Rumah mewah itu memang terlihat sepi, gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh. Berlantai tiga dengan gaya arsitektur spanyol yang unik. Bergegas aku segera turun dan kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang di tikungan jalan. Kembali aku perhatikan alamat rumah yang kutuju itu. Aku segera menyelinap masuk ke dalam halamannya setelah membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi dicat hitam. Hujan mendadak turun dengan rintik-rintik. Berburu aku lari kecil menuju teras yang tinggi, karena aku mesti menaiki anak tangganya.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan ‘ngiler’ berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
“Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!” ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
“Ng.., maaf, belum kenalan..,” gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
“Oh ya, aku Tami..,” sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
“Ayo pada kenalan..!” sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
“Lina..,” ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
“Dimana mau foto-foto bersamanya..?” tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
“Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?” sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
“Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..,” sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
“Bagaimana..?” tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
“Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?” kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
“Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!” sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
“Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?” tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
“Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!” sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
“Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!” ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
“Ahkk..!”
“Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!” bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
“Kamu memang seksi dan kekar..,” ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
“Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!” sahut Dian mengelus-elus pantatku.
“Sama dong. Tapi siapa duluan..?” sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
“Diam dan diam, oke..?” kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
“Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
“Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!” sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
“Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!” ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
“Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!” teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
“Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!” ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
“Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!” ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
“Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!” menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
“Hmm.. nikmat sekali. Enak..!” ucap Diam senang.
“Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!” sahut Lina.
“Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!” perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
“Siapa kalian ini sebenarnya..?” tanyaku memberanikan diri.
“Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!” bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
“Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!” perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
“Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!” teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
“Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!” ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
“Ouh.. aduh.., aahhk..,” teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
“Diminum. Minum pipisku.. cepat..!” perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
“Gantian..!”ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
“Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!” teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
“Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!” menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Tampilkan postingan dengan label abg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abg. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Desember 2008
Jumat, 12 Desember 2008
pijatan-pijatan yang kuat dari dinding vaginanya terhadap penis gue
Sewaktu gue sedang asik-asiknya ngelamunin tentang tugas gue yang pertama ini
setelah gue dapat promosi sebagai Direktur Niaga disebuah perusahaan yang
bergerak dibidang kepelabuhanan untuk bernegosiasi dengan PSA soal pengaturan
jalur container Singapore-Jakarta, tiba- tiba ada tangan nyolek punggung gue dan
suara yang mengagetkan gue....., tapi setelah gue berpikir sebentar koq rasa-
rasanya gue kenal suara itu......, pas gue lihat siapa si pemilik tangan dan
suara itu......, gue kaget setengah mati....., mungkin hampir mati.., soalnya
gue langsung ngebayangin kejadian sekitar 2 1/2 tahun yang lalu, waktu kantor
gue masih di Wisma Nusantara di lantai sembilan, gue pernah naksir berat bahkan
mungkin lebih dari naksir berat sama cewek item manis, agak kurus, punya bibir
dan senyum yang sensual banget serta punya nama mirip dengan bini gue (sekarang
udah ex).....Renata..............!!!!!!!!!
Gilee......, terakhir gue ketemu sama dia waktu dia pulang di bulan Desember
karena kakaknya kawin, dan itupun hanya satu kali aja. Soalnya sejak dia balik
lagi ke Amrik sono, gue udah jarang banget kontak dia, sampai dengan my divorce
and up til now..she showed up in front of me wearing a white tight t-shirt and a
tight faded- blue jeans pants (I always think that this kind of outfit is her
favourite one...)"Hey, Agus...apa khabar....??"tanya dia sambil memamerkan
giginya yang berjajar rapi."Eh,...uh....baik..."jawaba gue datar meskipun sambil
tersenyum, soalnya gue kaget bercampur excited ketemu dia sekarang ini."Lagi
ngapain di sini...?" lanjut gue sambil berusaha untuk menenangkan hati gue yang
nggak karuan ini ketemu my dream girl (maklum udah lama jadi "duren" alias duda
keren, he...he..!) "Gue lagi liburan aja sendirian, soalnya abis lulus waktu itu
gue belum sempat liburan dan abis dari sini gue musti balik ke Jakarta untuk
kerja, jadinya....ya gue pake kesempatan ini utk jalan-jalan sendiri....., kan
elu tau gue, Gus...." Rena nyerocos kaya senapan M 16 ngejawab pertanyaan
gue."Elu sendiri ngapain kesini....?" tanyanya yang terus gue jawab apa adanya.
Setelah saling cerita tujuan masing- masing ke Singapore ini dan sekaligus
membawa tas masing-masing dari bagage claim Changi Airport itu, terus pas sampai
di depan airport sambil ngantri nunggu taxi gue iseng nanya "Ren, nginep dimana
lu...?" Terus dia cuma senyum sambil jawab "Kenapa emangnya....?"."Nggak, kalau
elu nggak ada tempat nginep, elu ke kamar gue aja, kebetulan kantor udah
ngebokingin kamar Suite Room di Marriot Hotel..."gue berusaha untuk menawarkan
sambil basa- basi sedikit. Terus dia cuma ketawa lepas dan renyah seolah-olah
tanpa beban menjawab "Yang pastinya sih gue udah boking kamar juga....,
cuma......" kalimatnya berhenti sambil matanya berusaha membuat gue yang nerusin
kalimatnya. Melihat gelagat seperti ini gue langsung tanggap "Udah deh sama gue
aja, lagi pula elu belum bayar apa-apa kan dengan hotel pesanan elu itu.....,
lagi pula,....eh.....kita dulu pernah ingin buka kamar di Jakarta cuma belum
pernah kesampaian,...jadinya ya sekarang aja..., ya....."ajak gue dengan penuh
antusias. Body language gue dengan jelas nunjukin banget bahwa gue ingin banget
bareng ama dia. Langsung dia jawab "OK...."
Setelah dapat taxi, selama dalam perjalanan menuju hotel, gue sama Rena banyak
tukar cerita sampai nggak terasa kalau sudah sampai di Marriot Hotel di
persimpangan Orchard Road dengan Scotts Road itu. Setelah gue chek in bareng
sama Rena dan sampai di kamar 503 gue lihat jam gue nunjukin waktu hampir jam 6
sore waktu Singapore, gue langsung bilang sama dia "Ren, gue mandi dulu, ya....
abis gue, ..elu mandi terus kita jalan- jalan sekalian
diner...OK...?"."Siiipp...lah...!"jawabny a sambil mengambil posisi tengkurap di
tempat tidur sambil menonton tivi.
Waktu di Singapore sudah hampir jam 9 malam pada saat gue berdua Rena sepakat
untuk balik ke hotel karena sama-sama capek setelah makan malam dan jalan-jalan
disepanjang Orchard Road sambil ngobrolin segala macam topik, mulai dari yang
serius sampai dengan hal-hal yang "garing" (istilahnya dia untuk bilang sesuatu
yang aneh tapi lumayan lucu) dan memutuskan untuk nongkrong di cafe atau disco
besok malam setelah gue selesai meeting hari pertama besok.
Begitu sampai di kamar gue udah terlalu capek untuk ganti baju dikamar mandi,
akhirnya gue bilang "Ren, sorry gue males ke kamar mandi untuk ganti baju,
jadinya gue ganti baju disini aja ya...." dan tanpa gue tunggu jawabannya gue
langsung buka kaos dan celana jeans gue untuk ganti dengan kaos khusus untuk
tidur dan celana pendek (cuma berhubung ada Rena di situ gue nggak buka CD alias
celana dalam.....). Sementara itu, begitu dia tau gue ganti baju di depan mata
dia, dia cuma tersenyum sambil bilang "Siapa takut...." tapi sambil berusaha
untuk tidak melihat secara langsung kearah tonjolan di daerah selangkangan gue.
Gue cuma berpikir satu hal, yaitu kayaknya dia kagum ama junior gue itu cuma
masih malu untuk bilangnya ke gue. Untuk hal yang satu ini gue emang nggak perlu
GR karena sudah terbukti, lho..... bahwa cewek yang udah pernah tidur sama gue
pasti kagum dan puas dengan servis gue meskipun punya gue ini bisa dikategorikan
rata-rata cowok Indonesia tapi yang penting adalah bagaimana cara
menggunakannya, if you know what I mean....!!!!
Setelah gue ganti kaos dan celana pendek, gue langsung rebahan di tempat tidur
berukuran King size itu sambil nonton tivi yang kemudian disusul oleh Rena
sambil bilang "Elu nggak akan jahat kan sama gue....??"."Jahat maksud elu yang
kayak apa...?" gue mencoba untuk mancing pembicaraan dia tapi kayaknya dia ini
cukup misterius juga untuk masalah perasaan dia thd gue. Karena terus terang gue
sampai saat ini selalu ragu-ragu untuk menebak perasaan dia terhadap gue, dalam
artian dia itu suka juga ama gue atau hanya sekedar berteman........
Akhirnya setelah agak bosan dengan acara tivi, tiba-tiba dia bilang "gue boleh
ganti baju didepan elu nggak.....?" tanyanya dengan suara setengah berbisik. Gue
agak kaget dengar dia tanya seperti itu, meskipun berusaha gue untuk cuek dan
seolah terbiasa dengan one-night stand affair, gue menjawab "Siapa takut...."
sebagaimana komentar dia waktu gue ganti baju tadi..dan Rena langsung berdiri
dipinggir tempat tidur sambil buka baju membelakangi gue, terus dia sambil
ketawa tersipu bilang "eh,...baju tidur gue belum diambil dari koper..." sambil
berlari kecil menuju kopernya untuk mengambil baju tidurnya itu. Nah,... sewaktu
dia lari itu gue sempat lihat bodynya yang kurus (dan rasanya lebih kurus dari
waktu dia masih di Jakarta dulu) tapi tonjolan dibalik BHnya itu yang bikin mata
gue kagak bisa berkedip....!!! Her breast ini bisa dibilang cukup average untuk
ukuran cewek Indonesia, tapi dari getarannya waktu dia lari itu bisa dibilang
nyaris tak bergetar. Gue langsung ngebayangin that those breasts are quite firm
dan gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya tangan gue yang meremas dua bukit
yang kencang itu sambil gue mainin putingnya......wow....that should feels
wonderful....!
"Agus..., koq punya elu itu jendolannya jadi gede banget....?" tanyanya sambil
bola matanya menunjuk kearah penis gue sekaligus membuyarkan lamunan gue tentang
gunung nona Rena itu. Gue malu buuaaangeeettt waktu dia tunjukin bahwa penis gue
udah membengkak dan keras dan itu terlihat meskipun gue pake CD dan celana
pendek......semua itu gara-gara lamunan gue tadi nih.....sampai-sampai gue nggak
sadar kalau dia udah selesai gnati baju dengan big t-shirt sampai dengan pahanya
dan tidak memakai celana pendek atau celana panjang lagi, tapi dalam keadaan
seperti itu, gue masih sempat ngeles "iya nih, gue nggak kuat ngeliat a sensual
and sexy girl liwat didepan mata gue half naked......" gue berusaha untuk jujur.
Kemudian Rena bergeser mendekati tempat gue rebah sambil bilang "gue suka gaya
elu yang hampir selalu straight to the point..., makanya gue juga mau straight
to the point sama elu....". Lalu dia mendekatkan mukanya ke muka gue dengan
maksud untuk mencium gue dan tanpa pikir panjang lagi langsung gue sambut ciuman
dari bibir yang sensual itu dengan kecupan demi kecupan dan langsung menjadi
french kissing seolah-olah melampiaskan rindu kita berdua yang selama ini
tertahan. Yang jelas selama ini gue selalu mengharapkan kejadian seperti malam
ini bisa berlangsung tanpa harus punya perasaan segan karena status gue yang
berbeda dengan statusnya dia dan gue rasa dia juga punya perasaan yang sama.
Sambil menciumi hampir seluruh mukanya, tangan gue mulai bergerak menuju
ketempat-tempat sensitifnya, seperti payudaranya yang sungguh diluar dugaan gue
bahwa itu merupakan daerah yang paling sensitif buat dia. "Oooohhh....." erangan
halus yang terdengar dari mulutnya menandakan dia menikmati remasan tangan gue
di payudara kanannya. Sementara itu, tangan kirinya berusaha untuk membuka
kancing dan resleting celana pendek gue dan pada saat yang bersamaan, tangan
kiri gue menyelusup masuk ke dalam kaos tidurnya Rena untuk mencari puting
payudara kirinya. "Aaaaaahhhhh......Agus nakal banget sih....."katanya sambil
matanya hanya terlihat putihnya saja begitu tangan kiri gue berhasil memainkan
puting susu kirinya. "Oohhh...Ren...gue suka banget....sshhhh....aaahhh..."
begitu tanganya berhasil juga menyusup ke dalam CD gue dan langsung memegang
batang penis gue sambil diusap-usap secara perlahan.
Sambil mengusap-usap penis gue, dengan setengah berbisik "Gue isep ya,...boleh
nggak....?" sambil melirik ke arah penis gue. Tentunya dengan senagn hati gue
terima tawarannya itu yang terus terang bikin darah diseluruh badan gue mengalir
dengan cepat sekali. Gue bantu dia untuk melepas CD gue dan setelah itu, gantian
gue yang bantu dia untuk buka kaosnya... dan......, wooops......langsung gue
melotot melihat payudaranya yang kencang dan menantang itu. Merasa cara gue
melihat badannya dengan cara seperti itu, dia langsung berusaha menutup dadanya
sambil berkata tersipu "..Eh...,..apaan sih elu ngeliatnya kayak gitu..."."
Sorry, I just love the view..." jawab gue sambil mencium bibirnya dan tangan gue
juga langsung meraba payudaranya dan disambut dengan desahan nikmat yang keluar
dari mulutnya...
Tiba-tiba dia melepas ciuman gue dan mengarahkan mukanya langsung ke penis gue
sambil dipegang batangnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya
mencoba untuk menjangkau bola-bola gue dan sekaligus meremasnya dengan lembut.
Seeerrrrrrr..., perasaan gue mendadak terbang begitu kepala penis gue
bersentuhan dengan bibir sensual itu dan masuk kedalam
mulutnya."Ooohhhhh....."hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue sambil gue
merebahkan diri gue dan membiarkan kaki kanannya melewati diatas kepala gue,
sehingga dihadapan gue terpampang spot basah di CD mini hitamnya yang gue yakin
itu berasal dari vaginanya. Tanpa ragu gue singkap CDnya sehingga gue bisa
melihat dengan jelas bibir dan lubang vaginanya yang berwarna merah kecoklatan
dan terlihat sudah basah itu. Setelah itu gue buka kedua bibir vaginanya dengan
kedua jempol gue sehingga dengan jelas clitorisnya (meskipun sudah disunat) dan
langsung gue jilat mulai dari clitorisnya sampai lobang vaginanya seperti gue
menyapu daerah itu dengan lidah gue, sementara penis gue udah berdiri tegak
dikuasai sepenuhnya oleh Rena. Yang jelas gue cuma ngerasa bibirnya naik turun
menjelajahi batang penis gue, sementara lidahnya menjilati lubang penis gue
sewaktu bibirnya menjempit kepala penis gue.
Pikiran gue saat itu adalah kalau dia bisa servis gue dengan hebatnya, gue nggak
boleh kalah ngasih servis yang sama hebatnya. Gue jilatin vagina Rena sambil gue
isep clitorisnya dan setiap gue isep gue bisa ngerasain seluruh badannya
bergetar seperti orang kesetrum. Kurang lebih lima menit kita dalam posisi 69
gue ngerasa badan dia bergetar lebih keras dan dia mengehentikan gerakan
bibirnya yang naik turun di penis gue pertanda dia akan mencapai klimaks.
Langsung gue jilatin clitorisnya dengan lebih cepat sambil sesekali gue isap.
"Mmmmmmmmbbbbbhhhhh......." suaranya seperti itu karena dia nggak mau lepas
penis gue dari mulutnya berbarengan dengan getaran seluruh badannya dengan lebih
keras. Gue ambil inisiatif dengan langsung mengisap clitorisnya kuat-kuat sampai
pipi gue kempot. Mulut gue yang dari sejak mulai menjilati vaginanya itu sudah
basah oleh cairan dari kemaluannya bertambah basah dengan klimaksnya Rena. Gue
bisa ngerasain cairannya yang manis asin itu dilidah gue dan terus terang gue
suka banget dengan rasanya itu...
Untuk beberapa detik, badannya masih bergetar hebat namun mulai melemah sewaktu
dia melanjutkan menaik-turunkan bibirnya di batang penis gue, sementara gue
menjilati seluruh cairan vaginanya sampai bersih. Tiba-tiba dia mengangkat
pantat dan memutar seluruh badannya kearah diantara kaki gue, sehingga dengan
jelas gue bisa melihat kepalanya naik turun diatas penis gue sambil sesekali gue
lihat dia menjilati kepala penis gue sambil melihat ke muka gue seolah ingin
tahu ekspresi muka gue sewaktu dia jilati kepala penis gue itu. Tangannyapun
ikut mengocok batang penis gue sehingga hal ini mempercepat gue mencapai
klimaks. Satu menit berlalu dan gue udah nggak kuat untuk membendung cairan yang
akan segera muntah dari lubang penis gue."Aaaahhhhhhhh......Rena..sebentar lagi
gue mau keluar...ssshhhhhh". Mendengar itu dia langsung mempercepat gerakan
mulut dan tangannya sambil tangan yang satunya tetap meremas lembut bola- bola
gue."Ooohh...Rena..gue mau keluar sekarang......aaaaaaahhhhhhhhhhh....!!!!! "
teriak gue dan ccrrrooooottt....ccrrrooottttt, air mani gue menyemprot keluar
dengan deras didalam mulutnya Rena yang tanpa rasa jijik ditelan semuanya. Badan
gue bergetar hebat berbarengan dengan Rena yang masih terus menyedot-nyedot
penis gue seolah ingin menghabiskan seluruh air mani gue dan tidak rela ada yang
menetes keluar dari mulutnya.
Gue liat gerakan kecil di lehernya pertanda dia betul-betul menelan seluruh air
mani gue tanpa menyisakan sedikitpun di penis gue. Setelah itu dia jilatin
kepala penis gue sepertinya masih ada air mani yang tersisa untuk dia.
Wooowww.....gile bener ni cewek, baru kali ini gue ketemu cewek Indonesia yang
suka air mani, karena selama ini gue pikir cewek Indonesia paling jijik dengan
hal-hal seperti itu. Setelah dia yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa maka
dia baru menjauhkan mukanya dari penis gue yang mulai melemah. Langsung gue
tarik kedua tangannya ke arah gue dengan tujuan biar bisa gue peluk.
Sekarang badan dia seluruhnya menindih badan gue sambil gue ciumin bibirnya
sebagai tanda rasa terima kasih gue sama dia. Setelah itu, dia menggulirkan
badannya ke sebelah kiri gue sambil bilang "Suka nggak....?"."Gue nggak tau
musti bilang apa, Ren..... yang jelas gue nggak pernah ngerasain klimaks seperti
barusan..."jawab gue sambil masih terengah-engah."Elu sendiri suka nggak,
tadi....?" tanya gue ingin tau perasaan dia, sambil tersenyum (gue juga suka
banget sama senyumnya itu) dia jawab "Sama, Gus... gue juga belum pernah
ngerasain klimaks seperti tadi......"
Setelah posisi 69 itu, gue sama dia sama- sama rebahan di balik selimut sambil
nonton tivi. Rena hanya masih pake CDnya dan gue cuma pake t-shirt doang karena
udah males utk ngambil pakaian kita yang berserakan di samping tempat tidur itu.
Komunikasi diantara kita secara verbal memang nggak ada, tapi yang jelas sejak
kita selesai ber69 itu, gue langsung pegang tangannya seolah-olah gue nggak mau
jauh dari dia. Shit...what the hell am I thinking of ? pikir gue, belum apa- apa
gue udah kayak orang lagi kasmaran. Kenapa gue jadi kayak begini, masa selama
ini gue bisa bertahan untuk jaga betul hubungan dan perasaan gue dengan cewek-
cewek yang pernah gue ajak kencan, kenapa dengan yang satu ini koq jadinya kayak
gini.....??? Ah, mungkin ini karena dari dulu setiap gue jalan sama dia ke kafe-
kafe (terutama Hard Rock) gue lebih banyak pasif dan menunggu, sehingga
keinginan gue ini kayak terpendam begitu aja dan baru terlampiaskan malam ini.
Well..., we'll see....!!!
"Rena,....can I ask you a question..?" tanya gue dengan agak berhati-hati, terus
dia hanya melirik ke gue sambil tersenyum dan dengan tangannya dia membelai muka
dan rambut gue dengan halus dan kasih sayang "Elu mau nanya apa..,Gus..?". "Gue
mau ceritain perasaan gue selama ini terhadap elu tapi nggak tau gue harus mulai
dari mana....., dan gue paling nggak bisa bilang basa-basi ama elu,
jadi............eh...........would you like to make love with me.....?" ups...
akhirnya keluar juga omongan gue itu...., padahal dari dulu gue udah berusaha
untuk nggak ngomongin hal itu ke dia, tapi sekarang ini kayaknya udah terlambat
untuk disesali jadi, ya what the heck lah......!! Gue lihat ekspresi muka dia
sempat berubah tapi terus kembali biasa lagi "Gue mau aja make love sama elu,
tapi sebelum itu gue pengen nanya apa elu udah tau gue dalam artian tau gue
bener- bener...??". Gile, what a tough question, gue berpikir sebentar, lalu
"Emmm..... mungkin tau yang sebenar-benarnya enggak.., tapi sekarang ini
kesempatan gue untuk tau lebih banyak tentang elu kayaknya lebih besar
deh...dibandingin dulu..". Fiuuhhh...kayaknya jawaban gue cukup logis dan
mudah-mudahan bisa diterima. "Sama satu hal yang dari dulu sebenarnya ingin
banget gue tanya ke elu,...eh...gimana sih sebenarnya perasaan elu sama gue,
maksud gue elu itu sebenarnya suka juga nggak sama gue dalam artian ingin yang
lebih serius atau hanya sekedar teman jalan aja sih.....?" tanya gue mumpung
momentnya tepat. "Gue nggak tau elu perlu jawaban gue apa enggak......" katanya
berhenti sampai disitu karena dia udah langsung narik leher belakang gue ke
arahnya untuk mencium gue. Gile ini cewek bener-bener nggak bisa ketebak jalan
pikirannya, tapi gue udah nggak bisa mikir lebih jauh lagi soalnya konsentrasi
gue langsung buyar begitu ngerasain lidah gue disedot kencang banget sama Rena.
