Sewaktu gue sedang asik-asiknya ngelamunin tentang tugas gue yang pertama ini
setelah gue dapat promosi sebagai Direktur Niaga disebuah perusahaan yang
bergerak dibidang kepelabuhanan untuk bernegosiasi dengan PSA soal pengaturan
jalur container Singapore-Jakarta, tiba- tiba ada tangan nyolek punggung gue dan
suara yang mengagetkan gue....., tapi setelah gue berpikir sebentar koq rasa-
rasanya gue kenal suara itu......, pas gue lihat siapa si pemilik tangan dan
suara itu......, gue kaget setengah mati....., mungkin hampir mati.., soalnya
gue langsung ngebayangin kejadian sekitar 2 1/2 tahun yang lalu, waktu kantor
gue masih di Wisma Nusantara di lantai sembilan, gue pernah naksir berat bahkan
mungkin lebih dari naksir berat sama cewek item manis, agak kurus, punya bibir
dan senyum yang sensual banget serta punya nama mirip dengan bini gue (sekarang
udah ex).....Renata..............!!!!!!!!!
Gilee......, terakhir gue ketemu sama dia waktu dia pulang di bulan Desember
karena kakaknya kawin, dan itupun hanya satu kali aja. Soalnya sejak dia balik
lagi ke Amrik sono, gue udah jarang banget kontak dia, sampai dengan my divorce
and up til now..she showed up in front of me wearing a white tight t-shirt and a
tight faded- blue jeans pants (I always think that this kind of outfit is her
favourite one...)"Hey, Agus...apa khabar....??"tanya dia sambil memamerkan
giginya yang berjajar rapi."Eh,...uh....baik..."jawaba gue datar meskipun sambil
tersenyum, soalnya gue kaget bercampur excited ketemu dia sekarang ini."Lagi
ngapain di sini...?" lanjut gue sambil berusaha untuk menenangkan hati gue yang
nggak karuan ini ketemu my dream girl (maklum udah lama jadi "duren" alias duda
keren, he...he..!) "Gue lagi liburan aja sendirian, soalnya abis lulus waktu itu
gue belum sempat liburan dan abis dari sini gue musti balik ke Jakarta untuk
kerja, jadinya....ya gue pake kesempatan ini utk jalan-jalan sendiri....., kan
elu tau gue, Gus...." Rena nyerocos kaya senapan M 16 ngejawab pertanyaan
gue."Elu sendiri ngapain kesini....?" tanyanya yang terus gue jawab apa adanya.
Setelah saling cerita tujuan masing- masing ke Singapore ini dan sekaligus
membawa tas masing-masing dari bagage claim Changi Airport itu, terus pas sampai
di depan airport sambil ngantri nunggu taxi gue iseng nanya "Ren, nginep dimana
lu...?" Terus dia cuma senyum sambil jawab "Kenapa emangnya....?"."Nggak, kalau
elu nggak ada tempat nginep, elu ke kamar gue aja, kebetulan kantor udah
ngebokingin kamar Suite Room di Marriot Hotel..."gue berusaha untuk menawarkan
sambil basa- basi sedikit. Terus dia cuma ketawa lepas dan renyah seolah-olah
tanpa beban menjawab "Yang pastinya sih gue udah boking kamar juga....,
cuma......" kalimatnya berhenti sambil matanya berusaha membuat gue yang nerusin
kalimatnya. Melihat gelagat seperti ini gue langsung tanggap "Udah deh sama gue
aja, lagi pula elu belum bayar apa-apa kan dengan hotel pesanan elu itu.....,
lagi pula,....eh.....kita dulu pernah ingin buka kamar di Jakarta cuma belum
pernah kesampaian,...jadinya ya sekarang aja..., ya....."ajak gue dengan penuh
antusias. Body language gue dengan jelas nunjukin banget bahwa gue ingin banget
bareng ama dia. Langsung dia jawab "OK...."
Setelah dapat taxi, selama dalam perjalanan menuju hotel, gue sama Rena banyak
tukar cerita sampai nggak terasa kalau sudah sampai di Marriot Hotel di
persimpangan Orchard Road dengan Scotts Road itu. Setelah gue chek in bareng
sama Rena dan sampai di kamar 503 gue lihat jam gue nunjukin waktu hampir jam 6
sore waktu Singapore, gue langsung bilang sama dia "Ren, gue mandi dulu, ya....
abis gue, ..elu mandi terus kita jalan- jalan sekalian
diner...OK...?"."Siiipp...lah...!"jawabny a sambil mengambil posisi tengkurap di
tempat tidur sambil menonton tivi.
Waktu di Singapore sudah hampir jam 9 malam pada saat gue berdua Rena sepakat
untuk balik ke hotel karena sama-sama capek setelah makan malam dan jalan-jalan
disepanjang Orchard Road sambil ngobrolin segala macam topik, mulai dari yang
serius sampai dengan hal-hal yang "garing" (istilahnya dia untuk bilang sesuatu
yang aneh tapi lumayan lucu) dan memutuskan untuk nongkrong di cafe atau disco
besok malam setelah gue selesai meeting hari pertama besok.
Begitu sampai di kamar gue udah terlalu capek untuk ganti baju dikamar mandi,
akhirnya gue bilang "Ren, sorry gue males ke kamar mandi untuk ganti baju,
jadinya gue ganti baju disini aja ya...." dan tanpa gue tunggu jawabannya gue
langsung buka kaos dan celana jeans gue untuk ganti dengan kaos khusus untuk
tidur dan celana pendek (cuma berhubung ada Rena di situ gue nggak buka CD alias
celana dalam.....). Sementara itu, begitu dia tau gue ganti baju di depan mata
dia, dia cuma tersenyum sambil bilang "Siapa takut...." tapi sambil berusaha
untuk tidak melihat secara langsung kearah tonjolan di daerah selangkangan gue.
Gue cuma berpikir satu hal, yaitu kayaknya dia kagum ama junior gue itu cuma
masih malu untuk bilangnya ke gue. Untuk hal yang satu ini gue emang nggak perlu
GR karena sudah terbukti, lho..... bahwa cewek yang udah pernah tidur sama gue
pasti kagum dan puas dengan servis gue meskipun punya gue ini bisa dikategorikan
rata-rata cowok Indonesia tapi yang penting adalah bagaimana cara
menggunakannya, if you know what I mean....!!!!
Setelah gue ganti kaos dan celana pendek, gue langsung rebahan di tempat tidur
berukuran King size itu sambil nonton tivi yang kemudian disusul oleh Rena
sambil bilang "Elu nggak akan jahat kan sama gue....??"."Jahat maksud elu yang
kayak apa...?" gue mencoba untuk mancing pembicaraan dia tapi kayaknya dia ini
cukup misterius juga untuk masalah perasaan dia thd gue. Karena terus terang gue
sampai saat ini selalu ragu-ragu untuk menebak perasaan dia terhadap gue, dalam
artian dia itu suka juga ama gue atau hanya sekedar berteman........
Akhirnya setelah agak bosan dengan acara tivi, tiba-tiba dia bilang "gue boleh
ganti baju didepan elu nggak.....?" tanyanya dengan suara setengah berbisik. Gue
agak kaget dengar dia tanya seperti itu, meskipun berusaha gue untuk cuek dan
seolah terbiasa dengan one-night stand affair, gue menjawab "Siapa takut...."
sebagaimana komentar dia waktu gue ganti baju tadi..dan Rena langsung berdiri
dipinggir tempat tidur sambil buka baju membelakangi gue, terus dia sambil
ketawa tersipu bilang "eh,...baju tidur gue belum diambil dari koper..." sambil
berlari kecil menuju kopernya untuk mengambil baju tidurnya itu. Nah,... sewaktu
dia lari itu gue sempat lihat bodynya yang kurus (dan rasanya lebih kurus dari
waktu dia masih di Jakarta dulu) tapi tonjolan dibalik BHnya itu yang bikin mata
gue kagak bisa berkedip....!!! Her breast ini bisa dibilang cukup average untuk
ukuran cewek Indonesia, tapi dari getarannya waktu dia lari itu bisa dibilang
nyaris tak bergetar. Gue langsung ngebayangin that those breasts are quite firm
dan gue nggak bisa ngebayangin gimana rasanya tangan gue yang meremas dua bukit
yang kencang itu sambil gue mainin putingnya......wow....that should feels
wonderful....!
"Agus..., koq punya elu itu jendolannya jadi gede banget....?" tanyanya sambil
bola matanya menunjuk kearah penis gue sekaligus membuyarkan lamunan gue tentang
gunung nona Rena itu. Gue malu buuaaangeeettt waktu dia tunjukin bahwa penis gue
udah membengkak dan keras dan itu terlihat meskipun gue pake CD dan celana
pendek......semua itu gara-gara lamunan gue tadi nih.....sampai-sampai gue nggak
sadar kalau dia udah selesai gnati baju dengan big t-shirt sampai dengan pahanya
dan tidak memakai celana pendek atau celana panjang lagi, tapi dalam keadaan
seperti itu, gue masih sempat ngeles "iya nih, gue nggak kuat ngeliat a sensual
and sexy girl liwat didepan mata gue half naked......" gue berusaha untuk jujur.
Kemudian Rena bergeser mendekati tempat gue rebah sambil bilang "gue suka gaya
elu yang hampir selalu straight to the point..., makanya gue juga mau straight
to the point sama elu....". Lalu dia mendekatkan mukanya ke muka gue dengan
maksud untuk mencium gue dan tanpa pikir panjang lagi langsung gue sambut ciuman
dari bibir yang sensual itu dengan kecupan demi kecupan dan langsung menjadi
french kissing seolah-olah melampiaskan rindu kita berdua yang selama ini
tertahan. Yang jelas selama ini gue selalu mengharapkan kejadian seperti malam
ini bisa berlangsung tanpa harus punya perasaan segan karena status gue yang
berbeda dengan statusnya dia dan gue rasa dia juga punya perasaan yang sama.
Sambil menciumi hampir seluruh mukanya, tangan gue mulai bergerak menuju
ketempat-tempat sensitifnya, seperti payudaranya yang sungguh diluar dugaan gue
bahwa itu merupakan daerah yang paling sensitif buat dia. "Oooohhh....." erangan
halus yang terdengar dari mulutnya menandakan dia menikmati remasan tangan gue
di payudara kanannya. Sementara itu, tangan kirinya berusaha untuk membuka
kancing dan resleting celana pendek gue dan pada saat yang bersamaan, tangan
kiri gue menyelusup masuk ke dalam kaos tidurnya Rena untuk mencari puting
payudara kirinya. "Aaaaaahhhhh......Agus nakal banget sih....."katanya sambil
matanya hanya terlihat putihnya saja begitu tangan kiri gue berhasil memainkan
puting susu kirinya. "Oohhh...Ren...gue suka banget....sshhhh....aaahhh..."
begitu tanganya berhasil juga menyusup ke dalam CD gue dan langsung memegang
batang penis gue sambil diusap-usap secara perlahan.
Sambil mengusap-usap penis gue, dengan setengah berbisik "Gue isep ya,...boleh
nggak....?" sambil melirik ke arah penis gue. Tentunya dengan senagn hati gue
terima tawarannya itu yang terus terang bikin darah diseluruh badan gue mengalir
dengan cepat sekali. Gue bantu dia untuk melepas CD gue dan setelah itu, gantian
gue yang bantu dia untuk buka kaosnya... dan......, wooops......langsung gue
melotot melihat payudaranya yang kencang dan menantang itu. Merasa cara gue
melihat badannya dengan cara seperti itu, dia langsung berusaha menutup dadanya
sambil berkata tersipu "..Eh...,..apaan sih elu ngeliatnya kayak gitu..."."
Sorry, I just love the view..." jawab gue sambil mencium bibirnya dan tangan gue
juga langsung meraba payudaranya dan disambut dengan desahan nikmat yang keluar
dari mulutnya...
Tiba-tiba dia melepas ciuman gue dan mengarahkan mukanya langsung ke penis gue
sambil dipegang batangnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya
mencoba untuk menjangkau bola-bola gue dan sekaligus meremasnya dengan lembut.
Seeerrrrrrr..., perasaan gue mendadak terbang begitu kepala penis gue
bersentuhan dengan bibir sensual itu dan masuk kedalam
mulutnya."Ooohhhhh....."hanya itu yang bisa keluar dari mulut gue sambil gue
merebahkan diri gue dan membiarkan kaki kanannya melewati diatas kepala gue,
sehingga dihadapan gue terpampang spot basah di CD mini hitamnya yang gue yakin
itu berasal dari vaginanya. Tanpa ragu gue singkap CDnya sehingga gue bisa
melihat dengan jelas bibir dan lubang vaginanya yang berwarna merah kecoklatan
dan terlihat sudah basah itu. Setelah itu gue buka kedua bibir vaginanya dengan
kedua jempol gue sehingga dengan jelas clitorisnya (meskipun sudah disunat) dan
langsung gue jilat mulai dari clitorisnya sampai lobang vaginanya seperti gue
menyapu daerah itu dengan lidah gue, sementara penis gue udah berdiri tegak
dikuasai sepenuhnya oleh Rena. Yang jelas gue cuma ngerasa bibirnya naik turun
menjelajahi batang penis gue, sementara lidahnya menjilati lubang penis gue
sewaktu bibirnya menjempit kepala penis gue.
Pikiran gue saat itu adalah kalau dia bisa servis gue dengan hebatnya, gue nggak
boleh kalah ngasih servis yang sama hebatnya. Gue jilatin vagina Rena sambil gue
isep clitorisnya dan setiap gue isep gue bisa ngerasain seluruh badannya
bergetar seperti orang kesetrum. Kurang lebih lima menit kita dalam posisi 69
gue ngerasa badan dia bergetar lebih keras dan dia mengehentikan gerakan
bibirnya yang naik turun di penis gue pertanda dia akan mencapai klimaks.
Langsung gue jilatin clitorisnya dengan lebih cepat sambil sesekali gue isap.
"Mmmmmmmmbbbbbhhhhh......." suaranya seperti itu karena dia nggak mau lepas
penis gue dari mulutnya berbarengan dengan getaran seluruh badannya dengan lebih
keras. Gue ambil inisiatif dengan langsung mengisap clitorisnya kuat-kuat sampai
pipi gue kempot. Mulut gue yang dari sejak mulai menjilati vaginanya itu sudah
basah oleh cairan dari kemaluannya bertambah basah dengan klimaksnya Rena. Gue
bisa ngerasain cairannya yang manis asin itu dilidah gue dan terus terang gue
suka banget dengan rasanya itu...
Untuk beberapa detik, badannya masih bergetar hebat namun mulai melemah sewaktu
dia melanjutkan menaik-turunkan bibirnya di batang penis gue, sementara gue
menjilati seluruh cairan vaginanya sampai bersih. Tiba-tiba dia mengangkat
pantat dan memutar seluruh badannya kearah diantara kaki gue, sehingga dengan
jelas gue bisa melihat kepalanya naik turun diatas penis gue sambil sesekali gue
lihat dia menjilati kepala penis gue sambil melihat ke muka gue seolah ingin
tahu ekspresi muka gue sewaktu dia jilati kepala penis gue itu. Tangannyapun
ikut mengocok batang penis gue sehingga hal ini mempercepat gue mencapai
klimaks. Satu menit berlalu dan gue udah nggak kuat untuk membendung cairan yang
akan segera muntah dari lubang penis gue."Aaaahhhhhhhh......Rena..sebentar lagi
gue mau keluar...ssshhhhhh". Mendengar itu dia langsung mempercepat gerakan
mulut dan tangannya sambil tangan yang satunya tetap meremas lembut bola- bola
gue."Ooohh...Rena..gue mau keluar sekarang......aaaaaaahhhhhhhhhhh....!!!!! "
teriak gue dan ccrrrooooottt....ccrrrooottttt, air mani gue menyemprot keluar
dengan deras didalam mulutnya Rena yang tanpa rasa jijik ditelan semuanya. Badan
gue bergetar hebat berbarengan dengan Rena yang masih terus menyedot-nyedot
penis gue seolah ingin menghabiskan seluruh air mani gue dan tidak rela ada yang
menetes keluar dari mulutnya.
Gue liat gerakan kecil di lehernya pertanda dia betul-betul menelan seluruh air
mani gue tanpa menyisakan sedikitpun di penis gue. Setelah itu dia jilatin
kepala penis gue sepertinya masih ada air mani yang tersisa untuk dia.
