagi ngisep gua dengan kerasnya. Lidahnya
memainkan adikku. Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif
pagi begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Loe orang jahat yah kaga bagi-bagi breakfast." Gua cuman ketawa kecil. Punting
mereka mengeras dan gua rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut Julia mulai lebih
cepat. Dari sudut mata gua, gua ngeliat Amy dan Monica sedang French Kissing dan
Finger Fucking each other. Gila bener cewe-cewe ini. Pagi-pagi udah aktif
banget. Mulut Julia tidak diem naik turun, gua muali mainin punting dan payudara
Julia.
"Jul, kita 69 aja deh." Saranku. Julia melepaskan isapannya dan gua langsung
rebahan di tanah. Julia mulai berada di atas gua dan gua langsung isep dia punya
memek yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali gua jilat clitorisnya. Setiap
kali gua jilat clitorisnya dia lansung mendesah "Ooh". Akhirnya setelah lima
menit gituan, lidah gua mulai capek. Gua mulai masukin dua jari kedalam,
teriakan "Ahhh" terdengar, gua mulai jilatin clitorisnya dan maju mundurin jari
gua. Dia sekarang cuman teriak "Enak Ron, terus Ron… Kerasan donk… Jilat terus.
Gua cuman bisa jawab, "Eh lidah gua capek nih, jarang-jarang aja lidahnya."
Setelah itu gua mainin clitorisnya pake jempol gua sementara kedua jari gua kaga
berhenti maju mundur. Begitu tangan gua yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!!!". Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posis! i jadi 69 juga. Setelah
Julia mulai ngisep lagi, Mereka udah klimaks, sebab gua denger mereka teriak
"I'm cumming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat terdengar
jelas. Gua yakin gua sebentar lagi mulai klimaks. Gua coba tahan sebentar tapi
gua kaga bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat. Tak lama kemudian gua semprot
aja peju gua kedalam tenggorokan si Julia. Setelah itu, dia mencium gua. Tanpa
diduga, ternyata dia cuma telan sebagian peju gua sebab sebagiannya dimasukin
mulut gua. Itu pertama kali gua ngerasasin peju. Rasanya agak aneh tapi lumayan
enak juga.
"Bagian breakfast loe tuh. Enak ngga?" gua cuman ngangguk aja. "Kita orang yang
buat breakfast deh, loe mandi aja" lanjutnya.
Gua akhirnya masuk kamar dan mandi.
Setelah mandi, kita orang pergi jalan-jalan ke Orchard Road naek MRT. MRT dari
rumah gua ke Orchard kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat
kita semua saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT nya diam, lampunya pun
mati. "Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and track
failure. They are trying to fix the track at the moment and the electricity
would be back online in half an hour. We regret for inconvinience caused." Suara
dari speaker menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang adik gua,
gua telusuri mencari muka empunya tangan. Ternyata yang maenin adik gua orang
yang gua tak kenal. Dia mulai masukin tangannya ke zipper gua. Gua juga tak mau
kalah. Gua mulai Masukin tangan gua kedalam T-shirt nya dan mencari dia punya
payudara. Kaga gua sangka, Payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya
meninggalkan adikku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka dia punya BH
dan menanggalkan BH nya. Rok mininya gua singkap da! n ternyata dia kaga pakai
cede. Gua mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi mainin
puntingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak kedengaran
orang lain, gua French kiss dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan
tangannya mulai ngocokin adik gua.
"It is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu sementara gua
spread kakinya. Gua angkat dia sedikit dan karena agak menyenggol penumapang
lainnya, gua denger beberapa gerutuan. Setelah yakin tidak akan menyenggol orang
lain, gua mulai masukin adik gua ke lobangnya. Gua denger dia mendesah "Mmm…"
itu aja yang gua denger. Gua mulai French kiss dia lagi agar dia kaga teriak
lebih keras. Gua mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan
bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
sex mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah gua tengok ke samping,
ternyata yang gua ngentotin tadi adalah guru mathematics gua. Dia tersenyum
nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk
merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kita orang lansung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam. Akhirnya kita
orang pulang juga.
Sampai di rumah gua langsung masuk kamar kecapaian menemani cewe-cewe yang jago
belanja ini. Rupanya cewe-cewe ini benar-benar edan. Gua sudah capek begini
masih minta sex. Untuk nakut-nakutin mereka gua usulin permainan baru. Permainan
kami adalah master and slave. Gua jadi master, mereka jadi slave (budak). Di
luar dugaan gua, ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Gua kasih
tahu mereka, mereka cuman boleh panggil gua bos, tapi gua boleh panggil mereka
apa saja (termasuk perek, slut, cewe murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh
atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan
dengan sex. Mata mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti
semua pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu gua keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Gua ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru balik
ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh, loe orang bertiga main bersama di lantai. Julia, loe pake ketimun yang
lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara loe orang jilatin
Monica. Gua di sini bakal rekam loe pake handycam gua." Gua lempar ketimun yang
gua buat di sekolah pake tanah liat ke Julia. Mereka pertamanya agak kaga suka
ide gua pake handycam tapi setelah gua yakinin bahwa videonya kaga bakal gua
kasih liat orang lain akhrinya mereka setuju.
Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka juga
mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main mereka.
Mereka juga terkadang bercium mesra. Adik gua mulai kaga tahan. Gua elus adik
gua lewat celana dalam gua.
"Stop!" Mereka yang lagi asyik main rupanya kaga denger gua. Gua teriak sekali
lagi "STOP!!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak mendengar
perintah bos, gua suruh setiap orang ambil ketimun kecil di kulkas dan masukkan
ke dalam vagina mereka. Setelah itu gua suruh mereka jalan-jalan dalam rumah
dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, gua suruh
mereka pake celana dalam dan kaos panjang gua (kurang lebih sampe lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh
dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Gua suruh mereka
ikutin gua ke seven eleven terdekat tanpa pake celana maupun bh mereka. Mereka
mulai menawar tetapi gua bilang, "Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke
supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka akhirnya ikut gua ke seven eleven yang
di depan rumah gua. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan,
dia mendapat klimaks (ketimunnya ! kaya kontol naik turun sewaktu dia lari).
Penjaga toko seven eleven ngeliatin payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi
tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia
membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah
karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang gua lari balik ke
rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih berat.
Langsung aja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan hampir lemas karena
klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam
waktu yang ditentukan. Nafas mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas
dan penuh keringat, tapi permainan baru dimulai, sebab adik gua masih segar
bugar. Apalagi baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
Ingin tahu lebih lanjut… tunggu kelanjutannya…
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di ranjang gua.
Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Adik gua langsung tegak lagi. Kaga
mau bangunin mereka, gua bangun dan terus ke dapur untuk membuat makan pagi.
Baru masuk dapur dan lagi nyari mie instant, gua ngerasa ada tangan yang maenin
adik gue dan meluk gue dari belakang.
Gua langsung noleh. Ternyata si Julia. Gua cium dia di bibir dan kasih tahu dia
gua mau masak.
"Eh, gua udah laper nih." Katanya dengan senyumnya yang nakal.