Pikir gue dalam hati "She's really a good french kisser..". Sementara itu
sekarang ini separo dari badan gue menindih badan dia sambil tangan gue
meremas-remas payudaranya yang imut-imut itu. Setelah puas gue cium bibirnya,
pelan-pelan gue mulai menciumi pipinya, kemudian lehernya, bahunya dan sampai di
payudaranya kanannya, gue ciumin mulai dari atas bergeser pelan-pelan sambil gue
julur lidah gue sehingga ujung lidah gue bersentuhan dengan kulitnya sementara
tangan gue menyempatkan untuk membuka CD mini hitamnya dan menariknya sampai ke
lutut Rena.
Begitu ujung lidah gue bersentuhan dengan puting mungil dan menonjol itu
terdengar suara desahan dari si pemilik puting itu "Heeehhhhhhh......Agus....gue
suka banget......." katanya sambil berusaha meremas rambut gue tapi nggak bisa
soalnya rambut gue cepak gaya ABRI. Akhirnya dia cuma bisa membantu membenamkan
kepala gue ke payudaranya itu, sementara tangan kanan gue sedang asik bermain
dengan puting susu kirinya yang juga mungil dan sudah menonjol itu. Posisi kaki
kanan gue sekarang sudah berada diatas paha dan perut bagian bawahnya. Terasa
oleh gue bulu-bulu halus dan rapih serta tidak terlalu lebat di bagian bawah
perutnya. Gue isep putingnya sambil sesekali gue jilatin. Lalu tangan kanan gue
yang semula bermain dengan puting kirinya sekarang berpindah mengusap perutnya
perlahan dan turun ke rambut-rambut halus diatas vaginanya itu gue mainin
sedikit dengan mengusapnya. Terus perlahan jari gue gue turunin ke arah
vaginanya dan berusaha menemukan clitorisnya. Begitu gue menemukan apa yang gue
cari, maka jari-jari gue mulai main dengan clitoris dan lubang vagina yang
memang sudah mulai basah. Semua yang gue kerjain ini berdampak bagi Rena
mengalami kenikmatan yang tinggi. Hal ini terbukti dari goyangan maupun gerakan
serta getaran yang yang ditunjukkan oleh badan Rena yang tight and firm itu
mulai meningkat.
Gue betul-betul kagum sama bodynya dia, meskipun jarang berolahraga (menurut
pengakuannya) badan dia mulai dari tangan, punggung, perut, dada, paha dan betis
kelihatan kencang dan tanpa lipatan-lipatan lemak. Padahal yang gue tau makannya
sih normal-normal aja tuh, tapi emang itu namanya body memang oke punya....
Sementara gue sibuk dengan aktifitas diseputar payudara dan vaginanya, tangan
dia mulai meraih penis gue yang memang masih dalam kondisi lemas. "Agus, buka
kaos elu, ya......." katanya sekaligus membantu gue untuk buka kaos gue. Setelah
kaos gue lempar entah kemana, gue lanjutin dengan menciumi perutnya yang rata
itu. Rena menyambutnya dengan mengusap-ngusap kepala gue tanda benar- benar
menikmati apa yang gue kerjain ke dia sementara tangan satunya tetap pegang
penis gue dan pelan-pelan mengocoknya. Perjalanan gue terusin dengan pelan-pelan
gue geser muka gue ke arah persis didepan mulut vaginanya dan badan gue pun gue
geser kearah diantara kedua kaki Rena, hal ini mau enggak mau dia harus melepas
penis gue. Kepalanya diangkat sedikit agar bisa melihat muka gue yang sedang
sibuk mengagumi vaginanya itu. Gue angkat sedikit pantatnya biar vaginannya
lebih gampang terjangkau oleh lidah gue yang sekarang ini sedang menjilati
clitoris Rena. Setiap ujung lidah gue menyentuh clitorisnya itu, setiap saat itu
pula gue ngeliat kepalanya digoyang kekiri dan kekanan sementara kedua tangannya
berusaha untuk menjangkau dan memegang tangan gue seolah dia butuh sesuatu untuk
dia remas. Begitu tangannya berhasil memegang tangan gue, langsung dia pegang
tangan gue begitu erat. Pegangannya bertambah erat kalau pas lidah gue sedang
"menampar" clitorisnya itu berulang-ulang dengan ujung lidah gue.
"Ooohhhhh...ssshhhhhhttsss.....oh..yaaa.. ..teruuusssss....!!!" hanya
suara-suara kenikmatan itu aja yang gue denger dari mulutnya. Gue masih terus
menjilati clitorisnya dan kadang-kadang lidah gue menjelajah turun sampai ke
lubang vaginanya yang kadang-kadang gue coba penetrasi ke dalam lubang itu
dengan lidah gue. Gue nggak tau apakah memang vaginanya itu tidak memiliki aroma
khasnya atau memang gue udah terlalu nafsu, sehingga indra penciuman gue agak
rusak, soalnya sewaktu idung gue persis didepan lubang kewanitaannya itu, gue
sama sekali enggak mencium apa-apa.
"Aaahhhhh.....Aguusssss.......gue ssukkaaa bangeeett....!!"desahannya buat gue
semakin bertambah nafsu untuk lebih memfokuskan lidah gue ke clitorisnya,
sementara itu kepalanya masih tetap digoyang kekanan dan kekiri, meskipun
kadang-kadang dia mengangkat kepalanya untuk melihat "keadaan" gue. Selagi
asiknya menyapu daerah kewanitaannya itu, tiba-tiba gue ingin bikin dia terkejut
dengan menarik mulut gue menjauhi vaginanya dan sekaligus berhenti menjilati
clitorisnya. "Eh.....??" begitu katanya sambil mengangkat kepalanya dan melihat
ekspresi muka gue seolah ingin tahu alasan gue untuk memberhentikan kegiatan gue
yang betul-betul dia nikmati. Gue bisa melihat itu dari eskpresi mukannya yang
sedang keheranan. Tapi keheranannya itu tidak berlangsung lama karena gue
langsung tarik kedua tangannya untuk mengajak dia bangun dan turun dari tempat
tidur dan sambil gue pegang tangannya gue tuntun dia menuju sofa (two-seater)
yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan jendela. Gue tuntun dia untuk duduk
dengan posisi pantatnya berada dipinggir sofa. "Elu merasa comfortable,
nggak...." tanya gue memastikan bahwa posisinya itu enak buat dia. Jawaban yang
gue dapat hanya anggukan kecil kepalanya dan senyum yang nggak pernah bosen gue
lihat. Terus gue angkat kedua pahanya tinggi supaya posisi vaginanya pas di
depan gue. Gue mengambil posisi duduk dibawah dengan kedua kaki gue berada
dibawah pantat gue, langsung gue garap kembali proyek yang tadi sempat gue
hentikan.
"Elu pengen sambil gue isep nggak, Gus...??" tanyanya diantara desahan nafasnya
yang seolah-olah habis lari marathon Bogor-Jakarta. Gue nggak perlu menjawab
pertanyaan itu karena gue cukup mengelengkan kepala gue sementara lidah gue
menyentuh clitorisnya seiring dengan gelengan kepala gue itu tadi, sehingga gue
bisa lihat kepalanya kembali dia sandarkan kembali ke sandaran sofa empuk itu.
"Aaaahhhhh....gile..lu...., ooohhh..yaaa.....hhhssssttssss.." kembali hanya
desah kenikmatannya itu aja yang gue dengar kurang lebih selama lima menit
sampai dia bilang lagi "Oooohhhhh....Agguusss....aaooooouuuuwww.
..iya..iya...iya..." sambil ikut menggoyangkan pinggul dan pantatnya yang
semakin cepat dan semakin cepat sampai tiba-tiba tangan gue di remas kuat sekali
dibarengi dengan getaran tubuhnya yang menggila
"...Aaaahhhhhh....yes...yesss...sssssshhh hhh" teriaknya pertanda dia sedang
mencapai puncak kenikmatannya. Setelah seluruh badannya melemah kembali, dia
langsung bangun dari posisi setengah tidur itu dan langsung berusaha untuk
berdiri (meskipun dengan agak sedikit terhuyung-huyung...). "Haahh...gile lu,
gue malam ini sampai dua kali orgasme, ....sampai-sampai rasanya peredaran darah
gue terlalu cepet beredarnya...ha..ha...!!!!" katanya diiringi dengan tertawa
renyah sambil tetap berpegangan dengan tangan gue.
Lalu dia menuntun gue untuk duduk di sofa itu dengan dia berada diantara kedua
kaki gue dengan posisi duduk. Sewaktu tangannya memegang penis gue yang masih
tegak (apalagi sekarang tegak keatas...) dia agak heran dan bertanya "Lho koq
masih keras aja sih, padahal kan belum diapa-apain...??" sambil melirik dan
tersenyum menggoda. Lalu pelan-pelan dia kocok batang penis gue sambil dilihat-
lihat seperti anak kecil yang sedang mengagumi mainan barunya. "Koq ngeliatnya
kayak begitu amat sih....?" tanya gue penasaran. "Enggak cuma suka aja ngeliat
punya elu...., gemes gue ngeliatnya....." katanya sambil membuka mulutnya dan
langsung melahap penis gue yang memang udah keras sejak tadi. "Oooohhhh......"
gile bener rasanya waktu penis gue masuk kedalam mulutnya sambil tangan gue
memegangi rambutnya supaya tidak menghalangi pemandangan gue sewaktu dia ngisep
penis gue. Kayaknya dia tau persis bahwa my favorite sex activity adalah a girl
giving me a blow job....!!!!!! Buktinya setiap kali bibirnya bergerak naik gue
bisa lihat pipinya sampai kempot dan sedotannya betul-betul bisa mempercepat air
mani gue untuk keluar. Padahal biasanya untuk setiap ronde kedua gue lebih kuat
dan lama dibandingkan ronde pertamanya. Akhirnya daripada gue kebobolan duluan
lebih baik gue langsung bilang ke dia "Ren,...gue udah nggak tahan nih...eh,
boleh gue masukin nggak....???". Lalu dia menarik mulutnya dari penis gue dan
bilang "Iya, nih....gue juga udah nggak tahan,...I want something hard inside
me......". Begitu mendengar dia bilang seperti itu, langsung penis gue
berdenyut-denyut seiring dengan detak jantung gue yang sekarang ini hitungannya
sudah seperti habis lari marathon 10 km.
Gue langsung bimbing dia untuk kembali ke tempat tidur, dimana dia langsung
mengambil posisi terlentang dan dengan demikian gue bisa langsung menindih dia
sambil gue cium bibirnya yang betul-betul menggoda iman......!! Sementara itu,
tangan gue sedang memegang penis gue untuk mengarahkannya ke lubang kenikmatan
milik Rena itu. Untuk mempermudah penetrasi penis gue itu, gue buka kedua paha
Rena dengan kedua paha gue sehingga posisi gue ini sekarang udah kayak gaya
kodok mau loncat. Untuk mempertemukan kepala penis gue dengan lubang vagina Rena
yang sudah basah sekali itu, gue nggak perlu ngeliat lagi kebawah, tapi cukup
dengan "petunjuk" dari kepala penis gue yang memiliki "jam terbang" yang tinggi
sehingga dengan mudah namun tetap perlahan-lahan masuk sambil melihat eskpresi
muka Rena yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. "Rena,
are you still a....?" gue nggak terusin pertanyaan gue karena sudah keburu
mendapat anggukan dari dia sambil tetap merem dan gigit bibir. Shit.....langsung
otak gue berpikir keras, karena harus menentukan gue terusin atau enggak
penetrasi gue ini. Kalau gue ikuti akal sehat gue, maka gue nggak boleh lanjutin
sebab gue harus menghargai virginity-nya karena harusnya dia berikan di malam
pertama dengan suami pilihannya tentunya..., tapi kalau gue ikuti nafsu gue,
maka gue harus betul- betul menghormati dia karena dengan gue dia mau ngasih
virginity-nya itu sekarang ini, padahal gue dengan dia rasanya belum bikin
komitmen apa-apa tentang hubungan kita berdua. What the fuck am I doing
now...why does she want to do it with me now...?? Is it because she likes me
alot and knows that I am a widower now.....??
"Ayo, Agus masukin aja sekarang....." katanya dengan nada setengah memohon
membuyarkan pikiran gue dan gue pikir "emangnya gue pikirin, fuck my
conciuousness...!!", dan langsung gue dorong lagi penis gue ke dalam vaginanya,
sehingga terdengar erangan setengah sakit dan setengah nikmat..
"Aouuuwww....sssssshhhhhhhhhhsssttttssss. ...." desisnya bikin gue bukannya jadi
kasihan, tapi malah tambah dalam gue dorong penis gue sampai seluruhnya masuk
kedalam vaginanya. Sesaat gue lihat ekspresi mukanya menegang, meskipun dalam
keadaan merem dan tetap menggigit bibirnya. Lalu gue stop total semua gerakan
yang barusan gue kerjain supaya dinding-dinding vaginanya dapat menyesuaikan
diri dengan penis gue sambil gue bisikin "Sakit.., ya..., gue diemin dulu ya
sekarang sambil elunya rileks dulu...". Dia setuju dengan ide gue itu dan
mengangguk. Untuk beberapa detik posisi gue berada diatas badannya Rena dengan
tidak melakukan suatu gerak apapun (kecuali bernapas..., itu pun terengah-
engah...!!!), sampai akhirnya dia menarik kepala gue dan didekatkan kemukanya
untuk mencium gue dan tentunya gue sambut pula ciumannya itu sekaligus dengan
mulai menggerak-gerakkan penis gue keluar masuk vaginannya secara perlahan-lahan
namun dalam. "Oooohhhh...iyaaa......ooohhhh...Reeennna aa......" desahan gue
menikmati betul setiap milimeter dari dinding-dinding vaginanya yang sekarang
ini sedang memijat-mijat batang penis gue setiap penis gue masuk jauh kedalam
vaginanya. Gue nggak tau apakah karena ini terjadi karena ketegangannya (maklum
baru pertama kali..) atau karena memang dia udah menjadi ahli dalam hal
menggerakkan otot perutnya sehingga dapat mengatur "jalannya permainan".... Tapi
yang jelas adalah bahwa gue betul betul menikmati vaginanya itu, apalagi setelah
mukanya mulai mengendur (tidak tegang seperti baru gue masukin tadi...) dia
mulai menikmati sodokan yang gue berikan pada vaginanya terbukti dengan
tangannya yang tadi hanya meremas-remas seprei, sekarang mulai berani memegang
pantat gue sambil membantu mendorongnya supaya penis gue betul-betul masuk semua
kedalam vaginanya itu. "Aaaahhhhh.....Agus......enak,...uuhhhhhh " katanya
memberi tanda bahwa dia sekarang sudah bisa menikmati gerakan- gerakan penis gue
didalam vaginanya, sehingga gue mempercepat tempo sodokan gue kedalam vaginanya
sehingga terdengar suara "plok...plok...plok...plok..." yang berasal dari
beradunya pangkal paha kita berdua seiring dengan gerakan gue memompa vagina
Rena yang terus bertambah basah karena gesekan tersebut.
Sekarang gue mengangkat kedua pahanya kedepan sehingga kedua lututnya mendekati
dadanya yang ikut bergetar kecil seiring dengan sodokan nikmat dari penis gue.
Hal ini gue lakukan untuk mempermudah penetrasi gue karena gerakan gue udah
mulai nggak beraturan, soalnya pinggang gue udah mulai pegel (hampir lima menit
gue mompa Rena...). "Ooohh...cepetin Gus.....gue udah mau klimaks nih...!!"
katanya meminta dan tentunya segera gue penuhi permintaannya itu dengan
mempercepat kembali tempo sodokan gue. "Ooohhh....iyaaa....yaaa.....c'monnn....f
uck me harder Agus....yesss...yesss" katanya sambil terus membantu pantat gue
bergerak lebih cepat, sementara gue lihat dia mendongakkan kepalanya ke arah
kepala tempat tidur "Arrhhhhhh....oohhh....ssshhhhhhh....yees ssss....I'm
coming.....aaauuwwww...!" teriaknya berbarengan dengan getaran hebat dari
seluruh tubuhnya itu sambil kedua tangannya mencengkram sekaligus mencakar
pantat gue, sementara gue manfaatkan kesempatan ini dengan gue pompa Rena
secepat mungkin tanpa menghiraukan pinggang gue yang kembali terasa pegel. Untuk
beberapa detik badannya masih bergetar hebat sewaktu tangannya pindah dari
pantat gue ke punggung gue dan langsung menarik gue untuk dia peluk erat-erat
"Oooooohhhhh.......ssshhhhhssssssss...... yyeeeeaaaaasss...uuhhhhh"
lengkingannya mengagetkan gue meskipun tidak sampai membangunkan seluruh
penghuni hotel sambil gue terus pompa vagina gadis yang bernama Renata
itu.....!!!! "Suka nggak barusan....??" tanya gue sambil tanpa hentinya
mengeluar-masukkan penis gue ke dalam vaginanya itu. Terus dia bilang sambil
tetap memeluk gue erat "Uuuhhhhh....gue suka banget, sayang.....". What......,
she called me "sayang", and if I'm not mistaken, this is really her first time
calling me with that name.........perasaan gue langsung berbunga-bunga
(mudah-mudahan gue nggak kegeeran...!!!). Mendengar dia memanggil gue dengan
kata-kata itu, langsung gue tersenyum dan langsung mengulum bibirnya yang
sensual itu (gue nggak inget udah berapa kali gue bilang itu...) sambil terus
memberikan dia kenikmatan dalam setiap gesekan penis gue dengan dinding
vaginanya yang terus berdenyut memijat penis gue. Sementara keringat gue dan dia
udah mulai bercampur khususnya di bagian-bagian yang menempel dengan ketat.
Tiba-tiba gue punya akal untuk mengistirahatkan pinggang gue karena sampai
sekarang gue masih jauh dari ngerasa mau klimaks. Gue cabut penis gue dari
vaginanya dan gue langsung ajak dia untuk bangun dari tempat tidur dan mengajak
dia ke sofa tadi. Gue bimbing posisi dia di sofa itu seperti doggy style
sehingga kedua lututnya berada dipinggir sofa dan kedua sikutnya bersandar pada
sandara kepala/punggung sofa tersebut sehingga dengan posisi seperti ini dia
dapat melihat pemandangan sebagian kota Singapore diwaktu malam (waktu itu
hampir jam 11 malam waktu lokal). Lalu dia kaget waktu gue buka horden tebal dan
tipis yang membatasi pemandangan diluar dilihat dari dalam kamar. "Heh,.....mau
ngapain elu Gus....eh gila elu...elu mau kita dilihat orang....?" tanyanya
setengah nggak percaya dengan kelakuan gue yang aneh itu. Namun Rena sama sekali
tidak bergeser dari tempatnya sewaktu gue berjalan kebelakangnya, malahan dia
menertawakan penis gue yang masih tegak dan kelihatan mengkilat karena cairan
vaginanya bergoyang-goyang sewaktu gue berjalan menghampirinya. Lalu gue tempel
lutut gue ke pinggir sofa dengan mengarahkan penis gue sedikit ke vaginanya gue
lihat pantatnya yang bulat- bulat dan kencang ini benar-benar bikin darah gue
mengalir dengan cepat sekali, sehingga dengan tanpa terkontrol dan cepat sekali
gue masukin penis gue sekaligus sampai seluruh batangnya terbenam didalam
vaginanya. "Aaauuuwwwww.....nafsu bener lu....!!" katanya sambil meringis
menahan sakit yang kemudian hilang sama sekali dan berganti dengan rasa nikmat
yang tiada tara pada setiap pergesekan antara penis gue dan vaginanya.
Sebetulnya hal inipun gue rasakan juga betapa nikmatnya lubang senggamanya Rena
sehingga gue benar-benar lupa kalau pinggang gue tadi sempat pegel, namun
sekarang kembali dalam keadaan fit, sehingga dengan leluasa gue menyodok-nyodok
vaginanya dari belakang. Kayaknya dorongan gue dalam posisi seperti ini jauh
lebih keras dari dorongan gue waktu gue diatas dia tadi dan yang jelas sampai
sekarang gue belum merasa ada tanda-tanda mau klimaks. Tangan gue sesekali
berusaha menggapai payudaranya yang menggantung sambil meremas-remas serta
memainkan putingnya. "Ohhh.....Aguuussss.....gue suka..........." lirihnya
sambil menikmati gerakan tangan dan jari gue bertualang di payudaranya.
Sementara itu gue ngerasa ada sesuatu yang mengenai bola-bola gue yang ternyata
hal itu adalah tangannya yang secara perlahan meremas-remas bola-bola gue.
"Aaaahhhh...Rena.....tangan elu nakal....." kata gue meskipun sebetulnya
menikmati betul remasan-remasan tangannya.
"Ooohhh...sengaja....biar..cepet..keluaaa rr...elunya..." katanya terputus-putus
karena sedang di sodok dengan cepat dan keras oleh gue. Sementara tangan gue
kembali ke posisi awal, yaitu di dipingganngnya sambil membantu menggerak-
gerakkan pinggangnya sesuai dengan gerakan penis gue keluar masuk vaginanya.
Sementara gue juga nggak mau kalah dengan Rena, langsung tangan kanan gue
menjangkau clitorisnya melalui sebelah kanan pinggangnya. Begitu ujung jari
tengah kanan gue menyentuh clitorisnya itu, langsung gue gosok-gosok dan gue
ucek-ucek sambil penis gue tetap melakukan penetrasi terhadap vaginanya.