Wooowww.....gile bener ni cewek, baru kali ini gue ketemu cewek Indonesia yang
suka air mani, karena selama ini gue pikir cewek Indonesia paling jijik dengan
hal-hal seperti itu. Setelah dia yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa maka
dia baru menjauhkan mukanya dari penis gue yang mulai melemah. Langsung gue
tarik kedua tangannya ke arah gue dengan tujuan biar bisa gue peluk.
Sekarang badan dia seluruhnya menindih badan gue sambil gue ciumin bibirnya
sebagai tanda rasa terima kasih gue sama dia. Setelah itu, dia menggulirkan
badannya ke sebelah kiri gue sambil bilang "Suka nggak....?"."Gue nggak tau
musti bilang apa, Ren..... yang jelas gue nggak pernah ngerasain klimaks seperti
barusan..."jawab gue sambil masih terengah-engah."Elu sendiri suka nggak,
tadi....?" tanya gue ingin tau perasaan dia, sambil tersenyum (gue juga suka
banget sama senyumnya itu) dia jawab "Sama, Gus... gue juga belum pernah
ngerasain klimaks seperti tadi......"
Setelah posisi 69 itu, gue sama dia sama- sama rebahan di balik selimut sambil
nonton tivi. Rena hanya masih pake CDnya dan gue cuma pake t-shirt doang karena
udah males utk ngambil pakaian kita yang berserakan di samping tempat tidur itu.
Komunikasi diantara kita secara verbal memang nggak ada, tapi yang jelas sejak
kita selesai ber69 itu, gue langsung pegang tangannya seolah-olah gue nggak mau
jauh dari dia. Shit...what the hell am I thinking of ? pikir gue, belum apa- apa
gue udah kayak orang lagi kasmaran. Kenapa gue jadi kayak begini, masa selama
ini gue bisa bertahan untuk jaga betul hubungan dan perasaan gue dengan cewek-
cewek yang pernah gue ajak kencan, kenapa dengan yang satu ini koq jadinya kayak
gini.....??? Ah, mungkin ini karena dari dulu setiap gue jalan sama dia ke kafe-
kafe (terutama Hard Rock) gue lebih banyak pasif dan menunggu, sehingga
keinginan gue ini kayak terpendam begitu aja dan baru terlampiaskan malam ini.
Well..., we'll see....!!!
"Rena,....can I ask you a question..?" tanya gue dengan agak berhati-hati, terus
dia hanya melirik ke gue sambil tersenyum dan dengan tangannya dia membelai muka
dan rambut gue dengan halus dan kasih sayang "Elu mau nanya apa..,Gus..?". "Gue
mau ceritain perasaan gue selama ini terhadap elu tapi nggak tau gue harus mulai
dari mana....., dan gue paling nggak bisa bilang basa-basi ama elu,
jadi............eh...........would you like to make love with me.....?" ups...
akhirnya keluar juga omongan gue itu...., padahal dari dulu gue udah berusaha
untuk nggak ngomongin hal itu ke dia, tapi sekarang ini kayaknya udah terlambat
untuk disesali jadi, ya what the heck lah......!! Gue lihat ekspresi muka dia
sempat berubah tapi terus kembali biasa lagi "Gue mau aja make love sama elu,
tapi sebelum itu gue pengen nanya apa elu udah tau gue dalam artian tau gue
bener- bener...??". Gile, what a tough question, gue berpikir sebentar, lalu
"Emmm..... mungkin tau yang sebenar-benarnya enggak.., tapi sekarang ini
kesempatan gue untuk tau lebih banyak tentang elu kayaknya lebih besar
deh...dibandingin dulu..". Fiuuhhh...kayaknya jawaban gue cukup logis dan
mudah-mudahan bisa diterima. "Sama satu hal yang dari dulu sebenarnya ingin
banget gue tanya ke elu,...eh...gimana sih sebenarnya perasaan elu sama gue,
maksud gue elu itu sebenarnya suka juga nggak sama gue dalam artian ingin yang
lebih serius atau hanya sekedar teman jalan aja sih.....?" tanya gue mumpung
momentnya tepat. "Gue nggak tau elu perlu jawaban gue apa enggak......" katanya
berhenti sampai disitu karena dia udah langsung narik leher belakang gue ke
arahnya untuk mencium gue. Gile ini cewek bener-bener nggak bisa ketebak jalan
pikirannya, tapi gue udah nggak bisa mikir lebih jauh lagi soalnya konsentrasi
gue langsung buyar begitu ngerasain lidah gue disedot kencang banget sama Rena.
Pikir gue dalam hati "She's really a good french kisser..". Sementara itu
sekarang ini separo dari badan gue menindih badan dia sambil tangan gue
meremas-remas payudaranya yang imut-imut itu. Setelah puas gue cium bibirnya,
pelan-pelan gue mulai menciumi pipinya, kemudian lehernya, bahunya dan sampai di
payudaranya kanannya, gue ciumin mulai dari atas bergeser pelan-pelan sambil gue
julur lidah gue sehingga ujung lidah gue bersentuhan dengan kulitnya sementara
tangan gue menyempatkan untuk membuka CD mini hitamnya dan menariknya sampai ke
lutut Rena.
Begitu ujung lidah gue bersentuhan dengan puting mungil dan menonjol itu
terdengar suara desahan dari si pemilik puting itu "Heeehhhhhhh......Agus....gue
suka banget......." katanya sambil berusaha meremas rambut gue tapi nggak bisa
soalnya rambut gue cepak gaya ABRI. Akhirnya dia cuma bisa membantu membenamkan
kepala gue ke payudaranya itu, sementara tangan kanan gue sedang asik bermain
dengan puting susu kirinya yang juga mungil dan sudah menonjol itu. Posisi kaki
kanan gue sekarang sudah berada diatas paha dan perut bagian bawahnya. Terasa
oleh gue bulu-bulu halus dan rapih serta tidak terlalu lebat di bagian bawah
perutnya. Gue isep putingnya sambil sesekali gue jilatin. Lalu tangan kanan gue
yang semula bermain dengan puting kirinya sekarang berpindah mengusap perutnya
perlahan dan turun ke rambut-rambut halus diatas vaginanya itu gue mainin
sedikit dengan mengusapnya. Terus perlahan jari gue gue turunin ke arah
vaginanya dan berusaha menemukan clitorisnya. Begitu gue menemukan apa yang gue
cari, maka jari-jari gue mulai main dengan clitoris dan lubang vagina yang
memang sudah mulai basah. Semua yang gue kerjain ini berdampak bagi Rena
mengalami kenikmatan yang tinggi. Hal ini terbukti dari goyangan maupun gerakan
serta getaran yang yang ditunjukkan oleh badan Rena yang tight and firm itu
mulai meningkat.
Gue betul-betul kagum sama bodynya dia, meskipun jarang berolahraga (menurut
pengakuannya) badan dia mulai dari tangan, punggung, perut, dada, paha dan betis
kelihatan kencang dan tanpa lipatan-lipatan lemak. Padahal yang gue tau makannya
sih normal-normal aja tuh, tapi emang itu namanya body memang oke punya....
Sementara gue sibuk dengan aktifitas diseputar payudara dan vaginanya, tangan
dia mulai meraih penis gue yang memang masih dalam kondisi lemas. "Agus, buka
kaos elu, ya......." katanya sekaligus membantu gue untuk buka kaos gue. Setelah
kaos gue lempar entah kemana, gue lanjutin dengan menciumi perutnya yang rata
itu. Rena menyambutnya dengan mengusap-ngusap kepala gue tanda benar- benar
menikmati apa yang gue kerjain ke dia sementara tangan satunya tetap pegang
penis gue dan pelan-pelan mengocoknya. Perjalanan gue terusin dengan pelan-pelan
gue geser muka gue ke arah persis didepan mulut vaginanya dan badan gue pun gue
geser kearah diantara kedua kaki Rena, hal ini mau enggak mau dia harus melepas
penis gue. Kepalanya diangkat sedikit agar bisa melihat muka gue yang sedang
sibuk mengagumi vaginanya itu. Gue angkat sedikit pantatnya biar vaginannya
lebih gampang terjangkau oleh lidah gue yang sekarang ini sedang menjilati
clitoris Rena. Setiap ujung lidah gue menyentuh clitorisnya itu, setiap saat itu
pula gue ngeliat kepalanya digoyang kekiri dan kekanan sementara kedua tangannya
berusaha untuk menjangkau dan memegang tangan gue seolah dia butuh sesuatu untuk
dia remas. Begitu tangannya berhasil memegang tangan gue, langsung dia pegang
tangan gue begitu erat. Pegangannya bertambah erat kalau pas lidah gue sedang
"menampar" clitorisnya itu berulang-ulang dengan ujung lidah gue.
"Ooohhhhh...ssshhhhhhttsss.....oh..yaaa.. ..teruuusssss....!!!" hanya
suara-suara kenikmatan itu aja yang gue denger dari mulutnya. Gue masih terus
menjilati clitorisnya dan kadang-kadang lidah gue menjelajah turun sampai ke
lubang vaginanya yang kadang-kadang gue coba penetrasi ke dalam lubang itu
dengan lidah gue. Gue nggak tau apakah memang vaginanya itu tidak memiliki aroma
khasnya atau memang gue udah terlalu nafsu, sehingga indra penciuman gue agak
rusak, soalnya sewaktu idung gue persis didepan lubang kewanitaannya itu, gue
sama sekali enggak mencium apa-apa.
"Aaahhhhh.....Aguusssss.......gue ssukkaaa bangeeett....!!"desahannya buat gue
semakin bertambah nafsu untuk lebih memfokuskan lidah gue ke clitorisnya,
sementara itu kepalanya masih tetap digoyang kekanan dan kekiri, meskipun
kadang-kadang dia mengangkat kepalanya untuk melihat "keadaan" gue. Selagi
asiknya menyapu daerah kewanitaannya itu, tiba-tiba gue ingin bikin dia terkejut
dengan menarik mulut gue menjauhi vaginanya dan sekaligus berhenti menjilati
clitorisnya. "Eh.....??" begitu katanya sambil mengangkat kepalanya dan melihat
ekspresi muka gue seolah ingin tahu alasan gue untuk memberhentikan kegiatan gue
yang betul-betul dia nikmati. Gue bisa melihat itu dari eskpresi mukannya yang
sedang keheranan. Tapi keheranannya itu tidak berlangsung lama karena gue
langsung tarik kedua tangannya untuk mengajak dia bangun dan turun dari tempat
tidur dan sambil gue pegang tangannya gue tuntun dia menuju sofa (two-seater)
yang kebetulan posisinya dekat sekali dengan jendela. Gue tuntun dia untuk duduk
dengan posisi pantatnya berada dipinggir sofa. "Elu merasa comfortable,
nggak...." tanya gue memastikan bahwa posisinya itu enak buat dia. Jawaban yang
gue dapat hanya anggukan kecil kepalanya dan senyum yang nggak pernah bosen gue
lihat. Terus gue angkat kedua pahanya tinggi supaya posisi vaginanya pas di
depan gue. Gue mengambil posisi duduk dibawah dengan kedua kaki gue berada
dibawah pantat gue, langsung gue garap kembali proyek yang tadi sempat gue
hentikan.
"Elu pengen sambil gue isep nggak, Gus...??" tanyanya diantara desahan nafasnya
yang seolah-olah habis lari marathon Bogor-Jakarta. Gue nggak perlu menjawab
pertanyaan itu karena gue cukup mengelengkan kepala gue sementara lidah gue
menyentuh clitorisnya seiring dengan gelengan kepala gue itu tadi, sehingga gue
bisa lihat kepalanya kembali dia sandarkan kembali ke sandaran sofa empuk itu.
"Aaaahhhhh....gile..lu...., ooohhh..yaaa.....hhhssssttssss.." kembali hanya
desah kenikmatannya itu aja yang gue dengar kurang lebih selama lima menit
sampai dia bilang lagi "Oooohhhhh....Agguusss....aaooooouuuuwww.
..iya..iya...iya..." sambil ikut menggoyangkan pinggul dan pantatnya yang
semakin cepat dan semakin cepat sampai tiba-tiba tangan gue di remas kuat sekali
dibarengi dengan getaran tubuhnya yang menggila
"...Aaaahhhhhh....yes...yesss...sssssshhh hhh" teriaknya pertanda dia sedang
mencapai puncak kenikmatannya. Setelah seluruh badannya melemah kembali, dia
langsung bangun dari posisi setengah tidur itu dan langsung berusaha untuk
berdiri (meskipun dengan agak sedikit terhuyung-huyung...). "Haahh...gile lu,
gue malam ini sampai dua kali orgasme, ....sampai-sampai rasanya peredaran darah
gue terlalu cepet beredarnya...ha..ha...!!!!" katanya diiringi dengan tertawa
renyah sambil tetap berpegangan dengan tangan gue.
Lalu dia menuntun gue untuk duduk di sofa itu dengan dia berada diantara kedua
kaki gue dengan posisi duduk. Sewaktu tangannya memegang penis gue yang masih
tegak (apalagi sekarang tegak keatas...) dia agak heran dan bertanya "Lho koq
masih keras aja sih, padahal kan belum diapa-apain...??" sambil melirik dan
tersenyum menggoda. Lalu pelan-pelan dia kocok batang penis gue sambil dilihat-
lihat seperti anak kecil yang sedang mengagumi mainan barunya. "Koq ngeliatnya
kayak begitu amat sih....?" tanya gue penasaran. "Enggak cuma suka aja ngeliat
punya elu...., gemes gue ngeliatnya....." katanya sambil membuka mulutnya dan
langsung melahap penis gue yang memang udah keras sejak tadi. "Oooohhhh......"
gile bener rasanya waktu penis gue masuk kedalam mulutnya sambil tangan gue
memegangi rambutnya supaya tidak menghalangi pemandangan gue sewaktu dia ngisep
penis gue. Kayaknya dia tau persis bahwa my favorite sex activity adalah a girl
giving me a blow job....!!!!!! Buktinya setiap kali bibirnya bergerak naik gue
bisa lihat pipinya sampai kempot dan sedotannya betul-betul bisa mempercepat air
mani gue untuk keluar. Padahal biasanya untuk setiap ronde kedua gue lebih kuat
dan lama dibandingkan ronde pertamanya. Akhirnya daripada gue kebobolan duluan
lebih baik gue langsung bilang ke dia "Ren,...gue udah nggak tahan nih...eh,
boleh gue masukin nggak....???". Lalu dia menarik mulutnya dari penis gue dan
bilang "Iya, nih....gue juga udah nggak tahan,...I want something hard inside
me......". Begitu mendengar dia bilang seperti itu, langsung penis gue
berdenyut-denyut seiring dengan detak jantung gue yang sekarang ini hitungannya
sudah seperti habis lari marathon 10 km.
Gue langsung bimbing dia untuk kembali ke tempat tidur, dimana dia langsung
mengambil posisi terlentang dan dengan demikian gue bisa langsung menindih dia
sambil gue cium bibirnya yang betul-betul menggoda iman......!! Sementara itu,
tangan gue sedang memegang penis gue untuk mengarahkannya ke lubang kenikmatan
milik Rena itu. Untuk mempermudah penetrasi penis gue itu, gue buka kedua paha
Rena dengan kedua paha gue sehingga posisi gue ini sekarang udah kayak gaya
kodok mau loncat. Untuk mempertemukan kepala penis gue dengan lubang vagina Rena
yang sudah basah sekali itu, gue nggak perlu ngeliat lagi kebawah, tapi cukup
dengan "petunjuk" dari kepala penis gue yang memiliki "jam terbang" yang tinggi
sehingga dengan mudah namun tetap perlahan-lahan masuk sambil melihat eskpresi
muka Rena yang sedang menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. "Rena,
are you still a....?" gue nggak terusin pertanyaan gue karena sudah keburu
mendapat anggukan dari dia sambil tetap merem dan gigit bibir. Shit.....langsung
otak gue berpikir keras, karena harus menentukan gue terusin atau enggak
penetrasi gue ini. Kalau gue ikuti akal sehat gue, maka gue nggak boleh lanjutin
sebab gue harus menghargai virginity-nya karena harusnya dia berikan di malam
pertama dengan suami pilihannya tentunya..., tapi kalau gue ikuti nafsu gue,
maka gue harus betul- betul menghormati dia karena dengan gue dia mau ngasih
virginity-nya itu sekarang ini, padahal gue dengan dia rasanya belum bikin
komitmen apa-apa tentang hubungan kita berdua. What the fuck am I doing
now...why does she want to do it with me now...?? Is it because she likes me
alot and knows that I am a widower now.....??
