Rumah mewah itu memang terlihat sepi, gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh. Berlantai tiga dengan gaya arsitektur spanyol yang unik. Bergegas aku segera turun dan kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang di tikungan jalan. Kembali aku perhatikan alamat rumah yang kutuju itu. Aku segera menyelinap masuk ke dalam halamannya setelah membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi dicat hitam. Hujan mendadak turun dengan rintik-rintik. Berburu aku lari kecil menuju teras yang tinggi, karena aku mesti menaiki anak tangganya.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan ‘ngiler’ berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
“Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!” ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
“Ng.., maaf, belum kenalan..,” gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
“Oh ya, aku Tami..,” sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
“Ayo pada kenalan..!” sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
“Lina..,” ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
“Dimana mau foto-foto bersamanya..?” tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
“Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?” sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
“Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..,” sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
“Bagaimana..?” tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
“Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?” kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
“Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!” sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
“Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?” tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
“Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!” sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
“Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!” ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
“Ahkk..!”
“Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!” bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
“Kamu memang seksi dan kekar..,” ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
“Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!” sahut Dian mengelus-elus pantatku.
“Sama dong. Tapi siapa duluan..?” sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
“Diam dan diam, oke..?” kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
“Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
“Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!” sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
“Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!” ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
“Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!” teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
“Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!” ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
“Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!” ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
“Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!” menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
“Hmm.. nikmat sekali. Enak..!” ucap Diam senang.
“Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!” sahut Lina.
“Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!” perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
“Siapa kalian ini sebenarnya..?” tanyaku memberanikan diri.
“Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!” bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
“Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!” perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
“Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!” teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
“Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!” ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
“Ouh.. aduh.., aahhk..,” teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
“Diminum. Minum pipisku.. cepat..!” perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
“Gantian..!”ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
“Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!” teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
“Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!” menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Tampilkan postingan dengan label sesamapria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sesamapria. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Desember 2008
Rabu, 10 Desember 2008
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya
Pagi menjelang. Sinar mentari pagi menerangi kamar gue yang berantakan karena
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di ranjang gua.
Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Adik gua langsung tegak lagi. Kaga
mau bangunin mereka, gua bangun dan terus ke dapur untuk membuat makan pagi.
Baru masuk dapur dan lagi nyari mie instant, gua ngerasa ada tangan yang maenin
adik gue dan meluk gue dari belakang.
Gua langsung noleh. Ternyata si Julia. Gua cium dia di bibir dan kasih tahu dia
gua mau masak.
"Eh, gua udah laper nih." Katanya dengan senyumnya yang nakal.
Dia mulai ngisep adik gua yang dari tadi tegak. Gua langsung mundur beberapa
langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan adikku ini. "Ohhh.."
itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya yang imut terus naik turun dan
dari pipinya bisa keliatan kalo dia lagi ngisep gua dengan kerasnya. Lidahnya
memainkan adikku. Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif
pagi begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Loe orang jahat yah kaga bagi-bagi breakfast." Gua cuman ketawa kecil. Punting
mereka mengeras dan gua rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut Julia mulai lebih
cepat. Dari sudut mata gua, gua ngeliat Amy dan Monica sedang French Kissing dan
Finger Fucking each other. Gila bener cewe-cewe ini. Pagi-pagi udah aktif
banget. Mulut Julia tidak diem naik turun, gua muali mainin punting dan payudara
Julia.
"Jul, kita 69 aja deh." Saranku. Julia melepaskan isapannya dan gua langsung
rebahan di tanah. Julia mulai berada di atas gua dan gua langsung isep dia punya
memek yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali gua jilat clitorisnya. Setiap
kali gua jilat clitorisnya dia lansung mendesah "Ooh". Akhirnya setelah lima
menit gituan, lidah gua mulai capek. Gua mulai masukin dua jari kedalam,
teriakan "Ahhh" terdengar, gua mulai jilatin clitorisnya dan maju mundurin jari
gua. Dia sekarang cuman teriak "Enak Ron, terus Ron… Kerasan donk… Jilat terus.
Gua cuman bisa jawab, "Eh lidah gua capek nih, jarang-jarang aja lidahnya."