Dia mulai ngisep adik gua yang dari tadi tegak. Gua langsung mundur beberapa
langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan adikku ini. "Ohhh.."
itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya yang imut terus naik turun dan
dari pipinya bisa keliatan kalo dia lagi ngisep gua dengan kerasnya. Lidahnya
memainkan adikku. Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif
pagi begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Loe orang jahat yah kaga bagi-bagi breakfast." Gua cuman ketawa kecil. Punting
mereka mengeras dan gua rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut Julia mulai lebih
cepat. Dari sudut mata gua, gua ngeliat Amy dan Monica sedang French Kissing dan
Finger Fucking each other. Gila bener cewe-cewe ini. Pagi-pagi udah aktif
banget. Mulut Julia tidak diem naik turun, gua muali mainin punting dan payudara
Julia.
"Jul, kita 69 aja deh." Saranku. Julia melepaskan isapannya dan gua langsung
rebahan di tanah. Julia mulai berada di atas gua dan gua langsung isep dia punya
memek yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali gua jilat clitorisnya. Setiap
kali gua jilat clitorisnya dia lansung mendesah "Ooh". Akhirnya setelah lima
menit gituan, lidah gua mulai capek. Gua mulai masukin dua jari kedalam,
teriakan "Ahhh" terdengar, gua mulai jilatin clitorisnya dan maju mundurin jari
gua. Dia sekarang cuman teriak "Enak Ron, terus Ron… Kerasan donk… Jilat terus.
Gua cuman bisa jawab, "Eh lidah gua capek nih, jarang-jarang aja lidahnya."
Setelah itu gua mainin clitorisnya pake jempol gua sementara kedua jari gua kaga
berhenti maju mundur. Begitu tangan gua yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!!!". Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posis! i jadi 69 juga. Setelah
Julia mulai ngisep lagi, Mereka udah klimaks, sebab gua denger mereka teriak
"I'm cumming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat terdengar
jelas. Gua yakin gua sebentar lagi mulai klimaks. Gua coba tahan sebentar tapi
gua kaga bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat. Tak lama kemudian gua semprot
aja peju gua kedalam tenggorokan si Julia. Setelah itu, dia mencium gua. Tanpa
diduga, ternyata dia cuma telan sebagian peju gua sebab sebagiannya dimasukin
mulut gua. Itu pertama kali gua ngerasasin peju. Rasanya agak aneh tapi lumayan
enak juga.
"Bagian breakfast loe tuh. Enak ngga?" gua cuman ngangguk aja. "Kita orang yang
buat breakfast deh, loe mandi aja" lanjutnya.
Gua akhirnya masuk kamar dan mandi.
Setelah mandi, kita orang pergi jalan-jalan ke Orchard Road naek MRT. MRT dari
rumah gua ke Orchard kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat
kita semua saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT nya diam, lampunya pun
mati. "Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and track
failure. They are trying to fix the track at the moment and the electricity
would be back online in half an hour. We regret for inconvinience caused." Suara
dari speaker menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang adik gua,
gua telusuri mencari muka empunya tangan. Ternyata yang maenin adik gua orang
yang gua tak kenal. Dia mulai masukin tangannya ke zipper gua. Gua juga tak mau
kalah. Gua mulai Masukin tangan gua kedalam T-shirt nya dan mencari dia punya
payudara. Kaga gua sangka, Payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya
meninggalkan adikku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka dia punya BH
dan menanggalkan BH nya. Rok mininya gua singkap da! n ternyata dia kaga pakai
cede. Gua mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi mainin
puntingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak kedengaran
orang lain, gua French kiss dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan
tangannya mulai ngocokin adik gua.
"It is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu sementara gua
spread kakinya. Gua angkat dia sedikit dan karena agak menyenggol penumapang
lainnya, gua denger beberapa gerutuan. Setelah yakin tidak akan menyenggol orang
lain, gua mulai masukin adik gua ke lobangnya. Gua denger dia mendesah "Mmm…"
itu aja yang gua denger. Gua mulai French kiss dia lagi agar dia kaga teriak
lebih keras. Gua mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan
bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
sex mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah gua tengok ke samping,
ternyata yang gua ngentotin tadi adalah guru mathematics gua. Dia tersenyum
nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk
merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kita orang lansung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam. Akhirnya kita
orang pulang juga.
Sampai di rumah gua langsung masuk kamar kecapaian menemani cewe-cewe yang jago
belanja ini. Rupanya cewe-cewe ini benar-benar edan. Gua sudah capek begini
masih minta sex. Untuk nakut-nakutin mereka gua usulin permainan baru. Permainan
kami adalah master and slave. Gua jadi master, mereka jadi slave (budak). Di
luar dugaan gua, ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Gua kasih
tahu mereka, mereka cuman boleh panggil gua bos, tapi gua boleh panggil mereka
apa saja (termasuk perek, slut, cewe murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh
atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan
dengan sex. Mata mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti
semua pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu gua keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Gua ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru balik
ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh, loe orang bertiga main bersama di lantai. Julia, loe pake ketimun yang
lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara loe orang jilatin
Monica. Gua di sini bakal rekam loe pake handycam gua." Gua lempar ketimun yang
gua buat di sekolah pake tanah liat ke Julia. Mereka pertamanya agak kaga suka
ide gua pake handycam tapi setelah gua yakinin bahwa videonya kaga bakal gua
kasih liat orang lain akhrinya mereka setuju.
Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka juga
mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main mereka.
Mereka juga terkadang bercium mesra. Adik gua mulai kaga tahan. Gua elus adik
gua lewat celana dalam gua.
"Stop!" Mereka yang lagi asyik main rupanya kaga denger gua. Gua teriak sekali
lagi "STOP!!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak mendengar
perintah bos, gua suruh setiap orang ambil ketimun kecil di kulkas dan masukkan
ke dalam vagina mereka. Setelah itu gua suruh mereka jalan-jalan dalam rumah
dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, gua suruh
mereka pake celana dalam dan kaos panjang gua (kurang lebih sampe lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh
dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Gua suruh mereka
ikutin gua ke seven eleven terdekat tanpa pake celana maupun bh mereka. Mereka
mulai menawar tetapi gua bilang, "Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke
supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka akhirnya ikut gua ke seven eleven yang
di depan rumah gua. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan,
dia mendapat klimaks (ketimunnya ! kaya kontol naik turun sewaktu dia lari).
Penjaga toko seven eleven ngeliatin payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi
tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia
membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah
karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang gua lari balik ke
rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih berat.
Langsung aja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan hampir lemas karena
klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam
waktu yang ditentukan. Nafas mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas
dan penuh keringat, tapi permainan baru dimulai, sebab adik gua masih segar
bugar. Apalagi baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
Ingin tahu lebih lanjut… tunggu kelanjutannya…
Minggu, 12 Oktober 2008
d iamenciumi dan menjilati daerah itu sampai celana dalamku basah
Sarah ( 21 tahun ) “Wah, enak dong.., orangnya sintal, mungkin tiga hari nggak habis dimakan!” kataku berseloroh. Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu tante Lina mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Lina berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. “Sudah kamu istirahat dulu deh Va!” “Tapi pakaian dalam Mamamu kok nggak terlalu seksi ya.. konvensional banget sampai aku susah memilihnya”. laki-laki dan setelah cukup basah maka Anna pun disuruh berjongkok di “Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya.