"Ayo, Agus masukin aja sekarang....." katanya dengan nada setengah memohon
membuyarkan pikiran gue dan gue pikir "emangnya gue pikirin, fuck my
conciuousness...!!", dan langsung gue dorong lagi penis gue ke dalam vaginanya,
sehingga terdengar erangan setengah sakit dan setengah nikmat..
"Aouuuwww....sssssshhhhhhhhhhsssttttssss. ...." desisnya bikin gue bukannya jadi
kasihan, tapi malah tambah dalam gue dorong penis gue sampai seluruhnya masuk
kedalam vaginanya. Sesaat gue lihat ekspresi mukanya menegang, meskipun dalam
keadaan merem dan tetap menggigit bibirnya. Lalu gue stop total semua gerakan
yang barusan gue kerjain supaya dinding-dinding vaginanya dapat menyesuaikan
diri dengan penis gue sambil gue bisikin "Sakit.., ya..., gue diemin dulu ya
sekarang sambil elunya rileks dulu...". Dia setuju dengan ide gue itu dan
mengangguk. Untuk beberapa detik posisi gue berada diatas badannya Rena dengan
tidak melakukan suatu gerak apapun (kecuali bernapas..., itu pun terengah-
engah...!!!), sampai akhirnya dia menarik kepala gue dan didekatkan kemukanya
untuk mencium gue dan tentunya gue sambut pula ciumannya itu sekaligus dengan
mulai menggerak-gerakkan penis gue keluar masuk vaginannya secara perlahan-lahan
namun dalam. "Oooohhhh...iyaaa......ooohhhh...Reeennna aa......" desahan gue
menikmati betul setiap milimeter dari dinding-dinding vaginanya yang sekarang
ini sedang memijat-mijat batang penis gue setiap penis gue masuk jauh kedalam
vaginanya. Gue nggak tau apakah karena ini terjadi karena ketegangannya (maklum
baru pertama kali..) atau karena memang dia udah menjadi ahli dalam hal
menggerakkan otot perutnya sehingga dapat mengatur "jalannya permainan".... Tapi
yang jelas adalah bahwa gue betul betul menikmati vaginanya itu, apalagi setelah
mukanya mulai mengendur (tidak tegang seperti baru gue masukin tadi...) dia
mulai menikmati sodokan yang gue berikan pada vaginanya terbukti dengan
tangannya yang tadi hanya meremas-remas seprei, sekarang mulai berani memegang
pantat gue sambil membantu mendorongnya supaya penis gue betul-betul masuk semua
kedalam vaginanya itu. "Aaaahhhhh.....Agus......enak,...uuhhhhhh " katanya
memberi tanda bahwa dia sekarang sudah bisa menikmati gerakan- gerakan penis gue
didalam vaginanya, sehingga gue mempercepat tempo sodokan gue kedalam vaginanya
sehingga terdengar suara "plok...plok...plok...plok..." yang berasal dari
beradunya pangkal paha kita berdua seiring dengan gerakan gue memompa vagina
Rena yang terus bertambah basah karena gesekan tersebut.
Sekarang gue mengangkat kedua pahanya kedepan sehingga kedua lututnya mendekati
dadanya yang ikut bergetar kecil seiring dengan sodokan nikmat dari penis gue.
Hal ini gue lakukan untuk mempermudah penetrasi gue karena gerakan gue udah
mulai nggak beraturan, soalnya pinggang gue udah mulai pegel (hampir lima menit
gue mompa Rena...). "Ooohh...cepetin Gus.....gue udah mau klimaks nih...!!"
katanya meminta dan tentunya segera gue penuhi permintaannya itu dengan
mempercepat kembali tempo sodokan gue. "Ooohhh....iyaaa....yaaa.....c'monnn....f
uck me harder Agus....yesss...yesss" katanya sambil terus membantu pantat gue
bergerak lebih cepat, sementara gue lihat dia mendongakkan kepalanya ke arah
kepala tempat tidur "Arrhhhhhh....oohhh....ssshhhhhhh....yees ssss....I'm
coming.....aaauuwwww...!" teriaknya berbarengan dengan getaran hebat dari
seluruh tubuhnya itu sambil kedua tangannya mencengkram sekaligus mencakar
pantat gue, sementara gue manfaatkan kesempatan ini dengan gue pompa Rena
secepat mungkin tanpa menghiraukan pinggang gue yang kembali terasa pegel. Untuk
beberapa detik badannya masih bergetar hebat sewaktu tangannya pindah dari
pantat gue ke punggung gue dan langsung menarik gue untuk dia peluk erat-erat
"Oooooohhhhh.......ssshhhhhssssssss...... yyeeeeaaaaasss...uuhhhhh"
lengkingannya mengagetkan gue meskipun tidak sampai membangunkan seluruh
penghuni hotel sambil gue terus pompa vagina gadis yang bernama Renata
itu.....!!!! "Suka nggak barusan....??" tanya gue sambil tanpa hentinya
mengeluar-masukkan penis gue ke dalam vaginanya itu. Terus dia bilang sambil
tetap memeluk gue erat "Uuuhhhhh....gue suka banget, sayang.....". What......,
she called me "sayang", and if I'm not mistaken, this is really her first time
calling me with that name.........perasaan gue langsung berbunga-bunga
(mudah-mudahan gue nggak kegeeran...!!!). Mendengar dia memanggil gue dengan
kata-kata itu, langsung gue tersenyum dan langsung mengulum bibirnya yang
sensual itu (gue nggak inget udah berapa kali gue bilang itu...) sambil terus
memberikan dia kenikmatan dalam setiap gesekan penis gue dengan dinding
vaginanya yang terus berdenyut memijat penis gue. Sementara keringat gue dan dia
udah mulai bercampur khususnya di bagian-bagian yang menempel dengan ketat.
Tiba-tiba gue punya akal untuk mengistirahatkan pinggang gue karena sampai
sekarang gue masih jauh dari ngerasa mau klimaks. Gue cabut penis gue dari
vaginanya dan gue langsung ajak dia untuk bangun dari tempat tidur dan mengajak
dia ke sofa tadi. Gue bimbing posisi dia di sofa itu seperti doggy style
sehingga kedua lututnya berada dipinggir sofa dan kedua sikutnya bersandar pada
sandara kepala/punggung sofa tersebut sehingga dengan posisi seperti ini dia
dapat melihat pemandangan sebagian kota Singapore diwaktu malam (waktu itu
hampir jam 11 malam waktu lokal). Lalu dia kaget waktu gue buka horden tebal dan
tipis yang membatasi pemandangan diluar dilihat dari dalam kamar. "Heh,.....mau
ngapain elu Gus....eh gila elu...elu mau kita dilihat orang....?" tanyanya
setengah nggak percaya dengan kelakuan gue yang aneh itu. Namun Rena sama sekali
tidak bergeser dari tempatnya sewaktu gue berjalan kebelakangnya, malahan dia
menertawakan penis gue yang masih tegak dan kelihatan mengkilat karena cairan
vaginanya bergoyang-goyang sewaktu gue berjalan menghampirinya. Lalu gue tempel
lutut gue ke pinggir sofa dengan mengarahkan penis gue sedikit ke vaginanya gue
lihat pantatnya yang bulat- bulat dan kencang ini benar-benar bikin darah gue
mengalir dengan cepat sekali, sehingga dengan tanpa terkontrol dan cepat sekali
gue masukin penis gue sekaligus sampai seluruh batangnya terbenam didalam
vaginanya. "Aaauuuwwwww.....nafsu bener lu....!!" katanya sambil meringis
menahan sakit yang kemudian hilang sama sekali dan berganti dengan rasa nikmat
yang tiada tara pada setiap pergesekan antara penis gue dan vaginanya.
Sebetulnya hal inipun gue rasakan juga betapa nikmatnya lubang senggamanya Rena
sehingga gue benar-benar lupa kalau pinggang gue tadi sempat pegel, namun
sekarang kembali dalam keadaan fit, sehingga dengan leluasa gue menyodok-nyodok
vaginanya dari belakang. Kayaknya dorongan gue dalam posisi seperti ini jauh
lebih keras dari dorongan gue waktu gue diatas dia tadi dan yang jelas sampai
sekarang gue belum merasa ada tanda-tanda mau klimaks. Tangan gue sesekali
berusaha menggapai payudaranya yang menggantung sambil meremas-remas serta
memainkan putingnya. "Ohhh.....Aguuussss.....gue suka..........." lirihnya
sambil menikmati gerakan tangan dan jari gue bertualang di payudaranya.
Sementara itu gue ngerasa ada sesuatu yang mengenai bola-bola gue yang ternyata
hal itu adalah tangannya yang secara perlahan meremas-remas bola-bola gue.
"Aaaahhhh...Rena.....tangan elu nakal....." kata gue meskipun sebetulnya
menikmati betul remasan-remasan tangannya.
"Ooohhh...sengaja....biar..cepet..keluaaa rr...elunya..." katanya terputus-putus
karena sedang di sodok dengan cepat dan keras oleh gue. Sementara tangan gue
kembali ke posisi awal, yaitu di dipingganngnya sambil membantu menggerak-
gerakkan pinggangnya sesuai dengan gerakan penis gue keluar masuk vaginanya.
Sementara gue juga nggak mau kalah dengan Rena, langsung tangan kanan gue
menjangkau clitorisnya melalui sebelah kanan pinggangnya. Begitu ujung jari
tengah kanan gue menyentuh clitorisnya itu, langsung gue gosok-gosok dan gue
ucek-ucek sambil penis gue tetap melakukan penetrasi terhadap vaginanya.
Ternyata usaha gue itu tidak sia-sia, karena sekarang ini dia kembali mendesah
dan desahannya itu makin lama makin keras. "Ooooohhhh.....elu pinter banget
sssiiiihhhhhh......." katanya pertanda dia menyukai aktifitas jari dan penis gue
secara berbarengan ngerjain vaginanya yang basah banget. Kedua tangannya
sekarang sudah ditempelkan ke kaca jendela, begitu juga dengan kepalanya yang
sejak mulai dengan posisi doggy style ini udah geleng-geleng kekiri- kekanan
seperti orang lagi tripping dan gue sempat perhatiin butir-butir keringatnya
mulai kelihatan di beberapa bagian tubuhnya, terutama di sekitar pantatnya yang
terus bergetar seiring dengan sodokan gue....plok...plok...plok...bunyi pangkal
paha gue beradu dengan pantatnya yang sexy itu. Mendengar bunyi itu gue semakin
lama semakin bertambah nafsu sehingga berusaha mempercepat gerakan gue namun
terhambat karena tangan gue masih mengucek-ngucek clitorisnya dengan maksud
supaya dia bisa orgasme lagi sebelum gue. Akhirnya gue putusin untuk meneruskan
permainan jari gue sehingga dia betul- betul puas make love dengan gue, dan itu
bikin kepuasan tersendiri buat gue.
Setelah kurang lebih lima menit berlalu "Ooohhhh.....Aguusss.....gue.... bentar
lagggiiiii......aaahhhhhh......oouuuww... ..oouuuww....." rintihannya membuat
gue mempercepat gosokan gue terhadap clitorisnya sambil juga mempercepat gerakan
penis gue memompa vaginanya. Hal ini biki dia tambah mendekati titik puncak
kenikmatannya "Aaaaaaahhhhhhh.....I'm coming.....I'm
coming....yeeesssssss....aaaaaaahhhhhhhhh ......!!!!!" teriaknya disusul dengan
getaran hebat dari seluruh badannya berbarengan dengan pijatan-pijatan yang kuat
dari dinding vaginanya terhadap penis gue. Gileee, guepun udah nggak kuat nahan
sperma gue untuk tidak keluar sampai Rena mencapai klimaks berikutnya. Sekarang
ini gue hanya bisa bertahan karena gue masih berusaha mengkoordinasikan gerakan
tangan dan dorongan penis gue karena sekarang ini jadi kacau karena getaran
hebat dari badannya Rena. Kembali untuk beberapa detik gue ngerasain badannya
melemah setelah Rena mengalami orgasme yang ke tiga untuk malam ini dan pasrah
dengan hantaman dan sodokan penis gue di dalam vaginanya.
"Aaaahhhh...gila lu...., ayo...sekarang gue mau....giliran elu.....!!" katanya
terputus-putus karena hentakan dari badan gue yang semakin lama semakin cepat
dan keras karena tangan kanan gue udah kembali memegang pingangnya sambil gue
mengembalikan konsentrasi gue ke penis gue yang terus menerus merasakan pijatan-
pijatan dari dinding vaginanya. "Ooooohhhhhh....Reeennnaaaaaa.......gue mau
keluaaarrrrr......aaahhhhhhhh.....!!" gue kasih tau dia kalau gue sekarang ini
udah mulai merasakan sesuatu yang menggelitik lubang penis gue untuk
dimuntahkan. "Iiiiyyyaaaaaa.....keluarin di mulut....gue ajaaaaa.....!!" katanya
sambil berusaha untuk membalikkan badannya. Gue langsung cabut penis gue dari
vaginanya sementara dengan gerakan cepat Rena berbalik badan sehingga sekarang
ini dia dalam posisi duduk di sofa dengan mukanya persis dihadapan penis gue
yang sebentar lagi siap memuntahkan air maninya. "Aaaaaaahhhhhhh.........!!!!"
teriak gue berbarengan dengan Rena yang telah membuka mulutnya lebar-lebar
sambil mejulurkan lidahnya guna menampung semprotan air mani gue yang menyemprot
deras kedalam mulutnya sementara kedua tangannya mengocok-ngocok penis gue yang
mengkilat dan licin oleh cairan vaginanya sehingga kocokan tangannya terasa
lebih nikmat buat gue karena telah diberi "pelumas". Crooooottt.......
crrroooottttt.......cccrrrooooooooootttt. ...., banyak sekali cairan kental
berwarna putih susu itu yang masuk kedalam mulutnya, sementara beberapa cairan
itu yang menetes dari lubang penis gue tidak sempat jatuh ke lantai karena telah
tertampung oleh lidahnya yang menjulur itu. Gue sempat lihat ekspresinya sewaktu
menelan air mani gue yang sebagian besar berada di ujung lidah sebelah dalamnya
sehingga otomatis lebih mudah tertelan begitu dia menelan air liurnya sendiri.
Terus terang gue terangsang banget dengan ekspresinya itu, karena kayaknya gue
cuma ngeliat ekspresi muka seperti itu cuma dalam BF.
Setelah itu dengan lahapnya dia menjilati penis gue membersihkan sisa-sisa air
mani yang mungkin belum keluar sambil batang penis gue dikocok-kocok terus.
Untuk beberapa detik jantung gue berdetak 1000 kali permenit melihat dan
merasakan dia melakukan pembersihan itu....
Tampilkan postingan dengan label mahasiswi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 12 Desember 2008
Rabu, 10 Desember 2008
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya
Pagi menjelang. Sinar mentari pagi menerangi kamar gue yang berantakan karena
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di ranjang gua.
Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Adik gua langsung tegak lagi. Kaga
mau bangunin mereka, gua bangun dan terus ke dapur untuk membuat makan pagi.
Baru masuk dapur dan lagi nyari mie instant, gua ngerasa ada tangan yang maenin
adik gue dan meluk gue dari belakang.
Gua langsung noleh. Ternyata si Julia. Gua cium dia di bibir dan kasih tahu dia
gua mau masak.
"Eh, gua udah laper nih." Katanya dengan senyumnya yang nakal.
Dia mulai ngisep adik gua yang dari tadi tegak. Gua langsung mundur beberapa
langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan adikku ini. "Ohhh.."
itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya yang imut terus naik turun dan
dari pipinya bisa keliatan kalo dia lagi ngisep gua dengan kerasnya. Lidahnya
memainkan adikku. Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif
pagi begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Loe orang jahat yah kaga bagi-bagi breakfast." Gua cuman ketawa kecil. Punting
mereka mengeras dan gua rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut Julia mulai lebih
cepat. Dari sudut mata gua, gua ngeliat Amy dan Monica sedang French Kissing dan
Finger Fucking each other. Gila bener cewe-cewe ini. Pagi-pagi udah aktif
banget. Mulut Julia tidak diem naik turun, gua muali mainin punting dan payudara
Julia.