Ternyata usaha gue itu tidak sia-sia, karena sekarang ini dia kembali mendesah
dan desahannya itu makin lama makin keras. "Ooooohhhh.....elu pinter banget
sssiiiihhhhhh......." katanya pertanda dia menyukai aktifitas jari dan penis gue
secara berbarengan ngerjain vaginanya yang basah banget. Kedua tangannya
sekarang sudah ditempelkan ke kaca jendela, begitu juga dengan kepalanya yang
sejak mulai dengan posisi doggy style ini udah geleng-geleng kekiri- kekanan
seperti orang lagi tripping dan gue sempat perhatiin butir-butir keringatnya
mulai kelihatan di beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar pantatnya yang
terus bergetar seiring dengan sodokan gue....plok...plok...plok...bunyi pangkal
paha gue beradu dengan pantatnya yang sexy itu. Mendengar bunyi itu gue semakin
lama semakin bertambah nafsu sehingga berusaha mempercepat gerakan gue namun
terhambat karena tangan gue masih mengucek-ngucek clitorisnya dengan maksud
supaya dia bisa orgasme lagi sebelum gue. Akhirnya gue putusin untuk meneruskan
permainan jari gue sehingga dia betul- betul puas make love dengan gue, dan itu
bikin kepuasan tersendiri buat gue.
Setelah kurang lebih lima menit berlalu "Ooohhhh.....Aguusss.....gue.... bentar
lagggiiiii......aaahhhhhh......oouuuww... ..oouuuww....." rintihannya membuat
gue mempercepat gosokan gue terhadap clitorisnya sambil juga mempercepat gerakan
penis gue memompa vaginanya. Hal ini biki dia tambah mendekati titik puncak
kenikmatannya "Aaaaaaahhhhhhh.....I'm coming.....I'm
coming....yeeesssssss....aaaaaaahhhhhhhhh ......!!!!!" teriaknya disusul dengan
getaran hebat dari seluruh badannya berbarengan dengan pijatan-pijatan yang kuat
dari dinding vaginanya terhadap penis gue. Gileee, guepun udah nggak kuat nahan
sperma gue untuk tidak keluar sampai Rena mencapai klimaks berikutnya. Sekarang
ini gue hanya bisa bertahan karena gue masih berusaha mengkoordinasikan gerakan
tangan dan dorongan penis gue karena sekarang ini jadi kacau karena getaran
hebat dari badannya Rena. Kembali untuk beberapa detik gue ngerasain badannya
melemah setelah Rena mengalami orgasme yang ke tiga untuk malam ini dan pasrah
dengan hantaman dan sodokan penis gue di dalam vaginanya.
"Aaaahhhh...gila lu...., ayo...sekarang gue mau....giliran elu.....!!" katanya
terputus-putus karena hentakan dari badan gue yang semakin lama semakin cepat
dan keras karena tangan kanan gue udah kembali memegang pingangnya sambil gue
mengembalikan konsentrasi gue ke penis gue yang terus menerus merasakan pijatan-
pijatan dari dinding vaginanya. "Ooooohhhhhh....Reeennnaaaaaa.......gue mau
keluaaarrrrr......aaahhhhhhhh.....!!" gue kasih tau dia kalau gue sekarang ini
udah mulai merasakan sesuatu yang menggelitik lubang penis gue untuk
dimuntahkan. "Iiiiyyyaaaaaa.....keluarin di mulut....gue ajaaaaa.....!!" katanya
sambil berusaha untuk membalikkan badannya. Gue langsung cabut penis gue dari
vaginanya sementara dengan gerakan cepat Rena berbalik badan sehingga sekarang
ini dia dalam posisi duduk di sofa dengan mukanya persis dihadapan penis gue
yang sebentar lagi siap memuntahkan air maninya. "Aaaaaaahhhhhhh.........!!!!"
teriak gue berbarengan dengan Rena yang telah membuka mulutnya lebar-lebar
sambil mejulurkan lidahnya guna menampung semprotan air mani gue yang menyemprot
deras kedalam mulutnya sementara kedua tangannya mengocok-ngocok penis gue yang
mengkilat dan licin oleh cairan vaginanya sehingga kocokan tangannya terasa
lebih nikmat buat gue karena telah diberi "pelumas". Crooooottt.......
crrroooottttt.......cccrrrooooooooootttt. ...., banyak sekali cairan kental
berwarna putih susu itu yang masuk kedalam mulutnya, sementara beberapa cairan
itu yang menetes dari lubang penis gue tidak sempat jatuh ke lantai karena telah
tertampung oleh lidahnya yang menjulur itu. Gue sempat lihat ekspresinya sewaktu
menelan air mani gue yang sebagian besar berada di ujung lidah sebelah dalamnya
sehingga otomatis lebih mudah tertelan begitu dia menelan air liurnya sendiri.
Terus terang gue terangsang banget dengan ekspresinya itu, karena kayaknya gue
cuma ngeliat ekspresi muka seperti itu cuma dalam BF.
Setelah itu dengan lahapnya dia menjilati penis gue membersihkan sisa-sisa air
mani yang mungkin belum keluar sambil batang penis gue dikocok-kocok terus.
Untuk beberapa detik jantung gue berdetak 1000 kali permenit melihat dan
merasakan dia melakukan pembersihan itu....
setelah gue dapat promosi sebagai Direktur Niaga disebuah perusahaan yang
bergerak dibidang kepelabuhanan untuk bernegosiasi dengan PSA soal pengaturan
jalur container Singapore-Jakarta, tiba- tiba ada tangan nyolek punggung gue dan
suara yang mengagetkan gue....., tapi setelah gue berpikir sebentar koq rasa-
rasanya gue kenal suara itu......, pas gue lihat siapa si pemilik tangan dan
suara itu......, gue kaget setengah mati....., mungkin hampir mati.., soalnya
gue langsung ngebayangin kejadian sekitar 2 1/2 tahun yang lalu, waktu kantor
gue masih di Wisma Nusantara di lantai sembilan, gue pernah naksir berat bahkan
mungkin lebih dari naksir berat sama cewek item manis, agak kurus, punya bibir
dan senyum yang sensual banget serta punya nama mirip dengan bini gue (sekarang
udah ex).....Renata..............!!!!!!!!!
Gilee......, terakhir gue ketemu sama dia waktu dia pulang di bulan Desember
karena kakaknya kawin, dan itupun hanya satu kali aja. Soalnya sejak dia balik
lagi ke Amrik sono, gue udah jarang banget kontak dia, sampai dengan my divorce
and up til now..she showed up in front of me wearing a white tight t-shirt and a
tight faded- blue jeans pants (I always think that this kind of outfit is her
favourite one...)"Hey, Agus...apa khabar....??"tanya dia sambil memamerkan
giginya yang berjajar rapi."Eh,...uh....baik..."jawaba gue datar meskipun sambil
tersenyum, soalnya gue kaget bercampur excited ketemu dia sekarang ini."Lagi
ngapain di sini...?" lanjut gue sambil berusaha untuk menenangkan hati gue yang
nggak karuan ini ketemu my dream girl (maklum udah lama jadi "duren" alias duda
keren, he...he..!) "Gue lagi liburan aja sendirian, soalnya abis lulus waktu itu
gue belum sempat liburan dan abis dari sini gue musti balik ke Jakarta untuk
kerja, jadinya....ya gue pake kesempatan ini utk jalan-jalan sendiri....., kan
elu tau gue, Gus...." Rena nyerocos kaya senapan M 16 ngejawab pertanyaan
gue."Elu sendiri ngapain kesini....?" tanyanya yang terus gue jawab apa adanya.
Setelah saling cerita tujuan masing- masing ke Singapore ini dan sekaligus
membawa tas masing-masing dari bagage claim Changi Airport itu, terus pas sampai
di depan airport sambil ngantri nunggu taxi gue iseng nanya "Ren, nginep dimana
lu...?" Terus dia cuma senyum sambil jawab "Kenapa emangnya....?"."Nggak, kalau
elu nggak ada tempat nginep, elu ke kamar gue aja, kebetulan kantor udah
ngebokingin kamar Suite Room di Marriot Hotel..."gue berusaha untuk menawarkan
sambil basa- basi sedikit. Terus dia cuma ketawa lepas dan renyah seolah-olah
tanpa beban menjawab "Yang pastinya sih gue udah boking kamar juga....,
cuma......" kalimatnya berhenti sambil matanya berusaha membuat gue yang nerusin
kalimatnya. Melihat gelagat seperti ini gue langsung tanggap "Udah deh sama gue
aja, lagi pula elu belum bayar apa-apa kan dengan hotel pesanan elu itu.....,
lagi pula,....eh.....kita dulu pernah ingin buka kamar di Jakarta cuma belum
pernah kesampaian,...jadinya ya sekarang aja..., ya....."ajak gue dengan penuh
antusias. Body language gue dengan jelas nunjukin banget bahwa gue ingin banget
bareng ama dia. Langsung dia jawab "OK...."
Setelah dapat taxi, selama dalam perjalanan menuju hotel, gue sama Rena banyak
tukar cerita sampai nggak terasa kalau sudah sampai di Marriot Hotel di
persimpangan Orchard Road dengan Scotts Road itu. Setelah gue chek in bareng
sama Rena dan sampai di kamar 503 gue lihat jam gue nunjukin waktu hampir jam 6
sore waktu Singapore, gue langsung bilang sama dia "Ren, gue mandi dulu, ya....
abis gue, ..elu mandi terus kita jalan- jalan sekalian
diner...OK...?"."Siiipp...lah...!"jawabny a sambil mengambil posisi tengkurap di
tempat tidur sambil menonton tivi.
Waktu di Singapore sudah hampir jam 9 malam pada saat gue berdua Rena sepakat
untuk balik ke hotel karena sama-sama capek setelah makan malam dan jalan-jalan
disepanjang Orchard Road sambil ngobrolin segala macam topik, mulai dari yang
serius sampai dengan hal-hal yang "garing" (istilahnya dia untuk bilang sesuatu
yang aneh tapi lumayan lucu) dan memutuskan untuk nongkrong di cafe atau disco
besok malam setelah gue selesai meeting hari pertama besok.
Begitu sampai di kamar gue udah terlalu capek untuk ganti baju dikamar mandi,
akhirnya gue bilang "Ren, sorry gue males ke kamar mandi untuk ganti baju,
jadinya gue ganti baju disini aja ya...." dan tanpa gue tunggu jawabannya gue
langsung buka kaos dan celana jeans gue untuk ganti dengan kaos khusus untuk
tidur dan celana pendek (cuma berhubung ada Rena di situ gue nggak buka CD alias
celana dalam.....). Sementara itu, begitu dia tau gue ganti baju di depan mata
dia, dia cuma tersenyum sambil bilang "Siapa takut...." tapi sambil berusaha
untuk tidak melihat secara langsung kearah tonjolan di daerah selangkangan gue.
Gue cuma berpikir satu hal, yaitu kayaknya dia kagum ama junior gue itu cuma
masih malu untuk bilangnya ke gue. Untuk hal yang satu ini gue emang nggak perlu
GR karena sudah terbukti, lho..... bahwa cewek yang udah pernah tidur sama gue
pasti kagum dan puas dengan servis gue meskipun punya gue ini bisa dikategorikan
rata-rata cowok Indonesia tapi yang penting adalah bagaimana cara
menggunakannya, if you know what I mean....!!!!
Setelah gue ganti kaos dan celana pendek, gue langsung rebahan di tempat tidur
berukuran King size itu sambil nonton tivi yang kemudian disusul oleh Rena
sambil bilang "Elu nggak akan jahat kan sama gue....??"."Jahat maksud elu yang
kayak apa...?" gue mencoba untuk mancing pembicaraan dia tapi kayaknya dia ini
cukup misterius juga untuk masalah perasaan dia thd gue. Karena terus terang gue
sampai saat ini selalu ragu-ragu untuk menebak perasaan dia terhadap gue, dalam
artian dia itu suka juga ama gue atau hanya sekedar berteman........
Akhirnya setelah agak bosan dengan acara tivi, tiba-tiba dia bilang "gue boleh
ganti baju didepan elu nggak.....?" tanyanya dengan suara setengah berbisik. Gue
agak kaget dengar dia tanya seperti itu, meskipun berusaha gue untuk cuek dan
seolah terbiasa dengan one-night stand affair, gue menjawab "Siapa takut...."
sebagaimana komentar dia waktu gue ganti baju tadi..dan Rena langsung berdiri
dipinggir tempat tidur sambil buka baju membelakangi gue, terus dia sambil
ketawa tersipu bilang "eh,...baju tidur gue belum diambil dari koper..." sambil
berlari kecil menuju kopernya untuk mengambil baju tidurnya itu. Nah,... sewaktu
dia lari itu gue sempat lihat bodynya yang kurus (dan rasanya lebih kurus dari
waktu dia masih di Jakarta dulu) tapi tonjolan dibalik BHnya itu yang bikin mata
gue kagak bisa berkedip....!!! Her breast ini bisa dibilang cukup average untuk
ukuran cewek Indonesia, tapi dari getarannya waktu dia lari itu bisa dibilang
nyaris tak bergetar. Gue langsung ngebayangin that those breasts are quite firm
dan gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya tangan gue yang meremas dua bukit
yang kencang itu sambil gue mainin putingnya......wow....that should feels
wonderful....!
"Agus..., koq punya elu itu jendolannya jadi gede banget....?" tanyanya sambil
bola matanya menunjuk kearah penis gue sekaligus membuyarkan lamunan gue tentang
gunung nona Rena itu. Gue malu buuaaangeeettt waktu dia tunjukin bahwa penis gue
udah membengkak dan keras dan itu terlihat meskipun gue pake CD dan celana
pendek......semua itu gara-gara lamunan gue tadi nih.....sampai-sampai gue nggak
sadar kalau dia udah selesai gnati baju dengan big t-shirt sampai dengan pahanya
dan tidak memakai celana pendek atau celana panjang lagi, tapi dalam keadaan
seperti itu, gue masih sempat ngeles "iya nih, gue nggak kuat ngeliat a sensual
and sexy girl liwat didepan mata gue half naked......" gue berusaha untuk jujur.
Kemudian Rena bergeser mendekati tempat gue rebah sambil bilang "gue suka gaya
elu yang hampir selalu straight to the point..., makanya gue juga mau straight
to the point sama elu....". Lalu dia mendekatkan mukanya ke muka gue dengan
maksud untuk mencium gue dan tanpa pikir panjang lagi langsung gue sambut ciuman
dari bibir yang sensual itu dengan kecupan demi kecupan dan langsung menjadi
french kissing seolah-olah melampiaskan rindu kita berdua yang selama ini
tertahan. Yang jelas selama ini gue selalu mengharapkan kejadian seperti malam
ini bisa berlangsung tanpa harus punya perasaan segan karena status gue yang
berbeda dengan statusnya dia dan gue rasa dia juga punya perasaan yang sama.
Sambil menciumi hampir seluruh mukanya, tangan gue mulai bergerak menuju
ketempat-tempat sensitifnya, seperti payudaranya yang sungguh diluar dugaan gue
bahwa itu merupakan daerah yang paling sensitif buat dia. "Oooohhh....." erangan
halus yang terdengar dari mulutnya menandakan dia menikmati remasan tangan gue
di payudara kanannya. Sementara itu, tangan kirinya berusaha untuk membuka
kancing dan resleting celana pendek gue dan pada saat yang bersamaan, tangan
kiri gue menyelusup masuk ke dalam kaos tidurnya Rena untuk mencari puting
payudara kirinya. "Aaaaaahhhhh......Agus nakal banget sih....."katanya sambil
matanya hanya terlihat putihnya saja begitu tangan kiri gue berhasil memainkan
puting susu kirinya. "Oohhh...Ren...gue suka banget....sshhhh....aaahhh..."
begitu tanganya berhasil juga menyusup ke dalam CD gue dan langsung memegang
batang penis gue sambil diusap-usap secara perlahan.
Sambil mengusap-usap penis gue, dengan setengah berbisik "Gue isep ya,...boleh
nggak....?" sambil melirik ke arah penis gue. Tentunya dengan senagn hati gue
terima tawarannya itu yang terus terang bikin darah diseluruh badan gue mengalir
dengan cepat sekali. Gue bantu dia untuk melepas CD gue dan setelah itu, gantian
gue yang bantu dia untuk buka kaosnya... dan......, wooops......langsung gue
melotot melihat payudaranya yang kencang dan menantang itu. Merasa cara gue
melihat badannya dengan cara seperti itu, dia langsung berusaha menutup dadanya
sambil berkata tersipu "..Eh...,..apaan sih elu ngeliatnya kayak gitu..."."
Sorry, I just love the view..." jawab gue sambil mencium bibirnya dan tangan gue
juga langsung meraba payudaranya dan disambut dengan desahan nikmat yang keluar
dari mulutnya...
Tiba-tiba dia melepas ciuman gue dan mengarahkan mukanya langsung ke penis gue
sambil dipegang batangnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya
mencoba untuk menjangkau bola-bola gue dan sekaligus meremasnya dengan lembut.
Seeerrrrrrr..., perasaan gue mendadak terbang begitu kepala penis gue
bersentuhan dengan bibir sensual itu dan masuk kedalam
mulutnya."Ooohhhhh....."hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue sambil gue
merebahkan diri gue dan membiarkan kaki kanannya melewati diatas kepala gue,
sehingga dihadapan gue terpampang spot basah di CD mini hitamnya yang gue yakin
itu berasal dari vaginanya. Tanpa ragu gue singkap CDnya sehingga gue bisa
melihat dengan jelas bibir dan lubang vaginanya yang berwarna merah kecoklatan
dan terlihat sudah basah itu. Setelah itu gue buka kedua bibir vaginanya dengan
kedua jempol gue sehingga dengan jelas clitorisnya (meskipun sudah disunat) dan
langsung gue jilat mulai dari clitorisnya sampai lobang vaginanya seperti gue
menyapu daerah itu dengan lidah gue, sementara penis gue udah berdiri tegak
dikuasai sepenuhnya oleh Rena. Yang jelas gue cuma ngerasa bibirnya naik turun
menjelajahi batang penis gue, sementara lidahnya menjilati lubang penis gue
sewaktu bibirnya menjempit kepala penis gue.
Pikiran gue saat itu adalah kalau dia bisa servis gue dengan hebatnya, gue nggak
boleh kalah ngasih servis yang sama hebatnya. Gue jilatin vagina Rena sambil gue
isep clitorisnya dan setiap gue isep gue bisa ngerasain seluruh badannya
bergetar seperti orang kesetrum. Kurang lebih lima menit kita dalam posisi 69
gue ngerasa badan dia bergetar lebih keras dan dia mengehentikan gerakan
bibirnya yang naik turun di penis gue pertanda dia akan mencapai klimaks.
Langsung gue jilatin clitorisnya dengan lebih cepat sambil sesekali gue isap.
"Mmmmmmmmbbbbbhhhhh......." suaranya seperti itu karena dia nggak mau lepas
penis gue dari mulutnya berbarengan dengan getaran seluruh badannya dengan lebih
keras. Gue ambil inisiatif dengan langsung mengisap clitorisnya kuat-kuat sampai
pipi gue kempot. Mulut gue yang dari sejak mulai menjilati vaginanya itu sudah
basah oleh cairan dari kemaluannya bertambah basah dengan klimaksnya Rena. Gue
bisa ngerasain cairannya yang manis asin itu dilidah gue dan terus terang gue
suka banget dengan rasanya itu...
Untuk beberapa detik, badannya masih bergetar hebat namun mulai melemah sewaktu
dia melanjutkan menaik-turunkan bibirnya di batang penis gue, sementara gue
menjilati seluruh cairan vaginanya sampai bersih. Tiba-tiba dia mengangkat
pantat dan memutar seluruh badannya kearah diantara kaki gue, sehingga dengan
jelas gue bisa melihat kepalanya naik turun diatas penis gue sambil sesekali gue
lihat dia menjilati kepala penis gue sambil melihat ke muka gue seolah ingin
tahu ekspresi muka gue sewaktu dia jilati kepala penis gue itu. Tangannyapun
ikut mengocok batang penis gue sehingga hal ini mempercepat gue mencapai
klimaks. Satu menit berlalu dan gue udah nggak kuat untuk membendung cairan yang
akan segera muntah dari lubang penis gue."Aaaahhhhhhhh......Rena..sebentar lagi
gue mau keluar...ssshhhhhh". Mendengar itu dia langsung mempercepat gerakan
mulut dan tangannya sambil tangan yang satunya tetap meremas lembut bola- bola
gue."Ooohh...Rena..gue mau keluar sekarang......aaaaaaahhhhhhhhhhh....!!!!! "
teriak gue dan ccrrrooooottt....ccrrrooottttt, air mani gue menyemprot keluar
dengan deras didalam mulutnya Rena yang tanpa rasa jijik ditelan semuanya. Badan
gue bergetar hebat berbarengan dengan Rena yang masih terus menyedot-nyedot
penis gue seolah ingin menghabiskan seluruh air mani gue dan tidak rela ada yang
menetes keluar dari mulutnya.
Gue liat gerakan kecil di lehernya pertanda dia betul-betul menelan seluruh air
mani gue tanpa menyisakan sedikitpun di penis gue. Setelah itu dia jilatin
kepala penis gue sepertinya masih ada air mani yang tersisa untuk dia.
Wooowww.....gile bener ni cewek, baru kali ini gue ketemu cewek Indonesia yang
suka air mani, karena selama ini gue pikir cewek Indonesia paling jijik dengan
hal-hal seperti itu. Setelah dia yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa maka
dia baru menjauhkan mukanya dari penis gue yang mulai melemah. Langsung gue
tarik kedua tangannya ke arah gue dengan tujuan biar bisa gue peluk.
Sekarang badan dia seluruhnya menindih badan gue sambil gue ciumin bibirnya
sebagai tanda rasa terima kasih gue sama dia. Setelah itu, dia menggulirkan
badannya ke sebelah kiri gue sambil bilang "Suka nggak....?"."Gue nggak tau
musti bilang apa, Ren..... yang jelas gue nggak pernah ngerasain klimaks seperti
barusan..."jawab gue sambil masih terengah-engah."Elu sendiri suka nggak,
tadi....?" tanya gue ingin tau perasaan dia, sambil tersenyum (gue juga suka
banget sama senyumnya itu) dia jawab "Sama, Gus... gue juga belum pernah
ngerasain klimaks seperti tadi......"
Setelah posisi 69 itu, gue sama dia sama- sama rebahan di balik selimut sambil
nonton tivi. Rena hanya masih pake CDnya dan gue cuma pake t-shirt doang karena
udah males utk ngambil pakaian kita yang berserakan di samping tempat tidur itu.