Abang ke mana isteri dirasa Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung. Bagian empat : MLA I’m your mother. Just pretend I’m another woman and make Setelah puas berehat aku dengan lantang berkata `servis kau memang Aku bersekolah di salah sebuah sekolah di ibu kota.walaupun aku
Tak lama kemudian orgasme mereka lewat juga, kami duduk perdampingan tapi masih merasa nikmat dan sama sama tersenyum. Trus kami liat si Eva kayaknya belum, maklum mungkin masih baru kali yah. Dan mungkin di masih kawatir ada yang ngeliat jadi kurang konsen, karena itu dianya keliatan semakin horny ajah dan belum lepas lepas juga. Akhirnya kami bertiga segera duduk disekitar dia, Veni (kakaknya) duduk di sampingnya sambil memeluk adiknya di berbisik “ Udah Va, cuek ajah lah, kami nutupin kok. Kamu terusin ajah. Kalo udah keluar nanti enak banget “. Sambil merem dianya mengangguk. Saya pun mulai membantu dia dengan merangsang vaginaya, wow…gadis ini udah basah banget. Karena saya rasa basah banget maka roknya pun saya angkat biar ga nyeplak nantinya, habis banyak banget cairannya. Tangan saya dengan lincah segera masuk ke selangkangannya dan segera mencari klitorisnya. Setelah etemu mulai saya gosok gosok dengan cepat, dianya semakin gelisah duduknya, sedangkan niken juga mulai meraba raba payudaranya, agar dia makin terangsang. Ahhhh saya liat napasnya mulai memburu mungkin ga lama lagi dianya orgasme. Badannya semkin gelisah untuk niken dan veni cepat tanggap dengan menahan badannya agar tangan saya bisa menggosok vaginanya dengan leluasa. Ahhhh akhirnya dia pun orgasme, mulutnya mejerit tapi segera di peluk niken jadi ga sempat semakin liar, sambil memeluk nikem meremas payudara Eva kuat2, dan Veni terus berbisik ke telinganya agar melepas semuanya. Ahhhh jari saya yang di vaginanya merasakan denyutan yang sangat kuat, ohhhh dianya orgasme. Dunyatan2 ini tandanya. Matanya meram dan semakin meringis ringis, tapi saya yakin sekali geli2 nikmat yang luar biasa yang sedang dialaminya. Setelah beberapa lama akhirnya orgasme nya lewat juga dan dia mulai tenang, demikian juga kami bertiga. Mata kami masih merem menikmati sisa orgasme dan musik y6ang menghentak kencang. dengan sofa ruang tamu maka walaupun terkuat hanya sedikit tentunya Vivi, sang adik iparku dapat mengintip “Tambah ganteng dong dia” Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas. Akhirnya saya memeluk erat tubuh Middleton, saya peluk semampu saya sebab tubuhnya lebih besar dari saya. Saya letakan kepala saya dan menghadap ke kiri pada dadanya yang bidang. Oh My Godness, saya lihat Raymond dan Gill sedang berdiri di depan pintu, mereka melihat saya, rupanya mereka melihat beberapa adegan yang telah saya lakukan. Buru-buru saya bangkit dan saya mengambil pakaian saya dan saya hampiri mereka. Saya tanyakan bagaimana dengan seks mereka, dan saya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh saya, sedangkan Midlleton bangkit lalu berpakaian, rupanya ia tidak peduli dengan kehadiran Ray dan Gill. other hand on one her breast and kneaded it and rolled the Dee berdiri untuk mengunci pintu, namun Pak Wir merengkuh pinggangnya dari belakang.
Samia laid on her back and opened her legs wider. Amir adjusted himself between her legs and with one hand opened her pussy lips getting a full view of his mother pink pussy. He lowered his head and touched her clit with his tongue. Samia bucked her ass and ground her pussy against her son’s mouth. Amir started licking all along her pussy inserting his tongue deeper in her fu*k hole. Samia had previous lesbian contacts and had experience in being licked but the mere fact that it was her baby boy was something else. Her orgasm exploded like a bomb on her son’s face. Gigitan dan jilatan, cakaran dan remasan. Erangan dan rintihan kenikmatan. Juga gelap dan terang. “Kenapa Jo? Sakit ya di sini?” tanyanya. Isakan keluar dari mulutku.
Website “Mbak.. Oh..” Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalam dipelukan Tuti. Selama seminggu pertama, aku dan 30 awak News Room menginap di kantor untukmemantau perkembangan tsunami serta proses bantuan kemanusiaan. Tepat di awal Januari 2005, presiden Amerika Serikat, George Walker Bush memerintahkan bantuan kemanusiaan untuk mengatasi bencana internasional yang merenggut 150 ibu korban jiwa. Angkatan ketujuh pun bergerak ke Aceh dengan memboyong 3 kapal perang serta sebuah kapal induk USS Abraham Lincoln. Semua media berusaha meliput langsung proses bantuan ini namun terbentur birokrasi pemerintah yang ruwetnya bikin kepala pecah. Setelah berpikiran seperti itu, Bi Eha menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanya bercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Bi Eha jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakin menggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Hartono, tentunya sudah ia terkam sejak tadi dan menggumuli batang kont*lnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah ke ubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malah akan membuatnya ketakutan.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
Faiza woke up late next morning. Lazily she pulled the curtains, letting in soft light of March sun into her bedroom. It was spring which is the best month in Lahore (Pakistan). She walked out of her room and went straight to the lounge. It was empty except the maidservant. She remembered that her parents had to go to a wedding in their native village. The maidservant told her that only she and Amir were left behind. Hearing Amir name she blushed and remembered the events of last night. Not wanting the servant to see her blushing she went back to her room. She went to the bathroom to do the morning necessities. The door to Amir’s room was unlocked. She went to look it but after a mischievous grin let it remain open. Slowly she removed all her clothes and looked at herself in the mirror. She knew that she was beautiful and the mirror replied in affirmative. After doing the necessary rituals she took a bath and wiped herself dry. The wearing a beautiful lacy bra and panties she went to Amir’s room. He was sleeping soundly. She slowly removed the light blanket over him. To her surprise she found that he was sleeping naked. His flaccid cook was visible. She drew closure and started inspecting it. It was a mere two inches in length, not long as she had seen it the previous night. She lightly touched it. It was soft. She then ran a finger on his balls. They were bigger than she thought and oval in shape. Amir had a thick bush of pubs and she made a mental note that she will ask him to remove them. Amir stirred in his sleep and she tiptoed back to her room. “bodynya coy…….. gile bener. Putih banget.” Kelelahan disekujur tubuhnya terasa sekali hari ini. Satu hari yang sangat menguras tenaga. “Iya deh Non, sebentar aja yah, udah ngambil saya langsung pulang” Imron tertawa lebar dalam hatinya karena inilah yang ditunggu-tunggu. Calvin mengiyakan, segera ia duduk di boncengan, rapat di belakang tubuh Andre. Tangannya diletakkannya di paha Andre. Kemudian kedua remaja SMU itu melaju menuju sekolah mereka. Pada hari Sabtu di bulan Januari, karena saya tidak memiliki pacar, saya sering berkeliling kota dengan mobil ayah untuk menghabiskan malam panjang sendirian. Karena teman-teman belajar saya semua pada ngapel, termasuk Bima. “Ah Sial..” ketika baru saja lewat rumah keluarga drs.E, mobil terbatuk-batuk seperti habis BBM. Padahal hujan begitu lebat di luar dan SPBU terdekat kira-kira 2 km dari lokasi tempat mobil saya tepikan di bahu jalan. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjam telepon ke rumah Bima, untuk menelepon ayah atau siapa saja untuk membantu kesulitan gara-gara lalai terhadap yang namanya BBM. membalasnya dengan tersenyum lalu dia melemparkan bantal guling ke