"Jul, kita 69 aja deh." Saranku. Julia melepaskan isapannya dan gua langsung
rebahan di tanah. Julia mulai berada di atas gua dan gua langsung isep dia punya
memek yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali gua jilat clitorisnya. Setiap
kali gua jilat clitorisnya dia lansung mendesah "Ooh". Akhirnya setelah lima
menit gituan, lidah gua mulai capek. Gua mulai masukin dua jari kedalam,
teriakan "Ahhh" terdengar, gua mulai jilatin clitorisnya dan maju mundurin jari
gua. Dia sekarang cuman teriak "Enak Ron, terus Ron… Kerasan donk… Jilat terus.
Gua cuman bisa jawab, "Eh lidah gua capek nih, jarang-jarang aja lidahnya."
Setelah itu gua mainin clitorisnya pake jempol gua sementara kedua jari gua kaga
berhenti maju mundur. Begitu tangan gua yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!!!". Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posis! i jadi 69 juga. Setelah
Julia mulai ngisep lagi, Mereka udah klimaks, sebab gua denger mereka teriak
"I'm cumming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat terdengar
jelas. Gua yakin gua sebentar lagi mulai klimaks. Gua coba tahan sebentar tapi
gua kaga bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat. Tak lama kemudian gua semprot
aja peju gua kedalam tenggorokan si Julia. Setelah itu, dia mencium gua. Tanpa
diduga, ternyata dia cuma telan sebagian peju gua sebab sebagiannya dimasukin
mulut gua. Itu pertama kali gua ngerasasin peju. Rasanya agak aneh tapi lumayan
enak juga.
"Bagian breakfast loe tuh. Enak ngga?" gua cuman ngangguk aja. "Kita orang yang
buat breakfast deh, loe mandi aja" lanjutnya.
Gua akhirnya masuk kamar dan mandi.
Setelah mandi, kita orang pergi jalan-jalan ke Orchard Road naek MRT. MRT dari
rumah gua ke Orchard kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat
kita semua saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT nya diam, lampunya pun
mati. "Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and track
failure. They are trying to fix the track at the moment and the electricity
would be back online in half an hour. We regret for inconvinience caused." Suara
dari speaker menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang adik gua,
gua telusuri mencari muka empunya tangan. Ternyata yang maenin adik gua orang
yang gua tak kenal. Dia mulai masukin tangannya ke zipper gua. Gua juga tak mau
kalah. Gua mulai Masukin tangan gua kedalam T-shirt nya dan mencari dia punya
payudara. Kaga gua sangka, Payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya
meninggalkan adikku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka dia punya BH
dan menanggalkan BH nya. Rok mininya gua singkap da! n ternyata dia kaga pakai
cede. Gua mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi mainin
puntingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak kedengaran
orang lain, gua French kiss dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan
tangannya mulai ngocokin adik gua.
"It is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu sementara gua
spread kakinya. Gua angkat dia sedikit dan karena agak menyenggol penumapang
lainnya, gua denger beberapa gerutuan. Setelah yakin tidak akan menyenggol orang
lain, gua mulai masukin adik gua ke lobangnya. Gua denger dia mendesah "Mmm…"
itu aja yang gua denger. Gua mulai French kiss dia lagi agar dia kaga teriak
lebih keras. Gua mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan
bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
sex mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah gua tengok ke samping,
ternyata yang gua ngentotin tadi adalah guru mathematics gua. Dia tersenyum
nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk
merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kita orang lansung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam. Akhirnya kita
orang pulang juga.
Sampai di rumah gua langsung masuk kamar kecapaian menemani cewe-cewe yang jago
belanja ini. Rupanya cewe-cewe ini benar-benar edan. Gua sudah capek begini
masih minta sex. Untuk nakut-nakutin mereka gua usulin permainan baru. Permainan
kami adalah master and slave. Gua jadi master, mereka jadi slave (budak). Di
luar dugaan gua, ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Gua kasih
tahu mereka, mereka cuman boleh panggil gua bos, tapi gua boleh panggil mereka
apa saja (termasuk perek, slut, cewe murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh
atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan
dengan sex. Mata mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti
semua pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu gua keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Gua ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru balik
ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh, loe orang bertiga main bersama di lantai. Julia, loe pake ketimun yang
lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara loe orang jilatin
Monica. Gua di sini bakal rekam loe pake handycam gua." Gua lempar ketimun yang
gua buat di sekolah pake tanah liat ke Julia. Mereka pertamanya agak kaga suka
ide gua pake handycam tapi setelah gua yakinin bahwa videonya kaga bakal gua
kasih liat orang lain akhrinya mereka setuju.
Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka juga
mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main mereka.
Mereka juga terkadang bercium mesra. Adik gua mulai kaga tahan. Gua elus adik
gua lewat celana dalam gua.
"Stop!" Mereka yang lagi asyik main rupanya kaga denger gua. Gua teriak sekali
lagi "STOP!!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak mendengar
perintah bos, gua suruh setiap orang ambil ketimun kecil di kulkas dan masukkan
ke dalam vagina mereka. Setelah itu gua suruh mereka jalan-jalan dalam rumah
dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, gua suruh
mereka pake celana dalam dan kaos panjang gua (kurang lebih sampe lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh
dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Gua suruh mereka
ikutin gua ke seven eleven terdekat tanpa pake celana maupun bh mereka. Mereka
mulai menawar tetapi gua bilang, "Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke
supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka akhirnya ikut gua ke seven eleven yang
di depan rumah gua. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan,
dia mendapat klimaks (ketimunnya ! kaya kontol naik turun sewaktu dia lari).
Penjaga toko seven eleven ngeliatin payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi
tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia
membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah
karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang gua lari balik ke
rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih berat.
Langsung aja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan hampir lemas karena
klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam
waktu yang ditentukan. Nafas mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas
dan penuh keringat, tapi permainan baru dimulai, sebab adik gua masih segar
bugar. Apalagi baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
Ingin tahu lebih lanjut… tunggu kelanjutannya…
kejadian semalam. Amy, Monica dan Julia masih tidur nyenyak di ranjang gua.
Gila! Ternyata kejadian semalam bukan mimpi. Adik gua langsung tegak lagi. Kaga
mau bangunin mereka, gua bangun dan terus ke dapur untuk membuat makan pagi.
Baru masuk dapur dan lagi nyari mie instant, gua ngerasa ada tangan yang maenin
adik gue dan meluk gue dari belakang.
Gua langsung noleh. Ternyata si Julia. Gua cium dia di bibir dan kasih tahu dia
gua mau masak.
"Eh, gua udah laper nih." Katanya dengan senyumnya yang nakal.
Dia mulai ngisep adik gua yang dari tadi tegak. Gua langsung mundur beberapa
langkah dan duduk di kursi. Sedetik pun tidak dia lepaskan adikku ini. "Ohhh.."
itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Mulutnya yang imut terus naik turun dan
dari pipinya bisa keliatan kalo dia lagi ngisep gua dengan kerasnya. Lidahnya
memainkan adikku. Ooh, betapa enaknya pikirku. Jarang sekali dia sudah aktif
pagi begini. Monica dan Amy tiba-tiba muncul di pintu dapur dan langsung senyum.
"Loe orang jahat yah kaga bagi-bagi breakfast." Gua cuman ketawa kecil. Punting
mereka mengeras dan gua rasa mereka mulai horny. Gerakan mulut Julia mulai lebih
cepat. Dari sudut mata gua, gua ngeliat Amy dan Monica sedang French Kissing dan
Finger Fucking each other. Gila bener cewe-cewe ini. Pagi-pagi udah aktif
banget. Mulut Julia tidak diem naik turun, gua muali mainin punting dan payudara
Julia.
"Jul, kita 69 aja deh." Saranku. Julia melepaskan isapannya dan gua langsung
rebahan di tanah. Julia mulai berada di atas gua dan gua langsung isep dia punya
memek yang sekarang basahnya bukan main. Sesekali gua jilat clitorisnya. Setiap
kali gua jilat clitorisnya dia lansung mendesah "Ooh". Akhirnya setelah lima
menit gituan, lidah gua mulai capek. Gua mulai masukin dua jari kedalam,
teriakan "Ahhh" terdengar, gua mulai jilatin clitorisnya dan maju mundurin jari
gua. Dia sekarang cuman teriak "Enak Ron, terus Ron… Kerasan donk… Jilat terus.
Gua cuman bisa jawab, "Eh lidah gua capek nih, jarang-jarang aja lidahnya."
Setelah itu gua mainin clitorisnya pake jempol gua sementara kedua jari gua kaga
berhenti maju mundur. Begitu tangan gua yang satunya menyentuh payudaranya, dia
langsung teriak, "Oh yes Ron!!!". Otot vaginanya langsung tegang dan bajir
klimaksnya mulai membasahi mukaku. Untuk sementara dia berhenti menyedot
sebentar. Sementar itu Amy dan Monica sudah ganti posis! i jadi 69 juga. Setelah
Julia mulai ngisep lagi, Mereka udah klimaks, sebab gua denger mereka teriak
"I'm cumming!" bergantian dan nafas mereka menjadi berat dan dapat terdengar
jelas. Gua yakin gua sebentar lagi mulai klimaks. Gua coba tahan sebentar tapi
gua kaga bisa. Sedotan mulut Julia memang hebat. Tak lama kemudian gua semprot
aja peju gua kedalam tenggorokan si Julia. Setelah itu, dia mencium gua. Tanpa
diduga, ternyata dia cuma telan sebagian peju gua sebab sebagiannya dimasukin
mulut gua. Itu pertama kali gua ngerasasin peju. Rasanya agak aneh tapi lumayan
enak juga.
"Bagian breakfast loe tuh. Enak ngga?" gua cuman ngangguk aja. "Kita orang yang
buat breakfast deh, loe mandi aja" lanjutnya.
Gua akhirnya masuk kamar dan mandi.
Setelah mandi, kita orang pergi jalan-jalan ke Orchard Road naek MRT. MRT dari
rumah gua ke Orchard kurang lebih 20 menit. MRT yang penuh sesak itu membuat
kita semua saling terombol. Baru mau sampai Newton, MRT nya diam, lampunya pun
mati. "Ladies and gentleman, please do not panic, there is electrical and track
failure. They are trying to fix the track at the moment and the electricity
would be back online in half an hour. We regret for inconvinience caused." Suara
dari speaker menjelaskan apa yang terjadi. Tiba-tiba ada yang pegang adik gua,
gua telusuri mencari muka empunya tangan. Ternyata yang maenin adik gua orang
yang gua tak kenal. Dia mulai masukin tangannya ke zipper gua. Gua juga tak mau
kalah. Gua mulai Masukin tangan gua kedalam T-shirt nya dan mencari dia punya
payudara. Kaga gua sangka, Payudaranya gede banget. Tiba-tiba tangannya
meninggalkan adikku yang tegak keluar dari zipper dan mulai buka dia punya BH
dan menanggalkan BH nya. Rok mininya gua singkap da! n ternyata dia kaga pakai
cede. Gua mainin clitorisnya pakai satu tangan dan satu tangan lagi mainin
puntingnya. Agar desahannya yang mulai keluar dari mulutnya tidak kedengaran
orang lain, gua French kiss dia. Lidah kami beradu dalam mulut kami dan
tangannya mulai ngocokin adik gua.
"It is fifteen minutes before the light is up and the train will be moving.
Please bear with the condition for the moment." Setelah itu, dia mulai
mengarahkan adikku ke lubang vaginanya. Kusandarkan dia ke pintu sementara gua
spread kakinya. Gua angkat dia sedikit dan karena agak menyenggol penumapang
lainnya, gua denger beberapa gerutuan. Setelah yakin tidak akan menyenggol orang
lain, gua mulai masukin adik gua ke lobangnya. Gua denger dia mendesah "Mmm…"
itu aja yang gua denger. Gua mulai French kiss dia lagi agar dia kaga teriak
lebih keras. Gua mulai tusuk dia dengan kasar dan setelah agak lama menusuk, dan
bercium, akhirnya kita klimaks barengan. Kita mulai merapikan diri. Kini aroma
sex mulai tersebar. Akhirnya lampu menyala lagi. Setelah gua tengok ke samping,
ternyata yang gua ngentotin tadi adalah guru mathematics gua. Dia tersenyum
nakal dan menaruh jari telunjuknya di mulutnya seolah menandakan untuk
merahasiakan apa yang telah terjadi.
Setelah lima menit, akhirnya MRT pun berjalan kembali. Setelah sampai ke
Orchard, kami semua turun. Kita orang lansung naik eskalator menuju ke pusat
pertokoan. Kami berbelanja di pusat pertokoan sampai agak malam. Akhirnya kita
orang pulang juga.
Sampai di rumah gua langsung masuk kamar kecapaian menemani cewe-cewe yang jago
belanja ini. Rupanya cewe-cewe ini benar-benar edan. Gua sudah capek begini
masih minta sex. Untuk nakut-nakutin mereka gua usulin permainan baru. Permainan
kami adalah master and slave. Gua jadi master, mereka jadi slave (budak). Di
luar dugaan gua, ternyata mereka setuju dan kelihatan sangat berminat. Gua kasih
tahu mereka, mereka cuman boleh panggil gua bos, tapi gua boleh panggil mereka
apa saja (termasuk perek, slut, cewe murahan dan sejenisnya) dan boleh menyuruh
atau memaksa mereka melakukan sesuatu seenaknya selama hal ini berhubungan
dengan sex. Mata mereka makin berbinar-binar. Akhirnya kusuruh mereka melucuti
semua pakaian dan mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian apapun di dalam
rumah.
Sementara aku mandi, mereka kuperintahkan membersihkan kamarku yang berantakan
karena adegan semalam. Sewaktu gua keluar, mereka masih belum selesai
membersihkan kamarku. Gua ke kulkas minum Red Bull dulu supaya kuat baru balik
ke kamar. Mereka ternyata sudah selesai.
"Eh, loe orang bertiga main bersama di lantai. Julia, loe pake ketimun yang
lumayan panjang ini kaya double dildo sama Amy sementara loe orang jilatin
Monica. Gua di sini bakal rekam loe pake handycam gua." Gua lempar ketimun yang
gua buat di sekolah pake tanah liat ke Julia. Mereka pertamanya agak kaga suka
ide gua pake handycam tapi setelah gua yakinin bahwa videonya kaga bakal gua
kasih liat orang lain akhrinya mereka setuju.
Akting mereka super hot. Mereka mengerang dan berteriak kenikmatan. Mereka juga
mulai meremas-remas payudara masing-masing dan terkadang lawan main mereka.
Mereka juga terkadang bercium mesra. Adik gua mulai kaga tahan. Gua elus adik
gua lewat celana dalam gua.
"Stop!" Mereka yang lagi asyik main rupanya kaga denger gua. Gua teriak sekali
lagi "STOP!!" akhirnya mereka stop juga. Sebagai hukuman untuk tidak mendengar
perintah bos, gua suruh setiap orang ambil ketimun kecil di kulkas dan masukkan
ke dalam vagina mereka. Setelah itu gua suruh mereka jalan-jalan dalam rumah
dengan ketimun di dalam vagina mereka. Belum puas dengan hukuman ini, gua suruh
mereka pake celana dalam dan kaos panjang gua (kurang lebih sampe lutut mereka).
Pentil payudara mereka yang warnanya agak gelap itu terlihat dari luar dan boleh
dibilang lumayan jelas sebab pentil mereka dalam keadan keras. Gua suruh mereka
ikutin gua ke seven eleven terdekat tanpa pake celana maupun bh mereka. Mereka
mulai menawar tetapi gua bilang, "Kalau masih mau tawar menawar, kita pergi ke
supermarket 2 bus stop dari sini." Mereka akhirnya ikut gua ke seven eleven yang
di depan rumah gua. Monica hampir lemas karena sewaktu lari menyeberang jalan,
dia mendapat klimaks (ketimunnya ! kaya kontol naik turun sewaktu dia lari).