Komunikasi diantara kita secara verbal memang nggak ada, tapi yang jelas sejak
kita selesai ber69 itu, gue langsung pegang tangannya seolah-olah gue nggak mau
jauh dari dia. Shit...what the hell am I thinking of ? pikir gue, belum apa- apa
gue udah kayak orang lagi kasmaran. Kenapa gue jadi kayak begini, masa selama
ini gue bisa bertahan untuk jaga betul hubungan dan perasaan gue dengan cewek-
cewek yang pernah gue ajak kencan, kenapa dengan yang satu ini koq jadinya kayak
gini.....??? Ah, mungkin ini karena dari dulu setiap gue jalan sama dia ke kafe-
kafe (terutama Hard Rock) gue lebih banyak pasif dan menunggu, sehingga
keinginan gue ini kayak terpendam begitu aja dan baru terlampiaskan malam ini.
Well..., we'll see....!!!
"Rena,....can I ask you a question..?" tanya gue dengan agak berhati-hati, terus
dia hanya melirik ke gue sambil tersenyum dan dengan tangannya dia membelai muka
dan rambut gue dengan halus dan kasih sayang "Elu mau nanya apa..,Gus..?". "Gue
mau ceritain perasaan gue selama ini terhadap elu tapi nggak tau gue harus mulai
dari mana....., dan gue paling nggak bisa bilang basa-basi ama elu,
jadi............eh...........would you like to make love with me.....?" ups...
akhirnya keluar juga omongan gue itu...., padahal dari dulu gue udah berusaha
untuk nggak ngomongin hal itu ke dia, tapi sekarang ini kayaknya udah terlambat
untuk disesali jadi, ya what the heck lah......!! Gue lihat ekspresi muka dia
sempat berubah tapi terus kembali biasa lagi "Gue mau aja make love sama elu,
tapi sebelum itu gue pengen nanya apa elu udah tau gue dalam artian tau gue
bener- bener...??". Gile, what a tough question, gue berpikir sebentar, lalu
"Emmm..... mungkin tau yang sebenar-benarnya enggak.., tapi sekarang ini
kesempatan gue untuk tau lebih banyak tentang elu kayaknya lebih besar
deh...dibandingin dulu..". Fiuuhhh...kayaknya jawaban gue cukup logis dan
mudah-mudahan bisa diterima. "Sama satu hal yang dari dulu sebenarnya ingin
banget gue tanya ke elu,...eh...gimana sih sebenarnya perasaan elu sama gue,
maksud gue elu itu sebenarnya suka juga nggak sama gue dalam artian ingin yang
lebih serius atau hanya sekedar teman jalan aja sih.....?" tanya gue mumpung
momentnya tepat. "Gue nggak tau elu perlu jawaban gue apa enggak......" katanya
berhenti sampai disitu karena dia udah langsung narik leher belakang gue ke
arahnya untuk mencium gue. Gile ini cewek bener-bener nggak bisa ketebak jalan
pikirannya, tapi gue udah nggak bisa mikir lebih jauh lagi soalnya konsentrasi
gue langsung buyar begitu ngerasain lidah gue disedot kencang banget sama Rena.
Pikir gue dalam hati "She's really a good french kisser..". Sementara itu
sekarang ini separo dari badan gue menindih badan dia sambil tangan gue
meremas-remas payudaranya yang imut-imut itu. Setelah puas gue cium bibirnya,
pelan-pelan gue mulai menciumi pipinya, kemudian lehernya, bahunya dan sampai di
payudaranya kanannya, gue ciumin mulai dari atas bergeser pelan-pelan sambil gue
julur lidah gue sehingga ujung lidah gue bersentuhan dengan kulitnya sementara
tangan gue menyempatkan untuk membuka CD mini hitamnya dan menariknya sampai ke
lutut Rena.
Begitu ujung lidah gue bersentuhan dengan puting mungil dan menonjol itu
terdengar suara desahan dari si pemilik puting itu "Heeehhhhhhh......Agus....gue
suka banget......." katanya sambil berusaha meremas rambut gue tapi nggak bisa
soalnya rambut gue cepak gaya ABRI. Akhirnya dia cuma bisa membantu membenamkan
kepala gue ke payudaranya itu, sementara tangan kanan gue sedang asik bermain
dengan puting susu kirinya yang juga mungil dan sudah menonjol itu. Posisi kaki
kanan gue sekarang sudah berada diatas paha dan perut bagian bawahnya. Terasa
oleh gue bulu-bulu halus dan rapih serta tidak terlalu lebat di bagian bawah
perutnya. Gue isep putingnya sambil sesekali gue jilatin. Lalu tangan kanan gue
yang semula bermain dengan puting kirinya sekarang berpindah mengusap perutnya
perlahan dan turun ke rambut-rambut halus diatas vaginanya itu gue mainin
sedikit dengan mengusapnya. Terus perlahan jari gue gue turunin ke arah
vaginanya dan berusaha menemukan clitorisnya. Begitu gue menemukan apa yang gue
cari, maka jari-jari gue mulai main dengan clitoris dan lubang vagina yang
memang sudah mulai basah. Semua yang gue kerjain ini berdampak bagi Rena
mengalami kenikmatan yang tinggi. Hal ini terbukti dari goyangan maupun gerakan
serta getaran yang yang ditunjukkan oleh badan Rena yang tight and firm itu
mulai meningkat.
Gue betul-betul kagum sama bodynya dia, meskipun jarang berolahraga (menurut
pengakuannya) badan dia mulai dari tangan, punggung, perut, dada, paha dan betis
kelihatan kencang dan tanpa lipatan-lipatan lemak. Padahal yang gue tau makannya
sih normal-normal aja tuh, tapi emang itu namanya body memang oke punya....
Sementara gue sibuk dengan aktifitas diseputar payudara dan vaginanya, tangan
dia mulai meraih penis gue yang memang masih dalam kondisi lemas. "Agus, buka
kaos elu, ya......." katanya sekaligus membantu gue untuk buka kaos gue. Setelah
kaos gue lempar entah kemana, gue lanjutin dengan menciumi perutnya yang rata
itu. Rena menyambutnya dengan mengusap-ngusap kepala gue tanda benar- benar
menikmati apa yang gue kerjain ke dia sementara tangan satunya tetap pegang
penis gue dan pelan-pelan mengocoknya. Perjalanan gue terusin dengan pelan-pelan
gue geser muka gue ke arah persis didepan mulut vaginanya dan badan gue pun gue
geser kearah diantara kedua kaki Rena, hal ini mau enggak mau dia harus melepas
penis gue. Kepalanya diangkat sedikit agar bisa melihat muka gue yang sedang
sibuk mengagumi vaginanya itu. Gue angkat sedikit pantatnya biar vaginannya
lebih gampang terjangkau oleh lidah gue yang sekarang ini sedang menjilati
clitoris Rena. Setiap ujung lidah gue menyentuh clitorisnya itu, setiap saat itu
pula gue ngeliat kepalanya digoyang kekiri dan kekanan sementara kedua tangannya
berusaha untuk menjangkau dan memegang tangan gue seolah dia butuh sesuatu untuk
dia remas. Begitu tangannya berhasil memegang tangan gue, langsung dia pegang
tangan gue begitu erat. Pegangannya bertambah erat kalau pas lidah gue sedang
"menampar" clitorisnya itu berulang-ulang dengan ujung lidah gue.
"Ooohhhhh...ssshhhhhhttsss.....oh..yaaa.. ..teruuusssss....!!!" hanya
suara-suara kenikmatan itu aja yang gue denger dari mulutnya. Gue masih terus
menjilati clitorisnya dan kadang-kadang lidah gue menjelajah turun sampai ke
lubang vaginanya yang kadang-kadang gue coba penetrasi ke dalam lubang itu
dengan lidah gue. Gue nggak tau apakah memang vaginanya itu tidak memiliki aroma
khasnya atau memang gue udah terlalu nafsu, sehingga indra penciuman gue agak
rusak, soalnya sewaktu idung gue persis didepan lubang kewanitaannya itu, gue
sama sekali enggak mencium apa-apa.
"Aaahhhhh.....Aguusssss.......gue ssukkaaa bangeeett....!!"desahannya buat gue
semakin bertambah nafsu untuk lebih memfokuskan lidah gue ke clitorisnya,
sementara itu kepalanya masih tetap digoyang kekanan dan kekiri, meskipun
kadang-kadang dia mengangkat kepalanya untuk melihat "keadaan" gue. Selagi
asiknya menyapu daerah kewanitaannya itu, tiba-tiba gue ingin bikin dia terkejut
dengan menarik mulut gue menjauhi vaginanya dan sekaligus berhenti menjilati
clitorisnya. "Eh.....??" begitu katanya sambil mengangkat kepalanya dan melihat
ekspresi muka gue seolah ingin tahu alasan gue untuk memberhentikan kegiatan gue
yang betul-betul dia nikmati. Gue bisa melihat itu dari eskpresi mukannya yang
sedang keheranan. Tapi keheranannya itu tidak berlangsung lama karena gue
langsung tarik kedua tangannya untuk mengajak dia bangun dan turun dari tempat
tidur dan sambil gue pegang tangannya gue tuntun dia menuju sofa (two-seater)
yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan jendela. Gue tuntun dia untuk duduk
dengan posisi pantatnya berada dipinggir sofa. "Elu merasa comfortable,
nggak...." tanya gue memastikan bahwa posisinya itu enak buat dia. Jawaban yang
gue dapat hanya anggukan kecil kepalanya dan senyum yang nggak pernah bosen gue
lihat. Terus gue angkat kedua pahanya tinggi supaya posisi vaginanya pas di
depan gue. Gue mengambil posisi duduk dibawah dengan kedua kaki gue berada
dibawah pantat gue, langsung gue garap kembali proyek yang tadi sempat gue
hentikan.
"Elu pengen sambil gue isep nggak, Gus...??" tanyanya diantara desahan nafasnya
yang seolah-olah habis lari marathon Bogor-Jakarta. Gue nggak perlu menjawab
pertanyaan itu karena gue cukup mengelengkan kepala gue sementara lidah gue
menyentuh clitorisnya seiring dengan gelengan kepala gue itu tadi, sehingga gue
bisa lihat kepalanya kembali dia sandarkan kembali ke sandaran sofa empuk itu.
"Aaaahhhhh....gile..lu...., ooohhh..yaaa.....hhhssssttssss.." kembali hanya
desah kenikmatannya itu aja yang gue dengar kurang lebih selama lima menit
sampai dia bilang lagi "Oooohhhhh....Agguusss....aaooooouuuuwww.
..iya..iya...iya..." sambil ikut menggoyangkan pinggul dan pantatnya yang
semakin cepat dan semakin cepat sampai tiba-tiba tangan gue di remas kuat sekali
dibarengi dengan getaran tubuhnya yang menggila
"...Aaaahhhhhh....yes...yesss...sssssshhh hhh" teriaknya pertanda dia sedang
mencapai puncak kenikmatannya. Setelah seluruh badannya melemah kembali, dia
langsung bangun dari posisi setengah tidur itu dan langsung berusaha untuk
berdiri (meskipun dengan agak sedikit terhuyung-huyung...). "Haahh...gile lu,
gue malam ini sampai dua kali orgasme, ....sampai-sampai rasanya peredaran darah
gue terlalu cepet beredarnya...ha..ha...!!!!" katanya diiringi dengan tertawa
renyah sambil tetap berpegangan dengan tangan gue.
Lalu dia menuntun gue untuk duduk di sofa itu dengan dia berada diantara kedua
kaki gue dengan posisi duduk. Sewaktu tangannya memegang penis gue yang masih
tegak (apalagi sekarang tegak keatas...) dia agak heran dan bertanya "Lho koq
masih keras aja sih, padahal kan belum diapa-apain...??" sambil melirik dan
tersenyum menggoda. Lalu pelan-pelan dia kocok batang penis gue sambil dilihat-
lihat seperti anak kecil yang sedang mengagumi mainan barunya. "Koq ngeliatnya
kayak begitu amat sih....?" tanya gue penasaran. "Enggak cuma suka aja ngeliat
punya elu...., gemes gue ngeliatnya....." katanya sambil membuka mulutnya dan
langsung melahap penis gue yang memang udah keras sejak tadi. "Oooohhhh......"
gile bener rasanya waktu penis gue masuk kedalam mulutnya sambil tangan gue
memegangi rambutnya supaya tidak menghalangi pemandangan gue sewaktu dia ngisep
penis gue. Kayaknya dia tau persis bahwa my favorite sex activity adalah a girl
giving me a blow job....!!!!!! Buktinya setiap kali bibirnya bergerak naik gue
bisa lihat pipinya sampai kempot dan sedotannya betul-betul bisa mempercepat air
mani gue untuk keluar. Padahal biasanya untuk setiap ronde kedua gue lebih kuat
dan lama dibandingkan ronde pertamanya. Akhirnya daripada gue kebobolan duluan
lebih baik gue langsung bilang ke dia "Ren,...gue udah nggak tahan nih...eh,
boleh gue masukin nggak....???". Lalu dia menarik mulutnya dari penis gue dan
bilang "Iya, nih....gue juga udah nggak tahan,...I want something hard inside
me......". Begitu mendengar dia bilang seperti itu, langsung penis gue
berdenyut-denyut seiring dengan detak jantung gue yang sekarang ini hitungannya
sudah seperti habis lari marathon 10 km.
Gue langsung bimbing dia untuk kembali ke tempat tidur, dimana dia langsung
mengambil posisi terlentang dan dengan demikian gue bisa langsung menindih dia
sambil gue cium bibirnya yang betul-betul menggoda iman......!! Sementara itu,
tangan gue sedang memegang penis gue untuk mengarahkannya ke lubang kenikmatan
milik Rena itu. Untuk mempermudah penetrasi penis gue itu, gue buka kedua paha
Rena dengan kedua paha gue sehingga posisi gue ini sekarang udah kayak gaya
kodok mau loncat. Untuk mempertemukan kepala penis gue dengan lubang vagina Rena
yang sudah basah sekali itu, gue nggak perlu ngeliat lagi kebawah, tapi cukup
dengan "petunjuk" dari kepala penis gue yang memiliki "jam terbang" yang tinggi
sehingga dengan mudah namun tetap perlahan-lahan masuk sambil melihat eskpresi
muka Rena yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. "Rena,
are you still a....?" gue nggak terusin pertanyaan gue karena sudah keburu
mendapat anggukan dari dia sambil tetap merem dan gigit bibir. Shit.....langsung
otak gue berpikir keras, karena harus menentukan gue terusin atau enggak
penetrasi gue ini. Kalau gue ikuti akal sehat gue, maka gue nggak boleh lanjutin
sebab gue harus menghargai virginity-nya karena harusnya dia berikan di malam
pertama dengan suami pilihannya tentunya..., tapi kalau gue ikuti nafsu gue,
maka gue harus betul- betul menghormati dia karena dengan gue dia mau ngasih
virginity-nya itu sekarang ini, padahal gue dengan dia rasanya belum bikin
komitmen apa-apa tentang hubungan kita berdua. What the fuck am I doing
now...why does she want to do it with me now...?? Is it because she likes me
alot and knows that I am a widower now.....??
"Ayo, Agus masukin aja sekarang....." katanya dengan nada setengah memohon
membuyarkan pikiran gue dan gue pikir "emangnya gue pikirin, fuck my
conciuousness...!!", dan langsung gue dorong lagi penis gue ke dalam vaginanya,
sehingga terdengar erangan setengah sakit dan setengah nikmat..
"Aouuuwww....sssssshhhhhhhhhhsssttttssss. ...." desisnya bikin gue bukannya jadi
kasihan, tapi malah tambah dalam gue dorong penis gue sampai seluruhnya masuk
kedalam vaginanya. Sesaat gue lihat ekspresi mukanya menegang, meskipun dalam
keadaan merem dan tetap menggigit bibirnya. Lalu gue stop total semua gerakan
yang barusan gue kerjain supaya dinding-dinding vaginanya dapat menyesuaikan
diri dengan penis gue sambil gue bisikin "Sakit.., ya..., gue diemin dulu ya
sekarang sambil elunya rileks dulu...". Dia setuju dengan ide gue itu dan
mengangguk. Untuk beberapa detik posisi gue berada diatas badannya Rena dengan
tidak melakukan suatu gerak apapun (kecuali bernapas..., itu pun terengah-
engah...!!!), sampai akhirnya dia menarik kepala gue dan didekatkan kemukanya
untuk mencium gue dan tentunya gue sambut pula ciumannya itu sekaligus dengan
mulai menggerak-gerakkan penis gue keluar masuk vaginannya secara perlahan-lahan
namun dalam. "Oooohhhh...iyaaa......ooohhhh...Reeennna aa......" desahan gue
menikmati betul setiap milimeter dari dinding-dinding vaginanya yang sekarang
ini sedang memijat-mijat batang penis gue setiap penis gue masuk jauh kedalam
vaginanya. Gue nggak tau apakah karena ini terjadi karena ketegangannya (maklum
baru pertama kali..) atau karena memang dia udah menjadi ahli dalam hal
menggerakkan otot perutnya sehingga dapat mengatur "jalannya permainan".... Tapi
yang jelas adalah bahwa gue betul betul menikmati vaginanya itu, apalagi setelah
mukanya mulai mengendur (tidak tegang seperti baru gue masukin tadi...) dia
mulai menikmati sodokan yang gue berikan pada vaginanya terbukti dengan
tangannya yang tadi hanya meremas-remas seprei, sekarang mulai berani memegang
pantat gue sambil membantu mendorongnya supaya penis gue betul-betul masuk semua
kedalam vaginanya itu. "Aaaahhhhh.....Agus......enak,...uuhhhhhh " katanya
memberi tanda bahwa dia sekarang sudah bisa menikmati gerakan- gerakan penis gue
didalam vaginanya, sehingga gue mempercepat tempo sodokan gue kedalam vaginanya
sehingga terdengar suara "plok...plok...plok...plok..." yang berasal dari
beradunya pangkal paha kita berdua seiring dengan gerakan gue memompa vagina
Rena yang terus bertambah basah karena gesekan tersebut.
Sekarang gue mengangkat kedua pahanya kedepan sehingga kedua lututnya mendekati
dadanya yang ikut bergetar kecil seiring dengan sodokan nikmat dari penis gue.
Hal ini gue lakukan untuk mempermudah penetrasi gue karena gerakan gue udah
mulai nggak beraturan, soalnya pinggang gue udah mulai pegel (hampir lima menit
gue mompa Rena...). "Ooohh...cepetin Gus.....gue udah mau klimaks nih...!!"
katanya meminta dan tentunya segera gue penuhi permintaannya itu dengan
mempercepat kembali tempo sodokan gue. "Ooohhh....iyaaa....yaaa.....c'monnn....f
uck me harder Agus....yesss...yesss" katanya sambil terus membantu pantat gue
bergerak lebih cepat, sementara gue lihat dia mendongakkan kepalanya ke arah
kepala tempat tidur "Arrhhhhhh....oohhh....ssshhhhhhh....yees ssss....I'm
coming.....aaauuwwww...!" teriaknya berbarengan dengan getaran hebat dari
seluruh tubuhnya itu sambil kedua tangannya mencengkram sekaligus mencakar
pantat gue, sementara gue manfaatkan kesempatan ini dengan gue pompa Rena
secepat mungkin tanpa menghiraukan pinggang gue yang kembali terasa pegel. Untuk
beberapa detik badannya masih bergetar hebat sewaktu tangannya pindah dari
pantat gue ke punggung gue dan langsung menarik gue untuk dia peluk erat-erat
"Oooooohhhhh.......ssshhhhhssssssss...... yyeeeeaaaaasss...uuhhhhh"
lengkingannya mengagetkan gue meskipun tidak sampai membangunkan seluruh
penghuni hotel sambil gue terus pompa vagina gadis yang bernama Renata
itu.....!!!! "Suka nggak barusan....??" tanya gue sambil tanpa hentinya
mengeluar-masukkan penis gue ke dalam vaginanya itu. Terus dia bilang sambil
tetap memeluk gue erat "Uuuhhhhh....gue suka banget, sayang.....". What......,
she called me "sayang", and if I'm not mistaken, this is really her first time
calling me with that name.........perasaan gue langsung berbunga-bunga
(mudah-mudahan gue nggak kegeeran...!!!). Mendengar dia memanggil gue dengan
kata-kata itu, langsung gue tersenyum dan langsung mengulum bibirnya yang
sensual itu (gue nggak inget udah berapa kali gue bilang itu...) sambil terus
memberikan dia kenikmatan dalam setiap gesekan penis gue dengan dinding
vaginanya yang terus berdenyut memijat penis gue. Sementara keringat gue dan dia
udah mulai bercampur khususnya di bagian-bagian yang menempel dengan ketat.
Tiba-tiba gue punya akal untuk mengistirahatkan pinggang gue karena sampai
sekarang gue masih jauh dari ngerasa mau klimaks. Gue cabut penis gue dari
vaginanya dan gue langsung ajak dia untuk bangun dari tempat tidur dan mengajak
dia ke sofa tadi. Gue bimbing posisi dia di sofa itu seperti doggy style
sehingga kedua lututnya berada dipinggir sofa dan kedua sikutnya bersandar pada
sandara kepala/punggung sofa tersebut sehingga dengan posisi seperti ini dia
dapat melihat pemandangan sebagian kota Singapore diwaktu malam (waktu itu
hampir jam 11 malam waktu lokal). Lalu dia kaget waktu gue buka horden tebal dan
tipis yang membatasi pemandangan diluar dilihat dari dalam kamar. "Heh,.....mau
ngapain elu Gus....eh gila elu...elu mau kita dilihat orang....?" tanyanya
setengah nggak percaya dengan kelakuan gue yang aneh itu. Namun Rena sama sekali
tidak bergeser dari tempatnya sewaktu gue berjalan kebelakangnya, malahan dia
menertawakan penis gue yang masih tegak dan kelihatan mengkilat karena cairan
vaginanya bergoyang-goyang sewaktu gue berjalan menghampirinya. Lalu gue tempel
lutut gue ke pinggir sofa dengan mengarahkan penis gue sedikit ke vaginanya gue
lihat pantatnya yang bulat- bulat dan kencang ini benar-benar bikin darah gue
mengalir dengan cepat sekali, sehingga dengan tanpa terkontrol dan cepat sekali
gue masukin penis gue sekaligus sampai seluruh batangnya terbenam didalam
vaginanya. "Aaauuuwwwww.....nafsu bener lu....!!" katanya sambil meringis
menahan sakit yang kemudian hilang sama sekali dan berganti dengan rasa nikmat
yang tiada tara pada setiap pergesekan antara penis gue dan vaginanya.