Setelah itu gua mainin clitorisnya pake jempol gua sementara kedua jari gua kaga
berhenti maju mundur. Begitu tangan gua yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!!!". Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posis! i jadi 69 juga. Setelah
Julia mulai ngisep lagi, Mereka udah klimaks, sebab gua denger mereka teriak
"I'm cumming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat terdengar
jelas. Gua yakin gua sebentar lagi mulai klimaks. Gua coba tahan sebentar tapi
gua kaga bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat. Tak lama kemudian gua semprot
aja peju gua kedalam tenggorokan si Julia. Setelah itu, dia mencium gua. Tanpa
diduga, ternyata dia cuma telan sebagian peju gua sebab sebagiannya dimasukin
mulut gua. Itu pertama kali gua ngerasasin peju. Rasanya agak aneh tapi lumayan
enak juga.
"Bagian breakfast loe tuh. Enak ngga?" gua cuman ngangguk aja. "Kita orang yang
buat breakfast deh, loe mandi aja" lanjutnya.
Gua akhirnya masuk kamar dan mandi.
Setelah mandi, kita orang pergi jalan-jalan ke Orchard Road naek MRT. MRT dari
rumah gua ke Orchard kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat
kita semua saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT nya diam, lampunya pun
mati. "Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and track
failure. They are trying to fix the track at the moment and the electricity
would be back online in half an hour. We regret for inconvinience caused." Suara
dari speaker menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang adik gua,
gua telusuri mencari muka empunya tangan. Ternyata yang maenin adik gua orang
yang gua tak kenal. Dia mulai masukin tangannya ke zipper gua. Gua juga tak mau
kalah. Gua mulai Masukin tangan gua kedalam T-shirt nya dan mencari dia punya
payudara. Kaga gua sangka, Payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya
meninggalkan adikku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka dia punya BH
dan menanggalkan BH nya. Rok mininya gua singkap da! n ternyata dia kaga pakai
cede. Gua mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi mainin
puntingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak kedengaran
orang lain, gua French kiss dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan
tangannya mulai ngocokin adik gua.
"It is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu sementara gua
spread kakinya. Gua angkat dia sedikit dan karena agak menyenggol penumapang
lainnya, gua denger beberapa gerutuan. Setelah yakin tidak akan menyenggol orang
lain, gua mulai masukin adik gua ke lobangnya. Gua denger dia mendesah "Mmm…"
itu aja yang gua denger. Gua mulai French kiss dia lagi agar dia kaga teriak
lebih keras. Gua mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan
bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
sex mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah gua tengok ke samping,
ternyata yang gua ngentotin tadi adalah guru mathematics gua. Dia tersenyum
nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk
merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kita orang lansung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam. Akhirnya kita
orang pulang juga.
Sampai di rumah gua langsung masuk kamar kecapaian menemani cewe-cewe yang jago
belanja ini. Rupanya cewe-cewe ini benar-benar edan. Gua sudah capek begini
masih minta sex. Untuk nakut-nakutin mereka gua usulin permainan baru. Permainan
kami adalah master and slave. Gua jadi master, mereka jadi slave (budak). Di
luar dugaan gua, ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Gua kasih
tahu mereka, mereka cuman boleh panggil gua bos, tapi gua boleh panggil mereka
apa saja (termasuk perek, slut, cewe murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh
atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan
dengan sex. Mata mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti
semua pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu gua keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Gua ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru balik
ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh, loe orang bertiga main bersama di lantai. Julia, loe pake ketimun yang
lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara loe orang jilatin
Monica. Gua di sini bakal rekam loe pake handycam gua." Gua lempar ketimun yang
gua buat di sekolah pake tanah liat ke Julia. Mereka pertamanya agak kaga suka
ide gua pake handycam tapi setelah gua yakinin bahwa videonya kaga bakal gua
kasih liat orang lain akhrinya mereka setuju.
Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka juga
mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main mereka.
Mereka juga terkadang bercium mesra. Adik gua mulai kaga tahan. Gua elus adik
gua lewat celana dalam gua.