Penjaga toko seven eleven ngeliatin payudara Amy yang gede menonjol itu. Apalagi
tanpa sengaja, payudaranya menyenggol kaca kulkas yang agak basah itu, membuat
payudaranya semi jelas. Yang buat penjaganya cengar-cengir, ketika si Julia
membongkok untuk mengambil barang di rak bawah, celana dalamnya yang basah
karena cairannya itu terlihat jelas. Setelah membeli barang gua lari balik ke
rumah dan menyuruh mereka ikut lari dan mengeluarkan ultimatum bahwa siapa saja
yang sampai di rumah lebih dari dua menit akan kena hukuman lebih berat.
Langsung aja mereka lari ke rumah, Julia di tengah jalan hampir lemas karena
klimaks tapi memaksa diri untuk lari. Akhirnya mereka sampai di rumah dalam
waktu yang ditentukan. Nafas mereka sudah memburu dan badan mereka sudah lemas
dan penuh keringat, tapi permainan baru dimulai, sebab adik gua masih segar
bugar. Apalagi baju yang mereka pakai seolah-olah transparan dibasahi keringat.
Ingin tahu lebih lanjut… tunggu kelanjutannya…
Jumat, 14 November 2008
kugesekkan kepala kontolku di mulut memeknya
Tante Rissa tidak langsung menjawab. Seperti sedang mengumpulkan nyawa. “Ada apa tante?” Didit semakin memberanikan diri, bukan tangan saja, tetapi jari-jarinya dimasukin ke CD g-string supaya menyentuh langsung ke bibir memekku. “Terima kasih ya sayang kamu telah muasin tante.. Kapan kapan kita entotan lagi yah? Rasanya vaginaku jadi ketagihan sama penis kamu, gimana?” tanyanya lagi mempertegas. “Ha.. pinjam CD..? Akhh.., kamu nakal deh..! Tante khan udah pakai CD sendiri.” kata Tante Mini. Aku merasa heran, aku merasa belum mau keluar. Sudah berbagai posisi kulakukan, belum juga keluar. Tante Amy semakin merintih kewalahan, aku tidak mau melepaskan hujanan-hujananku. Anting-anting saktiku membantu membuatku dapat main sampai empat kali Tante Amy mengalami orgasmenya. Saya dan Tetangga Saya Mirna “Udah dong Ma..”
“Anton, kamu tadi maen yang sama Bik Suti.” “Empaatt, Limaa burung, enam spermaa..”, lanjutnya dengan terengah. Ehmm.. tambah cantik saja nih tante genit. Kulakukan terus dan kupercepat genjotanku. Sepertinya tanteku sudah hampir klimaks.. Jeany mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku. Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat aku mulai menyapukan lidahku dari bagian bawah ke atas vaginanya aku merasakan cairan yang sangat nikmat yang aku impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya dia makin mengejang dan aku merasakan vaginanya sperti menghisap bibirku. “Kadang di lepas, terus di jilat-jilat. Pokoknya kayak Mami tadi. Bisa kan?” Saya juga terus segera membuka baju Tante Mini dan BH-nya, maka terlihatlah dua buah gunung Himalaya dengan putingnya yang mancung. Mula-mula kuciumi dan kulumat serta kumainkan putingnya yang sudah super menegang itu.
Poppy tersenyum ke arah ivan, membuat pemuda yang tadi mengira gadis itu akan berontak menjadi semakin bernafsu. Jilatan dan ciuman Ivan kini mulai turun keperut dan pusar Poppy. Ciuman Ivan dibagian perut dan permainan lidah dipusarnya, menimbulkan rasa geli yang amat sangat bagi Poppy. Tangannya meremas-remas rambut Ivan dan erangan-erangan kecil dari mulut Poppy menikmati nakalnya permainan lidah Ivan. Setelah 5 menit menjilati kontolku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali. “Ok.” jawabku. “OK Tante”, jawabku. “Aah.. oh.. terus.. terus Van.. enak.. akh.. akh..” desah Lusi. “Nggak usah gugup gitu dong”, ujar Bu Melly melihat tingkahku. Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Bu Melly. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk Bu Melly dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indajh, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.
“Iya.. Ini Tante Merry ya?” Saya yang memang sudah pingin sekali mencoba tubuh Imel, juga ikut-ikutan ngomong, “Iya, Rev’ besok telat masuk sekolahnya.., kamu tidur duluan sana.” Setelah kira-kira setengah jam aku mulai merasakan kenikmatan yang akan segera memuncak demikian juga dengan dia. bolnya dan Rina makin menggeliat - geliat seperti ayam yang dipotong tanggung. “Ada apa sih tante?” tanyaku. Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali pindah kota dan pada 5 tahun yg lalu aku sempat ditempatkan di salah satu kota di propinsi asalku di Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku. Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya. Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi. Krn kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri. Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di sana. Akhirnya aku keluar juga, dibarengi dengan orgasme kakakku untuk yang ketiga kalinya. Tak kusadari ada seseorang yang berdiri disampingku. Ternyata itu Mama, entah sejak kapan Mama berada di situ, yang jelas Mama kini dalam keadaan telanjang bulat. Cairan hangat dan kental merembes didinding vagina Poppy. Dan tanpa menunggu lagi, Ivan menjilati dan meraupi cairan kenikmatan yang membasahi lubang vagina Poppy. Ivan mengumpulkan cairan kenikmatan Poppy dimulutnya dan menelannya. Ivan membiarkan Poppy beristirahat menikmati orgasmenya, sambil melepaskan seluruh pakaiannya. Setelah telanjang bulat, Ivan kemudian mengangkangi wajah Poppy, sambil mengacung-acungkan batang kemaluannya yang sudah mengeras ke mulut Poppy. “Aahh enak sekali tante.. Aahh..”
Didit tampaknya tahu kalau aku mulai terangsang maka kedua tangannya saat ini sedang meremas-remas lembut kedua tetekku. “Cindy akan kutunjukkan sex yang sebenarnya mau..?” “Oh silakan masuk,” sambil menutup pintu dan berjalan mendekati komputer yang ada di ruang tamu dekat dengan sofa. Sementara Vina hanya diam melihat maminya dan saya ‘acak-acak’, walaupun terkadang dia membantu mengelap keringat maminya dan saya. “Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.” Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya kontolku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula. “Nggak pa-pa kan? Abis Anton terangsang banget melihat kemolekan tubuh Mbak.”
SERU BANGET..
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI
“Aku mau, Aduh kalian memang baik sekali,” timpalku. Cerita ini dimulai waktu ada acara keluarga di Villa Tretes minggu lalu. Sekarang ini aku duduk di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Namaku Hady, umurku 20 tahun. Kini yang kurasakan bukan ciuman erotis seperti ciuman Tante Yana, namun ciuman Anita yang lembut dan romantis. Betapa nikmatnya ciuman dari Anita. Aku langsung memeluknya lembut. Tubuh putihnya benar-benar mulus. Bulu vaginanya sekilas kulihat coklat gelap. Sesegera mungkin kulepas celana-celanaku dan Anita membuka kaosku. Lumayan lama Anita menciumiku dengan posisimembungkuk. Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku langsung membisikkannya, “Nit, kita ke kamarmu yuk..!” Anita menjawab, “Ayoo.. biarlebih nyaman.” Anita kurebahkan di ranjangnya setelah kugendong dari ruang tamu. Seperti ciuman tadi, kali ini suasananya lebih lembut, romantis dan perlahan. Anita sesekali menciumi dan agak menggigit daun telingaku ketika aku sedang mencumbu lehernya. Anita juga sesekali mencengkeram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat hingga ke pinggangku dan kadang dia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, mungkin kali ini ejakulasiku tidak selama seperti sama Tante Yana akibat terbawa romantisnya suasana. Kemudian, “Crott.. croott.. croott..” air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa menit, tante Dewi lalu turun dari tempat tidur dan aku disuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Tante Layla juga turun dan berdiri di belakang tante Dewi. Mereka melepas CD mereka masing-masing. Tangan tante Layla dari belakang meremas kedua payudara tante Dewi. Kemudian salah satu tangannya turun ke bawah. Jarinya masuk ke vagina tante Dewi yang sudah basah. Aku sendiri juga semakin basah sehingga kulepas CD-ku. Tapi aku tidak mau ikut bergabung. Takut keasyikan mereka terganggu. ***** “Sabar ya Ko Indra sayang..” “Saya ingin merasakan air pipis tante”, Aku tersentak. “Eh, Mama. Iya, Ma. Tadi sih niatnya cuma mo minta dipijitin doang, tapi keterusan..” “Ah, aku kan sayang sama kamu”, sahut Randy sambil sedikit ngos-ngosan. Ia masih saja merabai tubuh sepupunya. “Engh, badanku jadi lemas semua nih”, tanpa sadar Susan berucap sambil setengah merengek. Kemaluannya bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab.
Batang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Donna yang empuk, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Donna. “Baru datang, Kak?”, tanya Randy sambil ngeloyor masuk meski kakaknya sedang berganti pakaian. Randy berjalan acuh tak acuh. “Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka. “Terimah kasih Tuan telah memuaskan kami, dan kami akan mengambil bonus Tuan.” jawab pembantu Bonsa ketika melihat tuannya masuk ke rumah. Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut, tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku. “Hmm selamat siang bu, ma’af ibu yang bernama Jeany?” dengan senyum yang manis dia langsung merespons, Hampir satu jam kemudian, keempat wanita yang lain mulai mendekati tubuhku. Mereka berkeliling dan jemari mereka mulai menjelajahi tubuhku dan tubuh Tante Shinta. Aahh gila.. betul-betul sensasional. Akhirnya penisku pun berdenyut tanda ingin orgasme.
kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa. “Ton, kamu hebat juga yah. Hanya dengan jemarimu saja Mama sudah bisa orgasme seperti tadi..” kata Mamaku terengah-engah. Lalu kami bertiga terkulai lemas dengan posisi saya di tengah, dan kedua cewek cantik itu di samping saya. Lalu saya tertidur hingga pagi. “Bob, (namaku) tolong dong pasangin lampu kamar saya di rumah,”
“Eh.” cewek itu kaget. “Ok kalau gitu saya tunggu. Alamatnya di..” Aku kaget setengah mati. Aku bingung sekali saat itu. Tanpa sadar kudekati Mamaku yang cantik itu. Tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Mamaku yang bahenol itu. Kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Mama mencoba untuk berontak. “Kamu ganteng Ndy”, katanya seraya tanganya meraup kemaluanku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum. “Yup..!! Kamu benar sekali,” jawab Mbak Wina tegas. Kontolku memang masih tegang walaupun sudah sempat mengeluarkan sperma.. Kubuka paha tante lebar-lebar.. Sampai terlihat lubang memeknya yang masih basah itu.. Lalu kupegang kontolku dan kugesekkan kepala kontolku di mulut memeknya.. Kepala Bi Eha bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Andre. Berarti dia tahu perbuatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini? “Iyaa.. Saya lagi mikir tempat mana yang bisa aku sembunyi menyantap ‘makan enak’ ini,” jawabku sekenanya yang langsung dibalas dengan kembali mencubit berikut pelintiran yang sakit sekali di tanganku. Ita, siimut, tinggi sekitar 158 lah, jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan,
“Ah masa sih?” tanyanya. “Saya menunggu Ardy di rumah.” Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya. “Terima kasih Ma. Toni sayang banget sama Mama.” jawabku dengan antusias. “Oughh Dini pantatmu enakk banget.. Ahh” “Terima kasih Mbak”. Nopember 24, 2006 Merasa ada tantangan lagi, saya langsung mencium Mirna dengan lembut di bibirnya yang masih beraroma sperma, sambil meremas buah dadanya yang kembali mengeras. Mirna langsung melakukan gerakan berputar dan langsung telentang sambil tertawa dan berteriak tertahan, “Babak kedua dimulai, teng..!”
“Anton, kamu tadi maen yang sama Bik Suti.” “Empaatt, Limaa burung, enam spermaa..”, lanjutnya dengan terengah. Ehmm.. tambah cantik saja nih tante genit. Kulakukan terus dan kupercepat genjotanku. Sepertinya tanteku sudah hampir klimaks.. Jeany mendorong kepalaku ke arah vaginanya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku. Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat aku mulai menyapukan lidahku dari bagian bawah ke atas vaginanya aku merasakan cairan yang sangat nikmat yang aku impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya dia makin mengejang dan aku merasakan vaginanya sperti menghisap bibirku. “Kadang di lepas, terus di jilat-jilat. Pokoknya kayak Mami tadi. Bisa kan?” Saya juga terus segera membuka baju Tante Mini dan BH-nya, maka terlihatlah dua buah gunung Himalaya dengan putingnya yang mancung. Mula-mula kuciumi dan kulumat serta kumainkan putingnya yang sudah super menegang itu.
Poppy tersenyum ke arah ivan, membuat pemuda yang tadi mengira gadis itu akan berontak menjadi semakin bernafsu. Jilatan dan ciuman Ivan kini mulai turun keperut dan pusar Poppy. Ciuman Ivan dibagian perut dan permainan lidah dipusarnya, menimbulkan rasa geli yang amat sangat bagi Poppy. Tangannya meremas-remas rambut Ivan dan erangan-erangan kecil dari mulut Poppy menikmati nakalnya permainan lidah Ivan. Setelah 5 menit menjilati kontolku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali. “Ok.” jawabku. “OK Tante”, jawabku. “Aah.. oh.. terus.. terus Van.. enak.. akh.. akh..” desah Lusi. “Nggak usah gugup gitu dong”, ujar Bu Melly melihat tingkahku. Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Bu Melly. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk Bu Melly dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indajh, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.
“Iya.. Ini Tante Merry ya?” Saya yang memang sudah pingin sekali mencoba tubuh Imel, juga ikut-ikutan ngomong, “Iya, Rev’ besok telat masuk sekolahnya.., kamu tidur duluan sana.” Setelah kira-kira setengah jam aku mulai merasakan kenikmatan yang akan segera memuncak demikian juga dengan dia. bolnya dan Rina makin menggeliat - geliat seperti ayam yang dipotong tanggung. “Ada apa sih tante?” tanyaku. Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali pindah kota dan pada 5 tahun yg lalu aku sempat ditempatkan di salah satu kota di propinsi asalku di Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku. Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya. Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi. Krn kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri. Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di sana. Akhirnya aku keluar juga, dibarengi dengan orgasme kakakku untuk yang ketiga kalinya. Tak kusadari ada seseorang yang berdiri disampingku. Ternyata itu Mama, entah sejak kapan Mama berada di situ, yang jelas Mama kini dalam keadaan telanjang bulat. Cairan hangat dan kental merembes didinding vagina Poppy. Dan tanpa menunggu lagi, Ivan menjilati dan meraupi cairan kenikmatan yang membasahi lubang vagina Poppy. Ivan mengumpulkan cairan kenikmatan Poppy dimulutnya dan menelannya. Ivan membiarkan Poppy beristirahat menikmati orgasmenya, sambil melepaskan seluruh pakaiannya. Setelah telanjang bulat, Ivan kemudian mengangkangi wajah Poppy, sambil mengacung-acungkan batang kemaluannya yang sudah mengeras ke mulut Poppy. “Aahh enak sekali tante.. Aahh..”
Didit tampaknya tahu kalau aku mulai terangsang maka kedua tangannya saat ini sedang meremas-remas lembut kedua tetekku. “Cindy akan kutunjukkan sex yang sebenarnya mau..?” “Oh silakan masuk,” sambil menutup pintu dan berjalan mendekati komputer yang ada di ruang tamu dekat dengan sofa. Sementara Vina hanya diam melihat maminya dan saya ‘acak-acak’, walaupun terkadang dia membantu mengelap keringat maminya dan saya. “Lebih nikmat situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal.” Aku tahu dia sangat menahan nafsunya. Sangat ingin mendapatkan obsesi seksualnya. Kemudian tangannya merenggut lepas celana dalamku. Tak ayal lagi, langsung disambutnya kontolku. Mulutnya menganga menerima batangan kemaluanku yang telah sangat keras disertai urat-urat darah yang melingkarinya. Kulihat bibirnya termonyong-monyong penuh dengan batang kerasku. Aku menyaksikan betapa ganasnya Norma menjilat-jilat dan menggigit batangku ini. Lidahnya terus menyapu kepalanya yang berkilatan karena tekanan keras dari urat darahnya. Dia reguk cairan birahiku yang terus mengalir keluar. Dia jilati bijih pelirku. Sambil mendesah dan meracau dia menyeruak ke bawah selangkangan untuk meraih kenikmatannya. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Rasa gatal menandai bahwa spermaku mendesak untuk muncrat demikian membuat aku gelisah dan mendesah pula. “Nggak pa-pa kan? Abis Anton terangsang banget melihat kemolekan tubuh Mbak.”