Sebetulnya hal inipun gue rasakan juga betapa nikmatnya lubang senggamanya Rena
sehingga gue benar-benar lupa kalau pinggang gue tadi sempat pegel, namun
sekarang kembali dalam keadaan fit, sehingga dengan leluasa gue menyodok-nyodok
vaginanya dari belakang. Kayaknya dorongan gue dalam posisi seperti ini jauh
lebih keras dari dorongan gue waktu gue diatas dia tadi dan yang jelas sampai
sekarang gue belum merasa ada tanda-tanda mau klimaks. Tangan gue sesekali
berusaha menggapai payudaranya yang menggantung sambil meremas-remas serta
memainkan putingnya. "Ohhh.....Aguuussss.....gue suka..........." lirihnya
sambil menikmati gerakan tangan dan jari gue bertualang di payudaranya.
Sementara itu gue ngerasa ada sesuatu yang mengenai bola-bola gue yang ternyata
hal itu adalah tangannya yang secara perlahan meremas-remas bola-bola gue.
"Aaaahhhh...Rena.....tangan elu nakal....." kata gue meskipun sebetulnya
menikmati betul remasan-remasan tangannya.
"Ooohhh...sengaja....biar..cepet..keluaaa rr...elunya..." katanya terputus-putus
karena sedang di sodok dengan cepat dan keras oleh gue. Sementara tangan gue
kembali ke posisi awal, yaitu di dipingganngnya sambil membantu menggerak-
gerakkan pinggangnya sesuai dengan gerakan penis gue keluar masuk vaginanya.
Sementara gue juga nggak mau kalah dengan Rena, langsung tangan kanan gue
menjangkau clitorisnya melalui sebelah kanan pinggangnya. Begitu ujung jari
tengah kanan gue menyentuh clitorisnya itu, langsung gue gosok-gosok dan gue
ucek-ucek sambil penis gue tetap melakukan penetrasi terhadap vaginanya.
Ternyata usaha gue itu tidak sia-sia, karena sekarang ini dia kembali mendesah
dan desahannya itu makin lama makin keras. "Ooooohhhh.....elu pinter banget
sssiiiihhhhhh......." katanya pertanda dia menyukai aktifitas jari dan penis gue
secara berbarengan ngerjain vaginanya yang basah banget. Kedua tangannya
sekarang sudah ditempelkan ke kaca jendela, begitu juga dengan kepalanya yang
sejak mulai dengan posisi doggy style ini udah geleng-geleng kekiri- kekanan
seperti orang lagi tripping dan gue sempat perhatiin butir-butir keringatnya
mulai kelihatan di beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar pantatnya yang
terus bergetar seiring dengan sodokan gue....plok...plok...plok...bunyi pangkal
paha gue beradu dengan pantatnya yang sexy itu. Mendengar bunyi itu gue semakin
lama semakin bertambah nafsu sehingga berusaha mempercepat gerakan gue namun
terhambat karena tangan gue masih mengucek-ngucek clitorisnya dengan maksud
supaya dia bisa orgasme lagi sebelum gue. Akhirnya gue putusin untuk meneruskan
permainan jari gue sehingga dia betul- betul puas make love dengan gue, dan itu
bikin kepuasan tersendiri buat gue.
Setelah kurang lebih lima menit berlalu "Ooohhhh.....Aguusss.....gue.... bentar
lagggiiiii......aaahhhhhh......oouuuww... ..oouuuww....." rintihannya membuat
gue mempercepat gosokan gue terhadap clitorisnya sambil juga mempercepat gerakan
penis gue memompa vaginanya. Hal ini biki dia tambah mendekati titik puncak
kenikmatannya "Aaaaaaahhhhhhh.....I'm coming.....I'm
coming....yeeesssssss....aaaaaaahhhhhhhhh ......!!!!!" teriaknya disusul dengan
getaran hebat dari seluruh badannya berbarengan dengan pijatan-pijatan yang kuat
dari dinding vaginanya terhadap penis gue. Gileee, guepun udah nggak kuat nahan
sperma gue untuk tidak keluar sampai Rena mencapai klimaks berikutnya. Sekarang
ini gue hanya bisa bertahan karena gue masih berusaha mengkoordinasikan gerakan
tangan dan dorongan penis gue karena sekarang ini jadi kacau karena getaran
hebat dari badannya Rena. Kembali untuk beberapa detik gue ngerasain badannya
melemah setelah Rena mengalami orgasme yang ke tiga untuk malam ini dan pasrah
dengan hantaman dan sodokan penis gue di dalam vaginanya.
"Aaaahhhh...gila lu...., ayo...sekarang gue mau....giliran elu.....!!" katanya
terputus-putus karena hentakan dari badan gue yang semakin lama semakin cepat
dan keras karena tangan kanan gue udah kembali memegang pingangnya sambil gue
mengembalikan konsentrasi gue ke penis gue yang terus menerus merasakan pijatan-
pijatan dari dinding vaginanya. "Ooooohhhhhh....Reeennnaaaaaa.......gue mau
keluaaarrrrr......aaahhhhhhhh.....!!" gue kasih tau dia kalau gue sekarang ini
udah mulai merasakan sesuatu yang menggelitik lubang penis gue untuk
dimuntahkan. "Iiiiyyyaaaaaa.....keluarin di mulut....gue ajaaaaa.....!!" katanya
sambil berusaha untuk membalikkan badannya. Gue langsung cabut penis gue dari
vaginanya sementara dengan gerakan cepat Rena berbalik badan sehingga sekarang
ini dia dalam posisi duduk di sofa dengan mukanya persis dihadapan penis gue
yang sebentar lagi siap memuntahkan air maninya. "Aaaaaaahhhhhhh.........!!!!"
teriak gue berbarengan dengan Rena yang telah membuka mulutnya lebar-lebar
sambil mejulurkan lidahnya guna menampung semprotan air mani gue yang menyemprot
deras kedalam mulutnya sementara kedua tangannya mengocok-ngocok penis gue yang
mengkilat dan licin oleh cairan vaginanya sehingga kocokan tangannya terasa
lebih nikmat buat gue karena telah diberi "pelumas". Crooooottt.......
crrroooottttt.......cccrrrooooooooootttt. ...., banyak sekali cairan kental
berwarna putih susu itu yang masuk kedalam mulutnya, sementara beberapa cairan
itu yang menetes dari lubang penis gue tidak sempat jatuh ke lantai karena telah
tertampung oleh lidahnya yang menjulur itu. Gue sempat lihat ekspresinya sewaktu
menelan air mani gue yang sebagian besar berada di ujung lidah sebelah dalamnya
sehingga otomatis lebih mudah tertelan begitu dia menelan air liurnya sendiri.
Terus terang gue terangsang banget dengan ekspresinya itu, karena kayaknya gue
cuma ngeliat ekspresi muka seperti itu cuma dalam BF.
Setelah itu dengan lahapnya dia menjilati penis gue membersihkan sisa-sisa air
mani yang mungkin belum keluar sambil batang penis gue dikocok-kocok terus.
Untuk beberapa detik jantung gue berdetak 1000 kali permenit melihat dan
merasakan dia melakukan pembersihan itu....
Jumat, 14 November 2008
tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya
Sampai akhirnya Tante Melly merasakan kemaluan Ivan berkedut-kedut. Ivan mengangkat-angkat pantatnya, menyambut kuluman dan kocokkan Tante Melly, tangan-tangannya dengan kuat menekan kepala Tante Melly dan membenamkan keselangkangannya saat dirasakannya orgasmenya hampir sampai. Kemudian Bonsa bergerak ke Mirna yang sedang berciuman dengan Marni temannya. Kaki Mirna sudah terbuka lebar dan terlihat lubang kemaluannya yang merah menyala, memperlihatkan banjir oleh cairan kental. Tangan Mirna terus meremas-remas payudara Marni dan demikian sebaliknya. Karena sudah terbuka kaki Mirna, maka Bonsa berlutut dan langsung menancapkan lidahnya ke liang milik Mirna. Tanpa terasa bis sudah memasuki terminal Blok M, berarti kantorku sudah terlewatkan. Kami turun. Aku bawakan tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan obrolan yang terputus. Kami memesan teh botol dan nasi goreng. Kebetulan aku belum sarapan dan lapar. Sambil menikmati nasi goreng hangat dan telor matasapi, akhirnya kami sepakat mencari hotel. Setelah menelepon kantor untuk minta cuti sehari, kami berangkat. Gua bertindak gentle dong, jangan buat dia kecewa, secara berlutut gue pegang batang kontol gue yang masih basah karena “Eee.. Kamar penyimpanan VCD BF Tante.. takut kalau ada penggeledahan..” kata saya. Selang beberapa saat kemudian Jay menghentikan kegiatannya dan memintaku mundur, kemudian memasukkan batang kemaluannya yang berukuran panjang 17 cm tetapi diameternya mungkin 3 cm dan kelihatan begitu panjang dari punyaku hanya punyaku lebih besar dan keras dibanding kemaluan Jay yang terus menuju ke lubang kemaluan milik istriku. Kulihat istriku cukup kaget tetapi hanya pasrah dan terus menikmati kemaluan milik Jay yang mulai mengocok lubang miliknya tersebut. Aku pun mulai juga mengarahkan kemaluanku ke lubang kemaluan milik Sari, perlahan kurasakan lubang kemaluan Sari masih cukup sempit serta menjepit batang kemaluanku yang kutekan perlahan.
“Ko Indra.. Jangan di sini nanti ada yang melihat..” Bisiknya. Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih). Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar. “Eh.., mmh.., boleh.., kamu sama kakakmu ya?” tanya saya gugup. September 29, 2006 “Ohh.. Sshh.. Oh, Roy.. Mmhh…” desah mertuku ketika aku memompa kontolku agak cepat. September 22, 2006 “Uahh..” begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.
Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berusia 32 tahun dan telah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak. Selama pembicaraan itu sulit mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini. Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “Hiperseks” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida. Hanna juga naik ke atas spring bed lalu duduk di belakang Dian dengan kedua kaki dikangkangkan juga. Dari belakang dia menggesekkan kedua payudaranya. Asti bangkit dari tidurnya. Dari samping kiri dia menjilati wajah Hanna. Kedua bibir mereka berdua akhirnya bertemu dan terjadilah perang lidah. “Aahh.. sakit.. apa yang kamu lakukan Ani?” Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata “Ah…, tante kok tega main sama adikku…, kok tidak bilang-bilang kepadaku”, sambil tersenyum kecil. “Ayo Mass, kita main lagi, aku ingin dientot sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya aku lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya. Aku tahu tanteku pasti juga sudah mulai terangsang dilihat dari bahasa tubuhnya.. Aku tidak lagi memijat tapi kuelus terus pahanya.. Dan pelan-pelan kunaikkan tanganku dan kuselipkan ke celana tanteku.. Tidak ada reaksi sama sekali dari tanteku. “Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.
“Aalahh.. loe nggak usah belagak bego deh.. Emangnya gue nggak tau? Gue baru pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue.. gue intip dari pintu, loe lagi make nyokap gue!!” Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras. Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya supaya aku memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Nuke. Aku tidak mampu menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya. “Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Betty merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Randy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi. Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya. Candra makin asyik aja nyepong gue, badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita, gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra, entar gue timpa juga deh boolnya Candra, gue berandai andai. “Aku hanya mau minta parfummu. Punyaku habis.” Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
Mama saya, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman rumah kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang, terbungkuk - bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan begini, biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama. Terus terang, saya senang sekali mencuri - curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali-sekali tersingkap jika Mama menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok. Dan akhirnya, Seerr.. cairan kewanitaan Mama membasahi jemariku. Kucopot jemariku dari liang kewanitaan Mama, kuturunkan wajahku dan kujilat habis air itu sampai tak tersisa. Revi saya suruh menyingkir. Setelah itu, saya membalik tubuh Imel, sekarang dia yang dibawah. Saya lebarkan kakinya dan saya tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Imel bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan saya. Akhirnya Imel tidak tahan juga, begitu juga saya. Dia orgasme, berbarengan dengan saya yang kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kemaluannya. Setelah melepas si ‘vladimir’, Revi saya suruh menjilatinya. Kak Linda ngomel,”Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?”dia bercanda. “Tunggu sayang, ki.. kita barengan.. aku juga sedikit lagi..” desahku.
SERU BANGET..
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI
Aku dan Teman Adikku Sementara itu, saya melihat Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saya memperhatikannya meskipun saya sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya. Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini. Kugesek-gesekkan dengan perlahan, dan kupuntir ke kiri dan ke kanan. “Ouhh, enak John, teruskan..” desah tanteku.. Tak lama kemudian taksi datang. Dan aku pun meningkalkan rumah kenikmatan itu setelah mengecup bibir Tante Rissa sekali lagi. Hhh.. akhirnya aku pun tertidur di taksi. “Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara, “Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.
“Ada apa tante?” “Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku. “Sebenernya sih Anton udah capek banget sih, Ma. Tapi kalo Mama mau maen, ayo!” kataku dengan semangat. “Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya. Doi ngangguk, terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi. “Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. Aku mematikan rokok di asbak dan kembali bersandar sambil mengangkat kedua tanganku dan menekuk meraih sandaran sofa.
Sekitar satu setengah jam perjalanan, Ivan sampai ditempat kost Poppy. Didapatinya rumah kost sangat sepi. Mungkin penghuninya lagi kerja atau sekolah, pikir Ivan dalam hati. Dengan berjalan santai Ivan menuju kamar Poppy. Ivan mengetok pintu tiga kali. Tok!Tok!Tok! Tak ada jawaban. Iseng-iseng Ivan membuka pintu kamar, tidak terkunci. “Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka. “Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina. Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore - Mama berdiri di pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol raksasaku, dan jembutku yang lebat, kemudian menatap wajahku dan badanku yang kekar. Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan kocokan ku. Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante. Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun lalu ketika saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th bernama bernama Jeany, dia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th. Mulanya saya hanya tertarik karena orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup bisa mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam dia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon. Mendengar itu ia semakin cepat mengulum penisku
Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya kontolku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula. “Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya. Akhirnya dia mau. Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Angel sudah mengocok penisku. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang cewek, aku mulai menjilati vaginanya, harum sekali dan bau cairan vagina, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat limabelas menit ketika mereka selesai berpakaian dan berdandan ala kadarnya. Mereka berdua sama-sama menunggu bus kota yang akan mengantar mereka ke sekolah. Mereka berdua terdiam. Hanya sesekali saling pandang dan tersenyum. Padahal biasanya mereka berdua saling mengobrol tentang berbagai hal. “Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
“Dik enak.. Uh.. oh..teruss!”, desahnya. Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Sofi yang ternyata sudah ada di sampingku. Kubaringkan tubuhku lagi, dengan posisi terlentang penisku terlihat jelas di mata Bik Suti. Dengan malu-malu mata Bik Suti melirik kemaluanku. “Baik Bu cantik”, sahutku bergurau. Akhirnya mereka bertiga selesai makan dan beruntung masih ada bus kota yang masih jalan. Rencananya mereka bertiga akan berjalan saja menunu rumah Asti sambil menikmati suasana malam di kawasan UGM. Mereka bertiga sampai di rumah Asti ketika jarum jam tangan Winny menunjukkan pukul setengah sembilan lebih lima menit. Kiky segera mengambil kunci pintu masuk yang disembunyikan Asti di bawah kaki kursi bambu. Mereka bertiga masuk rumah setelah Kiky membuka pintu rumah Asti. Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutakah lagi. Kutahan kepalanya agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku tetes demi tetes. Setelah selesai aku duduk di sofa menunggu kedatangan Didit sambil nonton TV dan menghisap rokok marlboro hijau. Dan tidak lama kemudian aku mendengar ketukan dipintu.
“Ko Indra.. Jangan di sini nanti ada yang melihat..” Bisiknya. Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih). Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar. “Eh.., mmh.., boleh.., kamu sama kakakmu ya?” tanya saya gugup. September 29, 2006 “Ohh.. Sshh.. Oh, Roy.. Mmhh…” desah mertuku ketika aku memompa kontolku agak cepat. September 22, 2006 “Uahh..” begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.
Pokok pembicaraan beralih ke anak-anak, ke sekolah, ke pekerjaan dan sebagainya. Akhirnya aku tahu kalau ia manajer cabang satu perusahaan pemasaran tekstil yang mengelola beberapa toko pakaian. Aku juga akhirnya tahu kalau ia berusia 32 tahun dan telah menjanda selama satu setengah tahun tanpa anak. Selama pembicaraan itu sulit mataku terlepas dari bongkahan dadanya yang menonjol padat. Menariknya, sering ia menggerak-gerakkan badannya sehingga buah dadanya itu dapat lebih menonjol dan kelihatan jelas bentuknya. Beberapa kali aku menelan air liur membayangkan nikmatnya menggumuli tubuh bahenol nan seksi ini. Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda. Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi “Hiperseks” atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida. Hanna juga naik ke atas spring bed lalu duduk di belakang Dian dengan kedua kaki dikangkangkan juga. Dari belakang dia menggesekkan kedua payudaranya. Asti bangkit dari tidurnya. Dari samping kiri dia menjilati wajah Hanna. Kedua bibir mereka berdua akhirnya bertemu dan terjadilah perang lidah. “Aahh.. sakit.. apa yang kamu lakukan Ani?” Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata “Ah…, tante kok tega main sama adikku…, kok tidak bilang-bilang kepadaku”, sambil tersenyum kecil. “Ayo Mass, kita main lagi, aku ingin dientot sambil berdiri,” dengan sedikit mengangkat pantatnya aku lesakkan batang penisku ke dalam vaginanya. Aku tahu tanteku pasti juga sudah mulai terangsang dilihat dari bahasa tubuhnya.. Aku tidak lagi memijat tapi kuelus terus pahanya.. Dan pelan-pelan kunaikkan tanganku dan kuselipkan ke celana tanteku.. Tidak ada reaksi sama sekali dari tanteku. “Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?” ia mengambil handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih tegang.
“Aalahh.. loe nggak usah belagak bego deh.. Emangnya gue nggak tau? Gue baru pulang sekolah, gue liat sendiri pake mata kepala gue.. gue intip dari pintu, loe lagi make nyokap gue!!” Setelah puas aku menjilati kemaluannya, aku mulai mengubah posisiku untuk memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Tapi dia menolak dengan keras. Ternyata dia masih perawan dan minta tolong padaku untuk tidak membimbingnya supaya aku memasukkan kemaluanku pada kemaluannya. Terpaksa aku menjepitkan kemaluanku di payudaranya yang besar dan ranum. Sambil kugerakkan pantatku, ujung kemaluanku di kulum dan dilepas oleh Nuke. Aku tidak mampu menahan aliran spermaku dan menyemprot pada muka dan rambutnya. Aku melihat seberkas kekecewaan pada raut wajahnya. Saat itu aku berpikir bahwa dia takut tidak mencapai kepuasan dengan keluarnya spermaku yang kedua. Tanpa pikir panjang aku terus turun ke arah kemaluannya dan menjilati dengan cepatnya. “Sleep!”, Batang Penisnya pun telah masuk ke dalam lubang kemaluan tantenya. Tante Betty merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Randy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi. Puas mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya ia melepaskan diri dan merebahkan diri di sampingku. Aku menelentangkannya dan mulutku mulai beraksi. Kuserga buah dada kanannya sembari tangan kananku meremas-remas buah dada kirinya. Bibirku mengulum puting buah dadanya yang mengeras itu. Buah dadanya juga mengeras diiringi deburan jantungnya. Puas buah dada kanan mulutku beralih ke buah dada kiri. Lalu perlahan tetapi pasti aku menuruni perutnya. Ia menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Aku menjilati perutnya yang rata dan menjulurkan lidahku ke pusarnya. Candra makin asyik aja nyepong gue, badannya menggeliat - geliat karena keasyikan dikobel Ita, gue tau terkadang Ita masukin telunjuknya kedalam pantat Candra, entar gue timpa juga deh boolnya Candra, gue berandai andai. “Aku hanya mau minta parfummu. Punyaku habis.” Kemudian aku mengambil posisi diatas dengan membuka pahanya lebar lalu aku angkat ke atas dan aku mulai memasukan penisku ke dalam vaginanya. Bblless.. Bleess.. Bblleess..
Mama saya, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman rumah kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang, terbungkuk - bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan begini, biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama. Terus terang, saya senang sekali mencuri - curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali-sekali tersingkap jika Mama menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok. Dan akhirnya, Seerr.. cairan kewanitaan Mama membasahi jemariku. Kucopot jemariku dari liang kewanitaan Mama, kuturunkan wajahku dan kujilat habis air itu sampai tak tersisa. Revi saya suruh menyingkir. Setelah itu, saya membalik tubuh Imel, sekarang dia yang dibawah. Saya lebarkan kakinya dan saya tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Imel bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan saya. Akhirnya Imel tidak tahan juga, begitu juga saya. Dia orgasme, berbarengan dengan saya yang kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kemaluannya. Setelah melepas si ‘vladimir’, Revi saya suruh menjilatinya. Kak Linda ngomel,”Idih kalian masih kecil belum tahu apa apa lagian juga aku nggak ngelihatin kalian langsung. Mau lihat ya Ren?”dia bercanda. “Tunggu sayang, ki.. kita barengan.. aku juga sedikit lagi..” desahku.
SERU BANGET..