Faiza smiled to herself and after removing her shawl went near her brother and placed her head on his shoulder. jadi perkembangan eksebisinya pastilah dilingkaran dekat sendiri….. Desahan yang keluar dari mulut mamaku ini menjadikan ku semakin bersemangat dan kugeser kepalaku yang sedang dipegangi mama kearah tetek yang satunya dan tangan kananku kuremaskan lembut di tetek kiri mama dan tak henti2 nya desahan mama terdengar semakin kuat dengan nafas cepat. “Wih, dikit lagi kuliah dong. Mau kemana kuliahnya? Ke Jepang aja? Nichidai?” Pak Maman mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina gadis itu. Desahan tertahan terdengar dari mulut Virna yang sedang berciuman. Pria itu memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin bertenaga. Lumayan juga sudah seusia kepala enam tapi penisnya masih sekeras ini dan sanggup membuat gadis itu menggelinjang. Dia mahir juga mengatur frekuensinya agar tidak terlalu cepat kehabisan tenaga. Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya. Virna pun semakin terbuai dan menikmati persetubuhan beda jenis ini. Dia tidak menyangka pria seperti si penjaga kamar mayat itu sanggup membawanya melayang tinggi. Pria itu semakin kencang menyodokkan penisnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme. Shin Chan yang tak berdaya melepas tangannya dari burungnya dan terlentang mengaduh”Aduh, aduh, geli Ma, geli Ma”. Seorang gadis berbadan putih telanjang sedang bersetubuh dengan posisi di atas membelakangi pasangannya. Kedua belah pahanya yang mulus bersimpuh di atas badan telanjang seorang pria setengah baya. Kedua tangannya memegang erat lutut di depannya untuk memudahkan goyangan pinggulnya. Pria yang berada di bawah, meletakkan telepon genggamnya di atas meja samping. Diremasnya kedua belah dada yang tak terlalu montok namun padat itu dari belakang. Kemudian dibelainya kedua belah lengan dan tubuh gadis yang tak terlalu tinggi tapi langsing itu.
Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkan kontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilati pejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa suka dengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyata enak. Saat itu perasaanku campur aduk. Otakku sudah lepas kontrol. Karena Andi merasa aku hanya setengah hati menyuruhnya keluar, dia semakin berani. Dia berpindah ke depan dan menempelkan mulutnya di daerah kemaluanku. Dengusan napasnya yang hangat sampai di antara pahaku. Aku bergetar dan mulai menyukainya. Aku diam saja waktu d iamenciumi dan menjilati daerah itu sampai celana dalamku basah. Aku merasa otot-otot di sekitar kemaluanku mengejang. Rasanya seperti merapat terus.
Si cowo nekad tembak langsung. Nyatanya semua biaya yang harus ditanggung memang sudah dipastikan akan seberat menyimpan seorang bini muda. “Mas….., kamu kan sekarang sudah tambah dewasa, apa enggak pingin punya pacar atau pingin meluk atau dipeluk seorang perempuan ? kata mama tiba2. “Atau kamu sudah jadi laki2 yang enggak normal barangkali ya, Sayang ?“ lanjut Mama. aku begini .Mungkin dulu dia tidak mendenda aku secara ludah kenikmatan bersama-sama tante Lin. Tiba-tiba tante Lin menyedot semua ludah-ludah itu kemulutnya dan melepas mulutku. Dengan tatapan mata dan senyuman yang nakal, tante Lin mengeluarkan air ludah itu, membiarkannya mengalir seperti air terjun, dari mulutnya ke dagunya, lehernya, membasahi dadaku dan dadanya, dan akhirnya turun sampai ke pangkal paha kami, membuat gesekan tubuh kami terasa menjadi lebih licin. Melihat itu, mulai kuarahkan kepalaku untuk menjilati air ludah, tapi tidak kutelan, mulai dari sudut-sudut bibirnya, lalu dagunya, “Tidak apa-apa kok Pak”, sahutku, aku senang juga dalam hati. “Pah. tadi kok Mama rasakan punya Papa jadi lain?” “Okeh, nggak pa-pa. Kutunggu.”
Setengah berlari dengan baju dan rambut yg acak2an anggi segera keluar dari kompleks sekolah itu. Dia tak tau ada beberapa pasang mata yang selama prosesi sex terjadi di kelas tadi, telah mengintai dan menonton pertunjukan sex itu. Beberapa pasang mata itu begitu ganas dan liar. “tunggu giliran kami nggi…………..” bisik mereka tertiup angin malam………………… “Ada air panasnya lho Shan..” kata Tuti. “Kamu tidak kasihan melihat ayah seperti ini? Ayolah, kita khan pernah melakukannya”, desaknya. Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Donna mengantarkanku kepintu sambil sambil menghadiahkanku sebuah kecupan kecil, katanya “Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya.” “Jangan lagi panggil tante ah, panggil saja Santy. Oke?”. “Kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya. Now Donny really became uneasy. Mom was treading into an *
Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku
Setelah rasa nyeri pada penisku berkurang, aku mulai meluruskan badan secara perlahan sambil dirasa-rasa, takut-takut ada rasa sakit susulan. Setelah dirasa nyaman, aku mulai membuka resleting celana sekolahku, dan mulai ku raih penis panjangku dari balik celana dalamku yang berwarna putih. Aku tidak memperhatikan wajah Leni. Aku masih mengamat-amati penisku yang lemas. Aduh warnanya jadi merah di antara putih warna kulit penisku. Aku pencet-pencet sambil merasa-rasa kalau ada rasa sakit atau keseleo. Setelah dirasa aman, aku mulai mengalihkan pandangan ku pada Leni. Wajahnya seperti orang bego yang cantik, terpaku pandangannya pada penisku. Sedangkan saya menghisap cicap si JJS tu, KT pula tiba-tiba membuka seluar saya dan meraba-raba batang saya. Dia kemudiannya mengelam batang saya sampai saya boleh merasa bulu saya menyentuh mulutnya tu. Selepas saya sudah puas, KT suruh saya bangun dan dia menghisap batang saya tu dengan mesra. Saya pula meraba-raba payudara si JJS sambil mencium-ciumnya. Faiza woke up late next morning. Lazily she pulled the curtains, letting in soft light of March sun into her bedroom. It was spring which is the best month in Lahore (Pakistan). She walked out of her room and went straight to the lounge. It was empty except the maidservant. She remembered that her parents had to go to a wedding in their native village. The maidservant told her that only she and Amir were left behind. Hearing Amir name she blushed and remembered the events of last night. Not wanting the servant to see her blushing she went back to her room. She went to the bathroom to do the morning necessities. The door to Amir’s room was unlocked. She went to look it but after a mischievous grin let it remain open. Slowly she removed all her clothes and looked at herself in the mirror. She knew that she was beautiful and the mirror replied in affirmative. After doing the necessary rituals she took a bath and wiped herself dry. The wearing a beautiful lacy bra and panties she went to Amir’s room. He was sleeping soundly. She slowly removed the light blanket over him. To her surprise she found that he was sleeping naked. His flaccid cook was visible. She drew closure and started inspecting it. It was a mere two inches in length, not long as she had seen it the previous night. She lightly touched it. It was soft. She then ran a finger on his balls. They were bigger than she thought and oval in shape. Amir had a thick bush of pubs and she made a mental note that she will ask him to remove them. Amir stirred in his sleep and she tiptoed back to her room. Penisnya cukup besar hingga aku agak takut dan terus melumatnya. Semakin lama aku semakin menikmatinya. Rasanya seru. Aku terus menjilat dan berusaha memasukkan penisnya dalam mulutku. Aku menggigit-gigitnya dan sesekali memainkan zakarnya. Ia mengerang keenakan sampai akhirnya ia orgasme. Aku menelan semua spermanya. Aku tertawa senang. Lalu ia balik menerkamku. Vaginaku habis dijilat dan digigitinya. Ia bagaikan singa gila. Dan dia adalah pria paling hebat dalam melakukan oral sex yang kutahu selama ini. Aku orgasme sampai empat kali! Satpam muda itu nampak malu-malu. Tadi dia pesan, Aku langsung saja naik ke lantai 6, ke kamar yang dulu. Ternyata dia sebagai Manager memang “menguasai” kamar itu sebagai kamar pribadinya. Hanya dia harus siap memberesi barang-barangnya kalau suatu ketika hotelnya mengalami full book. Website mother said softly.