SERU BANGET..
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI
“Aku mau, Aduh kalian memang baik sekali,” timpalku. Cerita ini dimulai waktu ada acara keluarga di Villa Tretes minggu lalu. Sekarang ini aku duduk di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Namaku Hady, umurku 20 tahun. Kini yang kurasakan bukan ciuman erotis seperti ciuman Tante Yana, namun ciuman Anita yang lembut dan romantis. Betapa nikmatnya ciuman dari Anita. Aku langsung memeluknya lembut. Tubuh putihnya benar-benar mulus. Bulu vaginanya sekilas kulihat coklat gelap. Sesegera mungkin kulepas celana-celanaku dan Anita membuka kaosku. Lumayan lama Anita menciumiku dengan posisimembungkuk. Kukocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku langsung membisikkannya, “Nit, kita ke kamarmu yuk..!” Anita menjawab, “Ayoo.. biarlebih nyaman.” Anita kurebahkan di ranjangnya setelah kugendong dari ruang tamu. Seperti ciuman tadi, kali ini suasananya lebih lembut, romantis dan perlahan. Anita sesekali menciumi dan agak menggigit daun telingaku ketika aku sedang mencumbu lehernya. Anita juga sesekali mencengkeram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat hingga ke pinggangku dan kadang dia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, mungkin kali ini ejakulasiku tidak selama seperti sama Tante Yana akibat terbawa romantisnya suasana. Kemudian, “Crott.. croott.. croott..” air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya. Setelah beberapa menit, tante Dewi lalu turun dari tempat tidur dan aku disuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Tante Layla juga turun dan berdiri di belakang tante Dewi. Mereka melepas CD mereka masing-masing. Tangan tante Layla dari belakang meremas kedua payudara tante Dewi. Kemudian salah satu tangannya turun ke bawah. Jarinya masuk ke vagina tante Dewi yang sudah basah. Aku sendiri juga semakin basah sehingga kulepas CD-ku. Tapi aku tidak mau ikut bergabung. Takut keasyikan mereka terganggu. ***** “Sabar ya Ko Indra sayang..” “Saya ingin merasakan air pipis tante”, Aku tersentak. “Eh, Mama. Iya, Ma. Tadi sih niatnya cuma mo minta dipijitin doang, tapi keterusan..” “Ah, aku kan sayang sama kamu”, sahut Randy sambil sedikit ngos-ngosan. Ia masih saja merabai tubuh sepupunya. “Engh, badanku jadi lemas semua nih”, tanpa sadar Susan berucap sambil setengah merengek. Kemaluannya bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab.
Batang kejantananku terasa semakin besar apalagi karena posisi tubuh kami yang saling berpelukan erat membuat batang kejantananku yang menonjol dari balik celanaku itu terjepit dan menempel keras di perut Tante Donna yang empuk, sejenak kemudian kulepaskan pagutan bibirku pada bibir Tante Donna. “Baru datang, Kak?”, tanya Randy sambil ngeloyor masuk meski kakaknya sedang berganti pakaian. Randy berjalan acuh tak acuh. “Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka. “Terimah kasih Tuan telah memuaskan kami, dan kami akan mengambil bonus Tuan.” jawab pembantu Bonsa ketika melihat tuannya masuk ke rumah. Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut, tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku. “Hmm selamat siang bu, ma’af ibu yang bernama Jeany?” dengan senyum yang manis dia langsung merespons, Hampir satu jam kemudian, keempat wanita yang lain mulai mendekati tubuhku. Mereka berkeliling dan jemari mereka mulai menjelajahi tubuhku dan tubuh Tante Shinta. Aahh gila.. betul-betul sensasional. Akhirnya penisku pun berdenyut tanda ingin orgasme.
kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa. “Ton, kamu hebat juga yah. Hanya dengan jemarimu saja Mama sudah bisa orgasme seperti tadi..” kata Mamaku terengah-engah. Lalu kami bertiga terkulai lemas dengan posisi saya di tengah, dan kedua cewek cantik itu di samping saya. Lalu saya tertidur hingga pagi. “Bob, (namaku) tolong dong pasangin lampu kamar saya di rumah,”
“Eh.” cewek itu kaget. “Ok kalau gitu saya tunggu. Alamatnya di..” Aku kaget setengah mati. Aku bingung sekali saat itu. Tanpa sadar kudekati Mamaku yang cantik itu. Tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Mamaku yang bahenol itu. Kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Mama mencoba untuk berontak. “Kamu ganteng Ndy”, katanya seraya tanganya meraup kemaluanku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum. “Yup..!! Kamu benar sekali,” jawab Mbak Wina tegas. Kontolku memang masih tegang walaupun sudah sempat mengeluarkan sperma.. Kubuka paha tante lebar-lebar.. Sampai terlihat lubang memeknya yang masih basah itu.. Lalu kupegang kontolku dan kugesekkan kepala kontolku di mulut memeknya.. Kepala Bi Eha bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Andre. Berarti dia tahu perbuatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini? “Iyaa.. Saya lagi mikir tempat mana yang bisa aku sembunyi menyantap ‘makan enak’ ini,” jawabku sekenanya yang langsung dibalas dengan kembali mencubit berikut pelintiran yang sakit sekali di tanganku. Ita, siimut, tinggi sekitar 158 lah, jembutnya paling jarang jadi bagian dalam memeknya yang merah muda gampang keliatan,
“Ah masa sih?” tanyanya. “Saya menunggu Ardy di rumah.” Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya. “Terima kasih Ma. Toni sayang banget sama Mama.” jawabku dengan antusias. “Oughh Dini pantatmu enakk banget.. Ahh” “Terima kasih Mbak”. Nopember 24, 2006 Merasa ada tantangan lagi, saya langsung mencium Mirna dengan lembut di bibirnya yang masih beraroma sperma, sambil meremas buah dadanya yang kembali mengeras. Mirna langsung melakukan gerakan berputar dan langsung telentang sambil tertawa dan berteriak tertahan, “Babak kedua dimulai, teng..!”
Aku nikmat sekalii dijilatnya kepala penisku dengan lidahnya
>>Tokek Gede Perawan Mainan Dalam Mobil<< (1 ) abg cakep...... (27 ) Mngandung 8bulan pun masih hebat lg... (3 ) Maria Takagi - 2 Dvd (11 ) Sebut saja namaku Pram, aku adalah suami dari seorang istri yang menurutku sungguh sangat sempurna. Namun begitu sebagaimana layaknya sebuah pepatah, rumput tetangga sangatlah segar, itu yang berlaku dalam kehidupanku. Walaupun pelayanan yang kuterima dari istriku sungguh tidak kurang suatu apapun, masih juga terlintas dalam anganku fantasi yang menggairahkan setiap kali Tante Amy lewat di depan rumah. “Ohh.. Jack.. Hmmpp..” Maniku keluar juga, menambah becek vagina Mama. Kubiarkan penisku tetap didalam vagina Mama untuk merasakan sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan vagina Mama tetap saja berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi. “Nggak apa-apa. Kan sudah malam. Kita makan dulu ya? Lapar nich. Dari siang kan kosong. ” kata Hanna sambil menepuk perutnya. “Ok hati-hati Jack.. Sampai ketemu besok di kantor” “Nah, ini kamar Tante. Tante rebahan dulu, kamu pasang VCD-nya”, wow, kamarnya luas. Mungkin 3 kali luas kamar kostku. Lengkap dengan home theaternya. Sekitar setengah jam aku menungu di lobby hotel tiba-tiba seorang bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Melly menunggu di kamar itu. Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Melly tersenyum manis dari balik pintu. “Mas.. sakit.. mas.. oght.. hhohh..”, jerit kecil Asih. “Kalo mama berkunjung ke rumah kamu, bisa tidak ya kita melakukan lagi?” tanya mertuaku. “Mungkin ke toko buku, ada novel Shedney Shieldon yang baru”, ucap Randy sambil berpura-pura membaca koran. Ia masih sungkan dengan Tante Betty mengingat apa yang dilakukannya semalam. Ia takut kalau sampai Tante Betty lapor ke mamanya. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Papa, pikirnya. Horee!! Sorakku dalam hati. Kesempatan emas nih.. Gak boleh disia-siakan. Akhirnya Mamah menjerit lagi pertanda klimaks telah dicapai. Dengan posisi aku di bawah, aku lebih santai, jadi tidak terpancing untuk cepat klimaks. Sedangkan Mamah sebaliknya, dia leluasa menggerakkan pantat sesuai keinginannya. Adegan aku di bawah ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Dan dalam waktu itu Mamah sempat klimaks dua kali. Sebagai penutup, setelah klimaks dua kali dan tampak kelelahan dengan keringat sekujur tubuhnya, lalu aku rebahkan dia dengan mencopot burungku. Setelah kami masing-masing melap “barang”, kumasukkan senjataku ke liang kenikmatannya. Posisinya aku berdiri di samping ranjang. Pantatnya persis di bibir ranjang dan kedua kakinya di pundakku. Aku sudah siap memulai acara penutupan ronde kedua. Kumulai dengan memasukkan burungku secara perlahan. “Uuh..” hanya itu suara yang kudengar. Kumaju-mundurkan, cabut-tekan, burungku. Makin lama makin cepat, lalu perlahan lagi sambil aku ambil nafas, lalu cepat lagi. Begitu naik-turun, diikuti suara Mamah, “Hgh.. hgh.. ” seirama dengan pompaanku. Berhari-hari berlalu, nafsuku terhadap Tante Yana semakin bergolak sehingga aku sering nekat ngumpet di balik semak-semak, onani sambil melihati Tante Yana kalau sedang di luar rumah. Tapi terhadap Anita, nafsuku hanya sedikit, itu juga karena kecantikannya dan kulit putihnya. Nafsu besarku kadang-kadang membuatku ingin menunjukkan batangku di depan Tante Yana dan onani didepan dia. Pernah sesekali kujalankan niatku itu, namun pas Tante Yana lewat, buru-buru kututup “anu”-ku dengan baju, karena takut tiba-tiba Tante Yana melapor sama ortu. Tapi, kenyataannya berbeda. Tante Yana justru menyapaku, (dan kusapa balik sambil menutupi kemaluanku), dan pas di depan pagar rumahnya, ia tersenyum sinis yang menjurus ke senyuman nakal. “Ehem.. hmm..” dengan sorotan mata nakal pula. Sejenak aku terbengong dan menelan ludah, serta malah tambahnafsu. Aku kaget setengah mati. Aku bingung sekali saat itu. Tanpa sadar kudekati Mamaku yang cantik itu. Tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Mamaku yang bahenol itu. Kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Mama mencoba untuk berontak. Sepertinya dia akan keluar, otot dindingnya mengencang dan, “Ahh.. yess.. aahh..” desahnya sambil tangannya mendorong dan menarik kepala Tante Juliet agar batang kejantanan saya dapat lebih masuk ke mulut Tante Juliet. Setelah beberapa saat kulepaskan dia. Angel sudah terangsang banget, kulucuti pakaiannya, kaosnya kulepas, sekalian bra-nya, tapi dia tidak marah dan diam saja, tampaklah gunung kembar yang pas dalam genggaman tanganku, dengan puting merah coklat yang telah mengeras. Kubasahi dengan ludahku lalu kucium dan menjilatnya, dia hanya memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Kulanjutkan melucuti celananya, dia memakai CD putih yang transparan sehingga tampak sebagian rambut kemaluannya yang lembab dan indah. “Tahan sebentar yah cinta, biar vagina Tante terbiasa lagi dimasukin penis,” katanya. September 26, 2006 “Ash.., neghh, udah, Ran”, desah Tante Betty. Ia tidak ingin terlambat. Tender proyek dua M itu bisa hilang, pikir tante Betty. Namun apa yang dilakukan ponakannya ini benar-benar terasa nikmat. Akhirnya ia membalikkan badan dan segera menurunkan celana dalamnya. Running through my head Setelah membayar, kami berdiri, menenteng belanjaan kami, pada saat itu juga manajer cafe datang menghampiri kami. September 26, 2006 Mereka bersorak ribut sekali. Pada saat itu aku sendiri juga tidak merasa sebagai laki-laki yang melayani nafsu seks lima wanita itu. Entah kenapa aku juga merasa menjadi bagian dari mereka, seolah-olah aku wanita yang ikut dalam pesta lesbian. Kiky dan Winny merenggangkan pelukannya dengan kedua puting masih tetap saling bergesekan. Kiky lalu membersihkan busa sabun di kedua payudara Winny dengan kedua tangannya sambil sesekali meremas-remas. Dia lalu menghisap kedua payudara Winny bergantian. Setelah puas giliran Winny. Winny juga membersihkan busa sabun di kedua payudara Kiky dengan kedua tangannya sambil sesekali meremas-remas. Dia lalu menghisap kedua payudara Kiky bergantian. “Aaarrgh.. Oohh.. Mmhh.. Aarrgghh.. Enak.. Sekalii.. cintaa? Aku sudah keluar Dewa..?” erangan Mbak Hanny. “Mengenai apa..” kataku. “Di, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk, kamu udah ngantuk belum?”, katanya sambil menguap. Tante Lisbeth yang lebih dulu tampil tanpa sehelai benang pun. Birahiku semakin naik ketika menyaksikan wanita bertubuh putih mulus itu melepas celana dalamnya yang menjadi pembungkus tubuhnya yang terakhir. Gila, betul-betul mulus. Meskipun terlihat sedikit lemak di beberapa bagian namun secara keseluruhan betul-betul membuat gairahku naik. “Achh.. Borry.. teruus sayang.. nikmat banget, hangat..” Kuremas dada tante yang masih memakai baju piyama.. “Ayolah.” kata Kiky. “Ohh.. Mmhh.. Mmhh.. Ohh…” desah mertuaku semakin merangsang gairahku. “Aghh.. uugghh.. koonn.. tooll Tuaann.. enakk..!” teriak Mirna saat sodokan Bonsa mulai tambah cepat dan mulut tuannya menghisap susunya. SERU BANGET.. RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI RAHASIA..BIKIN PUAS WANITA ORGASME BERKALI KALI... KLIK DISINI “Ah..kamu bisa aja. Jangan cuma dipandangi aja dong.” “Tante mau coba pipis Ajie nggak?” Aku ingin menolak, tapi kupikir itu tidak fair. Tetapi sebagai laki-laki muda yang mempunyai nafsu birahi yang sangat tinggi, tak puas dengan Tante Melly saja. Ivan masih menginginkan wanita lain. Selain menikmati tubuh Tante melly, yang setiap saat merindukan kehangatan darinya. Ivan masih tetap menyetubuhi Poppy, pacar Arif, anak Tante Melly, yang juga sahabat karibnya. Gadis belia yang ia renggut keperawannya. Juga Mbak Heny, masih sering dikunjunginya, apalagi belakangan ini Mas Indra, suami Mbak Heny, menderita impoten dan jarang dirumah. Aku tinggal disuatu kompleks perumahan kelas menengah di Jakarta Timur, tidak terlampau besar, kurang lebih dihuni oleh 150 keluarga kelas menengah keatas. Hanya beda 1 jalan dari rumah, dipojokan terdapat rumah yang sangat asri yang ditempati oleh keluarga pak Juli seorang pengusaha tanggung yang kegedean lagunya. Biarin deh dia belagu terus yang penting bokinnya cing…kutilang ( kurus tinggi langsing ), kulitnya kuning, rambutnya hitam abis dan matanya tuh…geunit pisan.Dikompleks diantara Bapak - bapak muda pembicaraan mengenai bokinnya Pak Juli enggak pernah kering, giliran yang rumahnya ketiban arisan Ibu-ibu kompleks pastilah sang Bapak selalu stand by dirumah. Aku menekan kuat memek kebawah dan menggesekkan maju dan mundur dengan cepat. Kedua tanganku terus meremas-remas rambutku sendiri sehingga berantakan. Karena permainanku yang hot ini otot-otot seluruh tubuh Didit tampak bergerak disuatu tempat untuk melakukan finishingnya. Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar. Bik Sutipun memposisikan dirinya disampingku. Diarahkan tangannya ke leherku. Dengan lembut dia memijit leherku dan juga bahuku. Akupun akhirnya terangsang juga dengan pijatan-pijatan Bik Suti. Kurasakan penisku terjepit, karena saat itu aku sedang tengkurap. “Anu, saya sedang makan siang. Kamu sama siapa Mir..? Andre ndak ikut..?” Aku cuma bisa tersenyum bangga. “Mas, aku memang sudah lama nggak pake baju ini. Kalaupun toh pake, suamiku sudah nggak peduli lagi kok sama aku. Dia lebih memilih sekretarisnya itu,” kata Imel dengan mimik muka sedih. “Ahh.. oh.. tante mau enak lagi Ndra. arrghh ahh..” kata tante Wike. Tapi Bonsa tetap acuh saja dan terus menciumi leher bagian belakang milik Marni, sedangkan yang lain hanya diam saja ketakutan. “Ton, kamu hebat juga yah. Hanya dengan jemarimu saja Mama sudah bisa orgasme seperti tadi..” kata Mamaku terengah-engah. ‘hi juga, asl pls..’ balasku. dia pandangin seluruh kostruksi kontol gue, enggak pakai komentar yang basi seperti cerita bokep yang lain, “Iya betul,” kujawab sambil membukakan pintu apartment. Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada dikamar mandi. Trus ada lagi yang nanya, kenapa demen posting cerita yang incest? Hmm… Gak tau ya gue demen aja tuh.. Buat gue incest bukan sesuatu yang tabu asal dilakukan suka sama suka. Gue jadi bi juga dg tante gue dan gue suka. Bahkan GF gue berincest ria dengan cicinya bertahun-tahun. So? “Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh…” desah tante Rina. “Ma..capek nih berdiri. Pindah ke kasur aja yah..” pintaku. “Yud, tolong kunci pintu kamar dulu” pinta Jenny, suaranya agak serak mungkin karena terbawa gairah. “Ajie!! Ngapain kamu?”, Aku berusaha bangun duduk, tapi kedua tangan Ajie menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Ajie mencium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapi Ajie makin keras menekan pundakku, malah pemuda itu sekarang menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, aku pura-pura menolak. “Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok…” jawabku. “Cindy.. Cindy.. ohh..” Spermanya menyemprot ke dalam mulut Tante Melly. Setiap semprotan spermanya ditandai dengan anggukan-anggukan kemaluannya. Tanpa ragu, Tante Melly menelan seluruh sperma Ivan yang masuk kemulutnya. Dan sambil tersenyum puas, Tante Melly menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluan pemuda itu. Singkat cerita aku sudah berada di rumahnya, di perumahan yang super elit. Kemudian aku diperkenalkan sama anak-anaknya yang memang pada cantik dan sexynya seperti Mamanya. Oh yah, setelah aku dan mereka ngobrol panjang lebar ternyata Tante yang nolong aku itu namanya adalah Tante Mey Lin yang dipanggil akrab Tante Mey, anak pertamanya Mbak Hanny, dia masih kuliah di Universitas terkenal di Jakarta, anak yang kedua namanya Sherly kelas 1 SMU dan yang ketiga namanya Poppy kelas 1 SMP, mereka berdua di sekolahkan di sekolah yang terkenal dan favorit di Jakarta. “Akhh.. yess.. ***** me darling..! Ohh..!” desahnya. Begitulah, setelah itu kita bertiga langsung menuju ke tempat Fitnessnya. Dan setelah ganti baju di locker room, kita bertiga mulai berfitnes-ria. Asyik juga sih, sampai-sampai nggak terasa sudah hampir tiga jam kita fitness. Wah, badan rasanya sudah capek benar nih. Setelah selesai kita bertiga terus bilas di ruang ganti, dan langsung menuju ke ruang Whirlpool. Nah, sampai disini kita bertiga bingung, sebab ruang whirpoolnya ternyata cuma satu. Wah gimana nih? Tapi akhirnya kita coba-coba aja, dan ternyata benar, cewek sama cowok jadi satu ruangannya. Wah, malu juga nih.. Apalagi si Nita, soalnya kita bertiga cuma dililit sama kain handuk. Setelah masuk ke dalam, saya tertegun, karena di dalam saya lihat ada cewek yang dengan santainya lagi jalan mondar-mandir dalam keadaan.. Bugil. Wah.. Gawat nih. Setelah saya lirik, ternyata si Nita juga lagi ngeliatin tuh cewek yang kesannya cuek banget. Selagi kita bertiga bengong-bengong, tahu-tahu kita disamperin sama locker-girlnya. “Mmmh.. mmhh.. mm..” hanya desahan saja yang terdengar kini dengan diiringi desahan-desahan dari film yang diputar di TV. Bersamaan dengan itu Silvy menurunkan tubuh mungilnya sehingga batang kemaluanku yang makin tegak mengeras terbenam ke dalam lubang kemaluannya. “Aaakh..”, desah kami hampir bersamaan merasakan nikmat yang penuh sensasi ini. Tubuhnya bergoyang hebat seirama dengan membabi butanya bibir dan mulutku menjelajah kedua bukitnya yang berguncang-guncang bebas. Keringatnya yang deras di situ makin melicinkan jalannya bibirku berpindah-pindah di kedua bukitnya. “Sama Mas.. Aku nikmat sekalii..” jawabnya setelah itu. Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada dikamar mandi. Perlahan Mama pindah ke selangkanganku. Digenggamnya penisku dengan kedua tangannya, dijilatnya kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut Mamaku. Dijilatnya selutuh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidah Mama. “Emmh oh aarghh” Tante Wike mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.
Minggu, 12 Oktober 2008
akhirnya ia orgasme Aku menelan semua spermanya
Tak lama saya mendengar si Antonio melenguh dengan keras, kontolnya ditarik keluar dari vagina Vita dan diarahkan ke mulut Vita. Vita menjilat dan menelan peju Antonio. Setelah bersih, kembali Antonio memasukkan kontolnya ke vagina Vita dalam posisi doggy style. Keringat disekujur tubuh Vita dan Antonio mengalir dengan deras. Saya sendiri terus menggenjot Priscilla, sekitar 2 atau 3 kali Priscilla memekik dengan keras dan tubuhnya sedikit mengejang tapi ia terus menggoyangkan pantatnya, rupanya ia sedang mengalami multiple orgasm. Saya menjadi kagum melihat stamina Priscilla yang kuat, tapi saya tidak ingin kalah kuat dengannya. “Kalau ketiga-tiganya dipakai?” Tanya Sari dengan nada netral. (Sebenarnya pas lagi kejadiannya, Tira gak sadar loh kalau Tira mengeluarkan suara-suara yang demikian. Mas yang kasih tahu, hehehe.) Mas berbisik di telinga Tira. Sampai sekarang kami masih berhubungan baik, bersilaturrahmi dan saling memberi spirit di saat kami merasa jatuh. Saya sangat menghormati hubungan ini, karena pada dasarnya saya sangat menghargai Tante N sebagai istri dan ibu yang baik. bukit itu. Segera tangan saya mulai menyusup masuk ke dalam celah dan keinginan yang selama ini terpendam dalam dirinya, yaitu berhubungan *********
“UUUHH….!!” boy sedikit terpekik saat merasakn penisnya akan meledak Ar, I will spend the new year’s with you. Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu, “Suck it like a lollipop.” She did so and found it was fun. She could feel his cook increasing in size in her mouth. But then she pulled back. ditangannya dan tanpa dikomando segera melepas sepatu dan naik keatas
“Thanks.” “Selamat siang Pak,” Tegur Arie kepada salah satu satpam yang ada dua orang. “Ohh.. Ris enak.. Sekali.. Oh” Rico meracau. Shin Chan yang ketakutan hanya menuruti perintah mamanya. Dengan telanjang bulat ia masuk kedalam kamar mandi dan berdiri tepat didepan mamanya. “Hehehe, ketangkap kamu”, ujar mamanya Shin Chan dengan suara monster. merahasiakan urusanku dengan Felix. “Ok deh tapi nanti siang yah And makes everything all right Aku mengenakan gaun dari bahan satin yang agak tipis yang agak ketat melekat di tubuhku. Aku mengenakan gaun ini adalah juga atas anjuran suamiku. Suamiku berkata bahwa aku sangat menarik apabila mengenakan pakaian yang agak ketat dan terbuka. Aku kira pendapat suamiku benar, karena dengan memakai gaun ini aku lihat bentuk tubuhku jadi semakin nyata lekak-lekuknya. Apalagi dengan model potongan dada yang agak rendah membuat pangkal buah dadaku yang putih bersih kelihatan agak tersembul keluar membentuk dua buah bukit lembut yang indah.
“Belum begitu lapar.” Rangsangannya di diskotik tadi menghilangkan nafsu makanku. “Trus setelah itu…” “Kalo yang punya cowok disebutnya kont*l Non hehehe” “Yeee…si Non, mentang-mentang saya ga bisa Inggris, omong apa sih tuh ?” tanya Imron menasaran sambil mencubit puting gadis bule itu. “Rani..!!” kuangkat tubuhku, dan kulihat mukanya yang memerah. Buliran air mata tampak jatuh dari ujung matanya, Rani menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam dan alisnya berkerut, hidungnya kembang-kempis. Shit.. kulirik ke bawah dan alangkah terkejutnya aku melihat setitik gumpalan darah kehitaman menodai ujung penisku yang mulai mengecil.
aku ‘memompa’ tubuhnya yang sintal itu. Rima merintih begitu hebat “Malam ini…” Pria itu berkata lagi sambil membelakangi keempat penyembahnya, “Aku harus memanggil temanku, si pencabut nyawa, untuk memilih salah satu di antara kalian! Yang paling tak pantas menjadi anakku, agar menjadi peringatan bagi yang lain.” “Apaan sih?” katanya masih tidak mengerti. “Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..,” ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
Tiba-tiba dia menarikku ke atas dan langsung dia menidurkanku kembali, kakiku kembali dibuka lebar-lebar dan dia mempermaikan klitku dengan penisnya yang membuatku semakin tak karuan sehingga tak berapa lama aku kembali mencapai puncak kenikmatan dan cairan kewanitaanku membasahi penisnya. Lalu tiba-tiba dengan satu gerakan cepat dia memasukkan penisnya ke dalam vaginaku, aku langsung menjerit karena vaginaku masih sempit dan aku masih perawan, sehingga kurasakan agak sedikit perih. Namun rupanya beliau telah tahu keadaanku sehingga dia diam sebentar agar aku dapat menguasai diri. “Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya. Yaa.. kata-kata yang hanya bisaku sesali saat ini. Terlintas dalam benakku saat itu bayangan keluarga dan orang tuaku, sungguh aku panik, fikiranku buntu, aku hanya bisa menangis dalam pelukan kekasih yang amat aku cintai. Mail (will not be published) Website “Itu bukan untung tapi cilaka.., cilaka duabelas namanya!” Posted in Umum | Michael cukup lama mengoralku saat itu. Nampak keheran-heranan dari Maria dan juga cewe-cewe lainnya. Mungkin karena penasaran, Maria memenuhi permintaanku. Diambilkannya body lotion dari kamarnya. yag sudah cukup sepi…… jadi karena kondisi maka Daku pun kerap bercinta dengan isteri pada tengah malam.
Parni pun terus berteriak mengeluarkan kata-kata kotor dan mendesah ketika dia merasa sudah mau keluar. terang aja. Yang penting sekarang gue udah punya pengalaman lah main jilat-jilatan mem*k ame nyokap. Enak juga lho. Malam itu, sepulang dari rumah seorang teman aku mengendarai sepeda motor bebekku dengan kepala sedikit berat akibat pengaruh obat yang belum terlalu turun, tapi kupaksakan juga karena besok pagi-pagi sekali aku ada janji dengan seorang dosen untuk membantunya mengumpulkan data-data yang berhasil kami kumpulkan (yang tentunya dia yang membuat pertanyaan, aku hanya membagikan kuisioner pada obyek penelitian). “Terus Na.. Give me more!” kataku sambil menekan kepalanya karena tidak puas hanya dengan dijilati saja. Lalu wanita itu menamparku, “I’m here for giving you a new job” Kemudian aku membuka rok itu ke kanan dan ke kiri sehingga terpampanglah paha mulus dengan pinggul yang montok dengan CD warna hitam berenda sutra halus. Kemudian entah dia merasa agak lega atau bagaimana, kakinya agak bergeser dan membuka sehingga semakin jelaslah pemandangan yang membuat kepalaku berdenyut keras. Tanganku meraba kejantananku di balik celana dan menggosoknya pelan dan tiba-tiba ada sedikit denyutan yang kukenal adalah tanda apabila aku akan ereksi. “Nah, sekarang Aku siap mendengar,” kataku setelah kami membersihkan diri masing-masing dan berdua tidur-tiduran di salah satu single bed, masih sama-sama telanjang, seperti bulan lalu sehabis Aku dimasturbasi olehnya, Aku terlentang dan kepala Jeanny di dadaku. “Cantiknya..”
“Oh..” jawabku agak lega. “Tante sudah menunggu dari tadi Arie,” bisiknya sambil menggenggam tangan Arie tanda mengucapkan selamat datang. “Sudah.. sudahlah”, akhirnya aku berkata. Priyono tetap meneruskan melahap liang senggamaku. Sementara itu aku terus-menerus mengalami orgasme bertubi-tubi namun pada akhirnya dia berhenti juga. Dan pada saat dia mengambil posisi untuk menyetubuhi diriku, aku segera bangkit dan kini tanpa merasa risih lagi aku segera meraih alat kejantanannya yang hangat berwarna kemerah-merahan lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan mulai bekerja dengan lidahku di sepanjang alat kejantanannya yang begitu terasa keras dan tegang. Aku merasakan suatu kenikmatan yang lain yang belum pernah aku rasakan. Aku merasakan alat kejantanan Priyono mempunyai aroma yang berlainan dengan alat kejantanan suamiku. Ekspresi Rini kali ini membuat gw sungguh tergila gila akan perlakuan yang ia perbuat atas kont*l gw ini. Terasa sekali kont*l gw mengaduk seluruh isi liang kewanitaannya. Terkadang maju mundur, terkadang berputar putar seperti goyangan salah satu artis Inul daratista yang sedang goyang ngebor. “Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Sherin mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Megan memejamkan mata menghayati orgasmenya hingga gelombang itu berangsur-angsur reda. Ia lalu membuka matanya dan melihat wajah Imron diatasnya. Pria itu tersenyum dan membelai rambut pirangnya lalu menciumnya lembut sekali.
“Ah, sayang, kamu nampak begitu indah, sayangg.. Indah sekali, sayang.. Sangat indah, sayang.. Indah banget sayang..”, Ronad meracau tidak menyembunyikan kenikmatan libido erotisnya saat melihati aku mengulum dan menjilati kont*lnya. “Lho, udah pada cabut semua nih, bidadari-bidadarinya?” Tanya Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk, segumpal pakaian kotor, dan cangkir plastik kecil berisi sikat gigi. Meski sudah mandi bersih, jalannya tetap saja gontai karena pengaruh alkohol dan obat-obatan yang dipakainya tiap hari. Hmmm…buat Dian1977 toni tak tahu harus bicara apa, sebenarnya rumah itu bagus dan harganya pun cocok , awalnya istrinya pun senang dengan rumah itu, namun kenapa , setiap ke lantai atas , seolah ada ledakan birahi, yg ternyata tidak hanya di rasakan olehnya tapi juga istrinya , dan mia tentu saja. Kedua sahabatku tidak mampir, mereka langsung pergi meninggalkanku dan berjanji akan menjemputku sore nanti. Seperti sudah lama nggak bertemu, kamipun saling melepas rindu, bermanja-manja aku dipangkuannya, tangannya tak henti-hentinya membelai-belai rambutku yang panjang, sesekali didekapnya aku erat-erat, saling bersuapan saat makan siang, benar-benar saat yang sangat indah, penuh canda & rasa cinta kasih. sheer sensuality of the room would have been arousing by Cerita ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu, tapi merupakan awal yang mempengaruhi perilaku seks yang kujalani sampai saat ini. Waktu itu aku seorang mahasiswa semester 3 di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Sebenarnya aku termasuk mahasiswa yang cukup berprestasi di kampus, terbukti dengan seringnya aku diikutsertakan oleh dosen/pengajar apabila mereka akan mengadakan penelitian ilmiah. Tapi sayangnya akibat pergaulan yang kurang baik, ditambah dengan problema yang kuhadapi (saat itu kurasakan cukup berat), aku terjebak kecanduan narkotika, walaupun sebenarnya baru pada tahap kecanduan awal. Kisah ini adalah berdasarkan kisah yang pernah berlaku dalam hidupku. Iza dan Amal adalah merupakan dua adik beradik, sebagai jiran aku dan mereka berdua merupakan berkawan baik dengan aku. Ditambah lagi aku sering dihantar kerumah mereka untuk dijaga oleh mereka apabila kedua ibubapaku pergi kerja.