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI
Aku dan Teman Adikku Sementara itu, saya melihat Tante Juliet mulai membuka pakaiannya satu persatu. Saya memperhatikannya meskipun saya sedang asyik dengan pekerjaan saya. Tante Juliet yang sudah telanjang itu mulai mendekati kami dan ikut meraba batang kejantanan saya. Lalu tangan kanan saya pindah ke payudara Tante Juliet yang lebih mancung dari temannya ini. Kugesek-gesekkan dengan perlahan, dan kupuntir ke kiri dan ke kanan. “Ouhh, enak John, teruskan..” desah tanteku.. Tak lama kemudian taksi datang. Dan aku pun meningkalkan rumah kenikmatan itu setelah mengecup bibir Tante Rissa sekali lagi. Hhh.. akhirnya aku pun tertidur di taksi. “Ada apa?” katanya lagi penasaran. Pas dia menggerakkan wajahnya kekanan, terlihatlah adik-adiknya yang sama-sama sudah bugil tanpa sehelai benang pun. Lalu Mbak Hanny bicara, “Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.
“Ada apa tante?” “Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Melly bilang begitu? Batinku. “Sebenernya sih Anton udah capek banget sih, Ma. Tapi kalo Mama mau maen, ayo!” kataku dengan semangat. “Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya. Doi ngangguk, terus dia samperin bokin bilang mau numpang kekamar mandi. “Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. Aku mematikan rokok di asbak dan kembali bersandar sambil mengangkat kedua tanganku dan menekuk meraih sandaran sofa.
Sekitar satu setengah jam perjalanan, Ivan sampai ditempat kost Poppy. Didapatinya rumah kost sangat sepi. Mungkin penghuninya lagi kerja atau sekolah, pikir Ivan dalam hati. Dengan berjalan santai Ivan menuju kamar Poppy. Ivan mengetok pintu tiga kali. Tok!Tok!Tok! Tak ada jawaban. Iseng-iseng Ivan membuka pintu kamar, tidak terkunci. “Vi, kututup pintu dan gordennya yah Vi”. Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka. “Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan…” bisik tante Rina. Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore - Mama berdiri di pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol raksasaku, dan jembutku yang lebat, kemudian menatap wajahku dan badanku yang kekar. Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan kocokan ku. Gile.. Benerr.. sekali ngentot dapat empat vagina, yaitu vaginanya anak SMP, anak SMU, mahasiswi dan Tante-Tante. Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun lalu ketika saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th bernama bernama Jeany, dia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th. Mulanya saya hanya tertarik karena orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup bisa mengikuti gaya anak muda alias lumayan ‘gaul’ lah. Hampir setiap malam dia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon. Mendengar itu ia semakin cepat mengulum penisku
Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya kontolku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula. “Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya. Akhirnya dia mau. Vaginanya yang banjir itu tepat diwajahku, merah dan kencang, sedang Angel sudah mengocok penisku. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang cewek, aku mulai menjilati vaginanya, harum sekali dan bau cairan vagina, dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat limabelas menit ketika mereka selesai berpakaian dan berdandan ala kadarnya. Mereka berdua sama-sama menunggu bus kota yang akan mengantar mereka ke sekolah. Mereka berdua terdiam. Hanya sesekali saling pandang dan tersenyum. Padahal biasanya mereka berdua saling mengobrol tentang berbagai hal. “Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
“Dik enak.. Uh.. oh..teruss!”, desahnya. Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Sofi yang ternyata sudah ada di sampingku. Kubaringkan tubuhku lagi, dengan posisi terlentang penisku terlihat jelas di mata Bik Suti. Dengan malu-malu mata Bik Suti melirik kemaluanku. “Baik Bu cantik”, sahutku bergurau. Akhirnya mereka bertiga selesai makan dan beruntung masih ada bus kota yang masih jalan. Rencananya mereka bertiga akan berjalan saja menunu rumah Asti sambil menikmati suasana malam di kawasan UGM. Mereka bertiga sampai di rumah Asti ketika jarum jam tangan Winny menunjukkan pukul setengah sembilan lebih lima menit. Kiky segera mengambil kunci pintu masuk yang disembunyikan Asti di bawah kaki kursi bambu. Mereka bertiga masuk rumah setelah Kiky membuka pintu rumah Asti. Setelah sekian lama kemaluanku di lumatnya, aku merasakan sesuatu yang sangat mendesak keluar dari kemaluanku tanpa mampu kutakah lagi. Kutahan kepalanya agar tak diangkat pada saat spermaku keluar dan dengan menahan napas aku mengeluarkan spermaku di mulutnya. Sebagian langsung tertelan pada saat aku ejakulasi, selebihnya ditelan sebagian-sebagian seiring dengan keluarnya spermaku tetes demi tetes. Setelah selesai aku duduk di sofa menunggu kedatangan Didit sambil nonton TV dan menghisap rokok marlboro hijau. Dan tidak lama kemudian aku mendengar ketukan dipintu.
Sabtu, 10 Mei 2008
lubang vaginanya dan saya sodok masuk penis saya..ahhh
kebetulan minggu lalu pas libur Sidang Umum saudara saya menginap. Ada satu saudara perempuan saya yang asli cantik namanya Joyce. Saya kepingin benar ngobel vaginanya tapi nggak dapat, soalnya dia baru kepegang paha saja sudah sadar. Tapi ini malam lain, saya memulai petualangan saya lagi. Saya naik ke kamar atas, terlihat si Joyce tidur dengan posisi nafsuin. Menghadap ke atas (telentang) kaki rada mengangkang. Darah saya sudah berdesir saja. Saya mulai naik ke atas ranjang, ternyata dia memakai celana longgar. perlahan-lahan saya mulai tarik celananya ke bawah dan mengintip ke dalam. Kelihatan CD-nya. Saya sudah mau masukan tangan saja. Tapi saya takut dia bangun. Tapi, lama-lama saya nggak tahan juga. Saya masukan tangan saya, wah dia diam saja. Saya masuk lebih dalam lagi. Nyentuh CD-nya, saya mulai mau tarik CD-nya. Tangan saya satu lagi ngocok-ngocok penis saya. Tahu-tahu dia bagun dan melihat saya lagi pegang penis saya. Wah, saya kaget dan buru-buru kabur sambil berharap dia melupakan dan dikira mimpi. Saya mau tidur lagi, "Sialan", dalam hati saya. Saya belum klimaks nih. Akhirnya saya tidur juga. Eh, malamnya saya merasa ada yang memegang tubuh saya. Saya bangun, ternyata si Joyce lagi memegang penis saya sambil tangannya masuk ke dalam CD-nya. Astaga, dia kaget juga, tapi terus berbicara.
"Dengan ini kita seri ya?" terus dia mau pergi. Menyadari gelagat asyik ini saya langsung berkata, "Eh jangan pergi. "
Terus dia bertanya "Emang kenapa loe marah?"
"Nggak kok, loe demen pegangin barang gua, gue kepenget liat barang loe gimana kalau kita tukeran?"
Dia diam sebentar terus bicara, "Yang benar?"
"Iya",
"Ya sudah dech, tapi loe duluan ya?"
Terus saya pun tarik celana saya yang longgar (maklum piyama) dan terlihatlah penis saya yang asli tegang (Penis saya 12 cm diameter 4 cm). Lumayan buat anak 16 tahun. Dia kelihatan senang ditambah horny.
"Boleh gue pegang?"
"Loe mau apain juga boleh asal jangan disakitin."
Tangannya bergerak perlahan gemeteran, dia pegang penis saya. Darah saya berdesir waktu tangannya menyentuh penis saya. Baru sekali penis saya dipegang, dielus sama perempuan. Tangan yang satunya memegang celananya sendiri sambil sesekali menggesek. Saya lihat tambah horny.
"Eh, Joyce cukup donk, giliran lu."
"Nggak ah malu",
"Eh, loe sudah janji, lagian cuma kita berdua kok."
"Ya sudah."
Dia pun mulai memegang celananya.
"Eh, tunggu, boleh nggak saya yang buka?"
Dia berpikir terus bilang, "Boleh dech",
Tangan saya mulai memegang celananya. Terus saya gesek bagian vaginanya dia diam saja. Terus perlahan-lahan saya tarik celananya turun, kelihatan CD-nya putih. Terlihat di bagian vagina agak basah, perlahan dari samping saya tarik CD-nya. Tangan saya gemetar. Dia juga terlihat agak malu. Saya tarik ke samping, terlihat vaginanya, bulu kemaluannya paling baru 5 lembar (maklum baru 13). Saya buka sedikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
"Boleh saya elus?"
"Boleh",
Saya mulai mengelus vaginanya, pas saya buka sedikit, kelihatan ada daging kecil di bagian atas, saya heran.
"Ahh, nikmat Di! Lagi donk",
Tiba-tiba dia teriak, saya kaget. Terus saya dapet ide,
"Gimana kalau vagina lu gue gesek pakai penis saya?"
"Hah, jangan saya masih mau perawan",
"Tenang cuma luarnya doang gua jamin perawan lu nggak hilang",
"Benar?"
"Benar",
"Ya sudah."
Terus CD-nya saya tarik ke bawah dan CD saya saya turuni sendiri. Saya suruh dia tiduran, terus saya letakan penis saya di atas vaginanya (waktu itu saya sudah takut ketahuan bokap) terus saya gesek naik turun.
"Ahh nikmat Di, nikmat banget cepetan dikit Di."
Wah saya semakin nafsu saja saya gesek lagi, sementara vaginanya semakin banjir.
"Ahh terus Di, clit gua donk diutamain",
"Hah, apaan tuh clit?"
"Itu daging kecil yang tadi loe pegang",
"Oohh."
Terus saya mulai mencari "clit" tersebut dan saya gesek pakai kepala penis saya. "Ahh nikmat Di terus Di."
Saya semakin nafsu saja, terus dia bercanda bicara begini,
"Ahh, uhh, ini mah dimasukin lebih nikmat kali ya?"
Saya yang nafsu senang benar dengar begitu. Saya ambil koran terus saya alaskan pantatnya.
"Ngapain Di?"
Saya diam saja terus saya pelan-pelan cari lubang vaginanya dan saya sodok masuk penis saya.
"Ahh, jangan Di, adduuh sakit Di, please jangan ahh!"Saya kasihan juga saya tarik sedikit. Terus saya sodok sekuat tenaga"Ahh sakit banget Di, aduhh.."
Saya cuek terus saya sodok sedikit. Sambil memegang payudaranya saya bisa melihat dia menangis. Tapi saya cuek, saya kayuh saja terus.
"Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokoknya perawan gue lu yang ambil."Tapi lama-lama dia diam juga, dia malah mulai menikmati.
"Ahh, Ahh, ohh, terus nikmat juga, teruss."
Mungkin karena sama-sama baru, nggak lebih dari 15 menit kita sama-sama klimaks, saya keluarkan sperma saya di dalam, asli nikmat banget. Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Saya lihat dia menangis sambil nmenyandarkan kepalanya ke dada saya.
"Dengan ini kita seri ya?" terus dia mau pergi. Menyadari gelagat asyik ini saya langsung berkata, "Eh jangan pergi. "
Terus dia bertanya "Emang kenapa loe marah?"
"Nggak kok, loe demen pegangin barang gua, gue kepenget liat barang loe gimana kalau kita tukeran?"
Dia diam sebentar terus bicara, "Yang benar?"
"Iya",
"Ya sudah dech, tapi loe duluan ya?"
Terus saya pun tarik celana saya yang longgar (maklum piyama) dan terlihatlah penis saya yang asli tegang (Penis saya 12 cm diameter 4 cm). Lumayan buat anak 16 tahun. Dia kelihatan senang ditambah horny.
"Boleh gue pegang?"
"Loe mau apain juga boleh asal jangan disakitin."
Tangannya bergerak perlahan gemeteran, dia pegang penis saya. Darah saya berdesir waktu tangannya menyentuh penis saya. Baru sekali penis saya dipegang, dielus sama perempuan. Tangan yang satunya memegang celananya sendiri sambil sesekali menggesek. Saya lihat tambah horny.
"Eh, Joyce cukup donk, giliran lu."
"Nggak ah malu",
"Eh, loe sudah janji, lagian cuma kita berdua kok."
"Ya sudah."
Dia pun mulai memegang celananya.
"Eh, tunggu, boleh nggak saya yang buka?"
Dia berpikir terus bilang, "Boleh dech",
Tangan saya mulai memegang celananya. Terus saya gesek bagian vaginanya dia diam saja. Terus perlahan-lahan saya tarik celananya turun, kelihatan CD-nya putih. Terlihat di bagian vagina agak basah, perlahan dari samping saya tarik CD-nya. Tangan saya gemetar. Dia juga terlihat agak malu. Saya tarik ke samping, terlihat vaginanya, bulu kemaluannya paling baru 5 lembar (maklum baru 13). Saya buka sedikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
"Boleh saya elus?"
"Boleh",
Saya mulai mengelus vaginanya, pas saya buka sedikit, kelihatan ada daging kecil di bagian atas, saya heran.
"Ahh, nikmat Di! Lagi donk",
Tiba-tiba dia teriak, saya kaget. Terus saya dapet ide,
"Gimana kalau vagina lu gue gesek pakai penis saya?"
"Hah, jangan saya masih mau perawan",
"Tenang cuma luarnya doang gua jamin perawan lu nggak hilang",
"Benar?"
"Benar",
"Ya sudah."
Terus CD-nya saya tarik ke bawah dan CD saya saya turuni sendiri. Saya suruh dia tiduran, terus saya letakan penis saya di atas vaginanya (waktu itu saya sudah takut ketahuan bokap) terus saya gesek naik turun.
"Ahh nikmat Di, nikmat banget cepetan dikit Di."
Wah saya semakin nafsu saja saya gesek lagi, sementara vaginanya semakin banjir.
"Ahh terus Di, clit gua donk diutamain",
"Hah, apaan tuh clit?"
"Itu daging kecil yang tadi loe pegang",
"Oohh."
Terus saya mulai mencari "clit" tersebut dan saya gesek pakai kepala penis saya. "Ahh nikmat Di terus Di."
Saya semakin nafsu saja, terus dia bercanda bicara begini,
"Ahh, uhh, ini mah dimasukin lebih nikmat kali ya?"
Saya yang nafsu senang benar dengar begitu. Saya ambil koran terus saya alaskan pantatnya.
"Ngapain Di?"
Saya diam saja terus saya pelan-pelan cari lubang vaginanya dan saya sodok masuk penis saya.
"Ahh, jangan Di, adduuh sakit Di, please jangan ahh!"Saya kasihan juga saya tarik sedikit. Terus saya sodok sekuat tenaga"Ahh sakit banget Di, aduhh.."
Saya cuek terus saya sodok sedikit. Sambil memegang payudaranya saya bisa melihat dia menangis. Tapi saya cuek, saya kayuh saja terus.
"Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokoknya perawan gue lu yang ambil."Tapi lama-lama dia diam juga, dia malah mulai menikmati.
"Ahh, Ahh, ohh, terus nikmat juga, teruss."
Mungkin karena sama-sama baru, nggak lebih dari 15 menit kita sama-sama klimaks, saya keluarkan sperma saya di dalam, asli nikmat banget. Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Saya lihat dia menangis sambil nmenyandarkan kepalanya ke dada saya.
Akhh nikmat sekali memek perawan
minggu keluargaku mengadakan acara temu kangen di Malang. Seluruh anggota keluarga hadir dalam acara itu, kira-kira ada 3 keluarga. Ada hal yang paling kugemari dalam acara itu, yaitu acara perkenalan tiap keluarga.
Pada kesempatan itu adik ibuku bernama Henny memperkenalkan keluarganya satu persatu. Aku lihat gaya bicara Tante Henny yang sangat mempesona, terus terang Tante Henny bila aku gambarkan bak bidadari turun dari langit, wajahnya yang cantik, kulitnya yang mulus dan bodinya yang aduhai membuat tiap laki-laki pasti jatuh hati padanya.
Perkenalan demi perkenalan telah terlewati malam itu, sekitar pukul 9 malam kami beristirahat. Badanku terasa penat dan aku pergi untuk mandi, sekalian persiapan untuk acara besok. Waktu aku akan mandi, tanpa sengaja aku melihat tanteku baru keluar dari kamarnya memakai kimono putih yang agak transparan dan terlihat samar-samar lekuk tubuhnya yang indah, dengan sedikit basa-basi aku bertanya padanya.
"Mau kemana Tante?", tanyaku.
Tanteku dengan kagetnya menjawab "Ouu Hadi, bikin tante kaget nich, Tante mau mandi pake bathtub", jawabnya.
"Sama nich", kataku.
"Rasanya memang malam ini penat sekali yach".
Akhirnya kami melangkah bersama menuju bathroom di belakang Villa kami. Malam itu agak dingin rasanya, sampai-sampai.., sambil agak mendesah Tanteku menahan dingin.
Sesampainya di depan kamar mandi aku berhenti sambil memperhatikan tingkah Tante yang agak aneh (maklum aku masih anak kecil, belum pernah lihat yang seperti gituan).
"Had.., kamu duluan yach..!", kata tanteku sambil mendesah.
"Nggak ach Tante, Tante dulu dech", kataku sambil rasa dingin (duch rasanya seperti dalam freezer tuch).
"Ok, Had.., Tante duluan yach".
Tanteku masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara pakaiannya yang ditanggalkan, gemericik air juga mulai mengisi bathtub. Aku menunggu di luar dengan rasa dingin yang sangat mengigit sambil melamun.
"Had, mana nich sabunnya". teriak tanteku mengagetkanku.
Seketika itu juga aku menjawab, "Disitu Tante".
"Dimana sich?", kata tanteku.
"Kamu masuk aja Had, ambilin dech sabunnya.., Tante nggak tau nich".
Dengan hati yang berdetak keras aku masuk ke kamar mandi sambil mencari-cari sabunnya. Ternyata sabunnya di bawah wastafel. Segera aku mengambilnya dan memberikannya pada tanteku. Tanpa sengaja aku melihat bodi tanteku yang aduhai yang tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Dengan wajah merah padam aku memberikan sabunnya.
Tanteku bertanya "Mengapa Had.., belum pernah liat yach!", kata tanteku dengan mengerlingkan matanya yang indah itu.
Dengan malu-malu kujawab "Belum pernah tuh, tante", kulihat tanteku hanya tersenyum kecil sambil menggandeng tanganku, ia menyuruhku masuk, sengaja atau tidak penisku berdiri.
"Had, punya kamu berdiri tuh", dengan malu aku berusaha menutupi penisku yang telah berdiri.
"Ngapain malu Had..", tanya tanteku.
Aku hanya tersenyum kecut, lalu tanteku melepaskan handukku sambil berkata "Tante boleh lihat punyamu.
"Jangan tante nanti Om tau".
"Ah, nggak apa-apa Om orangnya sangat fair".
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, kemudian dengan lembutnya tanteku mempermainkan penisku sambil berkata", Gila benar punyamu Had, barang sebesar ini kok di diemin aja..". aku hanya bisa meringis keenakan, karena memang aku tidak pernah merasakan hal itu.
Dengan lembutnya tanteku mengulum penisku, dengan refleks aku meraba payudara tanteku yang montok itu, "Ohh.., nikmat sekali". Dituntunnya aku untuk mengulum bibir kemaluannya.
Aku bertanya "Ini apa tante?".
"oo itu clitoris sayang", jawabnya. Aku terus mengulum bibir kemaluannya. Lama juga aku mengulum bibir kemaluannya, dengan gaya 69 kami saling menikmati hal itu. Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata "Ah.., tante kok tega main sama adikku.., kok tidak bilang-bilang kepadaku", sambil tersenyum kecil.
Mungkin karena terangsang dengan apa yang kami lakukan akhirnya kakakku ikut melepaskan pakaiannya. Tanteku berkata "Ayo sini punya adikmu nikmat lho". Aku tidak habis pikir, ternyata kakakku suka begituan juga. Baru pertama kali ini aku melihat polos tubuh kakakku ternyata kakakku tidak kalah dengan tanteku malah payudaranya lebih besar dari punya tante.
Tanpa pikir panjang aku tarik tangan kakakku, langsung aku kulum payudaranya yang besar itu. Terus tanteku bilang "Had masukin dong punyamu". Akhirnya kumasukkan punyaku ke liang kewanitaan tanteku "Ooh nikmat sekalii..", tanteku hanya bisa mendesah kenikmatan. Dengan goyangan yang seperti di film aku berusaha sekuat tenaga menghabisi liang kenikmatan tanteku. Selang berapa lama air mani tanteku keluar. "akhh", desahan itu keluar dari mulut tanteku, tapi aku belum apa-apa. Akhirnya tanpa rasa dosa kutarik kakakku untuk juga merasakan hebatnya penisku. Kakakku ternyata sudah tidak perawan lagi itu kuketahui waktu kumasukan penis ke liang senggamanya. Kakakku menggelinjang keenakan sambil berkata mengapa tidak dari dulu minta di "tusuk" oleh penisku. Aku terus menggenjotnya. Pada waktu lagi asyiknya aku menusuk liang kewanitaan kakakku sepupuku masuk "eehh.., lagi ngapain kalian" tanyanya. Aku cuek saja sambil berkata", kalo mau sini aja".
Tanpa aku sadari ternyata sepupuku telah menanggalkan pakaiannya. Ternyata sepupuku biar masih SMU, bodinya hebat juga. Tanpa pikir panjang kutarik tangannya lalu kukulum susunya, sambil terus menggenjot liang kenikmatan kakakku. Aku lihat kakakku asyik mengulum bibir kemaluan sepupuku. Ternyata kakakku telah di puncak kenikmatan. Dia menggeliat seperti cacing kepanasan, kurasakan semburan air hangat keluar dari liang kewanitaan kakakku. "oohhkk", teriak kakakku. Aku tersenyum puas karena aku masih bisa bertahan. Dengan perkasa ganti sepupuku "Mira" kugenjot ia hanya bisa pasrah dalam dekapan kejantananku. Aku coba memasukkan penisku dengan pelan-pelan ternyata sepupuku itu masih perawan, sangat sulit pertama kali kumasukan penisku, ia merintih kesakitan aku tidak kurang akal, kuludahi liang surganya dan kumasukkan jari tanganku. Lalu kucoba memasukkan penisku. Kali ini bisa walau dengan susah payah. "Akhh nikmat sekali memek perawan", kataku. Kulihat Mira hanya merintih dan mendesah diantara sakit dan nikmat. Akhirnya aku merasakan juga puncak kenikmatan itu kami sama-sama klimaks, "akkhh", terak kami berdua.