"Stop!" Mereka yang lagi asyik main rupanya kaga denger gua. Gua teriak sekali
lagi "STOP!!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak mendengar
perintah bos, gua suruh setiap orang ambil ketimun kecil di kulkas dan masukkan
ke dalam vagina mereka. Setelah itu gua suruh mereka jalan-jalan dalam rumah
dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, gua suruh
mereka pake celana dalam dan kaos panjang gua (kurang lebih sampe lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh
dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Gua suruh mereka
ikutin gua ke seven eleven terdekat tanpa pake celana maupun bh mereka. Mereka
mulai menawar tetapi gua bilang, "Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke
supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka akhirnya ikut gua ke seven eleven yang
di depan rumah gua. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan,
dia mendapat klimaks (ketimunnya ! kaya kontol naik turun sewaktu dia lari).
Penjaga toko seven eleven ngeliatin payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi
tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia
membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah
karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang gua lari balik ke
rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih berat.
Langsung aja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan hampir lemas karena
klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam
waktu yang ditentukan. Nafas mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas
dan penuh keringat, tapi permainan baru dimulai, sebab adik gua masih segar
bugar. Apalagi baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
Ingin tahu lebih lanjut… tunggu kelanjutannya…
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di ranjang gua.
Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Adik gua langsung tegak lagi. Kaga
mau bangunin mereka, gua bangun dan terus ke dapur untuk membuat makan pagi.
Baru masuk dapur dan lagi nyari mie instant, gua ngerasa ada tangan yang maenin
adik gue dan meluk gue dari belakang.
Gua langsung noleh. Ternyata si Julia. Gua cium dia di bibir dan kasih tahu dia
gua mau masak.
"Eh, gua udah laper nih." Katanya dengan senyumnya yang nakal.
Dia mulai ngisep adik gua yang dari tadi tegak. Gua langsung mundur beberapa
langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan adikku ini. "Ohhh.."
itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya yang imut terus naik turun dan
dari pipinya bisa keliatan kalo dia lagi ngisep gua dengan kerasnya. Lidahnya
memainkan adikku. Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif
pagi begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Loe orang jahat yah kaga bagi-bagi breakfast." Gua cuman ketawa kecil. Punting
mereka mengeras dan gua rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut Julia mulai lebih
cepat. Dari sudut mata gua, gua ngeliat Amy dan Monica sedang French Kissing dan
Finger Fucking each other. Gila bener cewe-cewe ini. Pagi-pagi udah aktif
banget. Mulut Julia tidak diem naik turun, gua muali mainin punting dan payudara
Julia.
"Jul, kita 69 aja deh." Saranku. Julia melepaskan isapannya dan gua langsung
rebahan di tanah. Julia mulai berada di atas gua dan gua langsung isep dia punya
memek yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali gua jilat clitorisnya. Setiap
kali gua jilat clitorisnya dia lansung mendesah "Ooh". Akhirnya setelah lima
menit gituan, lidah gua mulai capek. Gua mulai masukin dua jari kedalam,
teriakan "Ahhh" terdengar, gua mulai jilatin clitorisnya dan maju mundurin jari
gua. Dia sekarang cuman teriak "Enak Ron, terus Ron… Kerasan donk… Jilat terus.
Gua cuman bisa jawab, "Eh lidah gua capek nih, jarang-jarang aja lidahnya."
Setelah itu gua mainin clitorisnya pake jempol gua sementara kedua jari gua kaga
berhenti maju mundur. Begitu tangan gua yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!!!". Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posis! i jadi 69 juga. Setelah
Julia mulai ngisep lagi, Mereka udah klimaks, sebab gua denger mereka teriak
"I'm cumming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat terdengar
jelas. Gua yakin gua sebentar lagi mulai klimaks. Gua coba tahan sebentar tapi
gua kaga bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat. Tak lama kemudian gua semprot
aja peju gua kedalam tenggorokan si Julia. Setelah itu, dia mencium gua. Tanpa
diduga, ternyata dia cuma telan sebagian peju gua sebab sebagiannya dimasukin
mulut gua. Itu pertama kali gua ngerasasin peju. Rasanya agak aneh tapi lumayan
enak juga.
"Bagian breakfast loe tuh. Enak ngga?" gua cuman ngangguk aja. "Kita orang yang
buat breakfast deh, loe mandi aja" lanjutnya.
Gua akhirnya masuk kamar dan mandi.