“Hei Reni. Apa khabar, sayangku”, sapa ayah kemudian ketika selesai berpelukan dengan suamiku. Tanggal : Fri Aug 31, 2001 1:55 pm (dimuat di CeritaSeru tgl 11 Feb 2002) Penisnya cukup besar hingga aku agak takut dan terus melumatnya. Semakin lama aku semakin menikmatinya. Rasanya seru. Aku terus menjilat dan berusaha memasukkan penisnya dalam mulutku. Aku menggigit-gigitnya dan sesekali memainkan zakarnya. Ia mengerang keenakan sampai akhirnya ia orgasme. Aku menelan semua spermanya. Aku tertawa senang. Lalu ia balik menerkamku. Vaginaku habis dijilat dan digigitinya. Ia bagaikan singa gila. Dan dia adalah pria paling hebat dalam melakukan oral sex yang kutahu selama ini. Aku orgasme sampai empat kali! “Ah Bapak, masa suster takut sih sama mayat” jawabnya tersenyum, “lagian saya kan udah disana juga” Waktu itu aku telah duduk di bangku SMP kelas dua dan berusia 14 tahun lebih. Aku memang telah menjadi seorang anak lelaki yang sangat tergila-gila dengan segala bentuk kegiatan yang ada hubungannya dengan sex bahkan aku bisa membuat sesuatu mengarah ke sekitar masalah sex.
d iamenciumi dan menjilati daerah itu sampai celana dalamku basah
Sarah ( 21 tahun ) “Wah, enak dong.., orangnya sintal, mungkin tiga hari nggak habis dimakan!” kataku berseloroh. Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu tante Lina mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Lina berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. “Sudah kamu istirahat dulu deh Va!” “Tapi pakaian dalam Mamamu kok nggak terlalu seksi ya.. konvensional banget sampai aku susah memilihnya”. laki-laki dan setelah cukup basah maka Anna pun disuruh berjongkok di “Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya.
Abang ke mana isteri dirasa Kemudian diangkatnya badanku dengan posisi kakiku dipinggangnya, aku melingkarkan tangan pada lehernya agar tidak jatuh. Diletakkannya aku pada lantai di tepi kolam, disebelah Indah yang terkapar, dia merapatkan badannya diantara kedua kakiku yang tergantung. Bagian empat : MLA I’m your mother. Just pretend I’m another woman and make Setelah puas berehat aku dengan lantang berkata `servis kau memang Aku bersekolah di salah sebuah sekolah di ibu kota.walaupun aku
Tak lama kemudian orgasme mereka lewat juga, kami duduk perdampingan tapi masih merasa nikmat dan sama sama tersenyum. Trus kami liat si Eva kayaknya belum, maklum mungkin masih baru kali yah. Dan mungkin di masih kawatir ada yang ngeliat jadi kurang konsen, karena itu dianya keliatan semakin horny ajah dan belum lepas lepas juga. Akhirnya kami bertiga segera duduk disekitar dia, Veni (kakaknya) duduk di sampingnya sambil memeluk adiknya di berbisik “ Udah Va, cuek ajah lah, kami nutupin kok. Kamu terusin ajah. Kalo udah keluar nanti enak banget “. Sambil merem dianya mengangguk. Saya pun mulai membantu dia dengan merangsang vaginaya, wow…gadis ini udah basah banget. Karena saya rasa basah banget maka roknya pun saya angkat biar ga nyeplak nantinya, habis banyak banget cairannya. Tangan saya dengan lincah segera masuk ke selangkangannya dan segera mencari klitorisnya. Setelah etemu mulai saya gosok gosok dengan cepat, dianya semakin gelisah duduknya, sedangkan niken juga mulai meraba raba payudaranya, agar dia makin terangsang. Ahhhh saya liat napasnya mulai memburu mungkin ga lama lagi dianya orgasme. Badannya semkin gelisah untuk niken dan veni cepat tanggap dengan menahan badannya agar tangan saya bisa menggosok vaginanya dengan leluasa. Ahhhh akhirnya dia pun orgasme, mulutnya mejerit tapi segera di peluk niken jadi ga sempat semakin liar, sambil memeluk nikem meremas payudara Eva kuat2, dan Veni terus berbisik ke telinganya agar melepas semuanya. Ahhhh jari saya yang di vaginanya merasakan denyutan yang sangat kuat, ohhhh dianya orgasme. Dunyatan2 ini tandanya. Matanya meram dan semakin meringis ringis, tapi saya yakin sekali geli2 nikmat yang luar biasa yang sedang dialaminya. Setelah beberapa lama akhirnya orgasme nya lewat juga dan dia mulai tenang, demikian juga kami bertiga. Mata kami masih merem menikmati sisa orgasme dan musik y6ang menghentak kencang. dengan sofa ruang tamu maka walaupun terkuat hanya sedikit tentunya Vivi, sang adik iparku dapat mengintip “Tambah ganteng dong dia” Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Dia diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga kupakai untuk membiasakan diri dan mengambil nafas. Akhirnya saya memeluk erat tubuh Middleton, saya peluk semampu saya sebab tubuhnya lebih besar dari saya. Saya letakan kepala saya dan menghadap ke kiri pada dadanya yang bidang. Oh My Godness, saya lihat Raymond dan Gill sedang berdiri di depan pintu, mereka melihat saya, rupanya mereka melihat beberapa adegan yang telah saya lakukan. Buru-buru saya bangkit dan saya mengambil pakaian saya dan saya hampiri mereka. Saya tanyakan bagaimana dengan seks mereka, dan saya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh saya, sedangkan Midlleton bangkit lalu berpakaian, rupanya ia tidak peduli dengan kehadiran Ray dan Gill. other hand on one her breast and kneaded it and rolled the Dee berdiri untuk mengunci pintu, namun Pak Wir merengkuh pinggangnya dari belakang.
Samia laid on her back and opened her legs wider. Amir adjusted himself between her legs and with one hand opened her pussy lips getting a full view of his mother pink pussy. He lowered his head and touched her clit with his tongue. Samia bucked her ass and ground her pussy against her son’s mouth. Amir started licking all along her pussy inserting his tongue deeper in her fu*k hole. Samia had previous lesbian contacts and had experience in being licked but the mere fact that it was her baby boy was something else. Her orgasm exploded like a bomb on her son’s face. Gigitan dan jilatan, cakaran dan remasan. Erangan dan rintihan kenikmatan. Juga gelap dan terang. “Kenapa Jo? Sakit ya di sini?” tanyanya. Isakan keluar dari mulutku.
Website “Mbak.. Oh..” Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalam dipelukan Tuti. Selama seminggu pertama, aku dan 30 awak News Room menginap di kantor untukmemantau perkembangan tsunami serta proses bantuan kemanusiaan. Tepat di awal Januari 2005, presiden Amerika Serikat, George Walker Bush memerintahkan bantuan kemanusiaan untuk mengatasi bencana internasional yang merenggut 150 ibu korban jiwa. Angkatan ketujuh pun bergerak ke Aceh dengan memboyong 3 kapal perang serta sebuah kapal induk USS Abraham Lincoln. Semua media berusaha meliput langsung proses bantuan ini namun terbentur birokrasi pemerintah yang ruwetnya bikin kepala pecah. Setelah berpikiran seperti itu, Bi Eha menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanya bercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Bi Eha jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakin menggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Hartono, tentunya sudah ia terkam sejak tadi dan menggumuli batang kont*lnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah ke ubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malah akan membuatnya ketakutan.
Rahasia Bikin Puas Wanita Orgasme berkali kali/h1>
RAHASIA..PEN1S BESAR,PANJANG,KUAT,TAHAN LAMA-TANPA OBAT-... KLIK DISINI
Faiza woke up late next morning. Lazily she pulled the curtains, letting in soft light of March sun into her bedroom. It was spring which is the best month in Lahore (Pakistan). She walked out of her room and went straight to the lounge. It was empty except the maidservant. She remembered that her parents had to go to a wedding in their native village. The maidservant told her that only she and Amir were left behind. Hearing Amir name she blushed and remembered the events of last night. Not wanting the servant to see her blushing she went back to her room. She went to the bathroom to do the morning necessities. The door to Amir’s room was unlocked. She went to look it but after a mischievous grin let it remain open. Slowly she removed all her clothes and looked at herself in the mirror. She knew that she was beautiful and the mirror replied in affirmative. After doing the necessary rituals she took a bath and wiped herself dry. The wearing a beautiful lacy bra and panties she went to Amir’s room. He was sleeping soundly. She slowly removed the light blanket over him. To her surprise she found that he was sleeping naked. His flaccid cook was visible. She drew closure and started inspecting it. It was a mere two inches in length, not long as she had seen it the previous night. She lightly touched it. It was soft. She then ran a finger on his balls. They were bigger than she thought and oval in shape. Amir had a thick bush of pubs and she made a mental note that she will ask him to remove them. Amir stirred in his sleep and she tiptoed back to her room. “bodynya coy…….. gile bener. Putih banget.” Kelelahan disekujur tubuhnya terasa sekali hari ini. Satu hari yang sangat menguras tenaga. “Iya deh Non, sebentar aja yah, udah ngambil saya langsung pulang” Imron tertawa lebar dalam hatinya karena inilah yang ditunggu-tunggu. Calvin mengiyakan, segera ia duduk di boncengan, rapat di belakang tubuh Andre. Tangannya diletakkannya di paha Andre. Kemudian kedua remaja SMU itu melaju menuju sekolah mereka. Pada hari Sabtu di bulan Januari, karena saya tidak memiliki pacar, saya sering berkeliling kota dengan mobil ayah untuk menghabiskan malam panjang sendirian. Karena teman-teman belajar saya semua pada ngapel, termasuk Bima. “Ah Sial..” ketika baru saja lewat rumah keluarga drs.E, mobil terbatuk-batuk seperti habis BBM. Padahal hujan begitu lebat di luar dan SPBU terdekat kira-kira 2 km dari lokasi tempat mobil saya tepikan di bahu jalan. Akhirnya, saya memutuskan untuk meminjam telepon ke rumah Bima, untuk menelepon ayah atau siapa saja untuk membantu kesulitan gara-gara lalai terhadap yang namanya BBM. membalasnya dengan tersenyum lalu dia melemparkan bantal guling ke
Faiza smiled to herself and after removing her shawl went near her brother and placed her head on his shoulder. jadi perkembangan eksebisinya pastilah dilingkaran dekat sendiri….. Desahan yang keluar dari mulut mamaku ini menjadikan ku semakin bersemangat dan kugeser kepalaku yang sedang dipegangi mama kearah tetek yang satunya dan tangan kananku kuremaskan lembut di tetek kiri mama dan tak henti2 nya desahan mama terdengar semakin kuat dengan nafas cepat. “Wih, dikit lagi kuliah dong. Mau kemana kuliahnya? Ke Jepang aja? Nichidai?” Pak Maman mulai menggoyangkan pinggulnya memompa vagina gadis itu. Desahan tertahan terdengar dari mulut Virna yang sedang berciuman. Pria itu memulai genjotan-genjotannya yang makin lama makin bertenaga. Lumayan juga sudah seusia kepala enam tapi penisnya masih sekeras ini dan sanggup membuat gadis itu menggelinjang. Dia mahir juga mengatur frekuensinya agar tidak terlalu cepat kehabisan tenaga. Sambil menggenjot mulutnya juga bekerja, kadang menciumi bibir gadis itu, kadang menggelitik telinganya dengan lidah, kadang mencupangi lehernya. Virna pun semakin terbuai dan menikmati persetubuhan beda jenis ini. Dia tidak menyangka pria seperti si penjaga kamar mayat itu sanggup membawanya melayang tinggi. Pria itu semakin kencang menyodokkan penisnya dan mulutnya semakin menceracau, nampaknya dia akan segera orgasme. Shin Chan yang tak berdaya melepas tangannya dari burungnya dan terlentang mengaduh”Aduh, aduh, geli Ma, geli Ma”. Seorang gadis berbadan putih telanjang sedang bersetubuh dengan posisi di atas membelakangi pasangannya. Kedua belah pahanya yang mulus bersimpuh di atas badan telanjang seorang pria setengah baya. Kedua tangannya memegang erat lutut di depannya untuk memudahkan goyangan pinggulnya. Pria yang berada di bawah, meletakkan telepon genggamnya di atas meja samping. Diremasnya kedua belah dada yang tak terlalu montok namun padat itu dari belakang. Kemudian dibelainya kedua belah lengan dan tubuh gadis yang tak terlalu tinggi tapi langsing itu.
Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkan kontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilati pejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa suka dengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyata enak. Saat itu perasaanku campur aduk. Otakku sudah lepas kontrol. Karena Andi merasa aku hanya setengah hati menyuruhnya keluar, dia semakin berani. Dia berpindah ke depan dan menempelkan mulutnya di daerah kemaluanku. Dengusan napasnya yang hangat sampai di antara pahaku. Aku bergetar dan mulai menyukainya. Aku diam saja waktu d iamenciumi dan menjilati daerah itu sampai celana dalamku basah. Aku merasa otot-otot di sekitar kemaluanku mengejang. Rasanya seperti merapat terus.
Si cowo nekad tembak langsung. Nyatanya semua biaya yang harus ditanggung memang sudah dipastikan akan seberat menyimpan seorang bini muda. “Mas….., kamu kan sekarang sudah tambah dewasa, apa enggak pingin punya pacar atau pingin meluk atau dipeluk seorang perempuan ? kata mama tiba2. “Atau kamu sudah jadi laki2 yang enggak normal barangkali ya, Sayang ?“ lanjut Mama. aku begini .Mungkin dulu dia tidak mendenda aku secara ludah kenikmatan bersama-sama tante Lin. Tiba-tiba tante Lin menyedot semua ludah-ludah itu kemulutnya dan melepas mulutku. Dengan tatapan mata dan senyuman yang nakal, tante Lin mengeluarkan air ludah itu, membiarkannya mengalir seperti air terjun, dari mulutnya ke dagunya, lehernya, membasahi dadaku dan dadanya, dan akhirnya turun sampai ke pangkal paha kami, membuat gesekan tubuh kami terasa menjadi lebih licin. Melihat itu, mulai kuarahkan kepalaku untuk menjilati air ludah, tapi tidak kutelan, mulai dari sudut-sudut bibirnya, lalu dagunya, “Tidak apa-apa kok Pak”, sahutku, aku senang juga dalam hati. “Pah. tadi kok Mama rasakan punya Papa jadi lain?” “Okeh, nggak pa-pa. Kutunggu.”
Setengah berlari dengan baju dan rambut yg acak2an anggi segera keluar dari kompleks sekolah itu. Dia tak tau ada beberapa pasang mata yang selama prosesi sex terjadi di kelas tadi, telah mengintai dan menonton pertunjukan sex itu. Beberapa pasang mata itu begitu ganas dan liar. “tunggu giliran kami nggi…………..” bisik mereka tertiup angin malam………………… “Ada air panasnya lho Shan..” kata Tuti. “Kamu tidak kasihan melihat ayah seperti ini? Ayolah, kita khan pernah melakukannya”, desaknya. Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Donna mengantarkanku kepintu sambil sambil menghadiahkanku sebuah kecupan kecil, katanya “Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya.” “Jangan lagi panggil tante ah, panggil saja Santy. Oke?”. “Kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya. Now Donny really became uneasy. Mom was treading into an *
Langganan:
Komentar (Atom)