Pada kesempatan itu adik ibuku bernama Henny memperkenalkan keluarganya satu persatu. Aku lihat gaya bicara Tante Henny yang sangat mempesona, terus terang Tante Henny bila aku gambarkan bak bidadari turun dari langit, wajahnya yang cantik, kulitnya yang mulus dan bodinya yang aduhai membuat tiap laki-laki pasti jatuh hati padanya.
Perkenalan demi perkenalan telah terlewati malam itu, sekitar pukul 9 malam kami beristirahat. Badanku terasa penat dan aku pergi untuk mandi, sekalian persiapan untuk acara besok. Waktu aku akan mandi, tanpa sengaja aku melihat tanteku baru keluar dari kamarnya memakai kimono putih yang agak transparan dan terlihat samar-samar lekuk tubuhnya yang indah, dengan sedikit basa-basi aku bertanya padanya.
"Mau kemana Tante?", tanyaku.
Tanteku dengan kagetnya menjawab "Ouu Hadi, bikin tante kaget nich, Tante mau mandi pake bathtub", jawabnya.
"Sama nich", kataku.
"Rasanya memang malam ini penat sekali yach".
Akhirnya kami melangkah bersama menuju bathroom di belakang Villa kami. Malam itu agak dingin rasanya, sampai-sampai.., sambil agak mendesah Tanteku menahan dingin.
Sesampainya di depan kamar mandi aku berhenti sambil memperhatikan tingkah Tante yang agak aneh (maklum aku masih anak kecil, belum pernah lihat yang seperti gituan).
"Had.., kamu duluan yach..!", kata tanteku sambil mendesah.
"Nggak ach Tante, Tante dulu dech", kataku sambil rasa dingin (duch rasanya seperti dalam freezer tuch).
"Ok, Had.., Tante duluan yach".
Tanteku masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara pakaiannya yang ditanggalkan, gemericik air juga mulai mengisi bathtub. Aku menunggu di luar dengan rasa dingin yang sangat mengigit sambil melamun.
"Had, mana nich sabunnya". teriak tanteku mengagetkanku.
Seketika itu juga aku menjawab, "Disitu Tante".
"Dimana sich?", kata tanteku.
"Kamu masuk aja Had, ambilin dech sabunnya.., Tante nggak tau nich".
Dengan hati yang berdetak keras aku masuk ke kamar mandi sambil mencari-cari sabunnya. Ternyata sabunnya di bawah wastafel. Segera aku mengambilnya dan memberikannya pada tanteku. Tanpa sengaja aku melihat bodi tanteku yang aduhai yang tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Dengan wajah merah padam aku memberikan sabunnya.
Tanteku bertanya "Mengapa Had.., belum pernah liat yach!", kata tanteku dengan mengerlingkan matanya yang indah itu.
Dengan malu-malu kujawab "Belum pernah tuh, tante", kulihat tanteku hanya tersenyum kecil sambil menggandeng tanganku, ia menyuruhku masuk, sengaja atau tidak penisku berdiri.
"Had, punya kamu berdiri tuh", dengan malu aku berusaha menutupi penisku yang telah berdiri.
"Ngapain malu Had..", tanya tanteku.
Aku hanya tersenyum kecut, lalu tanteku melepaskan handukku sambil berkata "Tante boleh lihat punyamu.
"Jangan tante nanti Om tau".
"Ah, nggak apa-apa Om orangnya sangat fair".
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, kemudian dengan lembutnya tanteku mempermainkan penisku sambil berkata", Gila benar punyamu Had, barang sebesar ini kok di diemin aja..". aku hanya bisa meringis keenakan, karena memang aku tidak pernah merasakan hal itu.
Dengan lembutnya tanteku mengulum penisku, dengan refleks aku meraba payudara tanteku yang montok itu, "Ohh.., nikmat sekali". Dituntunnya aku untuk mengulum bibir kemaluannya.
Aku bertanya "Ini apa tante?".
"oo itu clitoris sayang", jawabnya. Aku terus mengulum bibir kemaluannya. Lama juga aku mengulum bibir kemaluannya, dengan gaya 69 kami saling menikmati hal itu. Tanpa sepengetahuan kami berdua ternyata kakakku mengintip apa yang kami lakukan. Terus kakakku masuk dan berkata "Ah.., tante kok tega main sama adikku.., kok tidak bilang-bilang kepadaku", sambil tersenyum kecil.
Mungkin karena terangsang dengan apa yang kami lakukan akhirnya kakakku ikut melepaskan pakaiannya. Tanteku berkata "Ayo sini punya adikmu nikmat lho". Aku tidak habis pikir, ternyata kakakku suka begituan juga. Baru pertama kali ini aku melihat polos tubuh kakakku ternyata kakakku tidak kalah dengan tanteku malah payudaranya lebih besar dari punya tante.
Tanpa pikir panjang aku tarik tangan kakakku, langsung aku kulum payudaranya yang besar itu. Terus tanteku bilang "Had masukin dong punyamu". Akhirnya kumasukkan punyaku ke liang kewanitaan tanteku "Ooh nikmat sekalii..", tanteku hanya bisa mendesah kenikmatan. Dengan goyangan yang seperti di film aku berusaha sekuat tenaga menghabisi liang kenikmatan tanteku. Selang berapa lama air mani tanteku keluar. "akhh", desahan itu keluar dari mulut tanteku, tapi aku belum apa-apa. Akhirnya tanpa rasa dosa kutarik kakakku untuk juga merasakan hebatnya penisku. Kakakku ternyata sudah tidak perawan lagi itu kuketahui waktu kumasukan penis ke liang senggamanya. Kakakku menggelinjang keenakan sambil berkata mengapa tidak dari dulu minta di "tusuk" oleh penisku. Aku terus menggenjotnya. Pada waktu lagi asyiknya aku menusuk liang kewanitaan kakakku sepupuku masuk "eehh.., lagi ngapain kalian" tanyanya. Aku cuek saja sambil berkata", kalo mau sini aja".
Tanpa aku sadari ternyata sepupuku telah menanggalkan pakaiannya. Ternyata sepupuku biar masih SMU, bodinya hebat juga. Tanpa pikir panjang kutarik tangannya lalu kukulum susunya, sambil terus menggenjot liang kenikmatan kakakku. Aku lihat kakakku asyik mengulum bibir kemaluan sepupuku. Ternyata kakakku telah di puncak kenikmatan. Dia menggeliat seperti cacing kepanasan, kurasakan semburan air hangat keluar dari liang kewanitaan kakakku. "oohhkk", teriak kakakku. Aku tersenyum puas karena aku masih bisa bertahan. Dengan perkasa ganti sepupuku "Mira" kugenjot ia hanya bisa pasrah dalam dekapan kejantananku. Aku coba memasukkan penisku dengan pelan-pelan ternyata sepupuku itu masih perawan, sangat sulit pertama kali kumasukan penisku, ia merintih kesakitan aku tidak kurang akal, kuludahi liang surganya dan kumasukkan jari tanganku. Lalu kucoba memasukkan penisku. Kali ini bisa walau dengan susah payah. "Akhh nikmat sekali memek perawan", kataku. Kulihat Mira hanya merintih dan mendesah diantara sakit dan nikmat. Akhirnya aku merasakan juga puncak kenikmatan itu kami sama-sama klimaks, "akkhh", terak kami berdua.
penisku memasuki vagina tanteku..
Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar. Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.
"Van, Mau tolongin Tante", Katanya.
"Apa yang bisa saya bantu Tante".
"Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa".
"Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian".
"Tante Minta tolong dipijitin", katanya.
"Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala".
"Tante minta kamu memijit ini tante", katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Van, kok diem mau nggak?", tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.
"Mau nggak?", katanya sekali lagi.
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.
Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.
"Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih", katanya.
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.
Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, "Ahh.., ahh". Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, "aahh, Van tolong remas lebih keras". Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.
"Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante", katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.
"Van, hisap yang kuat sayang.., aah", desah Tante Rina.
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, "Lebih kuat lagi hisapanya".
Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.
Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.
"Van, Mau tolongin Tante", Katanya.
"Apa yang bisa saya bantu Tante".
"Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa".
"Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian".
"Tante Minta tolong dipijitin", katanya.
"Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala".
"Tante minta kamu memijit ini tante", katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.
"Van, kok diem mau nggak?", tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali.
"Mau nggak?", katanya sekali lagi.
Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus.
Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.
"Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih", katanya.
Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.
Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, "Ahh.., ahh". Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, "aahh, Van tolong remas lebih keras". Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.
"Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante", katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.
"Van, hisap yang kuat sayang.., aah", desah Tante Rina.
Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, "Lebih kuat lagi hisapanya".
Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.
Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.
menyodok vaginanya, saya menjilat, kadang mengulum kedua payudaranya
Pukul 19.30 Linda sudah berada dalam mobil bersama saya, dengan memakai rok jins span warna biru dipadu dengan kaos ketat warna putih selaras dengan warna kulitnya. Aduh mak, makin cantik aja nich ABG, pikirku.
"Kita kemana Om?"
"Bandara Selaparang"
"Ngapain ke sana?" tanyanya heran.
"Udah nggak usah banyak tanya, nanti juga tahu"
"Linda ama Papa cuma dikasih ijin satu jam lho Om"
"Maka itu, Om mau kasih hadiah buat Linda"
"Wah, terima kasih Om" jawabnya sambil mencium pipi saya mesra. Saya pilih bandara itu agar bisa romantis dan bisa lebih pribadi, tahu khan pembaca maksud saya, he.. he.. he...
Setelah sampai di bandara, saya parkir mobil di tempat yang agak sepi, kebetulan juga kacanya hitam pekat. Saya ajak Linda pindah ke tempat duduk belakang mobil Kijang itu agar lebih leluasa kalau mepet-mepetan.
"Mana hadiahnya Om?" tanya Linda tidak sabaran, karena tidak tahu apa hadiahnya.
"Om cuma mau kasih hadiah seperti kemaren" selidik saya menunggu tanggapannya.
"Maksud Om?"
"Iya, seperti yang Om ajarkan kemarin, nah itu hadiahnya, tapi Linda mau nggak?"
"Idih, si Om maunya.." jawab Linda sambil tersipu.
Bagi saya itu sudah cukup merupakan tanda setuju dari Linda hingga tanpa menunggu jawaban dari Linda, saya langsung mencium bibirnya dan tangan saya sudah mendarat pada pahanya. Saya elus-elus pahanya yang putih dan masih terbalut oleh jins biru yang sangat seksi hingga memperlihatkan lekuk-lekuk bodinya. Linda juga kelihatannya ingin menghabiskan malam terakhirnya bersama saya dengan tergesa-gesa membuka celana saya sampai separuh dan melahap kontol saya yang sudah kencang dari tadi.
"Teru.. Ss.. Lin.." perintah saya sambil membuka kaos dan BH putihnya yang berenda itu.
"Mmh.. Mmbmnb.." celotehnya tidak jelas karena mulutnya penuh dengan kontol saya yang maju mundur dihisapnya dengan irama yang cepat.
"Ud.. Ahh.. Lin.. Om.. Mau.. Kel.. Uar.. Arghh.."
Tiba-tiba Linda melepaskan kulumannya, dan berganti posisi dengan saya yang berjongkok dan Linda yang duduk sambil membuka rok spannya. Pemandangan yang sangat indah pembaca, Linda memakai CD kuning yang bergambar hati atau cinta.
"Ayo Om, jangan diliatin aja"
"Ya.." jawab saya sambil mencium vaginanya yang masih terbungkus CD kuningnya, jilatan demi jilatan membuatnya geli hingga pinggulnya ke kiri ke kanan tak beraturan.
"Uda.. Hh.. Om.. Buka aja.. Sst.. mmh.." katanya menyuruh saya membuka celana dalamnya.
Dengan dibantu Linda, saya membuka celana dalam beserta sok spannya hingga ia tinggal mengenakan BH saja. Vaginanya yang ditumbuhi bulu halus itu mengeluarkan aroma harum khas wanita, beberapa saat saya cium dan jilat pada bagian dalam vaginanya.
"Sst.. Arggh.. En.. Akk.. Om.. Nah gitu.. Sst"
"Jil.. At.. Om.. Bagian yang itu.. Ya.. Sst.." pintanya pada saya yang membuatnya sangat terangsang.
Sambil menjilat seluruh bagian vaginanya, tangan kanan saya masuk ke dalam BH-nya dan meremas payudaranya dengan lembut dan kadang-kadang memelintir putingnya yang sudah keras sekali.
"Ayo.. Om.. Sst.. Linda.. Nggak.. tahan.. Nih.." rintihnya memohon pada saya.
Saya sudah mengerti maksudnya, Linda sudah sangat terangsang sekali ingin melepaskan hasratnya dengan segera. Kemudian saya berganti posisi dengan Linda saya pangku berhadapan dengan saya sambil membuka penutup payudaranya itu. Maka kami berdua sudah bugil di dalam mobil itu, untung saja keadaan bandara waktu itu belum terlalu ramai karena kedatangan pesawat masih lama.
"Pel.. Lan ya Om" kata Linda sambil menggesek-gesekkan bibir vaginanya sebagai pemanasan dulu.
"Gimana Lin..?"
"Udah Om, sekarang aja" ajak Linda sambil memegang kontolku mengarahkannya pada lubang kemaluannya sambil saya juga menyodoknya pelan, kemudian pada akhirnya bless.. masuklah semua kontol saya.
"Arg.. Sst.. Mmh.." rintih Linda karena masuknya kontol saya yang kemudian maju mundur dengan lembut.
Kontol saya serasa diremas-remas dalam lubang kemaluan Linda yang masih sangat kencang sekali, denyut-denyut yang menimbulkan rasa nikmat bagi saya dan tentunya juga Linda yang menggerakkan pinggulnya ke kiri ke kanan meraih kenikmatannya sendiri.
"Om.. Sst.. kemot su.. sunya Linda.. Sst.. Mmh.."
"Mmh.. Mmh.."
Sambil menyodok vaginanya, saya menjilat, kadang mengulum kedua payudaranya bergantian. Posisi itu menimbulkan bunyi yang saya tirukan kira-kira ceplok.. ceplok.. Beradunya kontolku dalam vaginanya disertai rintihan dan jeritan kecil dari Linda membuat saya ingin segera memuntahkan lahar putih yang sudah dari tadi saya tahan.
"Ce.. Peet.. Sst.. Om.. Linda.. Mau kelu.. Ar.. Sstss.. aahh.." celotehnya meminta saya menyodoknya lebih cepat dan gerakan pinggulnya semakin cepat.
"Ya.. Lin.. Ayo.." jawab saya dengan sodokan yang tak kalah cepatnya dengan pinggulnya dan pada akhirnya muncratlah lahar itu secara bersamaan crot.. crot.. crot..
"Argh.. Ahh.." jerit kecil Linda menyertai muncratnya lahar itu.
"Ahh.." kami berdua duduk dengan lemas dan puas dalam mobil.
"Trim's ya Lin" jawab saya sambil mencium keningnya.
"Sama-sama Om" jawab Linda sambil memeluk saya dengan erat.
"Kita kemana Om?"
"Bandara Selaparang"
"Ngapain ke sana?" tanyanya heran.
"Udah nggak usah banyak tanya, nanti juga tahu"
"Linda ama Papa cuma dikasih ijin satu jam lho Om"
"Maka itu, Om mau kasih hadiah buat Linda"
"Wah, terima kasih Om" jawabnya sambil mencium pipi saya mesra. Saya pilih bandara itu agar bisa romantis dan bisa lebih pribadi, tahu khan pembaca maksud saya, he.. he.. he...
Setelah sampai di bandara, saya parkir mobil di tempat yang agak sepi, kebetulan juga kacanya hitam pekat. Saya ajak Linda pindah ke tempat duduk belakang mobil Kijang itu agar lebih leluasa kalau mepet-mepetan.
"Mana hadiahnya Om?" tanya Linda tidak sabaran, karena tidak tahu apa hadiahnya.
"Om cuma mau kasih hadiah seperti kemaren" selidik saya menunggu tanggapannya.
"Maksud Om?"
"Iya, seperti yang Om ajarkan kemarin, nah itu hadiahnya, tapi Linda mau nggak?"
"Idih, si Om maunya.." jawab Linda sambil tersipu.
Bagi saya itu sudah cukup merupakan tanda setuju dari Linda hingga tanpa menunggu jawaban dari Linda, saya langsung mencium bibirnya dan tangan saya sudah mendarat pada pahanya. Saya elus-elus pahanya yang putih dan masih terbalut oleh jins biru yang sangat seksi hingga memperlihatkan lekuk-lekuk bodinya. Linda juga kelihatannya ingin menghabiskan malam terakhirnya bersama saya dengan tergesa-gesa membuka celana saya sampai separuh dan melahap kontol saya yang sudah kencang dari tadi.
"Teru.. Ss.. Lin.." perintah saya sambil membuka kaos dan BH putihnya yang berenda itu.
"Mmh.. Mmbmnb.." celotehnya tidak jelas karena mulutnya penuh dengan kontol saya yang maju mundur dihisapnya dengan irama yang cepat.
"Ud.. Ahh.. Lin.. Om.. Mau.. Kel.. Uar.. Arghh.."
Tiba-tiba Linda melepaskan kulumannya, dan berganti posisi dengan saya yang berjongkok dan Linda yang duduk sambil membuka rok spannya. Pemandangan yang sangat indah pembaca, Linda memakai CD kuning yang bergambar hati atau cinta.
"Ayo Om, jangan diliatin aja"
"Ya.." jawab saya sambil mencium vaginanya yang masih terbungkus CD kuningnya, jilatan demi jilatan membuatnya geli hingga pinggulnya ke kiri ke kanan tak beraturan.
"Uda.. Hh.. Om.. Buka aja.. Sst.. mmh.." katanya menyuruh saya membuka celana dalamnya.
Dengan dibantu Linda, saya membuka celana dalam beserta sok spannya hingga ia tinggal mengenakan BH saja. Vaginanya yang ditumbuhi bulu halus itu mengeluarkan aroma harum khas wanita, beberapa saat saya cium dan jilat pada bagian dalam vaginanya.
"Sst.. Arggh.. En.. Akk.. Om.. Nah gitu.. Sst"
"Jil.. At.. Om.. Bagian yang itu.. Ya.. Sst.." pintanya pada saya yang membuatnya sangat terangsang.
Sambil menjilat seluruh bagian vaginanya, tangan kanan saya masuk ke dalam BH-nya dan meremas payudaranya dengan lembut dan kadang-kadang memelintir putingnya yang sudah keras sekali.
"Ayo.. Om.. Sst.. Linda.. Nggak.. tahan.. Nih.." rintihnya memohon pada saya.
Saya sudah mengerti maksudnya, Linda sudah sangat terangsang sekali ingin melepaskan hasratnya dengan segera. Kemudian saya berganti posisi dengan Linda saya pangku berhadapan dengan saya sambil membuka penutup payudaranya itu. Maka kami berdua sudah bugil di dalam mobil itu, untung saja keadaan bandara waktu itu belum terlalu ramai karena kedatangan pesawat masih lama.
"Pel.. Lan ya Om" kata Linda sambil menggesek-gesekkan bibir vaginanya sebagai pemanasan dulu.
"Gimana Lin..?"
"Udah Om, sekarang aja" ajak Linda sambil memegang kontolku mengarahkannya pada lubang kemaluannya sambil saya juga menyodoknya pelan, kemudian pada akhirnya bless.. masuklah semua kontol saya.
"Arg.. Sst.. Mmh.." rintih Linda karena masuknya kontol saya yang kemudian maju mundur dengan lembut.
Kontol saya serasa diremas-remas dalam lubang kemaluan Linda yang masih sangat kencang sekali, denyut-denyut yang menimbulkan rasa nikmat bagi saya dan tentunya juga Linda yang menggerakkan pinggulnya ke kiri ke kanan meraih kenikmatannya sendiri.
"Om.. Sst.. kemot su.. sunya Linda.. Sst.. Mmh.."
"Mmh.. Mmh.."
Sambil menyodok vaginanya, saya menjilat, kadang mengulum kedua payudaranya bergantian. Posisi itu menimbulkan bunyi yang saya tirukan kira-kira ceplok.. ceplok.. Beradunya kontolku dalam vaginanya disertai rintihan dan jeritan kecil dari Linda membuat saya ingin segera memuntahkan lahar putih yang sudah dari tadi saya tahan.
"Ce.. Peet.. Sst.. Om.. Linda.. Mau kelu.. Ar.. Sstss.. aahh.." celotehnya meminta saya menyodoknya lebih cepat dan gerakan pinggulnya semakin cepat.
"Ya.. Lin.. Ayo.." jawab saya dengan sodokan yang tak kalah cepatnya dengan pinggulnya dan pada akhirnya muncratlah lahar itu secara bersamaan crot.. crot.. crot..
"Argh.. Ahh.." jerit kecil Linda menyertai muncratnya lahar itu.
"Ahh.." kami berdua duduk dengan lemas dan puas dalam mobil.
"Trim's ya Lin" jawab saya sambil mencium keningnya.
"Sama-sama Om" jawab Linda sambil memeluk saya dengan erat.
Keluar cairan putih dalam kondom saya
Kali ini adalah pengalaman sex saya dengan ABG yang masih SMU bernama Linda. Setelah saya mengirimkan cerita saya tersebut, saya mendapat email dari Linda yang katanya tertarik dengan pengalaman saya dan kebetulan dia sedang di Lombok dalam rangka liburan bersama keluarganya. Kami janjian lewat email bertemu pada bulan Oktober di sebuah rental internet di Mataram. Tentu saja pembaca, saya yang menentukan lokasinya di rental internet tersebut, karena hari itu saya masih harus membalas beberapa email yang ingin berkenalan denganku dan mencari tahu tentang pariwisata di Lombok.
Pada hari Kamis, saya sudah stand by di rental tersebut, berdebar-debar juga rasanya saya menunggu Linda, seperti apa rupanya ya.
"Selamat pagi, Om namanya Andi khan?"
"Ya, betul.. Ini Linda ya!" tanya saya kembali padanya.
Di hadapan saya sekarang adalah seorang ABG keturunan tionghoa yang cantik. Saya perkirakan umurnya baru 16 tahun, tinggi 160 cm, berat 47 kg dan berkulit putih mulus khas cina dengan rambut lurus sebahu, memakai baju hem ketat warna krem, celana jins hitam tiga perempat yang pas. Duduk di samping saya tampak mengintip CD-nya yang berwarna putih. Kontol saya langsung tegak bagaikan Monas melihat cewek cantik ini.