Johan tersentak sedikit, ia melepaskan ciumannya dan mulai mendesah, “Aduh, Mas! Ahh.. uuhh..!” Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu. Apabila ada Sumur di Ladang … Mari .. Lain Kali Kita bertemu lagi Dalam Lubang … yang sama “Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi. “Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya. Suatu saat perempuan itu menangkap basah si pengintip. Bukannya dia marah tapi malah menyuruh anak itu masuk ke kamarnya disuruh duduk. Mulailah perempuan itu mencopot bra-nya dan memamerkan buah dadanya. Hari berikutnya tak hanya bra yang dilepas, tapi celana dalamnya juga. Lalu kesempatan berikutnya dia jadi ‘guru’ yang mengajarkan anak polos itu bagaimana caranya berhubungan seks, lengkap dengan “praktikum”.
bebrapa hari boy dirawat di rumah sakit, dia diberitahu jika ada yg menmukan dia terbaring pingsan di samping mobilnya, mungkin sedikit serangan jantung membuat dia pingsan. Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes. Donny quit talking and concentrated on fu*king his mother in “N.. Bler ke kote kau masuk ke lubang akak?” tanya sakinah dalam sesdap ada cuaknya.. September 26th, 2007 by indocerita Keluarga dan cintaku Rio mengantar kepindahanku ke Semarang. Karena disana aku tidak punya sanak saudara sama sekali, kedua orang tuaku terlihat sangat berat untuk melepaskanku, tapi aku dapat meyakini mereka. Aku mengontrak sebuah rumah yang sangat kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi dan ruang tamu didaerah simpang lima. 3 hari aku bersama orang tuaku dan kekasih yang amat aku cintai Rio-ku. Minggu pagi dengan berat mereka meninggalkanku, orang-orang yang amat berarti dalam hiduku harus kembali ke Jakarta. Kutahan air mataku agar tidak menetes keluas, kuyakini kepada mereka kalau aku mampu dan bisa mandiri. Dengan wajah bersemu merah Tante Cesty seperti menemukan jawaban yang dicarinya. Di lain sisi Anku masih terlihat sibuk dengan barang dan debu, keadaan dibawahnya di luar kesadarannya. 2 jam waktu yang cukup mengerjakan perintah Tante Cesty, dengan tubuh berselimut debu Anku menyusuri lorong samping kediamaan Tante Cesty, menuju kolam ikan belakang ‘tuk sejenak beristirahat ditemani segelas juice yang telah diisi ketigakalinya.
Besoknya, secepat suamiku pergi ke penataran aku sudah tak sabar menunggu pintu. Aku ingin ada perkosaan kembali. Ah, aku benar-benar khianat sekarang. Aku benar-benar kehilangan harkatku. Aku benar-benar bukan lagi diriku sebagaimana yang orang kenal selama ini. Aku adalah istri yang selingkuh, adalah perempuan penyeleweng. tetapi juga ingin di…. raba-raba… di gesek-gesek…. hari berjalan dengan seperti biasa bagi dendy, seorang eksekutif muda yang sukses. Jangan lihat ke sini, Thomas. Dari kurangnya kasih sayang itulah, Michael lantas mencoba mencari kasih sayang di luar dengan caranya sendiri dengan memanfaat fasilitas materi yang diberikan oleh orang tuanya. Ia memang termasuk kaya untuk ukuran anak seusianya, meski semua yang ia miliki adalah kepunyaan bapaknya. Dengan mudahnya jenderal orc itu menangkap kedua pergelangan kaki Sharon lalu dibentangkannya lebar-lebar. “Iya apa?” “Arghh.. Enak Nov..” erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
“Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya.” Setelah selesai makan, akupun mulai kembali ereksi melihat sembulan buah dada dari balik T-shirt merah muda yang dikenakannya. Sandra tampak mengetahui nafsuku mulai bangkit dan dia seolah tak sengaja lebih membusungkan dadanya. “Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku. Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum. mem*knya!. “lho katanya udahan” kata-kataku membuat cici-ku tidak cowoknya. Aku hanya mengangguk-angguk sambil terus memegang tangannya yang Saya sudah tebak, kalo Donna ketemu Vivi udah nggak ada matinya deh. Maklum dulu temen jalan waktu masih pada ABG. Kebayang suatu hari di akhir tahun 1990 di Kute, uh I cannot believe my experiences with them there, pokoknya heboh banget.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
“jangan takut pengantinku….ini hanya sakit sedikit….”kata mahluk yg membawa vina, sambil tangannya menjelajahi seluruh lekuk tubuh vina yg polos. “Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya. Cambuk kembali melecuti dadaku. Pokoknya tidak ada yang diam nganggur. Saat Tami menggagahiku, Lina mencambuk. Dian menetesi puting susuku dengan cairan lilin merah besar. Atau menyirami lilin panas itu ke anusku. Saking tidak kuatnya aku, kini aku jatuh pingsan lagi. Website Surabaya, awal 2001 perasaan nikmat mengiringi ejakulasi itu. Bahkan aku menyadari kalau “Wih, keras banget Joe!” katanya takjub. “Minum, ini sundal, minum kencingku. Ayoo.. Minum.. Air segar inii.. minum perempuan sial.. Minum kencingku sundalku..”