Setelah mandi, kita orang pergi jalan-jalan ke Orchard Road naek MRT. MRT dari
rumah gua ke Orchard kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat
kita semua saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT nya diam, lampunya pun
mati. "Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and track
failure. They are trying to fix the track at the moment and the electricity
would be back online in half an hour. We regret for inconvinience caused." Suara
dari speaker menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang adik gua,
gua telusuri mencari muka empunya tangan. Ternyata yang maenin adik gua orang
yang gua tak kenal. Dia mulai masukin tangannya ke zipper gua. Gua juga tak mau
kalah. Gua mulai Masukin tangan gua kedalam T-shirt nya dan mencari dia punya
payudara. Kaga gua sangka, Payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya
meninggalkan adikku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka dia punya BH
dan menanggalkan BH nya. Rok mininya gua singkap da! n ternyata dia kaga pakai
cede. Gua mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi mainin
puntingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak kedengaran
orang lain, gua French kiss dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan
tangannya mulai ngocokin adik gua.
"It is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu sementara gua
spread kakinya. Gua angkat dia sedikit dan karena agak menyenggol penumapang
lainnya, gua denger beberapa gerutuan. Setelah yakin tidak akan menyenggol orang
lain, gua mulai masukin adik gua ke lobangnya. Gua denger dia mendesah "Mmm…"
itu aja yang gua denger. Gua mulai French kiss dia lagi agar dia kaga teriak
lebih keras. Gua mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan
bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
sex mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah gua tengok ke samping,
ternyata yang gua ngentotin tadi adalah guru mathematics gua. Dia tersenyum
nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk
merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kita orang lansung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam. Akhirnya kita
orang pulang juga.
Sampai di rumah gua langsung masuk kamar kecapaian menemani cewe-cewe yang jago
belanja ini. Rupanya cewe-cewe ini benar-benar edan. Gua sudah capek begini
masih minta sex. Untuk nakut-nakutin mereka gua usulin permainan baru. Permainan
kami adalah master and slave. Gua jadi master, mereka jadi slave (budak). Di
luar dugaan gua, ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Gua kasih
tahu mereka, mereka cuman boleh panggil gua bos, tapi gua boleh panggil mereka
apa saja (termasuk perek, slut, cewe murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh
atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan
dengan sex. Mata mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti
semua pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu gua keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Gua ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru balik
ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh, loe orang bertiga main bersama di lantai. Julia, loe pake ketimun yang
lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara loe orang jilatin
Monica. Gua di sini bakal rekam loe pake handycam gua." Gua lempar ketimun yang
gua buat di sekolah pake tanah liat ke Julia. Mereka pertamanya agak kaga suka
ide gua pake handycam tapi setelah gua yakinin bahwa videonya kaga bakal gua
kasih liat orang lain akhrinya mereka setuju.
Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka juga
mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main mereka.
Mereka juga terkadang bercium mesra. Adik gua mulai kaga tahan. Gua elus adik
gua lewat celana dalam gua.
"Stop!" Mereka yang lagi asyik main rupanya kaga denger gua. Gua teriak sekali
lagi "STOP!!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak mendengar
perintah bos, gua suruh setiap orang ambil ketimun kecil di kulkas dan masukkan
ke dalam vagina mereka. Setelah itu gua suruh mereka jalan-jalan dalam rumah
dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, gua suruh
mereka pake celana dalam dan kaos panjang gua (kurang lebih sampe lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh
dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Gua suruh mereka
ikutin gua ke seven eleven terdekat tanpa pake celana maupun bh mereka. Mereka
mulai menawar tetapi gua bilang, "Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke
supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka akhirnya ikut gua ke seven eleven yang
di depan rumah gua. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan,
dia mendapat klimaks (ketimunnya ! kaya kontol naik turun sewaktu dia lari).
Penjaga toko seven eleven ngeliatin payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi
tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia
membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah
karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang gua lari balik ke
rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih berat.
Langsung aja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan hampir lemas karena
klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam
waktu yang ditentukan. Nafas mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas
dan penuh keringat, tapi permainan baru dimulai, sebab adik gua masih segar
bugar. Apalagi baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
Ingin tahu lebih lanjut… tunggu kelanjutannya…
Sabtu, 10 Mei 2008
kumasukan penisku perlahan ke anusnya.