"Gimana khabarnya?" tanyaku membuka percakapan sambil mempersilakannya duduk.
"Baik Om, senang rasanya liburan ke Lombok"
"Oh ya? Udah kemana aja Linda?"
"Ke pantai Senggigi, terus Suranadi dan tempat gerabah itu"
"Terus Linda sekarang sama siapa?"
"Sama Papa, Mama dan sepupu, Linda tinggal di Senggigi Beach Hotel"
"Wah, asyik dong.."
"So pasti, tapi lebih asyik kalo diantar sama tour guide seperti Om"
"Itu sich gampang Lin, yang penting ada komisinya lho" canda saya.
"Tenang Om, dijamin nggak nyesel dech nganterin Linda"
Linda orangnya supel dengan senyumnya yang manis mirip artis mandarin dan aroma tubuhnya yang sangat wangi. 'Adik' saya sudah nggak bisa diam nich.
"Ceritanya Om Andi tuch asli khan?"
"Tentu saja asli lho, dari pengalaman pribadi"
"Enak dong"
"Enak apanya Lin?" pancing saya mulai memepetkan tempat duduk.
Ini baru kesempatan namanya. Asik khan pembaca, bisa berduaan sama abg yang tentu saja masih seger-segernya..
"Gituannya lho.." jawabnya tersipu malu.
"Emangnya Linda pernah gituan sama pacar?"
"Ya.. Hampir pernah"
"Hampir pernah gimana, nggak usah malu dech, ceritain dong"
"Siapa tahu Om bisa bantu" ujarku sambil tangan kiri saya merangkul pundaknya.
Wah, Linda tampaknya nggak marah nich saya pegang pundaknya, berarti ada lampu hijau dong.
"Janji ya Om, nggak bilang siapa-siapa"
"Janji dech" saya menunjukkan tanda victory padanya.
"Gini Om, Tony pacar saya itu kalo udah nafsu cepat keluarnya, padahal Linda belum apa-apa"
"Maksudnya.." tanyaku pura-pura blo'on padahal tahu maksudnya.
"Iya, pas kontolnya Tony nempel di anunya Linda, udah keluar duluan"
"Oh gitu, itu istilah kedokterannya ejakulasi dini"
"Terus ngatasinya gimana dong Om"
"Ya, Linda harus bisa foreplay dulu, maksudnya pemanasan gitu"
"Ya udah Om, tapi Tony maunya terburu-buru en lagian mainnya kasar sich"
"Linda mau Om bantuin?" tanya saya yang sudah tidak lagi melihat isi layar monitor sejak tadi.
"Maksud Om..?"
"Ya.. Gimana caranya foreplay"
"Hus.. Om ini ngaco, Linda khan pacarnya orang"
"Bukannya ngaco, Linda ya tetap pacarnya Tony, Om khan cuma memberikan petunjuk" jawab saya sungguh-sungguh membujuknya agar mau foreplay, habis potongan tubuhnya itu, alamak geboy abis, mungkin rajin fitnes ya atau aerobic.
"Tapi.. Ada orang lho di sini Om, Linda khan malu"
"Nggak ada orang di sini kok, sini Om pangku" rayuku sambil menarik pinggangnya untuk duduk di pangkuan saya menghadap monitor komputer.
"Om.. Jangan.." celetuknya ragu dan canggung.
"Udah.. Atasnya doang kok, gimana?" tanya saya sambil membuka dua kancing atas hemnya hingga kelihatan BH merahnya, tangan kanan saya langsung masuk meremas payudaranya.
"Ja.. Ngan.. Om.. Geli.."
"Gimana rasanya Lin.."
"En.. Ak.. Sst.. Mmh"
Linda kelihatannya sudah agak terangsang dengan permainan tangan saya, ditambah lagi ciuman saya yang mendarat secara tiba-tiba pada lehernya. Tangan kiri saya juga mulai aktif meremas payudaranya yang sebelah. Ciuman pada lehernya saya ubah jadi menjilat, jadi kedua tangan meremas dan kadang-kadang memelintir kedua putingnya itu yang makin lama makin mengeras.
"Mmh.. Mmh.." gumam Linda. Beberapa menit kemudian..
"Udah.. Om.. Sst.. Udah.." tahan Linda sambil melepaskan saya dan merapikan bajunya.
"Ada apa Lin, contoh foreplay belum abis lho" goda saya tersenyum.
"Mmh.. Iya sich Om, cuman nggak leluasa di sini"
"Maunya Linda dimana?"
"Tempat yang sepi orangnya gitu"
Saya lihat tempat rental internet itu sudah mulai ramai kedatangan pengunjung, mungkin Linda agak terganggu juga konsentrasinya.
"Gimana kalo di hotel aja Lin, di sana lebih tenang" usulku.
"Iya dech.. Tapi jangan di Senggigi ya Om", jawabnya sambil tangannya mengandeng saya mesra.
"Oke, nanti OM cariin yang agak jauh dari Senggigi"
Dan kami pun check in di salah satu hotel yang agak jauh dari Senggigi, karena saya tahu Linda tidak mau ketahuan keluarganya, katanya dia bilang sama keluarganya mau ke rental internet selama 3 jam. Karena itu kami pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
"Wah, di sini baru tenang nich" kata Linda sambil memperhatikan hotel yang lumayan tenang karena tempatnya agak jauh dari Senggigi dan kota.
"Nah, sekarang gimana? Mau nerusin caranya foreplay?"
"Mmh.. Gimana ya" Linda agak ragu kelihatannya.
Wah, anak ini harus dirangsang lagi supaya mau foreplay, soalnya si 'buyung' sudah tegak seperti pentungan pak satpam. Kemudian saya membuka kaos atas saya dan celana panjang jins hingga tinggal CD, sengaja saya membuka baju menghadap ke Linda.
"Wow.. Apaan tuch Om, kok kembung" kata Linda sambil menunjuk ke kontol saya.
"Linda mau lihat punya Om ya" Kutanggalkan semua celana dalam saya hingga saya bugil dan kelihatan kontol yang tegak itu.
"Wow.. Kontol Om bengkok dikit ya.." terheran-heran Linda melihat bentuk kontol saya.
"Ini baru asli lho Lin, tanpa pembesaran" ujarku sambil mendekatinya.
Tangan saya aktif membuka hem kremnya dan celana jins hitam tiga perempatnya. Sekarang tampak jelas BH merahnya dan CD putihnya yang cantik, pemandangan yang indah. Saya gendong Linda dan menaruhnya dengan lembut di sofa itu, kemudian saya mencium dan menjilat bibirnya serta tangan saya meremas payudara dan mencopot pengait BH-nya.
"Om.. isep.. sst.. susu.. nya.. Linda.." rengeknya meminta saya menghentikan ciuman dan beralih ke payudaranya, ciuman dan hisapan saya giatkan, kemudian puting itu saya gigit perlahan.
"Terr.. us.. Om.. sst.. sst.." rintihnya sambil memindahkan kepala saya pada payudaranya.
Tangan kiriku mengusap payudara sebelah kiri dan tangan kanan saya masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus, kemudian saya masukkan jari keluar-masuk dengan lancar.
"Ouh.. Mmh.. Enak.. Om.. Nah.. Gitu.." Saya turun lagi mencium perutnya yang putih bersih, turun lagi mencium CD-nya yang mulai basah.
"Buka.. Aja.. Om.. Cepet.. Sst" celotehnya yang sudah bernafsu sekali sambil membuka CD-nya. Sekarang terlihat jelas sekali vaginanya yang masih kencang dan saya jilat dengan pelan dan semakin ke dalam lidah saya menari-nari.
"Sst.. Terr.. Us.. Om.. Mmh.." rintihnya tak karuan sambil menjepit kepala saya.
Beberapa menit saya permainkan vaginanya dan paha bagian dalam Linda yang sudah sangat basah sekali.
"Om.. Mmhmm.. Ganti.. Om.. Sstss"
"Gantian gimana Lin.." goda saya sambil telentang.
"Gantian Linda isep kontolnya Om, tapi jangan keluar dulu ya"
"Beres, nanti Om pakai kondom kok"
"Mmh.." Linda tidak menjawab, soalnya sudah mulai menghisap kontol saya, pertama-tama cuma masuk setengah tapi lama-kelamaan masuklah semua kontol saya.
"Terr.. Us.. Lin.. Jilat.." perintah saya sambil memegang kepalanya dan mendorong pelan supaya kontol saya masuk semua ke mulutnya.
Beberapa menit kami melakukan oral sex, Linda ternyata menikmati permainan itu.
"U.. Dah.. Lin.. Om.. Nggak tahan.. Nich"
"Iya Om, Linda juga pengin ngerasain senggama gaya kuda ama kontolnya Om yang bengkok itu hi.. hi.." celotehnya tertawa sambil mengambil posisi menungging.
"Sabar ya Lin, Om pasang kondom dulu"
Kemudian setelah saya pasang kondom, saya masukkan ke vaginanya, tenyata meleset.
"Aduh.. Om.. Pelan.. Dong" rintihnya kesakitan. Memang vagina Linda masih sempit kelihatannya dan posisi tersebut agak susah sich.
"Lin tolong bantuin pegangin kontol Om"
"Sini Linda bantuin masukin tapi pelan ya"
Linda kemudian memegang kontol saya dan mengarahkan ke vaginanya dan saya dorong pelan, pelan tapi pasti dan bless.. masuk seluruhnya dengan dorongan saya yang terakhir agak keras.
"Aduh Om sakit"
"Nggak apa-apa kok Lin, udah masuk kok"
"Sst.. Om.. Gini rasanya ya.. Sst.."
"Gi.. Mana.. Lin.."
"E.. Nak.. Sst.. Agak cepetan Om.. Sst"
"Nahh.. Sst.. Gitu.."
Genjotan demi genjotan saya giatkan sambil tangan kiri memegang perutnya dan tangan kanan memegang payudaranya. Plok.. Plok.. Plok.. Demikian kira-kira bunyinya. Kira-kira beberapa menit saya ngentot dengan Linda dengan posisi doggy style. Dan semakin lama semakin cepat.
"Ce.. Pat.. Sst.. Sst.. Om.. Aah.. Linda mau keluar nich" rintihnya tertahan.
"Sa.. ma.. an.. Lin.. keluarnya.. sst.. yess.." jawab saya sambil mempercepat sodokan kontol saya.
"Sst.. Lin.. Da.. Sst.. Kel.. Uar.. Om.. Argh.." jerit Linda.
Tiba-tiba tubuh Linda mengejang dan saya pun juga, akhirnya crot.. crot.. crot.. Keluar cairan putih dalam kondom saya, bersamaan dengan muncratnya cairan di vagina Linda. Tubuh kami pun lemas menikmati sensasi yang luar biasa itu.
Pada hari Kamis, saya sudah stand by di rental tersebut, berdebar-debar juga rasanya saya menunggu Linda, seperti apa rupanya ya.
"Selamat pagi, Om namanya Andi khan?"
"Ya, betul.. Ini Linda ya!" tanya saya kembali padanya.
Di hadapan saya sekarang adalah seorang ABG keturunan tionghoa yang cantik. Saya perkirakan umurnya baru 16 tahun, tinggi 160 cm, berat 47 kg dan berkulit putih mulus khas cina dengan rambut lurus sebahu, memakai baju hem ketat warna krem, celana jins hitam tiga perempat yang pas. Duduk di samping saya tampak mengintip CD-nya yang berwarna putih. Kontol saya langsung tegak bagaikan Monas melihat cewek cantik ini.
"Gimana khabarnya?" tanyaku membuka percakapan sambil mempersilakannya duduk.
"Baik Om, senang rasanya liburan ke Lombok"
"Oh ya? Udah kemana aja Linda?"
"Ke pantai Senggigi, terus Suranadi dan tempat gerabah itu"
"Terus Linda sekarang sama siapa?"
"Sama Papa, Mama dan sepupu, Linda tinggal di Senggigi Beach Hotel"
"Wah, asyik dong.."
"So pasti, tapi lebih asyik kalo diantar sama tour guide seperti Om"
"Itu sich gampang Lin, yang penting ada komisinya lho" canda saya.
"Tenang Om, dijamin nggak nyesel dech nganterin Linda"
Linda orangnya supel dengan senyumnya yang manis mirip artis mandarin dan aroma tubuhnya yang sangat wangi. 'Adik' saya sudah nggak bisa diam nich.
"Ceritanya Om Andi tuch asli khan?"
"Tentu saja asli lho, dari pengalaman pribadi"
"Enak dong"
"Enak apanya Lin?" pancing saya mulai memepetkan tempat duduk.
Ini baru kesempatan namanya. Asik khan pembaca, bisa berduaan sama abg yang tentu saja masih seger-segernya..
"Gituannya lho.." jawabnya tersipu malu.
"Emangnya Linda pernah gituan sama pacar?"
"Ya.. Hampir pernah"
"Hampir pernah gimana, nggak usah malu dech, ceritain dong"
"Siapa tahu Om bisa bantu" ujarku sambil tangan kiri saya merangkul pundaknya.
Wah, Linda tampaknya nggak marah nich saya pegang pundaknya, berarti ada lampu hijau dong.
"Janji ya Om, nggak bilang siapa-siapa"
"Janji dech" saya menunjukkan tanda victory padanya.
"Gini Om, Tony pacar saya itu kalo udah nafsu cepat keluarnya, padahal Linda belum apa-apa"
"Maksudnya.." tanyaku pura-pura blo'on padahal tahu maksudnya.
"Iya, pas kontolnya Tony nempel di anunya Linda, udah keluar duluan"
"Oh gitu, itu istilah kedokterannya ejakulasi dini"
"Terus ngatasinya gimana dong Om"
"Ya, Linda harus bisa foreplay dulu, maksudnya pemanasan gitu"
"Ya udah Om, tapi Tony maunya terburu-buru en lagian mainnya kasar sich"
"Linda mau Om bantuin?" tanya saya yang sudah tidak lagi melihat isi layar monitor sejak tadi.
"Maksud Om..?"
"Ya.. Gimana caranya foreplay"
"Hus.. Om ini ngaco, Linda khan pacarnya orang"
"Bukannya ngaco, Linda ya tetap pacarnya Tony, Om khan cuma memberikan petunjuk" jawab saya sungguh-sungguh membujuknya agar mau foreplay, habis potongan tubuhnya itu, alamak geboy abis, mungkin rajin fitnes ya atau aerobic.
"Tapi.. Ada orang lho di sini Om, Linda khan malu"
"Nggak ada orang di sini kok, sini Om pangku" rayuku sambil menarik pinggangnya untuk duduk di pangkuan saya menghadap monitor komputer.
"Om.. Jangan.." celetuknya ragu dan canggung.
"Udah.. Atasnya doang kok, gimana?" tanya saya sambil membuka dua kancing atas hemnya hingga kelihatan BH merahnya, tangan kanan saya langsung masuk meremas payudaranya.
"Ja.. Ngan.. Om.. Geli.."
"Gimana rasanya Lin.."
"En.. Ak.. Sst.. Mmh"
Linda kelihatannya sudah agak terangsang dengan permainan tangan saya, ditambah lagi ciuman saya yang mendarat secara tiba-tiba pada lehernya. Tangan kiri saya juga mulai aktif meremas payudaranya yang sebelah. Ciuman pada lehernya saya ubah jadi menjilat, jadi kedua tangan meremas dan kadang-kadang memelintir kedua putingnya itu yang makin lama makin mengeras.
"Mmh.. Mmh.." gumam Linda. Beberapa menit kemudian..
"Udah.. Om.. Sst.. Udah.." tahan Linda sambil melepaskan saya dan merapikan bajunya.
"Ada apa Lin, contoh foreplay belum abis lho" goda saya tersenyum.
"Mmh.. Iya sich Om, cuman nggak leluasa di sini"
"Maunya Linda dimana?"
"Tempat yang sepi orangnya gitu"
Saya lihat tempat rental internet itu sudah mulai ramai kedatangan pengunjung, mungkin Linda agak terganggu juga konsentrasinya.
"Gimana kalo di hotel aja Lin, di sana lebih tenang" usulku.
"Iya dech.. Tapi jangan di Senggigi ya Om", jawabnya sambil tangannya mengandeng saya mesra.
"Oke, nanti OM cariin yang agak jauh dari Senggigi"
Dan kami pun check in di salah satu hotel yang agak jauh dari Senggigi, karena saya tahu Linda tidak mau ketahuan keluarganya, katanya dia bilang sama keluarganya mau ke rental internet selama 3 jam. Karena itu kami pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
"Wah, di sini baru tenang nich" kata Linda sambil memperhatikan hotel yang lumayan tenang karena tempatnya agak jauh dari Senggigi dan kota.
"Nah, sekarang gimana? Mau nerusin caranya foreplay?"
"Mmh.. Gimana ya" Linda agak ragu kelihatannya.
Wah, anak ini harus dirangsang lagi supaya mau foreplay, soalnya si 'buyung' sudah tegak seperti pentungan pak satpam. Kemudian saya membuka kaos atas saya dan celana panjang jins hingga tinggal CD, sengaja saya membuka baju menghadap ke Linda.
"Wow.. Apaan tuch Om, kok kembung" kata Linda sambil menunjuk ke kontol saya.
"Linda mau lihat punya Om ya" Kutanggalkan semua celana dalam saya hingga saya bugil dan kelihatan kontol yang tegak itu.
"Wow.. Kontol Om bengkok dikit ya.." terheran-heran Linda melihat bentuk kontol saya.
"Ini baru asli lho Lin, tanpa pembesaran" ujarku sambil mendekatinya.
Tangan saya aktif membuka hem kremnya dan celana jins hitam tiga perempatnya. Sekarang tampak jelas BH merahnya dan CD putihnya yang cantik, pemandangan yang indah. Saya gendong Linda dan menaruhnya dengan lembut di sofa itu, kemudian saya mencium dan menjilat bibirnya serta tangan saya meremas payudara dan mencopot pengait BH-nya.
"Om.. isep.. sst.. susu.. nya.. Linda.." rengeknya meminta saya menghentikan ciuman dan beralih ke payudaranya, ciuman dan hisapan saya giatkan, kemudian puting itu saya gigit perlahan.
"Terr.. us.. Om.. sst.. sst.." rintihnya sambil memindahkan kepala saya pada payudaranya.
Tangan kiriku mengusap payudara sebelah kiri dan tangan kanan saya masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus, kemudian saya masukkan jari keluar-masuk dengan lancar.
"Ouh.. Mmh.. Enak.. Om.. Nah.. Gitu.." Saya turun lagi mencium perutnya yang putih bersih, turun lagi mencium CD-nya yang mulai basah.
"Buka.. Aja.. Om.. Cepet.. Sst" celotehnya yang sudah bernafsu sekali sambil membuka CD-nya. Sekarang terlihat jelas sekali vaginanya yang masih kencang dan saya jilat dengan pelan dan semakin ke dalam lidah saya menari-nari.
"Sst.. Terr.. Us.. Om.. Mmh.." rintihnya tak karuan sambil menjepit kepala saya.
Beberapa menit saya permainkan vaginanya dan paha bagian dalam Linda yang sudah sangat basah sekali.
"Om.. Mmhmm.. Ganti.. Om.. Sstss"
"Gantian gimana Lin.." goda saya sambil telentang.
"Gantian Linda isep kontolnya Om, tapi jangan keluar dulu ya"
"Beres, nanti Om pakai kondom kok"
"Mmh.." Linda tidak menjawab, soalnya sudah mulai menghisap kontol saya, pertama-tama cuma masuk setengah tapi lama-kelamaan masuklah semua kontol saya.
"Terr.. Us.. Lin.. Jilat.." perintah saya sambil memegang kepalanya dan mendorong pelan supaya kontol saya masuk semua ke mulutnya.
Beberapa menit kami melakukan oral sex, Linda ternyata menikmati permainan itu.
"U.. Dah.. Lin.. Om.. Nggak tahan.. Nich"
"Iya Om, Linda juga pengin ngerasain senggama gaya kuda ama kontolnya Om yang bengkok itu hi.. hi.." celotehnya tertawa sambil mengambil posisi menungging.
"Sabar ya Lin, Om pasang kondom dulu"
Kemudian setelah saya pasang kondom, saya masukkan ke vaginanya, tenyata meleset.
"Aduh.. Om.. Pelan.. Dong" rintihnya kesakitan. Memang vagina Linda masih sempit kelihatannya dan posisi tersebut agak susah sich.
"Lin tolong bantuin pegangin kontol Om"
"Sini Linda bantuin masukin tapi pelan ya"
Linda kemudian memegang kontol saya dan mengarahkan ke vaginanya dan saya dorong pelan, pelan tapi pasti dan bless.. masuk seluruhnya dengan dorongan saya yang terakhir agak keras.
"Aduh Om sakit"
"Nggak apa-apa kok Lin, udah masuk kok"
"Sst.. Om.. Gini rasanya ya.. Sst.."
"Gi.. Mana.. Lin.."
"E.. Nak.. Sst.. Agak cepetan Om.. Sst"
"Nahh.. Sst.. Gitu.."
Genjotan demi genjotan saya giatkan sambil tangan kiri memegang perutnya dan tangan kanan memegang payudaranya. Plok.. Plok.. Plok.. Demikian kira-kira bunyinya. Kira-kira beberapa menit saya ngentot dengan Linda dengan posisi doggy style. Dan semakin lama semakin cepat.
"Ce.. Pat.. Sst.. Sst.. Om.. Aah.. Linda mau keluar nich" rintihnya tertahan.
"Sa.. ma.. an.. Lin.. keluarnya.. sst.. yess.." jawab saya sambil mempercepat sodokan kontol saya.
"Sst.. Lin.. Da.. Sst.. Kel.. Uar.. Om.. Argh.." jerit Linda.
Tiba-tiba tubuh Linda mengejang dan saya pun juga, akhirnya crot.. crot.. crot.. Keluar cairan putih dalam kondom saya, bersamaan dengan muncratnya cairan di vagina Linda. Tubuh kami pun lemas menikmati sensasi yang luar biasa itu.
Langganan:
Komentar (Atom)