“Jangan galak-galak dong, takut nih Vita” kata Vera sambil tertawa. Saya ikut tertawa. “Apaan sih?” katanya masih tidak mengerti. Leave a Comment Ternyata berhubungan seks dengan Om Ronald sama sekali tidak memberikan kepuasan, rasanya lebih nikmat ketika bersama Maria sehingga aku ini menjadi cewek yang haus seks dan bisexual. Pada saat aku selesai sekolah (lulus), aku dibelikan mobil oleh orang tuaku, jadi aku setiap hari bisa pergi jalan-jalan bersama Maria dan kemudian melakukan hubungan seks di dalam mobil. Tapi lama-kelamaan aku bosan, sebelum aku pindah untuk kuliah di Bandung, suatu malam dengan perasaan nekad aku mencoba pergi ke TL (Taman Lawang). Waktu itu pukul 8 malam, aku sendirian dalam mobil. Ketika melewati jalan itu terlihat seorang ‘cewek‘ dengan pakaian yang minim. Ia mengenakan rok pendek ketat warna putih dan kaos putih ketat tanpa Bra, terlihat jelas buah dadanya yang besar menonjol. Aku pun mendekatkan mobilku ke dekatnya dan membuka jendela lalu berkata, “Mbak.. mau nemenin saya nggak?” ia pun menoleh dan dengan agak heran dia mengangguk. “Tolong. Jangan lakukan ini.”
Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun dan aku makin suka meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit dan suatu saat aku berangan-angan dapat bermain seks seperti itu dengan lebih dari 1 orang saja. Kalau dari pembaca ada yang tertarik saya akan melanjutkan cerita saya. Silakan kalau ada yang ingin memberi komentar. “Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arie.” Tangan Thalib menyusuri pelosok tubuh Fanny dengan liar sebelum berbaring di sofa dan memintanya naik ke tubuhnya dengan posisi 69. Begitu gadis itu naik ke wajahnya, dia langsung menjilati bibir kemaluannya, dengan jarinya dia buka daerah itu sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Tanpa diminta Fanny juga mulai melakukan tugasnya. Penis Thalib yang hitam dengan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara itu digenggam dan dikocok perlahan. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar. “Udah deh. Mas santai aja. Ini surprise Tira yang kedua buat Mas,” jawab Tira. Tira ambil tangan Mas, terus Tira gandeng sambil Tira jalan ke sofa. Duduk deh kita berdua di sofa. Sambil duduk bedua, Tira gak ngomong apa-apa, cuman megangin tangan Mas sambil memberikan tatapan “rahasia” ke wajah Mas, hehehe. Mas langsung ngerti, bahwa itu berarti Tira lagi pengen mesraan sama Mas. Aku merasakan akan mencapai orgasme, maka gesekan jari tanganku di ujung-ujung klitorisku pun semakin kupercepat. Demikian pula kocokan jari tangan kananku yang sejak tadi berada dalam liang vaginaku, kugesek-gesekkan ke dinding vagina bagian dalam, sesekali jari tengah dan telunjukku menggosok benjolan yang tumbuh di dalamnya. Aku merasa geli bercampur nikmat hingga rasanya seperti ingin kencing saja.
“Hahahaha… dalam keadaan terdesak anda juga masih saja sok hebat. Saya beritahu yah. Disini tak akan ada satu sinyal apapun yang dapat menembus wilayah ini. Telphone seluler sekali pun.” Bentak Irwan menjelaskan kebodohan mereka yang mengertaknya. dan memang telah hampir sebulan berlalu , semua terlihat aman aman saja bahkan kini sebagian siswa berkesimpulan jika mitos atau kutukan bangku kosong itu sudah berakhir….. Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment. Riri memejamkan matanya dan tersenyum. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. waktu persekolahan tapi sekarang entah kemana dia pergi pun aku tak Tak berapa lama kemudian, kurasakan nafasnya mulai tenang, dan kubelai rambutnya saat kusadari bahwa ia sudah tertidur.
“Kenapa? Ada panggilan dari bini yah?” Tanya seorang pria yang lainnya. Malam itu mrk tidur ber 4 telanjang bulat. Semua memeluk tubuh anggi yang putih mengkilat. Kamar anggi dipenuhi bau keringat, nafsu dan sperma. Dan malam itu siapapun yang terbangun, secara bergantian akan kembali melampiaskan nafsu bejat mereka pada kemaluan anggi yang terus mengeluarkan darah. Sprei putih itu jadi acak2an dan dipenuhi bercak2 darah dan sperma di sana-sininya. Leave a Comment “Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?” up against his hand, matching each of the inward strokes of Sedang asyiknya aku menjilati batang kemaluan Leo dan bergerak ke atas ke arah pusarnya, tiba-tiba Rio bangkit dan meremas pinggulku. Kedua tangannya membuka belahan pantatku dan berlutut di belakangku, tepat di antara kedua pahaku dan mulai menjilati vaginaku ramai sekali hingga berbunyi kecipak-kecipuk. Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku, dan aku semakin bersemangat menjilati seluruh badan Leo yang terbaring kelelahan. “Augghhh..” desah Marni tidak kuat. “Aah”, puas wajah Pak Jenderal ketika kelelakiannya berhasil menerobos sampai setengahnya. Tarik lagi, dorong lagi, baru akhirnya masuk semua. Segera ditindihnya badan mungil di bawahnya itu. Kedua tangannya menyingkap kain rok tersebut sampai ke atas dada, kemudian direnggutnya bra penutup kedua belah dada yang padat dan ranum itu. akan menurunkan volume produksi hingga 75 persen supaya tingkat
Johan tersentak sedikit, ia melepaskan ciumannya dan mulai mendesah, “Aduh, Mas! Ahh.. uuhh..!” Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu. Apabila ada Sumur di Ladang … Mari .. Lain Kali Kita bertemu lagi Dalam Lubang … yang sama “Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi. “Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya. Suatu saat perempuan itu menangkap basah si pengintip. Bukannya dia marah tapi malah menyuruh anak itu masuk ke kamarnya disuruh duduk. Mulailah perempuan itu mencopot bra-nya dan memamerkan buah dadanya. Hari berikutnya tak hanya bra yang dilepas, tapi celana dalamnya juga. Lalu kesempatan berikutnya dia jadi ‘guru’ yang mengajarkan anak polos itu bagaimana caranya berhubungan seks, lengkap dengan “praktikum”.
bebrapa hari boy dirawat di rumah sakit, dia diberitahu jika ada yg menmukan dia terbaring pingsan di samping mobilnya, mungkin sedikit serangan jantung membuat dia pingsan. Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes. Donny quit talking and concentrated on fu*king his mother in “N.. Bler ke kote kau masuk ke lubang akak?” tanya sakinah dalam sesdap ada cuaknya.. September 26th, 2007 by indocerita Keluarga dan cintaku Rio mengantar kepindahanku ke Semarang. Karena disana aku tidak punya sanak saudara sama sekali, kedua orang tuaku terlihat sangat berat untuk melepaskanku, tapi aku dapat meyakini mereka. Aku mengontrak sebuah rumah yang sangat kecil dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi dan ruang tamu didaerah simpang lima. 3 hari aku bersama orang tuaku dan kekasih yang amat aku cintai Rio-ku. Minggu pagi dengan berat mereka meninggalkanku, orang-orang yang amat berarti dalam hiduku harus kembali ke Jakarta. Kutahan air mataku agar tidak menetes keluas, kuyakini kepada mereka kalau aku mampu dan bisa mandiri. Dengan wajah bersemu merah Tante Cesty seperti menemukan jawaban yang dicarinya. Di lain sisi Anku masih terlihat sibuk dengan barang dan debu, keadaan dibawahnya di luar kesadarannya. 2 jam waktu yang cukup mengerjakan perintah Tante Cesty, dengan tubuh berselimut debu Anku menyusuri lorong samping kediamaan Tante Cesty, menuju kolam ikan belakang ‘tuk sejenak beristirahat ditemani segelas juice yang telah diisi ketigakalinya.