Selain membuka situs2 berita dan membalas email, aku pun meng-klik MIRC. Yah awalnya sich... untuk sekedar ngobrol dan mencari kenalan orang Batam. Aku membuka beberapa chanel salah satunya "Batam", dan mulai kucari nama-nama yang terdaftar disitu.
Akirnya ku pilih Nick "Batam Sendiri". Entah mengapa aku invite nick itu... mungkin karena aku lagi merasa sendiri juga dan akhirnya kami pun berchating ria:
Aku: Hi...mlm, boleh knalan?
Batam Sendiri : Boleh, siapa nih?
Aku: Tio 25/m/177/65, u?
Batam Sendiri : Andi 23/m/175/66
Aku: Oh..cowok juga...sorry ya....bye
Batam Sendiri : Gak sopan, baru kenalan langsung bye
Aku: Sorry aku pikir kamu gak mau chat sama co juga..
Batam Sendiri : Sok Tau...
Aku: Iya deh sekalilagi sorry...
Batam Sendiri : Ngapain kamu disini?
Aku: Nemenin Bos...
Batam Sendiri : Piaraan Bos lo ya...hehehe
Aku: Sialan ... ya enggak lah orang bos ku cowok jg
Batam Sendiri : .......O....kali aja
Aku: Kali aja apa nih?
Batam Sendiri : Enggak...
Aku: Eh laper nih...
Batam Sendiri : Aku Juga
Aku: MAkan yuk...
Akhirnya aku dan Andi kopi darat untuk makan malam. Kami ketemuan di Mc. D. dekat hotel dan warnet itu dan setelah kami ketemu aku merasa tertarik dengannya.
Anaknya tinggi tegap, rambutnya cepak, kulitnya gelap tapi terlihat manis. Malam itu dia mengenakan celana army dan t-shirt warna hijau tua. Dengan membawa tas ransel layaknya anak-anak kuliahan.
Setelah kami makan malam kira2 pukul 23.00 aku bermaksud berpamitan untuk kembali ke hotel, dan aku pun menemaninya menunggu taksi atau angkutan umum lainnya. Hampir 1 jam kami menunggu, yang ditunggu tak kunjung datang... akhirnya aku berinisiatif mengajaknya tidur dikamarku yang kebetulan single bed dan berukuran cukup luas.
Setelah sampai dia sibuk meneliti kamar dan melihat2 laptop ku. Kuperhatikan dia... ditengah suasana kamar yang begitu romantis tersersit keinginan nakal ku...
"Ndy... kalo mau mandi, kamu duluan deh... Aku masih gerah", kataku sambil melepas baju dan celana panjangku.
"Oke...", dengan sigap dia melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu hingga tinggal mengenakan celana dalam skinny yang begitu sexy. Dia nampak cuek berjalan kesana kemari menata baju dan celana panjangnya dan kemudian menuju jendela memandangi kota batam di malam hari.
Kulihat punggung dan belahan pantatnya yang terlihat gempal dihadapanku sehingga beberapa kali aku menelan ludah menahan rasa "inginku"...
"Woi mandi sana... ntar gantian..."
Dia berbalik, "Kenapa musti gantian?...".
Aku kaget dan terperangah mendengarnya, dia langsung mendekatiku dan kulihat tonkolan dibalik celana dalam skinnynya tercetak jelas seakan menghipnotis aku. Akupun menyanyanggupinya...
Kuisi bathtube penuh dengan air hangat dan kumasukan shower gel kedalam bak itu lalu kami pun berendam selayaknya pasangan pengantin baru. Aku duduk bersandar dan dia didepanku, kuelus punggungnya dadanya yang bidang, puting susunya kuelus mesar sambil sesekali kuciumi rambutnya dan daun telinganya.
Dia pun menoleh kebelakang dan mendekatkan bibirnya ke bibirku dan kami pun terlibat dalam ciuman yang sangat mendalam, sensual dan romantis itu. Sambil sesekali kugapai dan ku kocok penisnya yang sudah menegang dari tadi. Pantatnya yang menduduki penisku sesekali digerakan maju mundur untuk memberikan gesekan lembut. Ah... indah sekali malam itu.
Setelah kami puas berciuman, gaya-gaya nakal dalam imajinasi kami berdua mulai muncul.