Besoknya, secepat suamiku pergi ke penataran aku sudah tak sabar menunggu pintu. Aku ingin ada perkosaan kembali. Ah, aku benar-benar khianat sekarang. Aku benar-benar kehilangan harkatku. Aku benar-benar bukan lagi diriku sebagaimana yang orang kenal selama ini. Aku adalah istri yang selingkuh, adalah perempuan penyeleweng. tetapi juga ingin di…. raba-raba… di gesek-gesek…. hari berjalan dengan seperti biasa bagi dendy, seorang eksekutif muda yang sukses. Jangan lihat ke sini, Thomas. Dari kurangnya kasih sayang itulah, Michael lantas mencoba mencari kasih sayang di luar dengan caranya sendiri dengan memanfaat fasilitas materi yang diberikan oleh orang tuanya. Ia memang termasuk kaya untuk ukuran anak seusianya, meski semua yang ia miliki adalah kepunyaan bapaknya. Dengan mudahnya jenderal orc itu menangkap kedua pergelangan kaki Sharon lalu dibentangkannya lebar-lebar. “Iya apa?” “Arghh.. Enak Nov..” erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.
“Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya.” Setelah selesai makan, akupun mulai kembali ereksi melihat sembulan buah dada dari balik T-shirt merah muda yang dikenakannya. Sandra tampak mengetahui nafsuku mulai bangkit dan dia seolah tak sengaja lebih membusungkan dadanya. “Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku. Kami terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku telentang sedangkan Ari tengkurap di sampingku basah kuyup oleh keringat. Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu perlahan-lahan dari balik pintu kamar. Tiba-tiba Ari panik dan segera mengenakan celana pendek dan kaosnya. Batang kemaluannya meskipun sudah lemas tapi masih belum seluruhnya lemas sehingga tampak menggunduk di celana pendeknya. Aku melirik jam, sudah hampir jam 4 pagi. Ari dengan sedikit tertatih-tatih berjalan perlahan tanpa suara ke arah pintu kamarku, membukanya perlahan dan sebelum keluar sempat melihatku sejenak dan tersenyum. mem*knya!. “lho katanya udahan” kata-kataku membuat cici-ku tidak cowoknya. Aku hanya mengangguk-angguk sambil terus memegang tangannya yang Saya sudah tebak, kalo Donna ketemu Vivi udah nggak ada matinya deh. Maklum dulu temen jalan waktu masih pada ABG. Kebayang suatu hari di akhir tahun 1990 di Kute, uh I cannot believe my experiences with them there, pokoknya heboh banget.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
“jangan takut pengantinku….ini hanya sakit sedikit….”kata mahluk yg membawa vina, sambil tangannya menjelajahi seluruh lekuk tubuh vina yg polos. “Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya. Cambuk kembali melecuti dadaku. Pokoknya tidak ada yang diam nganggur. Saat Tami menggagahiku, Lina mencambuk. Dian menetesi puting susuku dengan cairan lilin merah besar. Atau menyirami lilin panas itu ke anusku. Saking tidak kuatnya aku, kini aku jatuh pingsan lagi. Website Surabaya, awal 2001 perasaan nikmat mengiringi ejakulasi itu. Bahkan aku menyadari kalau “Wih, keras banget Joe!” katanya takjub. “Minum, ini sundal, minum kencingku. Ayoo.. Minum.. Air segar inii.. minum perempuan sial.. Minum kencingku sundalku..”
“Jangan galak-galak dong, takut nih Vita” kata Vera sambil tertawa. Saya ikut tertawa. “Apaan sih?” katanya masih tidak mengerti. Leave a Comment Ternyata berhubungan seks dengan Om Ronald sama sekali tidak memberikan kepuasan, rasanya lebih nikmat ketika bersama Maria sehingga aku ini menjadi cewek yang haus seks dan bisexual. Pada saat aku selesai sekolah (lulus), aku dibelikan mobil oleh orang tuaku, jadi aku setiap hari bisa pergi jalan-jalan bersama Maria dan kemudian melakukan hubungan seks di dalam mobil. Tapi lama-kelamaan aku bosan, sebelum aku pindah untuk kuliah di Bandung, suatu malam dengan perasaan nekad aku mencoba pergi ke TL (Taman Lawang). Waktu itu pukul 8 malam, aku sendirian dalam mobil. Ketika melewati jalan itu terlihat seorang ‘cewek‘ dengan pakaian yang minim. Ia mengenakan rok pendek ketat warna putih dan kaos putih ketat tanpa Bra, terlihat jelas buah dadanya yang besar menonjol. Aku pun mendekatkan mobilku ke dekatnya dan membuka jendela lalu berkata, “Mbak.. mau nemenin saya nggak?” ia pun menoleh dan dengan agak heran dia mengangguk. “Tolong. Jangan lakukan ini.”
Sampai sekarang sudah hampir 2 tahun dan aku makin suka meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit dan suatu saat aku berangan-angan dapat bermain seks seperti itu dengan lebih dari 1 orang saja. Kalau dari pembaca ada yang tertarik saya akan melanjutkan cerita saya. Silakan kalau ada yang ingin memberi komentar. “Maaf ya, Tante tadi siang telah berlaku kurang sopan terhadap Arie.” Tangan Thalib menyusuri pelosok tubuh Fanny dengan liar sebelum berbaring di sofa dan memintanya naik ke tubuhnya dengan posisi 69. Begitu gadis itu naik ke wajahnya, dia langsung menjilati bibir kemaluannya, dengan jarinya dia buka daerah itu sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Tanpa diminta Fanny juga mulai melakukan tugasnya. Penis Thalib yang hitam dengan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara itu digenggam dan dikocok perlahan. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar. “Udah deh. Mas santai aja. Ini surprise Tira yang kedua buat Mas,” jawab Tira. Tira ambil tangan Mas, terus Tira gandeng sambil Tira jalan ke sofa. Duduk deh kita berdua di sofa. Sambil duduk bedua, Tira gak ngomong apa-apa, cuman megangin tangan Mas sambil memberikan tatapan “rahasia” ke wajah Mas, hehehe. Mas langsung ngerti, bahwa itu berarti Tira lagi pengen mesraan sama Mas. Aku merasakan akan mencapai orgasme, maka gesekan jari tanganku di ujung-ujung klitorisku pun semakin kupercepat. Demikian pula kocokan jari tangan kananku yang sejak tadi berada dalam liang vaginaku, kugesek-gesekkan ke dinding vagina bagian dalam, sesekali jari tengah dan telunjukku menggosok benjolan yang tumbuh di dalamnya. Aku merasa geli bercampur nikmat hingga rasanya seperti ingin kencing saja.