Kuangkat tubuhnya dan aku suruh dia tidur terlentang sambil kuangkat kedua kakinya sehingga terlihat jelas olehku lubang anus nya... Kujilat buah zakarnya yang tidak terlalu banyak ditumbuhi bulu dan jilatanku bermuara di lobang anusnya...
"Ah... ahh... hmmm...", Andi pun mengerang kenikmatan.
"Masukan jari mu tio...", pinta andi.
"aku pun langsung memasukan lidahku ke dalam lobang anus itu sambil sesekali aku hisap...", dan Andi pun terusa meracau.
"Sialan... nikmat bgt tio... ah... hmmmm..."
Aku pun semakin liar kumasukan 2 jariku sekaligus ke anusnya dan mengeluar-masukannya untuk melemaskan otot2 anusnya.
"Fuck me tio!..", teriak andy.
Nampaknya andi sudah terbakar gairah dan langsung kuangkat tubuhnya lalu kubopong dan langung kulempar kekasur.
Kutindih badannya yang berotot, kuciumi bibirnya sambil sesekali aku cium leher dan piting susunya.
Penisnya yang sudah sangat tegang tak luput dari hisapan ku, aku oral habis penisnya... yang sangat kekar dengan urat-urat nya yang napak jelas keluar nampak kokoh dan perkasa.
Lansung aku angkat pinggilnya dan kumasukan penisku perlahan ke anusnya... dengan gaya konvensional bibir kami terus berciuman, kakinya melinggkar dipinggangku dan tangan Andi meraba punggung dan sesekali meremas pantatku... aku gerakan maju pundur pantatku, penis ku menikmati jepitan anusnya yang ough... sungguh nikmat, erangan kami saling berbalas dan suara khas bercinta tak henti-hentinya mengiringi gerakan maju mundur penis ku... sampai akhirnya gerakanku semakin cepat seiring terlihatnya puncak kenikmatan kami berdua, Andi pun mulai mempererat pelukannya dana kahirnya...
"Ahhhh...", kami sama-sama mencapai klimaks .
Setelah itu kami pun melanjutkan mandi bersama dan akhirnya beristirahat sampai pagi menjelang. Malam itu menjadi malam terakhir dan sekaligus menjadi malam terindah bagiku.
Akirnya ku pilih Nick "Batam Sendiri". Entah mengapa aku invite nick itu... mungkin karena aku lagi merasa sendiri juga dan akhirnya kami pun berchating ria:
Aku: Hi...mlm, boleh knalan?
Batam Sendiri : Boleh, siapa nih?
Aku: Tio 25/m/177/65, u?
Batam Sendiri : Andi 23/m/175/66
Aku: Oh..cowok juga...sorry ya....bye
Batam Sendiri : Gak sopan, baru kenalan langsung bye
Aku: Sorry aku pikir kamu gak mau chat sama co juga..
Batam Sendiri : Sok Tau...
Aku: Iya deh sekalilagi sorry...
Batam Sendiri : Ngapain kamu disini?
Aku: Nemenin Bos...
Batam Sendiri : Piaraan Bos lo ya...hehehe
Aku: Sialan ... ya enggak lah orang bos ku cowok jg
Batam Sendiri : .......O....kali aja
Aku: Kali aja apa nih?
Batam Sendiri : Enggak...
Aku: Eh laper nih...
Batam Sendiri : Aku Juga
Aku: MAkan yuk...
Akhirnya aku dan Andi kopi darat untuk makan malam. Kami ketemuan di Mc. D. dekat hotel dan warnet itu dan setelah kami ketemu aku merasa tertarik dengannya.
Anaknya tinggi tegap, rambutnya cepak, kulitnya gelap tapi terlihat manis. Malam itu dia mengenakan celana army dan t-shirt warna hijau tua. Dengan membawa tas ransel layaknya anak-anak kuliahan.
Setelah kami makan malam kira2 pukul 23.00 aku bermaksud berpamitan untuk kembali ke hotel, dan aku pun menemaninya menunggu taksi atau angkutan umum lainnya. Hampir 1 jam kami menunggu, yang ditunggu tak kunjung datang... akhirnya aku berinisiatif mengajaknya tidur dikamarku yang kebetulan single bed dan berukuran cukup luas.