“Hahahaha… dalam keadaan terdesak anda juga masih saja sok hebat. Saya beritahu yah. Disini tak akan ada satu sinyal apapun yang dapat menembus wilayah ini. Telphone seluler sekali pun.” Bentak Irwan menjelaskan kebodohan mereka yang mengertaknya. dan memang telah hampir sebulan berlalu , semua terlihat aman aman saja bahkan kini sebagian siswa berkesimpulan jika mitos atau kutukan bangku kosong itu sudah berakhir….. Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment. Riri memejamkan matanya dan tersenyum. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak peduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. waktu persekolahan tapi sekarang entah kemana dia pergi pun aku tak Tak berapa lama kemudian, kurasakan nafasnya mulai tenang, dan kubelai rambutnya saat kusadari bahwa ia sudah tertidur.
“Kenapa? Ada panggilan dari bini yah?” Tanya seorang pria yang lainnya. Malam itu mrk tidur ber 4 telanjang bulat. Semua memeluk tubuh anggi yang putih mengkilat. Kamar anggi dipenuhi bau keringat, nafsu dan sperma. Dan malam itu siapapun yang terbangun, secara bergantian akan kembali melampiaskan nafsu bejat mereka pada kemaluan anggi yang terus mengeluarkan darah. Sprei putih itu jadi acak2an dan dipenuhi bercak2 darah dan sperma di sana-sininya. Leave a Comment “Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?” up against his hand, matching each of the inward strokes of Sedang asyiknya aku menjilati batang kemaluan Leo dan bergerak ke atas ke arah pusarnya, tiba-tiba Rio bangkit dan meremas pinggulku. Kedua tangannya membuka belahan pantatku dan berlutut di belakangku, tepat di antara kedua pahaku dan mulai menjilati vaginaku ramai sekali hingga berbunyi kecipak-kecipuk. Hisapannya pada klitorisku kembali menaikkan birahiku, dan aku semakin bersemangat menjilati seluruh badan Leo yang terbaring kelelahan. “Augghhh..” desah Marni tidak kuat. “Aah”, puas wajah Pak Jenderal ketika kelelakiannya berhasil menerobos sampai setengahnya. Tarik lagi, dorong lagi, baru akhirnya masuk semua. Segera ditindihnya badan mungil di bawahnya itu. Kedua tangannya menyingkap kain rok tersebut sampai ke atas dada, kemudian direnggutnya bra penutup kedua belah dada yang padat dan ranum itu. akan menurunkan volume produksi hingga 75 persen supaya tingkat
Sabtu, 09 Agustus 2008
nikmatnya jepitan memek pembantu membuat spermaku muncrat
kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Atun.Atun berambut lurus sebahu, berperawakan sedang , berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm , badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan tetek yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa dari penampilan Atun adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri , ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, " akh, nakal juga nih... ". Ternyata Atun ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah.Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan ; dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada dibawah pintu tersebut. " hah...." , saya kaget juga, karena disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh siapa lagi kalau bukan Atun. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian kontol saya, meremas-remas sehingga kontol saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus meng-kocok-kocok kontol saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas."Naah...lo....rasain " , kata saya dalam hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, kontol saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk menaruh pakaian kotor."pep.....pak..... bapak mau emm.. makan", sapa Atun ,"oh... enggak Tun, sudah makan... tolong bikinkan kopi saja", jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran."eeh...kamu kenapa Tun,.....sakit yaa ?", tanya saya"ah , tidak pak..... saya cuma sedikit pusing aja", jawab Atun"Iyaa...Tun....saya juga sedikit pusing... apa kamu bisa mijitin kepala saya""beb...bis...bisa pak", jawab Atun tergagap, sembari matanya terus menerus melirik kearah kontol saya yang menyembul. Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya; setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Atun membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya."Tun....tolong nyalakan tv-nya"Atun berjalan kearah televisi untuk menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Atun dari balik dasternya. "wah....boleh juga", terasa denyutan di kontol saya, nafsu saya mulai memuncak."Tun.... tolong kecilkan sedikit suaranya", kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Atun ternyata tidak memakai BH dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar."lagi sedikit Tun...." kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di kontol saya pun makin keras saja."Ayo ..Tun..pijitin kepala saya" kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut."nah..gitu....baru enak, kata saya lagi, "tapi film-nya kok jelek banget yaa...""iya..pak...film-nya film tua.." katanya."kamu mau lihat film baru", kata saya sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba kontol lawan mainnya , tangan Atun mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat keatas kearah Atun; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker. Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu. Atun terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya. Saya langsung saja berdiri dan menuju kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan kontol saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Atun, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya kekanan kekiri. Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas; Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan kontol saya ke lubang memeknya. Saat kepala kontol saya mulai memasuki memeknya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga kontol saya terbenam seluruhnya."aaaaaaaakh.....pak" , desah Atun lirih, "ennnaaaak....paaaaak"Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik kontol saya. Waah.... memek Atun bagaikan menjepit kontol saya dan seperti tidak mau melepaskan kontol saya. Memek Atun ternyata sempit sekali dan kontol saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak....plak....plak..... saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada didalam mulut Atun. Mulut Atun menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya , matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan kontol saya untuk membenamkannya lebih dalam kelubang memeknya, Atun segera mendorong pantatnya kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya kekiri dan kekanan bergantian. Aah ..... Atun, ternyata luar biasa enaknya memek kamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan memek Atun. Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Atun mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap kontol saya dengan keras dan berusaha untuk menelan kontol saya seluruhnya."aaaaaaaaaaaaahhhhh ....." desah Atun panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan kontol saya kuat-kuat kedalam memek Atun. Saya pun melepaskan cairan mani saya kedalam lubang memek Atun yang begitu hangat dan menghisap."hhhhheeeeeeeeeh" creeet.......creettt.....creettttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk kearah sandaran sofa dengan posisi kontol saya masih ada didalam jepitan memek Atun. Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Atun langsung berbelok kekamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, " terima kasih yaa... pak" dan sambil tersenyum nakal ia meremas kontol saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas. Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus kontol saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi." looo .." , pikir saya " kok isteri saya tidak bekerja hari ini" Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho.... ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus kontol saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium kontol saya, yang sudah keras dan tegang."Tun..... ayo naik kesini", kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum kontol saya dimulutnya yang kecil; waah Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya. Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Atun tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, "hheeeh....heeeehhh" Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat ..... mmmh...enaknya... Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok diatas badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Atun mulai menurunkan badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang kontol saya yang sudah sangat tegang sekali."hhhheeehhhh"....cleeeep, batang kontol saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung biji saya, "oooohh enak bener Tun....memek kamu" kata saya, Atun sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan..... Batang kontol saya terasa mau putus karena enaknya memek Atun, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini; Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya yang keras. "ooooh .... Atun....ennaaaak" Atun kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap menjepit batang kontol saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut.....Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang kontol saya sedalam-dalamnya dilubang memek Atun , badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya.
Senin, 14 Juli 2008
Foto toket besar kemaluan tante keluar lendir nikmat dijilat
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Langganan:
Komentar (Atom)