Setelah sampai dia sibuk meneliti kamar dan melihat2 laptop ku. Kuperhatikan dia... ditengah suasana kamar yang begitu romantis tersersit keinginan nakal ku...
"Ndy... kalo mau mandi, kamu duluan deh... Aku masih gerah", kataku sambil melepas baju dan celana panjangku.
"Oke...", dengan sigap dia melucuti pakaian yang dikenakannya satu persatu hingga tinggal mengenakan celana dalam skinny yang begitu sexy. Dia nampak cuek berjalan kesana kemari menata baju dan celana panjangnya dan kemudian menuju jendela memandangi kota batam di malam hari.
Kulihat punggung dan belahan pantatnya yang terlihat gempal dihadapanku sehingga beberapa kali aku menelan ludah menahan rasa "inginku"...
"Woi mandi sana... ntar gantian..."
Dia berbalik, "Kenapa musti gantian?...".
Aku kaget dan terperangah mendengarnya, dia langsung mendekatiku dan kulihat tonkolan dibalik celana dalam skinnynya tercetak jelas seakan menghipnotis aku. Akupun menyanyanggupinya...
Kuisi bathtube penuh dengan air hangat dan kumasukan shower gel kedalam bak itu lalu kami pun berendam selayaknya pasangan pengantin baru. Aku duduk bersandar dan dia didepanku, kuelus punggungnya dadanya yang bidang, puting susunya kuelus mesar sambil sesekali kuciumi rambutnya dan daun telinganya.
Dia pun menoleh kebelakang dan mendekatkan bibirnya ke bibirku dan kami pun terlibat dalam ciuman yang sangat mendalam, sensual dan romantis itu. Sambil sesekali kugapai dan ku kocok penisnya yang sudah menegang dari tadi. Pantatnya yang menduduki penisku sesekali digerakan maju mundur untuk memberikan gesekan lembut. Ah... indah sekali malam itu.
Setelah kami puas berciuman, gaya-gaya nakal dalam imajinasi kami berdua mulai muncul.
Kuangkat tubuhnya dan aku suruh dia tidur terlentang sambil kuangkat kedua kakinya sehingga terlihat jelas olehku lubang anus nya... Kujilat buah zakarnya yang tidak terlalu banyak ditumbuhi bulu dan jilatanku bermuara di lobang anusnya...
"Ah... ahh... hmmm...", Andi pun mengerang kenikmatan.
"Masukan jari mu tio...", pinta andi.
"aku pun langsung memasukan lidahku ke dalam lobang anus itu sambil sesekali aku hisap...", dan Andi pun terusa meracau.
"Sialan... nikmat bgt tio... ah... hmmmm..."
Aku pun semakin liar kumasukan 2 jariku sekaligus ke anusnya dan mengeluar-masukannya untuk melemaskan otot2 anusnya.
"Fuck me tio!..", teriak andy.
Nampaknya andi sudah terbakar gairah dan langsung kuangkat tubuhnya lalu kubopong dan langung kulempar kekasur.
Kutindih badannya yang berotot, kuciumi bibirnya sambil sesekali aku cium leher dan piting susunya.
Penisnya yang sudah sangat tegang tak luput dari hisapan ku, aku oral habis penisnya... yang sangat kekar dengan urat-urat nya yang napak jelas keluar nampak kokoh dan perkasa.
Lansung aku angkat pinggilnya dan kumasukan penisku perlahan ke anusnya... dengan gaya konvensional bibir kami terus berciuman, kakinya melinggkar dipinggangku dan tangan Andi meraba punggung dan sesekali meremas pantatku... aku gerakan maju pundur pantatku, penis ku menikmati jepitan anusnya yang ough... sungguh nikmat, erangan kami saling berbalas dan suara khas bercinta tak henti-hentinya mengiringi gerakan maju mundur penis ku... sampai akhirnya gerakanku semakin cepat seiring terlihatnya puncak kenikmatan kami berdua, Andi pun mulai mempererat pelukannya dana kahirnya...
"Ahhhh...", kami sama-sama mencapai klimaks .
Setelah itu kami pun melanjutkan mandi bersama dan akhirnya beristirahat sampai pagi menjelang. Malam itu menjadi malam terakhir dan sekaligus menjadi malam terindah bagiku.
Langganan:
Komentar (Atom)